Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 161. Jangan Ganggu Hidupku


__ADS_3

Suasana di ruang tamu itu menjadi kaku... Asti pun malas berbasa-basi lagi dengan mantan Ibu mertua dan wanita muda yang sekarang menjadi istri Satrio. Pasti ada satu tujuan mereka dengan datang ke mari dari jauh. Sepertinya itu juga bukan sebuah tujuan yang baik.


"'Kamu nggak undang, Ibu. Saat kamu menikah kemarin, Asti ?" Pertanyaannya dari Ibu Widya itu sudah seperti tuduhan. Tetapi benar, sih. Untuk apa juga mengundang para mantan? Ini mantan ibu mertua lagi!


" Maaf, Bu! Acara pernikahan kami memang dibuat sederhana saja. Hanya ijab kabul saja di rumah. Jadi hanya mengundang kerabat dekat dan tetangga di kanan kiri. Tidak pakai pesta apalagi resepsi."


" Iya, sih! Sayang kan, kalau keluar uang banyak untuk pesta. Apalagi sampai menyewa gedung...


Pasti biayanya mahal! Padahal tamunya cuma orang kampung sini, paling berapa isi amplopnya? Syukur- syukur ada yang ngasih lima puluh ribu, ya? Mungkin yang paling banyak isinya cuma sepuluh ribu atau lima ribu saja.. Lha, apa nggak tekor, itu?"


Asti kaget mendengar ucapan Zahra yang terasa agak sangat meremehkan begitu. " Kamu siapa? Saya nggak pernah ngajak kamu ngomong! Saya hanya berbicara dengan mantan ibu mertua saja., Sebagai orang yang masih saya hormati... Tidak lebih !" Ujar Asti dengan suara yang mulai meninggi.


Wajah Zahra langsung pucat dan kaget, mendapat jawaban yang cukup keras dari Asti.


" Sekarang, apa maksud kedatangan Ibu Widya kemari? Tentu bukan untuk berbasa-basi atau beramah tamah, kan?" Kata Asti lagi.


" Ini soal mutasi Satrio ke Purwokerto! Pasti atasannya di kantor yang mendapat aduan dari kamu! Jangan suka mengusik kehidupan orang lain, Asti!"


Asti tertawa geli. " Untuk apa, saya mengadu ke atasan Satrio? Apalagi mengusik kehidupan rumah tangganya yang sekarang! Nggak ada faedahnya juga, Bu!


Saya saja tidak mau menerima biaya nafkah untuk Akbar sejak keputusan cerai dari pengadilan. Tanya saja, menantumu ini, Bu? Dia begitu kuatnya mempengaruhi otaknya Satrio sampai tidak mengakui Akbar sebagai darah dagingnya sendiri! Jadi kalau kalian nggak punya urusan yang nggak penting, Saya minta ibu pulang saja! Maaf, saya sudah lelah dengan acara empat bulanan tadi. Jadi sekarang saya mau istirahat ..."


Wanita itu mulai berdiri tegak . "Jangan, sombong kamu Asti! Mentang-mentang sudah tinggal di di rumah bagus. Seenaknya saja, main menghancurkan masa depan orang!"


" Alhamdulillah, berkat doa ibu...


Sekarang saya hidup sejahtera dan makmur. Semua ini warisan Mbah Kakung, Mbah Putri dan Bude Ayu. Semua sah, bukan? Karena Asti dan Akbar masih keturunan Winangun!" Jawab Asti manis.


" Kalau masalah Satrio dimutasi, kok nyalahin saya ? Tanya saja ke atasan Satrio, lah! Apakah anak ibu itu sudah bekerja dengan loyal dan berdedikasi atau belum?"


Jawaban Asti cukup menampar keangkuhan Ibu Widya. Mata wanita paruh baya itu sampai mendelik mau keluar, saking marahnya. Memang semua ini karena omongan Zahra, yang mendengar kalau Asti masih berteman baik dengan para ibu tetangga mereka di rumah dinas. Juga yang tergabung dengan organisasi para ibu abdi negara di kantor. Mereka semua selalu mengucilkan keberadaan Zahra, yang muncul belakangan sebagai istri baru Satrio, dalam setahun ini.

__ADS_1


" Pasti kamu ngadu sama, Bu Anggita, kan ?" Tuduh Zahra tak mau kalah. Agar dia dapat meyakinkan ibu mertuanya itu kalau semua perkiraannya itu benar.


" Ngadu apa? Sadar Zahra! Kamu itu cuma sebagai pelakor di kehidupan pernikahan saya dan Satrio. Tetapi baumu itu sungguh busuk! " Cemooh Asti dingin.


