Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 143. Ibunya Dania menuntut


__ADS_3

Seperti kata pepatah " Kehidupan manusia itu ibaratnya seperti arus air yang mengalir" itulah yang menjadi keyakinan dalam diri Asti.


Kehidupannya sejak dia masih kecil harus menghadapi gelombang besar berkali- kali. Yaitu, ketika Asti lahir, sang ayah sudah meninggal dunia sebulan sebelumnya. Sehingga dia dan ibu kandungnya, dijemput olah pasangan suami istri Harjo Winangun. Mereka membawa Asti yang masih berumur 40 hari, dari Yogyakarta ke desa Sendang Mulyo untuk tinggal di sana.


Asti juga diasuh oleh ibunya sangat sebentar. Belum genap usia bayi itu mencapai 6 bulan, keluarga Winangun harus kehilangan jejak si Ibu bayi yang terpaksa kembali ke tanah kelahirannya di Kalimantan Selatan. Setelah pergi lebih dari sebulan wanita muda itu tak memberi kabar lagi dengan keluarga almarhum suaminya di Jawa. Karena ada konflik besar yang menimpa keluarganya di sana, di kota Banjarmasin.


Hantaman gelombang itu kembali menerpa lagi, saat Mbah Putri juga meninggal dunia. Sampai Bude Ayu, kakak almarhum ayahnya datang dan mengasuhnya. Bude Ayu bercerai dengan suaminya diam- diam. Karena tak ada alasan lain untuk kembali ke Sumatera. Tempat suami si Bude sebagai abdi negara bertugas.


Bahkan anak perempuan sulung Pak Harjo Winangun itu, terpaksa menikah dengan kepala desa sebelah... Sebab, Ayahnya punya hutang budi dengan pria yang selalu membantu perjuangan dulu untuk memakmurkan desanya.


Bude Ayu terpaksa melakukan hal itu karena rasa bakti pada orang tuanya. Padahal dia lebih senang mengurus Asti keponakannya dari bayi itu berusia 7 bulan sampai 10 tahun. Kehidupan Bude Ayu juga tidak baik- baik saja walaupun tinggal di rumah besar milik Pak Kushari. Dia dimusuhi oleh istri-istri suaminya itu. Juga bermasalah dengan anak- anak madunya itu yang terus mengusik ketenangan hidupnya dan Asti.


Bahkan keluarga Winangun juga harus membayar hutang budi itu dengan membiarkan sebagian lahan sawah mereka dikerjakan oleh kerabat Pak Kushari dengan sistem bagi hasil. Tentu dengan hitungan yang sangat tidak seimbang.


Asti pun mulai mendengar tentang kutukan pada dirinya sejak dia kelas 7. Berita itu semakin menguat setelah Mbah Harjo Winangun wafat saat Asti duduk di kelas 9 awal.


Semakin terpuruk lah Asti, sebab tanpa perlindungan kakeknya itu, tuduhan sebagai gadis yang membawa kutukan telah menghancurkan dirinya. Dia dianggap membuat keluarga Winangun ketiban sial, dan mengalami penderitaan dengan kehilangan satu demi satu orang- yang sangat dikasihinya, yaitu kematian dari anggota keluarganya.


***


" Mbak, Mbak Asti!" Ada ketukan di pintu kamarnya, disertai panggilan suara dari Mbak Ning.


" Sebentar, Mbak Ning...."


Seru Asti, sambil mengambil kunci motor dan tas selempangnya. Dia terpaku melihat wajah Mbak Ning yang kurang enak dilihatnya. Saat membuka pintu kamarnya.


" Ada apa, Mbak Ning?"


" Ibunya Dania, Mbak! Nekat mau ketemu Mbak Asti. Padahal saya sudah memberi tahu. Kalau sebentar lagi, Mbak mau berangkat ke pasar."


Benar saja, Ibunya Dania sudah duduk manis menunggunya di ruang tamu. Sepertinya dia lebih mementingkan urusan Dania ini daripada pekerjaannya sebagai buruh tani di sawahnya.


Padahal Lek No membayar upah tenaga mereka secara harian. Apa dia tidak sayang kehilangan uang upahnya lebih dibutuhkan untuk kedua anaknya yang masih bersekolah di SMPN di dekat kecamatan itu? Adik Dania itu masih mempunyai harapan dan masa depan yang lebih baik.


Setidaknya mereka butuh uang jajan atau ongkos untuk ke sekolah. Sebab sekolah pada zaman sekarang, ada tugas dari guru yang memerlukan biaya untuk print out atau fotocopy.


