Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 139. Kedatangan kedua Orang Tua Dania


__ADS_3

Sebenarnya Asti sudah lama mendengar tentang keterlibatan Dania dengan pembobolan toko di pasar itu... Walaupun berita itu timbul tenggelam dalam kurun waktu hampir tiga bulan terakhir ini.


Joko hanya mendapat sedikit info ketika mereka datang ke polsek setempat. Sebab Pak Hermawan sendiri pun semakin sibuk sejak ditangkapnya Dania dan pacarnya itu. Beliau telah membentuk satu team khusus untuk mengusut kasus itu sampai tuntas.


" Mbak Asti, ada orang tua Dania di depan... Katanya mereka ada perlu dengan, Mbak!" Lapor Mas Yanto.


Asti menunda sebentar keberangkatan kali ini untuk ke pasar. Ugh, untung Mas Leon sudah berangkat ke proyek pagi tadi. Kalau tidak, dia akan turut campur dengan semua permasalahan ini.


Mungkin karena adanya pengiriman alat berat yang disewanya dari kota sebelah. Jadi pria itu semakin fokus dengan proyek yang sedang digarapnya itu.


" Mas Yanto, suruh masuk dulu, mereka! Di ruang tamu, ya," ujar Asti.


Asti balik ke kamar, meletakkan kunci mobil, tas selempang dan tas plastik besar berisi wadah minumannya di meja.


Akbar masih disuapi sarapannya di taman samping. Sengaja Bu Jum melakukan hal itu, agar Akbar tak melihat kepergian Ibunya ke pasar. Bisa menangis histeris anak itu kalau dia melihat kepergian ibunya tadi.


Anak itu sudah terkurung di rumah ini dalam beberapa minggu , sejak pulang dari rumah sakit. Jarang diajak lagi bepergian keluar, karena menjaga kesehatan tubuhnya. Perut Akbar masih agak sensitif sedikit dengan berbagai makanan dan jajanan yang dijual di pasar atau di pinggir jalan.


" Maafkan kami, Mbak Asti! Kami hanya mau mengganggu sebentar saja, " kata Ibunya Dania manis.


Mereka menyalami Asti sambil kembali duduk di bangku. Ruang tamu ini tidak terlalu besar. Namun ada kursi tamu dari kayu, meja besar dan rak tempel untuk meletakkan beberapa hiasan.


Wajah ibunya Dania saat itu terlihat sedih dan semakin kusam. Bukan karena faktor usia juga, namun karena kehidupan keluarganya yang semakin sulit dan selalu kekurangan uang. Apalagi ditambah masalah ditangkapnya Dania kemarin.


Hampir setiap hari wanita itu dengan suaminya bekerja di sawah milik Asti. Mungkin juga tidak ada dana yang cukup untuk merawat wajahnya yang dulu dikatakan orang sangat cantik. Sebab, upah buruh di sawah itu hanya cukup untuk menghidupi keluarga mereka sehari- hari dengan dua anak yang masih sekolah di SMP Negeri di sekitar wilayah sana. Sehingga tidak ada sisa kecantikan sedikit pun pada wajah wanita yang sudah mempunyai 3 orang anak itu. Meskipun usianya sepantaran dengan Bulek Ratih. Kurang lebih mereka berumur antara 43 atau 45 tahun.


Kecantikan wanita itu ternyata mahal harganya. Sebab produk skincare itu harus rutin digunakan oleh seorang wanita setiap pagi dan malam hari. Belum lagi setiap produk kosmetik yang harus digunakan itu mempunyai fungsi perawatan yang berbeda- beda.


Ada untuk pembersih wajah, untuk memberi kelembaban atau untuk mengurangi kerutan di kulit. Yang sekarang semakin viral saat ini adalah penggunaan sun screen. Produk ini digadang- gadang dapat mengurangi efek jahat dari sinar matahari yang menyebabkan flek, penuaan dini, juga berbagai permasalahan kulit wajah wanita.

