
Asti dan bayinya diantar pulang ke kota oleh Joko dengan mobil barunya. Hampir seminggu ini, Joko dan Lek No, terus mencoba mesin mobil itu dengan berjalan ke berbagai wilayah. Terkadang Bu Lek Ratih ikut dalam acara jalan- jalan itu dengan membawa Akbar ke pasar atau ke lapangan besar dekat kantor kecamatan.
" Dedek, Dedek!" Panggil dua anak laki- laki kembar yang segera berlarian dari halaman rumah mereka menuju rumah dinas ini. Anak-anak itu ternyata sudah mengamati, sejak mobil Avanza Joko berhenti di depan rumah.
Mereka juga melihat Asti turun sambil mengendong Akbar. Sementara Joko sibuk mengeluarkan berbagai tas dan bawaan lainnya di bagasi.
Asti kaget dengan sambutan kedua anak Ibu Anggita itu. Tentu mereka sangat kangen, dengan Akbar yang dibawa Asti tinggal selama dua minggu di desa. Tak lama, Ibu Anggita datang menyusul anaknya.
" Ya, Ampun Akbar! Kamu tambah besar dan bulet begini! " Ujar Ibu itu gemas. " Ini pipimu mirip roti , empuk dan padat."
Wanita itu mengambil alih Akbar dari gendongan Asti. Sebab kedua anaknya sudah ribut mau memegang si Dedek bayi. Sedangkan Asti mulai mencari kunci pintu rumah dari dalam kantong tas tangannya.
Saat Asti membuka pintu rumah, hawa tak sedap menyeruak masuk. Dia sampai menutup hidung rapat- rapat. Sambil mengucapkan salam dan bersholawat dalam hati. Dia memasuki ruang tamu yang tak terlalu luas itu dengan bulu kuduk merinding.
Sepertinya bau busuk itu berasal dari sisa makanan yang mengandung hewan. Sampai Asti berprasangka tidak baik kepada Mbok Bayah!
Takutnya wanita itu tidak memenuhi permintaannya untuk datang setiap pagi membersihkan rumahnya ini. Semoga Mbok Bayah telah menyapu dan mengepel lantai di rumah ini sebelumnya.
"Assalamu'alaikum! " Sapa Joko, yang sedang mengangkat sisa bawaan Asti. Pria muda itu meletakkan Stroller, tas pakaian dan satu dus bekas mie instan berisi kue- kue dan berbagai masakan dan bumbu jadi.
" Hayo, Tarra dan Torro! Nggak salim sama Om Joko? Ini Omnya Adek Akbar, lho!" ujar Asti.
Kedua anak itu bergantian menyalami Joko. "Ini, sepupu saya, Ibu Anggita. Anak Pak Sarno!"
Mereka akhirnya ngobrol dengan akrab di ruang tamu. Apalagi Asti mengeluarkan berbagai makanan yang dibelinya tadi di pasar. Untuk Ibu Anggita, Bulek Ratih menitipkan satu kantong bumbu sambel pecel siap jadi buatannya. Karena bumbu itu hanya tinggal dituang air panas sedikit saja sudah dapat disajikan. Juga satu kantong besar kerupuk gendar yang terbuat dari olahan sisa nasi.
Joko yang mengantar tamu cilik mereka pulang kembali ke rumahnya. Sebab Asti harus menenangkan Akbar yang merasa tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya. Istilah orang sedang rewel.
Di dalam kamar, Asti mengganti pakaian Akbar dengan baju rumah yang lebih nyaman. Juga sambil mengusap kulit bayi itu dengan minyak telon, Asti terus mengaji. Bayi itu mulai terlihat tenang setelah Asti meletakkan di boks bayi.
" Asti, aku pulang dulu! Akbar sudah tidur?"
"Sudah. Terimakasih sudah diantar!"
" Sama- sama. Dua atau tiga hari lagi, saya dan bapak akan kemari bersama Mas Adam. Mudah- mudahan gambar yang dibuatnya sesuai dengan permintaanmu!"
__ADS_1
" Ajak, Bulek Ratih juga!" Pintanya.
Anak sulung , Lek No itu segera menuju mobil yang diparkirnya tepat di samping rumah.
