
Dalam perjalanan kembali pulang ke rumah, telah terjadi kesepakatan. Damar membawa mobil Pak Leon, bersama Asti dan Qani yang sudah tertidur lelap di car seat kesayangan bayi mungil itu. Sedangkan di mobil Innova, Dimas yang akan membawa mobil itu dengan Ninuk , Putri dan Akbar yang juga sudah mengantuk.
Tak sampai 30 menit, kedua kendaraan itu beriringan memasuki garasi depan rumah Asti. Mas Yanto tersenyum menyambut kepulangan mereka.
Hati-hati, Leon membuka pintu samping saat Asti turun sambil membopong bayi itu ke dalam rumah. Hal serupa terjadi pada Akbar... Hanya saja Dimas yang mengangkat balita itu yang semakin kokoh tubuhnya karena makan apa pun yang disediakan sang Ibu. Segala jenis sayuran pun dia nikmati untuk makanannya asal tidak pedas.
Ninuk membuka beberapa bungkus sate yang tadi dipesan Asti untuk orang rumah. Mas Yanto dipanggil untuk makan bersama Mbak Ning dan Bu Jum. Yang sebungkus lagi disimpan untuk Pak Cakra dan Joko. Mereka berdua mendapat tugas lain, setelah mengurus masalah Mas Qosim, yang kembali menjadi kisruh karena kehadiran calon Bapak mertuanya.
Di dalam kamar Leon segera mencari handuk untuk dia mandi. Sebab istrinya sedang mengurus Qani.
" Yang ... aku mau mandi!" Ucap Leon pelan. Takut membangunkannya bayinya .
" Ya, sudah sana! Nanti kusiapkan baju gantinya." Ujar Asti santai.
Si suami masih berdiri termangu di depan pintu kamar mandi... Mereka bertatapan.
" Mau disiapin air panas?"
Leon menggeleng lemah. " Badan lagi gerah, kok. Mandi pakai air panas, sih!"
" Ya, sudah sana, mandi! Nanti semakin malam, semakin dingin air di bak kamar mandinya, Mas!"
Asti keluar kamar, ketika di kamar mandi terdengar guyuran air yang berirama jatuh ke lantai yang di beri keramik dengan pola yang lebih banyak guratan agar tidak licin.
Di ruang makan, Bu Jum dan Mbak Ning masih ngobrol... Putri sedang menyiapkan dua gelas kopi untuk Pak Rob dan Mas Yanto yang duduk di dekat warung tenda sambil mengawasi keadaan.
Mbak Ning melihat Asti menyiapkan segelas kopi untuk suaminya. Dia membawa kopi panas dengan baki yang lebih kecil. Leon menoleh ketika mendengar suara pintu berderit lirih, Asti masuk sambil meletakkan kopi itu di meja rias.
__ADS_1
Leon sudah berpakaian yang lebih nyaman dengan t- shirt dan celana pendek... Pria itu menyentuh gelas kopi yang masih mengeluarkan asap mengepul.
" Tadi keluarga Nur sudah meninggalkan rumah Bu Ani!" Lapor Leon pelan. " Urusan Mas Qosim sudah diambil alih oleh Cakra. Bahkan pria itu sudah menghapus akun bisnis milikku!"
Ucapan itu membuat kepala Asti tengadah. Mereka bertatapan lama. Sampai Asti menghembuskan nafasnya yang sedikit menyesakkan dadanya.
" Sebenarnya... saya nggak pernah mempersoalkan dengan siapapun Mas Leon berhubungan bisnis! Karena Semua itu urusan pekerjaan Mas Leon dan tanggung jawab pada perusahaan! Yang saya heran , mengapa masih ada orang tertentu yang menyerang diri pribadi saya, padahal saya nggak kenal mereka...Malah nggak tahu - menahu masalah proyek perumahan yang jadi tanggung jawab Mas Leon."