__ADS_1


Menggunakan produk kosmetik buatan pabrik yang modern memang lebih praktis penggunaannya. Apalagi produk itu dikemas dalam wadah yang sangat menarik. Sehingga banyak wanita yang memakainya. Tergantung pilihan, mau yang berharga standar atau mahal. Tetapi tidak semua kosmetik itu juga bagus. Terkadang ada efek negatif bila memakai kosmetik itu memakai bahan kimia yang justru membahayakan kesehatan kulit.


Bagi perempuan Jawa, sejak zaman dahulu mereka sudah mengenal cara perawatan tubuh dan kecantikan dengan bahan- bahan alami... Biasanya mereka menyebutnya herbal atau jamu.


Jamu itu diolah dari berbagai tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitar kita. Mereka mengolah jamu menjadi berbagai ramuan yang lebih praktis dalam bentuk pil, kaplet atau serbuk yang ditambahkan air hangat untuk diminum.


Produk Jamu juga dapat gunakan untuk perawatan wajah , tubuh dan organ- organ penting wanita. Jamu olahan yang paling sederhana adalah yang dibuat oleh tukang jamu rumahan. Mereka itu biasanya menjajakan dagangannya berkeliling di dalam pasar. Bisa juga dari ke rumah- rumah di suatu desa atau kampung. Ada yang menjajakannya dengan berjalan kaki, naik sepeda, atau dengan sepeda motor sehingga mencapai desa yang lebih jauh lagi.


Bukannya Asti menghina atau meremehkan ibunya Dania itu. Kesombongan wanita yang nama gadisnya Tumirah, sepertinya berbalik kembali semua pada dirinya .


Kata Bu Jum, saking cantiknya wajah wanita itu, ibunya Dania semasa remaja disebut sebagai bunga di desanya. Sayangnya, wanita itu jadi agak jumawa dan suka menghina orang lain. Terutama para gadis yang seusia dengan dirinya dirinya, yang tentunya kurang beruntung... Sebab mereka mempunyai wajah yang biasa- biasa saja atau kurang cantik.


Kini kedua orang tua Dania tertunduk sedih di hadapan Asti. Sampai dia bertanya - tanya dalam hati. Ada keperluan apa sampai mereka datang ke rumahnya ini? Bukankah Dania masih menginap di kantor Polsek setempat, yang jaraknya dari rumah mereka justru tidak terlalu jauh.


" Maaf, Pak Sungkono dan Ibu Tum, ada perlu apa, ya? Sampai harus pagi- pagi datang ke sini?"


Tanya Ayahnya Dania dengan bahasa yang baik, menandakan pria paruh baya ini juga sebenarnya juga mempunyai pendidikan yang cukup.


" Maksud Bapak ... Apa, ya?"


" Tolong bantu Dania, agar dapat ditangguhkan tahanannya. Dia tidak bersalah!"


Asti kebingungan sendiri. Apa dia yang harus menggurus permasalahannya Dania ini. Atau orang tuanya akan meminjam uang yang cukup besar sebagai jaminan Dania untuk bebas, begitu? Huh, makin ruwet saja persoalan yang dibawa anak ini!


" Maaf, Pak. Tindakan Dania itu termasuk perkara kriminal. Dia yang melakukannya bersama kelompoknya itu karena membobol Toko Pak Wardi di Pasar. Kalau Bapak dan Ibu mau meminta penanguhan soal Dania. Bapak harusnya menemui beliau. Bapak bisa tanya alamat rumah Pak Wardi di kantor kepala pasar !"


" Jadi bukan Mbak Asti yang melaporkan Dania kepada polisi?" Tuduh Ibunya Dania cepat.


" Untuk apa, Bu? Mungkin yang Dania ambil di toko saya tidak terlalu banyak dan saya sudah mengikhlaskannya...."