Ternyata Joko sudah lama menginginkan mempunyai mobil yang pantas untuk dapat membawa keluarganya pergi ke mana pun. Dia sudah lama belajar mengemudikan mobil dengan temannya saat masih bekerja di Semarang. Bahkan sudah mendapatkan SIM A tahun lalu.
Sekarang hari mulai sore. Bayinya sudah mandi dan diletakkan di bouncer. Akbar mulai tenang. Sementara di sisinya, Asti mulai melipat pakaian dari keranjang cucian kering yang menumpuk di meja setrika. Sengaja, Asti menyalakan hape dan menyetel bacaan ayat-ayat suci Alquran.
Kebiasaan Itu sudah dilakukan Asti sejak Akbar masih berada di dalam kandungannya. Berbagai konflik dan perbedaan pendapat mewarnai kehidupan pernikahannya dengan Satrio. Walaupun Satrio berwatak keras, tegas dan kadang tak mau mengalah. Asalkan Satrio tak main tangan dan menghina dirinya di luar batas saja, Asti mau tetap mempertahankan mahligai rumah tangganya ini. Kecuali, perselingkuhan!
Tepat pukul pukul 22.00, terdengar suara mobil Satrio memasuki halaman depan rumah. Asti pura- pura terlelap. Akhir - akhir ini Asti merasa lelah dengan sikap Satrio yang sangat mudah terpancing emosinya.
Apa Satrio marah kepadanya karena orang tuanya tidak bisa datang? Atau dia merasa sia- sia karena harus mengeluarkan dana hampir lima juta rupiah untuk membeli dua ekor kambing yang menjadi syarat akikah bagi anak laki- laki?
Terdengar pintu kamar dibuka dengan dorongan perlahan. Lelaki itu berdiri di depan pintu sambil menatap Asti yang tertidur di samping Akbar. Sampai Asti menyadari, kalau Satrio hanya memakai pakaian biasa, bukan seragam kerjanya. Jadi karena sibuk bepergian, dia tak menjawab telpon dan WA darinya?
Semalam, Akbar membangunkannya dua kali. Asti mengganti popok dan menyusui sampai bayi itu tertidur lelap. Saat diusap kepala bayinya, terasa agak hangat.
Mungkin Akbar hanya sedikit cape. Sebab selama di desa, bayinya ini dibawa bepergian ke berbagai tempat. Dulu hal itu menjadi pantangan, karena bayi belum boleh keluar rumah, sebelum berumur 40 hari.
" Apa Akbar sakit, Asti?"
Pertanyaan dari Satrio itu mengagetkan Asti yang sedang mengelap tubuh bayinya dengan waslap dan air hangat. Bayi mungil itu hanya memandangi wajah Satrio yang berjalan mondar- mandir di kamar ini.
" Cuma agak anget aja! Akbar kan anak pintar, ya? sehat-sehat terus, ya. Nak! " Ujar Asti menenangkan anaknya.
Bayi itu terus melihat Asti, dengan mulutnya yang bergerak lucu. Tentu sepertinya dia ingin ikut diajak bercakap- cakap. Setelah itu Asti memakaikan bayi itu dengan pakaian rumah dengan memilih bahan katun yang cukup nyaman.
" Maafkan aku, Dek! Hapeku error. Baru sempat di perbaiki sore tadi di tempatnya Irfan."
Asti menatap wajah suaminya itu agak lama. Dia mulai meragukan keterangan Satrio. Apa hape mahal itu kembali dilempar Satrio dengan tenaga dalamnya lagi? Sebab rusaknya hape Satrio yang lama juga karena suaminya itu marah dan sakit hati atas perbuatan seseorang. Walaupun dalam kesehariannya Satrio tampak kalem dan sopan. Tetapi kalau sedang marah, dia akan sangat menakutkan. Kadang suka melempar apa pun barang yang ada di dekatnya untuk melampiaskan emosinya itu .
Pria itu meraih Akbar lalu menggendongnya ke luar rumah. Tampak Satrio mengecup pipi dan dahi Akbar berulang-ulang dengan penuh kerinduan.
" Mas, Nggak sarapan dulu?" tanya Asti setelah melihat suaminya itu sudah memakai seragamnya dengan rapi.
__ADS_1
Satrio melihat Asti sudah menyiapkan sarapannya di atas meja. Ada sepiring nasi goreng, dengan irisan tipis telur dadar, timun dan kol sebagai topping. Di toples ada kerupuk gendar. Juga teh manis hangat dalam gelas keramik besar.