" Terus kamu akan menyalahkan saya begitu? Saya tahu, perbuatan Almira itu karena penolakan saya dulunya... Tetapi sejak melahirkan Qani, sikap kamu banyak berubah Asti! Saya suamimu, bukan lelaki yang akan menghancurkan hatimu! Apa kesalahan saya begitu besar? Sehingga kamu semakin tertutup dan hanya menjalankan peranan kamu saja selama ini hanya sebagai ibu rumah tangga saja?"
Air mata Asti menetes... " Saya merasa menjadi orang yang sangat bodoh karena termakan hasutan yang dilakukan Almira ...
Sehingga saya dengan mudahnya percaya kalau Mas masih ada hubungan dia! Mengenai perasaan dan cinta Mas Leon yang berubah. Itu hanya kehendak Allah saja, yang mampu memutar balikkan keadaan dan hati manusia.."
"Selama ini saya merasa bersalah karena Qani sebelum lahir sudah mengalami berbagai permasalahan. Mungkin saya kurang peduli dengan kesehatan dan tidak menjaga janin yang ada di rahim dengan benar. Rasa bersalah dan sangat berdosa itu semakin besar. Karena saya tidak menjaga dengan baik-baik karunia Allah yang dititipkan Allah kepada saya! Makanya saya masih belum percaya kalau Qani terlahir sehat walafiat dan tidak mengalami kendala apapun... Walaupun tubuhnya lebih kecil dari bayi seusianya, tetapi dia tumbuh dan menjadi bayi yang cerdas..."
" Kamu selama ini menghawatirkan keadaan Qani? " tanya Leon tak percaya.
Tanpa sadar Asti yang merasa tertekan, sedih, dan takut kembali, menjadi sangat rapuh. Bahkan dia tak mampu menolak ketika Leon menarik dirinya agar masuk ke dalam pelukan hangat lelaki itu. Sampai dia menangis tersedu-sedu di dada suaminya itu. Membuat basah t-shirt putih yang dipakai Leon.
Leon maklum. Berbulan-bulan setelah kelahiran bayinya, Asti semakin jarang beraktivitas ke luar rumah. Padahal dia tak pernah melarang istrinya itu melakukan apa pun, asalkan kegiatan yang dilakukannya itu cukup positif. Bahkan hampir sebagian besar semua keperluan Qani ditanganinya sendiri. Bu Jum hanya sesekali membantu saat Asti sudah sangat repot... Seperti dia harus juga makan, mandi ataupun sholat.
Ternyata Asti sangat mencemaskan perkembangan putrinya. Walaupun saat mereka berkonsultasi ke dokter anak secara rutin di rumah sakit. Dokter menyatakan kalau pertumbuhan bayinya itu cukup sehat dan normal.
"Asti , sudah sayang! Jangan merasa bersalah begini, yah... Dengar! Cakra sudah menyelesaikan urusan Almira dan Nur! Joko juga sudah menemui Almira di tempat kostnya di Solo! Wanita aneh itu tidak akan berhasil menghancurkan rumah tangga kita lagi!"
" Ini bukan soal Almira atau Nur saja! " bisik Asti kelelahan. Karena banyak menangis.
__ADS_1
Hati-hati Leon menengadahkan wajah istrinya yang sudah sembab dan basah oleh air mata. Dihapusnya air mata kesedihan itu dengan kedua ibu jarinya dengan lembut.
" Aku tahu, sayang! Kalau ada masalah apa pun, tolong cerita pada suamimu ini! Jangan semua kamu simpan sendiri. Terus kamu banyak berpikir untuk segera mengatasinya... Kita ini suami -istri, harus dapat mengatasi semua permasalahan itu secara bersama - sama...."
" Walaupun saya hanya orang kampung dari dari desa dan hanya lulusan SMA?"
" Hus! Jangan kamu merasa rendah diri hanya karena ucapan ibunya Nur itu yang suka meremehkan orang lain! Asti aku mencintaimu dan menerimamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu itu!"
