
Seruan dan ucapan Asti dengan suara yang agak keras, saat perempuan itu masuk ke dalam rumah cukup mengejutkan semua orang. Namun Bulek Ratih yang ikut menyusulnya masuk, langsung memeluk tubuh Asti yang masih gemetaran menahan segala emosi.
" Sudahlah... Nggak usah didengar, ocehan yang nggak bermutu dari ibu itu!" ujar Bulek Ratih.
Malah Ibu Widya, Bude Prapti, dan Pak Cahyadi hanya terdiam. Mereka sudah mendengar dari Bude Prapti tentang permasalahan Ibu Suparlan. Biasanya Asti hanya diam dan tidak terpengaruh oleh ucapan dan nyinyiran wanita itu.
Air mata Asti membasahi baju batik yang dikenakan wanita itu. Mereka berpelukan cukup lama sampai suara lembut Bulek Ratih cukup menenangkan.
" Coba, Lek ! Selama ini aku sudah diam setiap Jeng Inneke itu ngomong dengan tujuan menyindir atau meremehkan. Asti tetap mau belajar dari istrinya Pak Suparlan itu karena dia warga lama di sini. Tapi aku nggak terima kalau keluargaku ini disebut rombongan perusuh!
Memang kita semua menyusahkan dan mengganggu hidupnya, apa?"
Lek No dan Pak Cahyadi segera keluar dari dalam rumah. Dia tahu karena kehamilannya, Asti jadi mudah terpancing emosi. Mereka para kaum laki - laki, tidak mau ikut campur dalam permasalahan ini.
Tetapi Lek No juga tersinggung dengan wanita ucapan wanita tadi. Karena jarak merek juga agak jauh, jadi Lek No tidak mendengar ucapan Ibu Suparlan.
Pria itu hanya menurunkan istrinya dan Bude Prapti di depan rumah. Lalu dia yang tadi segera memarkirkan kendaraan milik Pak Cahyadi itu di tempat parkir khusus yang disediakan di pojok perumahan sana. Bahkan mobil bak terbukanya saja sejak kemarin masih terparkir di sana.
Suami Lek No itu hanya agak kaget dengan cara Ibu Suparlan berpakaian saat keluar dari rumahnya, yang menurutnya kurang pantas. Sebab wanita itu hanya mengenakan daster tipis berbahan kaos berwarna merah.
Bukan hanya panjang gaun itu yang di atas lutut. Namun bahan daster itu mencetak ketat seluruh tubuh Ibu Suparlan yang cukup padat dan berisi. Padahal di kompleks ini, hanya wanita itu yang sudah mempunyai anak perempuan yang sudah duduk di kelas 1 SMA.
Pak Sayur yang sudah cukup berumur pun, sesekali melirik pembelinya itu dengan tatapan penuh gairah. Penampilan Ibu Suparlan itu cukup menggoda iman para lelaki.
Memang Ibu Suparlan adalah wanita yang sangat eksis dengan penampilannya! Seakan dia ingin menunjukkan kepada para wanita muda yang menjadi tetangganya di kompleks perumahan ini. Kalau dia yang sudah berusia lebih dari tiga puluh enam tahun saja, masih dapat tampil segar dan menarik.
Suasana siang di dalam rumah dinas Satrio menjadi jadi lebih hening. Sesekali terdengar ketukan suara palu dari jendela - jendela di beberapa ruangan.
Hari ini Lek No dibantu Pak Cahyadi memasang kasa kawat nyamuk pada setiap ventilasi di bawah jendela. Tentu untuk persiapan kelahiran bayi Asti dan Satrio. Biar tidak ada nyamuk yang masuk ke dalam rumah. Sebab, di belakang kompleks perumahan ini, ada lahan luas yang dipenuhi berbagai pepohonan besar dan semak liar yang tidak diurus oleh pemiliknya. Jadi, kalau rumah tidak tertutup dengan rapat, serbuan nyamuk- nyamuk itu akan cukup mengganggu para penghuni rumah di sekitar kebun kosong itu.
__ADS_1
Suasana hati Asti yang panas belum juga mereda. Dulu, ada Mbah Harjo Winangun yang selalu memberinya nasehat dan kekuatan. Sekarang dia merasa sendirian.
Dulu saat dia kelas 9 SMP, tiba-tiba saja seluruh temannya di satu kelas memusuhinya. Terus Asti dijauhi oleh para siswa putra satu sekolah, bagai orang yang terkena penyakit menular. Padahal dia tidak tahu apa kesalahan yang telah diperbuatnya. Hanya nasehat bijak dari Mbah Kakung Winangun itulah yang menyadarkan, bahwa kita tidak selalu bisa membuat semua orang menerima atau menyukai kita.
Sejak itulah Asti menjadi lebih mandiri dan percaya dengan kemampuan dirinya. Apalagi bertahun-tahun sebelumnya Mbah Harjo telah membimbingnya mengaji dan mempelajari kajian agama Islam di rumahnya.
Bude Prapti dibantu Bulek Ratih menyiapkan makan siang dan membuat cemilan dari pisang raja yang dibawa dari kebun dari desa. Wajah Asti masih sembab ketika dia keluar dari kamar dan ikut menikmati makan siang bersama.
"Maaf, Bapak, Ibu. Juga Lek No dan Bulek Ratih! Asti sudah sangat sabar menghadapi ucapan Ibu Suparlan. Tadi Asti agak marah. Karena nggak terima semua orang di rumah ini dianggap perusuh. Maaf .."
"Sudah, Asti! Kita juga maklum, kok. Kamu yang harus banyak istighfar, ya. Banyak Sabar...." Ujar Ibu Widya tenang.