" Ibu apa nggak dengar? Bagaimana dia dengan bangganya mengaku sebagai istri Satrio, padahal cuma selingkuhan dan teman zinah Satrio! Saya tahu, mereka menikah siri di sore harinya, setelah keputusan kami bercerai baru disahkan di pengadilan pagi harinya. Karena apa, Bu? karena dia sudah hamil duluan kan?" Ucap Asti berapi-api.


" Ibu Widya yang terhormat! Saya nggak perlu dong, mengajarkan Ibu tentang hukum dalam agama kita. Sebab Ibu sudah berangkat haji sepuluh tahun yang lalu. Berangkat umroh sampai dua kali. Tahu kan, Bu? Apa hukumnya wanita hamil di luar nikah, seperti Zahra ini? Ibu tetap menikahkan mereka, demi menutup rasa malu. Tetapi ibu tetap menerjang semua aturan dan ajaran agama kita!"


" Wanita hamil itu sebenarnya haram dinikahi, sampai bayinya lahir. Apalagi bayinya perempuan! Tidak ada nasab pada ayahnya atau mendapat warisan dari Satrio. Jadi saya nggak perlu membeberkan ajaran agama Islam di sini pada mantan Ibu mertuaku yang lebih tahu segalanya. Sekarang silahkan dinikmati semua kesulitan hidup dan cemoohan orang lain! Karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang yang munafik, dzolim dan melanggar ajaran agama!"


" Seperti juga Zahra yang sangat suka memakai barang bekas dari saya. Dia merebut Satrio dan menikah dengan bekas suami saya. Bahkan dengan rasa bangga dan penuh kemenangan. Dia juga tidak malu dan risih memakai semua barang- barang bekas saya di rumah dinas Satrio. Ibu Widya bisa baca! Daftar barang dari kado pernikahan untuk saya dari para kerabat yang menjadi isi rumah dinas itu. Dari ruang tamu sampai isi dapur itu ... Itu semua punya saya, tetapi dengan jahatnya Satrio melarang saya membawa satu pun barang itu. Kecuali hanya pakaian, setelah keluar dari rumah itu."


Air mata Asti mengalir deras. " Allah memang mudah membolak-balik hati manusia. Betapa Ibu sangat membela Zahra yang sudah jelas-jelas, menjadi orang ketiga di hidup saya. Dulu saja Ibu dengan teganya menghajar Ibu Lilis sampai masuk rumah sakit karena kakinya patah. Padahal wanita itu hanya digosipkan dekat dengan Pak Cahyadi. Sampai wanita itu benar-benar dinikahinya Bapak Mertua dan menjadi madu Ibu, kan? Kok sekarang pelakor malah dibelain sama Ibu? Dia sudah sadar dan insyaf? Saya nggak percaya! Lihat aja cara menantu ibu ini berpakaian... Apa seperti ini penampilan seseorang istri abdi negara? Dia berpakaian ketat dan terbuka , hanya untuk menggoda syahwat dan imam para lelaki lain. Hehehe."


Cepat sekali Ibu Widya bergerak mendekati Asti sambil mengayun tangan kanannya. Namun gerakan tangan wanita paruh baya itu tertahan oleh genggaman tangan dari sesosok pria bertubuh tinggi besar di belakangnya.


" Sampai Ibu berani menampar, Asti! Tangan Ibu yang akan saya patahkan!" Ucap Leon tajam.


" Siapa, kamu. Berani- beraninya ikut campur dengan urusan saya!"


" Siapa kalian? Bertamu di rumah orang nggak ada adab dan sopan santunnya!" Bantah Leon lebih keras.


Zahra terus melongo melihat ketampanan wajah Leon. Wajah bersih pria itu memerah menahan marah! Semua orang kaget mendengar bentakan Leon. Lelaki itu malah sudah memeluk tubuh Asti yang masih gemetaran. Ibu Widya sangat nekat.


" Yang, kamu mengundang mereka?"


" Nggak, Mas...!" Jawab Asti pelan.


"'Tolong, tinggalkan rumah ini. Istri saya tidak mengundang Anda! Siap-siap saja, akan saya laporkan perbuatan anda ke polisi karena di ruangan ini ada cctv."


Ibu Widya menatap tak percaya pada Leon. Jadi ini suami Asti? Terlihat lebih segalanya dari Satrio. Belum lagi tulang kaki kanan anaknya itu sekarang hancur. Jadi Satrio akan mengalami kelumpuhan permanen dalam kecelakaan motor di pinggir kota itu. Kruk itulah yang akan menjadi penopangnya sebelah kakinya, seumur hidupnya.

__ADS_1


Mereka keluar dari rumah Asti , digiring Lek No dan Joko. Ada sebuah mobil Fortuner yang membawa mereka pergi dari rumah itu. Tetapi Joko tahu, itu bukan Satrio atau Ryan yang membawa mobil itu. Ada orang lain lagi. Pria itu lebih muda dari Satrio.