" Maaf, Mbak Asti. Saya mengganggu lagi?" ujar Ibunya Dania tampak terburu-buru. Takut Asti pergi, dan persoalan Dania tidak terbantu.


" Bu Tumirah, kalau soal Dania saya benar- benar tidak bisa menolong... Maaf, Saya juga harus ke pasar!" ujar Asti yang agak kesal.

__ADS_1


Betapa keras kepalanya wanita ini. Mungkin watak itulah yang diturunkan kepada Dania. Sampai gadis muda itu sangat susah diberitahu oleh siapapun. Termasuk larangan dari orang lain ketika dia bergaul dengan kelompok Jago.


" Apa Mbak Asti nggak kasihan, kepada Dania? Biar begitu juga Dania sudah lama kan bekerja di toko, Mbak!"


" Sejak Dania keluar dari di toko, saya tidak lagi bertanggung jawab dengan yang Dania lakukan di luar sana. Itu sudah tanggung jawab ibu sebagai orang tuanya" Ucap Asti tegas.


" Perkara Dania itu adalah termasuk tindak kriminal. Ada ketentuan hukumnya. Lagipula itu urusan Pak Wardi , karena dia yang mengalami kerugian. Semua barang yang dirampok itu mencapai ratusan juta harganya, Bu. Di sini, Dania ikut terlibat!"


" Nggak mungkin itu! Kata Dania karena rekaman wajah teman- temannya itu diambil dari CCTV dari toko Mbak Asti. Jadi Dania ikut dituduh juga!"


" Terserah... Ibu mau bicara apa saja silakan! Mungkin dengan omongan Dania, dia bisa bebas dari hukuman penjara ..."


Suara percakapan mereka juga didengar Joko dari pintu rumah samping. Segera dia datang ke ruang tamu. Wajah Ibu Tumirah memerah, setelah tahu Joko sudah berada di ruangan ini. Pria muda itu memandangnya dengan tatapan yang dingin.


" Ayo, Asti berangkatlah ke pasar! Urusan Dania, sekarang jadi urusanku juga."


" Permisi, Assalamu'alaikum!" Ujar Asti. Langsung keluar dari kamar tamu menuju garasi tempat dia memarkirkan motornya.


" Kamu nggak usah ikut campur, Joko! Apa urusanmu dengan Dania!"


" Maaf, Bu. Dania sudah banyak berbohong dan berbuat curang selama ini. Mungkin kalau Asti jahat, sudah dilaporkannya dari dulu ke polisi!"


" Saya tidak pernah mau tahu soal pergaulan Dania. Saya hanya wajib menjaga ketentraman anggota keluarga saya, Ninuk maupun Asti!"


Wanita yang tubuhnya sudah agak kurus dan berwajah kusam itu berdiri menantang Joko." Siapa kamu, hah ? Hanya anak dari dari Sarno. Yang ibunya hanya selingkuhan Pak Saidin Winangun. Beruntung saja ayahmu diakui sebagai keponakan Harjo Winangun. Jangan berbangga diri dengan dirimu, Tole! Tak ada darah Winangun di tubuhmu. Karena nenekmu hanya pelakor yang dinikahi secara siri. Jadi Jangan sombong kamu!"


" Lalu, maksudnya ibu masih bersaudara dengan Asti Winangun, begitu? Sehingga dengan tidak tahu malu minta tolong Asti, pinjam uang segala! Masih punya muka ibu datang ke sini, minta Asti bertanggung jawab atas perbuatannya Dania. Sadar, Bu! Perbuatan Dania itu sudah termasuk sebagai penadah barang curian. Ancaman hukumannya berat... Mungkin rumah ibu yang di desa itu kalau digadaikan atau di jual pun, tak bisa menebus kebebasan untuk Dania... Anak ibu adalah anggota kriminal!"


Mata Wanita yang seumuran dengan ibunya itu, sudah memerah menahan tangis.Joko tidak peduli! Kalau ada orang yang hidupnya susah atau miskin pun, Joko masih hormatinya. Ini sudah miskin, menghina orang yang akan dimintai tolong. Tidak tahu diri, ibunya Dania ini! Sombong pula!


" Mulai besok, Bapak dan Ibu, tidak usah bekerja di sawah Asti! Untuk apa Ibu saya selalu menolong orang seperti ibu dengan tulus, tetapi dihina dan diremehkan seperti ini?


Keluarga Winangun bukan orang yang gila hormat, Bu! Tetapi ibu yang terus ngemis agar bisa ikutan bekerja di tanah kami!"


Tanpa berkata-kata lagi, wanita berbalik keluar dari ruang tamu Asti... Sampai di depan dia memakai sandalnya. Bu Jum yang sejak tadi mendengar omelan Yu Tumirah hanya dapat mengelus dada.