__ADS_1


Mereka terdiam agak lama. " Apa kasus Dania sangat berat, Mbak Asti? Kami sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membayar orang yang mau bantu Dania agar tidak masuk penjara"


" Saya juga kurang jelas, Pak! Bapak bisa minta bantuan kepada kantor LBH setempat, mungkin ada jasa pengacara yang akan membantu persoalan Dania itu dengan biaya yang lebih ringan. Jangan asal membayar orang sembarangan! Nanti kalian akan dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab." Kata Asti berusaha menjelaskan.


Kedua orang tua Itu saling berpandangan- pandangan. Walaupun sebenarnya Asti bisa meminta bantuan dari Ibu Imelda tetapi buat apa? Ucapan dari Dania kepada orangtuanya itu saja malah bersifat menyesatkan! Apa mereka tidak tahu kalau ancaman hukuman buat Dania akan sangat berat. Karena kata Joko, Dania juga yang membantu menjual rokok hasil pembobolan toko itu.


" Mbak Asti nggak bisa bantu kami, ya?"


" Wah, saya mana mengerti masalah ini, Bu! Asti kan hanya seorang pedagang yang mencari rezeki dengan berjualan di pasar! Bukan orang yang sekolah tinggi dan mempelajari hukum."


" Apa bisa kami meminjam uang kepada Mbak Asti kalau masalah ini, harus mengeluarkan biaya banyak?"


" Bu, Ikuti saja proses dan prosedur yang harus Dania jalani. Sebab uang sebanyak apa pun, tak bisa membuat Dania terbebas dari tuntutan hukum. Tindakan Dania ini akan diproses dalam sidang di pengadilan. Nanti Pak hakim yang akan memutuskan tuntutan hukuman untuk Dania. Berapa tahun Dania akan dipenjara itu, tergantung dari besar kecilnya peranan Dania pada kelompok pembobol itu."


Asti lebih bersabar lagi untuk menjelaskan hal itu. Sedikitnya dia pernah menjalani proses itu di sebuah pengadilan dalam konteks yang berbeda. Pasti ada orang yang tidak bertanggung jawab yang mendekati mereka untuk memanfaatkan situasi. Oknum ini tentu meminta jasanya berupa sejumlah uang sebagai bayarannya .


Mereka akhirnya pamit. Sebenarnya Asti kasihan kepada orang tuanya Dania itu . Tetapi rasa kasihan tak membuat Dania menyadari kalau segala perbuatannya itu sangat salah dan juga merugikan orang lain.


Bukan Asti menilai tinggi uang yang telah dimanfaatkan Dania selama ini. Tetapi hilangnya rasa untuk percaya terhadap orang lain pada diri Asti saat ini.


" Nggak jadi jalan ke pasar, Mbak?" tanya Mbak Ning. Wanita itu mengambil gelas teh dan piring kue yang tadi dia sajikannya untuk tamu itu.


" Pusing, Mbak! Dania ngomongnya berbelit-belit dan ngaco. Serasa tak bersalah saja! Orangtuanya sudah didekati seseorang yang akan memanfaatkan mereka dalam kasus ini. Kasihan tetapi juga jengkel juga dengan mereka..."


Terpaksa, Asti menelpon Puspita karena dia tidak jadi berangkat. Hari sudah siang, hampir pukul 10.00. Kembali waktu terbuang sia-sia hanya karena urusan Dania. Apa Dania tidak bercerita kepada orang tuanya, kalau dia sudah banyak mencurangi Asti? Dengan merekayasa laporan keuangan, mencuri baju Asti untuk contoh model pesanan di konveksi, juga tidak amanah.


" Istirahat saja, Mbak! Mumpung Akbar masih diajak Bu Jum main di lantai atas..."


Mbak Ning menatap kepergian Asti dengan wajah cemas. Sebenarnya, tidak ada ikatan persaudaraan antara Dania dan Asti. Yang ada hanya ikatan persaudaraan ibunya Dania dengan Bulek Ratih di desa itu. Tetapi kenapa Asti yang selalu dilibatkan dalam urusan mereka?

__ADS_1


__ADS_2