" Aku berangkat, ya!" bisik laki- laki itu sambil mengecup pipi gembul Akbar yang sedang di gendong Asti.
Saat mobil Satrio bergerak meninggalkan teras rumah, Asti segera membawa Akbar masuk ke dalam rumah. Banyak pertanyaan yang memenuhi benak pikirannya.
Bukannya Asti tak percaya dengan penjelasan Satrio! Hanya saja harga hape yang baru dibeli suaminya empat bulan yang lalu itu saja sudah membuat mereka agak bersitegang. Asti sampai mengingatkan agar suaminya berhemat dulu, karena mereka harus punya dana cadangan untuk persiapan kelahiran anak pertama mereka.
Satrio tetap bersikeras membeli hape itu yang seharga membeli motor bebek yang baru! Masak hape itu dilempar lagi oleh Satrio sampai rusak! Apa dia marah dengan seseorang yang tampaknya lebih berharga daripada harga hapenya itu?
Kini Asti semakin waspada dengan segala sikap dan tindak tanduk Satrio. Segala perubahan sikap Satrio dimulai sejak Asti keluar dari dari rumah sakit. Di saat dia berjuang bertaruh nyawa melahirkan seorang putra untuk penerus nama Wibowo, Satrio justru memulai satu hubungan dengan gadis lain..
Belum lagi, cara Satrio bertindak soal keuangan. Semakin Asti diam, Satrio semakin keterlaluan hitungannya untuk istri dan anaknya!
Dimulai dari telepon Bude Prapti minggu yang lalu. Saat itu Asti masih tinggal di desa. Satrio telah kembali ke kota dengan segala tugas dan kesibukannya.
Justru Bude Prapti dengan hati- hati berbicara dengan Asti, karena bermaksud untuk meminjam uang kepadanya.
Wanita itu ingin sedikit membantu membiayai pernikahan Mas Budi, putra bungsunya. Sampai saudara dari Mbah Putri Sanjaya itu, agak ragu -ragu mengakui kalau hanya menerima lima ratus ribu rupiah saja dari Satrio setiap bulannya sebagai uang jajan. Sebab kehadiran Bude Prapti di rumah itu hanya dianggap Satrio menjaga Asti, bukan bekerja!
Ditemani Bulek Ratih, Asti menyambangi rumah Bude Prapti di perbatasan desa Sendang Ranti Karena di sana ada kerabat Satrio, mereka jadi singgah ke beberapa rumah di desa itu. Rumah Bude Prapti tepat berbatasan dengan wilayah Wonogiri. Selama tinggal di kota bersama Asti, rumah itu ditempati oleh keluarga adiknya.
"Bude, Bude Prapti. Ini ada Akbar, lho? " Panggil Bulek Ratih di depan pintu rumah wanita itu
Bude Prapti terkejut ketika melihat tamu yang datang di siang itu . Di depan pintu ada Asti, Bulek Ratih yang mengendong Akbar juga Joko yang membawa banyak barang bawaan
Asti memberikan amplop berisi sejumlah uang . Uang itu bukan untuk dipinjamkan, tetapi Asti memberikannya sebagai hadiah yang diambil dari rekening pribadinya.
"Benar, ya. Asti! Aku nanti di boleh di tempatmu lagi. Momong si ganteng ini, ya?"
" Ya, Bude! Pokoknya urus dulu aja pernikahan Mas Budi. Tetapi maaf, Asti nggak bisa datang pas acara di Madiun. Akbar masih belum kuat diajak bepergian agak jauh."
"Terima kasih banyak, Asti."
Wanita itu tersenyum sumringah karena boleh kembali ke rumah Asti di kota. Karena sudah tua, dia sudah tidak terlalu kuat untuk bekerja di sawah, sebagai buruh tenga harian. Pekerjaan yang dilakukan saat ini, sebab dia hanya mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Anak- anak perempuannya sudah mempunyai rumah tangga dan urusannya masing- masing.
__ADS_1
" Satu lagi, Bude. Soal uang ini. Bude Nggak usah ngomong sama Mas Satrio, ya! Ini murni dari uangku, karena selama ini Bude menjagaku dari hamil muda sampai Akbar lahir. Terima kasih banyak , Bude!"