Terlihat wanita berjalan tergesa-gesa keluar dari Rumah Asti. Ditegur Mas Yanto pun dia tak menjawab. Padahal mereka masih ada ikatan saudara.


" Ibunya Dania kenapa, Mas Joko?" tanya Mas Yanto bingung.

__ADS_1


" Nggak kenapa-kenapa! Lain kali kalau ada orang yang mencari Mbak Asti. Bilang orangnya sudah pergi. Begitu!"


" Oke, Mas.. Siap!" Pria muda yang hanya lulusan SD itu dengan cepat menutup pintu pagar rumah sebelum kembali ke posnya di ruko depan.


" Dengar Juga, Bu Jum?" Tegur Joko yang masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu ruang tamu.


Wajah Bu Jum tersipu agak malu. Sebab dia ketahuan oleh Joko masih berdiri terpaku di dekat pembatas ruang tamu.


" Gimana nggak dengar? Suara Mas Joko keras sekali. Untung Akbar boboknya di kamar atas. Saya dan Mbak Ning di sini jadi ketakutan. Takut Mas Joko khilaf dan menampar Yu Tum yang nggak tahu diri itu!"


" Maaf, Bu... Saya bersikap keras kepada Ibu Tumirah. Semua kesalahan Dania dipikir karena Asti. Jadi ibu itu memaksa Asti meminjamkan uang untuk membayar jasa pengacara. Mau jual ginjalnya pun, Ibu itu tetap tak bisa membebaskan Dania yang terancam hukuman penjara!"


" Kasihan Mbak Asti! Padahal dia selama ini sudah sangat baik kepada Dania dan keluarganya. Ya, karena memandang mereka masih saudara Bulek Ratih. Eh, nggak tahunya, mereka sangat picik dan merendahkan keluarga Mas Joko."


" Biar aja, Bu Jum...Pengen tahu aja. Siapa lagi yang mau menolong mereka?"


Saking gemesnya dengan ucapan Ibunya Dania tadi, Joko langsung mengabari ayahnya. Walaupun bukan orang yang suka mengadu kepada orang tuanya. Tampaknya, ibunya Dania tak perlu digubris lagi!


Justru Bulek Ratih yang marah mendengar laporan dari Joko itu. Ketika jam makan siang dia mencoba berbicara baik - baik dengan bapaknya Dania. Sehingga mereka berbicara hanya di ruang tamu rumah Joglo. Padahal sebagian para pekerja yang lain setelah selesai makan kembali ke sawah untuk bekerja.


Banyak pekerjaan yang dilakukan di sana, selain membuang gulma atau rumput liar yang menggangu tanaman kacang tanah yang masih muda. Ada yang mencangkul untuk mengalirkan air ke tegalan.


" Kang, apa memang urusan Dania harus melibatkan Asti? Sudah lama, lo Dania mundur nggak kerja di toko Asti!"


" Maaf, Yu Ratih! Untuk membayar jasa Pengacara itu sangat mahal... Kami coba meminjam uang pada Asti!"


" Minjam uang, kok. Maksa!"


" kamu ngomong apa, Yu?" tanya Pak Sungkono agak marah.


"Tadi, Istrimu datang lagi ke rumah Asti. Terus dia ngomong banyak sampai ngatain Joko dan soal asal-usul Pak Sarno segala. Apa ini yang kalian lakukan di belakang saya? " tanya Bulek Ratih pedih.


" Maaf, Yu. Mungkin ibunya Dania keceplosan. Kami nggak tahu lagi harus pinjam uang ke mana?"


" Mulai besok, kalian nggak usah ke sini lagi. Memang ini bukan sawah kami. Ini warisan Winangun. Setidaknya kalau ditolong orang itu ya baiklah sama yang nolong! Jangan ngatain seenak udelnya saja! Saya nggak iklhas keluarga saya dan Asti direndahkan!"


Kembali mata Pak Sungkono berkaca-kaca. Yang tahu banyak tentang keluarga di rumah ini hanya istrinya. Tetapi dia juga agak kecewa kalau dengan kasar, istrinya menghina dan menjatuhkan martabak Pak Sarno Winangun.


Pria itu pergi dari rumah itu dengan motor tua yang merupakan pemberian Pak Sarno. Di kantongnya ada lembaran ratusan ribu rupiah upah kerja dia dan istrinya dalam sepuluh hari ini. Tak lupa dia membawa setengah karung beras pemberian dari saudara istrinya itu. Mungkin sejak hari ini mereka tidak akan bekerja lagi di sawah Asti selamanya.

__ADS_1


__ADS_2