Dipelukan Leon, Asti menangis tergugu. Dia merasa terpancing atas sikap dan ucapan jahat dari ibu Widya dan Zahra. Mereka malah menyalahkan dirinya soal kehidupan yang dijalani Satrio saat ini. Memang jarak rumah ini dengan rumah dinas Satrio yang ditempati Zahra dan anaknya tidak terlalu jauh . Hanya 1, 5 jam perjalanan.. Karena jalan penghubung di dua wilayah itu sudah teraspal baik. Tetapi Asti tidak pernah mengusik kehidupan mereka. Apalagi sampai datang ke kota itu dan memantau kehidupan sehari-hari mereka. Seperti orang tidak punya pekerjaan yang lain saja!


Bahkan Asti terkesan tidak peduli. Walaupun dia juga sakit hati juga dengan cara Ibu Widya yang membela wanita muda itu yang telah menghancurkan rumah tangga anaknya. Malah sekarang Zahra melenggang dengan bebasnya...


" Sudah, sayang. Ya! Jangan seperti ini. Lihat! Mereka juga tahu, apa yang kamu lakukan itu tidak salah, oke? Jangan mudah terpancing lagi, Asti... Kamu sedang hamil muda sekarang. Kami semua tidak dapat membayangkan kalau wanita tua itu sampai berhasil menamparmu. Kamu bisa terbanting ke lantai, dan berakibat patal pada kandunganmu..."


Pelan di papahnya Asti menuju kamar tidur utama. Leon sudah yakin, kalau kedatangan tamu tak diundang itu akan membawa sesuatu hal buruk. Jadi dia terburu-buru meninggalkan pekerjaannya yang sedang mengawasi pembangunan pondasi di lokasi perumahan rumah untuk tahap kedua.


Bulek Ratih dan Leon membantu Asti berganti pakaian. Tubuh Asti benar-benar lemah dan tak bertenaga. Sehingga Bulek Ratih cukup kesulitan untuk melakukannya kalau tidak dibantu Leon. Sampai Leon ikut berbaring menenangkannya.


" Gila ibu Widya, barbar juga, ya. Pak!" kata Joko berkomentar. Mereka sungguh tak menyangka kalau wanita itu berani akan menganiaya Asti. Jelas di sini yang salah Zahra. Malah selalu dibela oleh wanita itu, yang terlalu sayang dengan anaknya Satrio.


" Sebenarnya, menantu Ibu Safitri itu kenal baik dengan Mas Leon, Pak!" Kata Joko pelan.


" Maksud kamu, Ibu Safitri Wicaksono yang merupakan istri petinggi di kantor Satrio?"


" Iya, Pak! Mungkin Ibu Safitri yang menyampaikan hal itu kepada suaminya? Mana Joko tahu, Pak!


Sebab rumah dinas Satrio juga sudah nggak bagus auranya... Ibu Inneke yang menyebarkan awur- awur di rumah dinas Satrio pun sudah kehilangan suami dan anaknya... Mbak Nanik disiram air keras yang mengenai separuh dari wajahnya oleh orang tak dikenal di terminal. Sekarang Satrio akan dimutasi. Dia mengalami cacat permanen di sebuah kakinya. Setelah mengalami kecelakaan saat Bapak usir dia ketika mau menengok Akbar!"


"'Kok, justru kamu banyak tahu, soal ini. Joko ..."


" Di sana ada anak gank motor yang membantu Joko mengamati gerakan mereka. Asti selalu dibantu doa dari Ustadz muda yang merupakan tetangga Mbok Bayah. Juga bantuan seorang Kyai di Boyolali atas permintaan Mbah Sanjaya..."


" Sebagian dari perbuatan mereka berbalik ke diri masing- masing karena Kuasa Allah, Pak! Seperti kecelakaan Satrio sama kecelakaan yang menimpa keluarga Pak Suparlan. Selebihnya karena kita berbuat baik dengan orang lain. Jadi kita pun dibantu oleh mereka. Ada yang dengan kekuatan batin seperti memasang pagar putih di rumah ini. Ada doa , juga informasi yang tepat dari anak-anak motor itu.."


" Kapan-kapan, Bapak mau bertemu dengan anak-anak motor itu, ya? Katanya, Ninuk juga selalu di jaga saat di kampus dan di tempat kostnya. Bapak mau berterima kasih dengan mereka. Sama itu, Joko. Kita tengok ke rumah ustadz muda itu, ilmunya batinnya sangat tinggi. Bapak selalu bisa merasakan kalau ada sesuatu yang tidak baik datang di rumah ini."


" Beres, Pak!" ucap Joko sambil menunjukkan kedua jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2