Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 195. Kedatangan Bulek Ratih


__ADS_3

Bulek Ratih ikut mengantar Asti dan anak-anaknya yang pulang kembali ke rumah, di kampung Sidodadi. Setelah mereka singgah dan cukup lama bermain di rumah Joglo di desa Sendang Mulyo.


Wanita itu beralasan masih kangen dengan Qani yang menurutnya semakin menggemaskan saja. Bayi perempuan itu semakin gesit merangkak dan masuk kolong meja, kursi atau pun masuk ke dalam lemari pakaian, bila pintunya tidak tertutup rapat.


" Mbah Ratih ikut pulang ke rumah Akbar?" tanya Akbar antusias.


" Boleh nggak?" tanya Bulek Ratih menggoda anak itu.


" Boleh lah..." Anak itu memeluk erat-erat si nenek.


Percakapan itu saja sudah membuat ketiga wanita dewasa yang mendengarnya tertawa geli. Di sana ada Mbak Asni, Mbak Mar dan Bu Jum yang sering menggoda Akbar karena berbicara sangat jelas dan bergaya bak orang dewasa. Qani yang duduk di pangkuan ibunya juga ikut tertawa.


Perjalanan pulang yang hanya memakan waktu tak sampai 20 menit itu, segera diselesaikan Asti dengan aman dan selamat. Sampai mobil mereka sudah masuk pintu depan garasi rumah yang dibukakan oleh sang suami, Mas Leon.


Qani serasa mau melompat dari gendongannya Bu Jum ketika melihat sosok ayahnya. Ternyata bayi perempuan itu juga sudah sangat merindukannya. Karena tidak mau disebut sebagai seorang ayah yang pilih kasih. Leon menyediakan punggungnya untuk dinaiki Akbar. Jadilah kedua anak itu berteriak-teriak gembira, karena bersamaan digendong sang ayah sambil dibawa masuk ke dalam rumah.


" Maaf, Bu Ratih...!" Ujar Leon. Setelah meletakkan keduanya dengan hati-hati di lantai. Akbar langsung masuk dalam pelukan Bulek Ratih.


" Kalian baik-baik saja, toh?" tanya Wanita itu, setelah disalami Leon dengan takzimnya. Dia merasakan sesuatu yang berbeda saat Asti masuk rumahnya siang tadi.


" Sedikit nggak baik, Bu Ratih!" Jawab Leon berterus terang. " Ada seorang sahabatnya Almira yang telah melabrak Asti, ketika kami makan di sebuah rumah makan di Solo.Ternyata dialah yang selama ini menampung Almira di sebuah rumah kost setelah pergi dari rumahnya di desa...."


Asti hanya diam tertunduk. Anak-anak sudah mandi sore dan sekarang sedang disuapi makan oleh masing-masing pengasuhnya di halaman samping.


" Konyolnya, Bu Ratih, rekanan pengusaha yang akan bekerja sama di proyek pembangunan rumah berikutnya, adalah tunangan yang melabrak Asti itu!"


" Kamu nggak apa-apa, Asti?"

__ADS_1


" Nggak apa-apa, sih. Bulek... Tetapi keluarga perempuan itu datang kemarin bersama orang tuanya ke rumah ini. Bukannya wanita muda itu minta maaf, atas perbuatannya itu. Malah kedua orangtuanya menekan aku untuk membantu Mas Qosim itu agar kerjasamanya dengan Mas Leon berjalan lancar. Aneh, kan?" Perkataan Asti terdengar tidak terlalu yakin.


" Bagaimana dengan penilaianmu, Nak Leon?"


" Kita lihat saja nanti, hitungan Mas Qosim besok pagi! Saat kami mengadakan pertemuan di kantor! Kalau dia berkata jujur, kerjasama itu berlanjut! Kalau data dan kemampuannya banyak direkayasa, kerja sama batal !"


" Terserah... semua keputusan ada di tanganmu, Nak Leon. Bulek hanya minta, tolong jaga dan lindungi Asti dan anak -anak... Kita nggak tahu cara orang lain menjatuhkan dan menghancurkan kebahagiaan rumah tangga kalian! Soal Almira itu bisa tetap dijadikan pembelajaran yang berharga untuk kelanjutan pernikahan kalian!"


Bulek Ratih ikut mengawasi keberadaan warung tenda milik Joko. Sang anak sedang membawa bapaknya sowan ke saudaranya yang baru pulang dari merantau dari Bali. Keluarga mereka itu tinggal di suatu desa di daerah Wonogiri.


" Kamu tahu tentang temannya Almira itu, Jum ?"


" Tahu, banget. Yu! Mukanya Mbak Asti waktu itu saja sampai merah padam. Kita juga nggak menyangka, kalau di restoran tempat pertemuan bisnis Pak Leon itu ada Almira bersama teman - temannya... Tuh, ibunya si Mbak Nur! Dari kemarin ribet - ribut melulu dengan penginapan yang disediakan di paviliun tempatnya Bu Ani.."


" Maksudnya, keluarga perempuan itu datang ke sini?"