Ucapan Mas Leon itu terasa lebih indah dari untaian lagu yang paling manis sekalipun! Sudah berapa bulan mereka telah menikah? Tetap saja pemikiran Asti dibayang- bayangi oleh pahitnya dari pengkhianatan yang dilakukan Satrio! Juga dari cara mantan suaminya dan Zahra yang menghancurkan hidupnya. Apalagi dengan kehadiran Almira yang terus membayang-bayangi kehidupan pernikahannya! Almira yang mempunyai berbagai kelebihan dibandingkan dengan dirinya yang di hadapannya tak lebih lebih seperti butiran debu.
Kehadiran Almira yang cerdas, cantik, berhijab penuh gaya sehingga menarik perhatian banyak pemuda lajang lainnya. Apalagi gadis desa itu berhasil mengangkat derajat keluarganya dengan berprestasi cemerlang, sejak dia sekolah sampai kuliah... Kariernya pun cukup menjanjikan, sebagai desain interior profesional! Setelah dia lulus kuliah dengan prestasi cumlaude!
" Tetaplah bersamaku, bersama anak- anak kita kalau bisa selamanya... " Ucap Leon meyakinkannya." Itulah doa yang selalu saya panjatkan setiap hari setelah selesai sholat, Asti!"
Sekarang Leon berusaha mengembalikan rasa percaya diri dan cinta Asti, yang hampir musnah karena fitnah dan segala kebohongan perempuan itu, untuk menjerat Leon.
Joko sudah sering mengingatkan kepada Leon, kalau Asti itu sangat berbeda dengan wanita kebanyakan. Wanita itu akan mudah rapuh bila dihina jati dirinya... Lain halnya bila keluarga dan anaknya yang direndahkan oleh orang lain, dia akan membela nama baik keluarganya... Kalau perlu sampai titik darah penghabisan.
Sedikit demi sedikit Asti mulai membuka dirinya lagi. Leon merasa bersyukur kalau Cakra berhasil menyingkirkan ayahnya Nur itu. Pilihan mereka sangat terbatas, saat Mas Qosim tidak dapat memproduksi barang yang dibutuhkan proyek pembangunan perumahan itu dalam jumlah yang ditargetkan.
Hanya Bu Ani yang buru-buru mampir ke rumah Asti sore tadi, setelah keluarga Andara itu mulai berkemas-kemas untuk meninggalkan paviliun miliknya. Di rumah itu hanya ada Bu Jum dan Mbak Ning. Ibu itu bercerita banyak dan lancar, tentang kegaduhan yang terjadi antara pria yang muda dan yang tua. Karena takut ketahuan, Bu Ani menyingkir dari dapur.
Ada sedikit perbedaan pendapat tentang rencana pernikahan mereka pada beberapa bulan yang akan datang. Bu Ani hanya mendengar tangisan Nur. Sementara ada suara bentakan si Bapak berbarengan dengan suara ocehan dan omelan si Ibu yang semakin lama semakin keras.
"Mereka berantem , Bu Ani?"
"Nggak jelas, juga! Sudahlah... Yang penting si Ibu Atiek yang suka kepo dengan urusan Mbak Asti itu, sudah nggak tinggal di sana lagi! Kasihan Mbak Asti yang selalu dijadikan sasaran kebencian dari Ibu dan anaknya itu. Karena termakan hasutan Almira. Huh, kalau saya ketemu Almira itu pantasnya ditantang duel saja. Mulutnya itu penuh berbisa!"
__ADS_1
Mbak Ning menyahuti... " Sudah bawaan dari lahir, Bu Ani. Sudah menjadi watak dan tabiat seseorang akan susah merubahnya! Apalagi model Almira yang merasakan tindakan itu selalu benar...Nggak sadar kalau dia diceraikan, dan dibenci semua orang karena ucapan dan perbuatannya sendiri..."
Bu Jum hanya terdiam... Selama ini dia melihat Mbak Asti berusaha untuk kuat dan tegar! Bulek Ratih yang selalu mencemaskan keadaan Asti... Cobaan hidup yang dialami cucu tunggal Harjo Winangun itu tidak hanya sekali . Tetapi berkali-kali datangnya bagai hujan badai yang dapat menimbulkan suatu bencana di kehidupan pernikahannya.