Asti mulai merasakan hentakan kuat yang tiba-tiba menyerang diperutnya. Sesekali dia bisa menahan rasa nyeri itu dengan rintihan perlahan. Dia tersadar kalau emosinya pagi tadi membuatnya cukup membuatnya sangat stress.
" Siap- siap aja, Asti. Kalau kontraksinya semakin sering. Kita berangkat ke rumah sakit!"Jelas Ibu Widya.
" Bu, titip kunci lemari bawah. Di situ ada perhiasan milik Mbah Putri dan Bude Ayu . . . Rencananya mau Asti jual."
" Tenang aja, Asti. Sasya sudah mencari orang yang mau membelinya!"
Sejak acara nujuh bulanan itu, Asti telah membicarakan warisan perhiasan emas itu kepada kakak perempuannya Satrio. Perhiasan itu model lama, tetapi beberapa suratnya sudah tak terbaca karena dimakan usia. Kata Mbak Sasya model perhiasan emas kuno seperti itu cocoknya ditawarkan pada seorang kolektor. Sebab mereka menilainya bukan saja dari kandung emas di perhiasan itu. Namun lebih kepada nilai perhiasan itu sebagai barang antik. Syukur saja kalau dibeli lebih mahal dari harga pasaran emas yang sekarang.
Tak ada niat Asti memakai perhiasan itu yang tampak sangat menyolok. Sebab beberapa untai kalung saja beratnya ada yang lebih dari 20 gram. Belum lagi gelang , cincin dan giwang yang serba besar. Kalau Asti memakainya di acara organisasi di kantor Satrio, dirinya nanti lebih menyerupai toko emas berjalan.
Sampai tengah malam, kontraksi yang dialami Asti masih belum teratur, makin membuat Asti sulit tidur.
" Ini si Dedek mau ditungguin papanya lahir, kali! " Ucap Ibu Widya yang juga kurang bisa tidur nyenyak semalam. Karena ikut tidur di ranjang yang sama dengan menantunya itu.
Asti semakin gelisah karena sesak napas, dengan perut yang melilit semalaman. Dibantu ibu mertuanya, Asti mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit aja, Bu!" Ajak Pak Cahyadi setelah mereka menyelesaikan sarapan.
Pak Cahyadi dan Lek No keluar dari rumah. Bermaksud mengambil mobil yang terparkir di pojok jalan perumahan yang buntu.
Di sana ada lahan yang cukup luas untuk memarkirkan mobil bagi penghuni komplek ini agar tidak mengganggu aktivitas para pemilik rumah dinas yang pulang dan pergi bekerja. Sebagian dari mereka menggunakan kendaraan roda empat sebagai mobil milik pribadi yang lainya adalah mobil dinas dari kantor.
Keringat Asti sudah menganak sungai saat mereka sampai di lobi rumah sakit. Dengan gerak cepat Pak Cahyadi mendapatkan kursi roda untuk Asti yang akan segera dibawa ke ruang periksa Dokter Siska. Kebetulan hari ini ada Jadwal dokter ahli kandungan itu dari pukul 10.00.
Atas rekomendasi dokter Siska, Pak Cahyadi dibantu Lek No mendaftarkan Asti pada meja resepsionis. Para petugas itu, telah menyiapkan kamar sesuai dengan kelas pada BPJS yang Satrio miliki.
Rombongan itu segera masuk kamar untuk Asti. Sedangkan Ibu Widya masih menunggu Asti di ruang persalinan untuk mendapat tindakan medis .
Selama proses persalinan itu, Bude Prapti dan Bulek Ratih yang tegang. Kata dokter Siska karena melahirkan anak pertama, jadi pembukaan yang harus dijalani Asti lebih lambat dan lama.
Setiap rasa sakit dan nyeri saat bayi di perutnya bergerak untuk mencari jalan lahir, di situlah Asti bersholawat dan memohon kepada Yang Maha Esa, agar dia diberi kekuatan dan kemudahan.
Sesekali, Ibu Widya mengusap keringat di dahi dan leher Asti dengan tisu. Wanita itu juga melafalkan beberapa lantunan ayat Alquran dan doa. Agar cucunya terlahir sehat dan tidak mengalami kendala.
Hari mulai berganti malam. Para wanita yang tabah dan kuat itu bergantian menjaga Asti. Wajah-wajah para pria yang ada di ruang tunggu itu terlihat tegang namun sabar.
Hampir 10 jam Asti merasakan nyeri dan sakit perut yang berkepanjangan. Sampai wajah Pak Cahyadi tampak cerah melihat sosok Satrio yang datang ke ruangan ini. Anaknya itu sudah mandi dan berganti pakaian dengan celana jeans dan t- shirt biru navy.
Asti yang sedang merasakan sakit yang paling sakit, ketika dokter Siska mulai memberi aba-aba. Bidan Yati, juga turut membantu. Erangan Asti terus terdengar di antara suara dokter Siska dan Bidan Yati yang memberi arahan.
Satrio segera meraih tubuh Asti, ketika Ibu Widya melihat kehadiran anaknya. Kini Satrio yang memeluk bahu istrinya. Karena sudah terlalu lama menahan sakit dan nyeri, Asti tidak memperhatikan kalau sekarang suaminya itu sudah mendampingi kelahiran putranya. Napas Asti semakin memburu, hentakan kuat seiring dengan erangan Asti, akhirnya si bayi keluar dengan dorongan terakhir.
.
Suara tangisan bayi yang cukup keras itu didengar oleh orang-orang yang menunggu di depan pintu ruang persalinan. Ada doa yang terucap. Alhamdulilah! Bulek Ratih menangis terisak-isak . Gadis tersayangnya kini telah menjadi seorang ibu.
__ADS_1