Perkataan Bu Jum membuat hati Bulek Ratih panas. .. Pasti omongan ibu itu membuat Asti sangat tersinggung! Mana pernah Asti tidak memuliakan tamu yang datang ke rumahnya ini!


" Memang si Ibu itu ngomong apa aja, Jum ?"


" Banyak, Yu... Salah satunya, dia mengira rumah dan toko ini semua milik Pak Leon! Bahkan Mbak Asti disumpahi hidup susah karena nggak mau menolong usah calon menantunya yang katanya anak yatim!"


" Waduh! Itu Ibu belum pernah disiram air cucian bekas mengepel lantai seember, ya!" Ujar Bulek Ratih menahan emosi.


" Ya, begitulah... Sampai Pak Leon menjelaskan semuanya pun. Si Ibu itu tetap tidak percaya! Pagi tadi si Ibu tetap mencari informasi lagi tentang Mbak Asti lewat para tetangga yang buka lapak jualan di depan mini market!"


" Terimakasih Jum, Ning! Selalu menjaga dan melindungi Asti... Asti itu kalau sudah dihina dan disakiti orang itu hanya diam saja, "kata Bulek Ratih pelan.

__ADS_1


" Iya, Yu! Sekali-kali harus dilawan orang yang jahat pada kita. Biar kapok!" Ucap Mbak Ning.


Bu Jum tertawa geli. " Aku juga sudah dengar waktu Yu Ratih melabrak Bu Dian! Sekarang kalau ketemu Mbak Asti mulutnya Bu Dian itu cuma bisa mangap aja nggak berani ngomong banyak lagi!".


" Ya, siapa yang nggak emosi? Dia nuduh Asti terlibat pembobolan toko yang ada di pasar. Padahal Pak Hermawan nunggu Asti untuk dimintai keterangan saja! Karena toko Asti bukanya agak siang... Mereka, para polisi itu nunggu di depan tokonya!'


" Wah, kalau nggak dilabrak begitu, pasti cerita Bu Dian itu bisa panjang- lebar, kayak dari Aceh sampai ke Merauke ! Nggak jelas dari ujung sampai pangkalnya!"


" Itulah... yang nggak aku suka kalau ibu-ibu suka ngumpul dan bikin gosip ! Bikin dosa karena ngomongin orang lain... Padahal mereka juga sudah ikut kelompok Majelis Taklim, menghadiri acara pengajian ke beberapa desa, rajin yasinan di mushola, ikut bantu donasi anak yatim ... Sayang kan? Pahala dan amal kebaikan kita hilang karena menyampaikan informasi yang menyesatkan!"


" Memang Bu Dian masih ikut pengajian di musholla depan rumahmu, Yu?" tanya Mbak Ning.


" Ya, masih ikut... Gengsi dia kalau diomongin tetangga nggak ikutan. Cuma kalau lihat wajahku itu bawaannya kayak dia agak takut dan ngeri begitu... Seperti melihat penampakan di pohon angker gitu ..."


Mereka jadi tertawa. " Memang Bu Dian melihat Yu Ratih seperti apa?"


" Seperti lihat Genderuwo, yang akan mencekik lehernya kalau dia berani bikin gosip lagi!"


Ditemani Bu Jum dan Mbak Ning, Bu Ratih keluar menuju warung tenda yang sudah ramai pembeli setelah Magrib. Kebetulan di sana ada keluarga Mbak Nur yang juga berkumpul di sebuah meja sambil menunggu pesanan makanan diantarkan.


Mereka tadinya minta ditempatkan di bangku di halaman samping rumah Asti, yang lebih nyaman dan sejuk karena banyak pot besar berisi tanaman buah cangkokan yang tumbuh subur. Tetapi Firman menolak dengan alasan, kalau meja di halaman samping itu akan dipakai untuk keperluan anggota keluarga Asti.


Memang biasanya, di sana ada asisten Pak Leon dan beberapa orang proyek yang suka nongkrong. Selain menikmati makanan dari warung tenda. Mereka juga ngobrol sambil menghilangkan lelah.


Wajah Ibunya Nurwati itu tampak manyun. Padahal dia juga tak memesan makanan apapun kecuali botol minuman dingin yang dibelinya di mini market " AS Berkah"


Mbak Ning mulai mengeluarkan camilan yang dibikinnya sore tadi, berupa tahu walik dengan saus sambal kacang pedas. Firman, Kancil dan Mas Danu ikut nimbrung makan, setelah menyelesaikan pesanan para pembeli. Iseng Bu Jum ikut menuang teh yang dibuat Firman pada teko plastik. Dia membuat es teh dan membawakan beberapa gelas plastik ke meja besar itu.

__ADS_1


Pak Leon pun keluar dari dalam rumah dan ikut nimbrung bersama mereka. Tadi dia banyak membawa oleh -oleh yang dibelinya di kota Madiun. Rencana dari Mas Pandu untuk membuat proyek serupa di wilayah yang lain membuat Leon selalu tersenyum senang. Dia seperti tidak peduli dengan kehadiran Mas Qosim dan keluarga Nurwati Fatimah itu di warung tenda itu.


__ADS_2