
Keadaan di pasar kecamatan seperti pada umumnya pasar di desa di daerah Jawa. Tidak setiap hari ramai didatangi pembeli. Sebab pasar di desa juga ditentukan oleh hari Pasaran. Hari Minggu, adalah hari pasaran di pasar kecamatan ini dan yang paling ramai didatangi pembeli dari berbagai pelosok desa.
Puspita sudah dianggap Asti mampu menguasai pekerjaannya. Laporan keuangan pun rapi tersusun rapi . Beberapa pesanan barang telah bertumpuk di depan toko. Kardus - kardus itu diantar menggunakan jasa kurir.
" Ini, gajimu. Bulan ini, Puspita!"
" Terimakasih, Mbak!" ucap Puspita sambil memeluk erat amplop berisi uang gajinya dalam bulan ini.
Puspita masih merasa beruntung karena dia masih mempunyai pekerjaan. Sesuatu yang sangat sulit didapatkan di daerah pinggiran seperti ini. Walaupun gajinya tidak besar, bagi gadis itu cukuplah. Sebab dengan uang itu, dia dapat membantu membeli kebutuhan dapur orang tuanya. Juga sedikit dia pakai untuk keperluan pribadinya.
Kesibukan di beberapa toko yang satu barisan dengan toko pakaian " Muslimah" juga mulai berkurang menjelang azan Ashar. Saat itu mereka bersiap-siap untuk menutup toko. Namun terlihat ada keramaian dengan datangnya beberapa orang ke kantor kepala pasar, yang letaknya ada bagian belakang pasar. Suasana di sana semakin riuh.
" Ada apa, ya. Mbak? " tanya Puspita jadi penasaran.
Ternyata dengan banyaknya orang - orang yang berkerumun di kantor kepala pasar, membuat kegaduhan. Ruangan kantor yang tidak terlalu besar tempatnya itu jadi semakin bertambah penuh sesak dengan kerumunan orang-orang.
Apalagi mereka semakin susah ditertibkan. Sebab beberapa mobil milik pedagang yang mau pulang, tidak bisa keluar. Mobil itu harus melewati jalan di depan kantor kepala pasar itu. Sedangkan di jalan itu motor - motor terparkir sembarangan.
Suasana makin gaduh dan tak terkendali. Pluit para penjaga parkir sampai tidak didengar. Sehingga para supir mulai berteriak-teriak pada orang- orang itu agar meminggirkan motor yang menghalangi jalan mereka keluar.
" Pembobol toko Pak Wardi tertangkap!" Kata seorang bapak yang memakai seragam hijau. Dia merupakan salah satu petugas keamanan di pasar ini.
Begitu ujung berita yang sempat didengar Asti dan Puspita. Mereka berpandangan tanpa kata. Apa iya mereka bisa tertangkap di pasar ini?
Biasanya para penjahat itu akan ditangkap oleh petugas polisi. Paling tidak tertangkap di tempat persembunyian mereka. Atau polisi harus terlibat adu kecepatan dengan motor- motor gank anak muda itu . Jenis motor yang sudah dimodifikasi dengan bentuk yang aneh, cat warna berani dan knalpot yang mengeluarkan suara yang sangat bising.
Siapa yang paling penasaran di sini? Tentu saja Puspita. Gadis itu segera berjalan cepat menuju kantor kepala pasar yang letaknya ada di belakang jejeran toko di sana. Setelah pamit dengan Asti, dengan kata sebentar!
Hampir 20 menit Asti menunggu di depan tokonya yang sudah ditutup rapat dan digembok. Puspita belum juga menampakkan batang hidungnya.
Padahal sejak tadi malam Asti sudah berjanji akan cepat pulang ke rumah setelah berjualan di pasar. Karena hari ini hari pasaran, Leon terpaksa mengizinkan istrinya itu berada di pasar lebih lama. Sebab sehari- hari , Asti sudah menyiapkan makan siangnya untuk sang suami. Sebelum dia kembali lagi ke pasar untuk menutup tokonya bersama Puspita.
" Mbak, Mbak Asti! " Panggil Puspita panik. Wajahnya dipenuhi tanda tanya besar.
" Ada apa, Pita?"
" Rame banget di dalam kantor Pak Bejo. Tetapi yang perempuan yang ditangkap itu sepertinya Dania, deh. Mbak!"
__ADS_1
" Kok, bisa ada Dania di sana?" tanya Asti makin bingung.
Akhirnya Puspita duduk di emperan toko. Yang memang dibangun lebih tinggi permukaannya daripada lantai pasar yang terbuat dari paving block.
" Gini Mbak, Ceritanya... Tadi Mas Giman melihat ada seseorang yang cukup dihapal wajahnya, saat Dania belanja sembako di tokonya."
" Terus?"
" Ih, si Mbak ini! Ngomong teras- terus, mulu! Mbak Asti tukang parkir apa?"
Asti tertawa geli melihat Puspita yang terlihat agak sewot...
" Mbak tahukan Mas Giman? Dia yang paling lama bekerja di toko itu. Makanya dia dendam banget sama para pembobol toko majikannya. Toko itu mengalami kerugian besar sampai ratusan juta. Akibatnya, Pak Wardi sampai memberhentikan dua karyawannya, karena kehabisan modal.. Jadi isi barang di toko semakin berkurang!"
" Nah, waktu Dania belanja ke tokonya, Mas Giman melihat kalau lelaki yang mengantar Dania itu seperti salah satu pembobol toko itu Mbak! Dia cepat mengikuti pasangan itu, lalu lapor ke petugas pasar. Mereka ramai- ramai menangkap pasangan itu yang sudah mau pergi dari sana!"
Pantas saja, Giman dulu itu sampai meminta gambar wajah para pembobol itu pada Asti. Namun Asti sudah menyerahkan video rekaman CCTV di tokonya itu kepada pihak yang berwajib. Sampai Asti dapat mengusahakan foto wajah itu dari rekaman yang disimpan di hape Joko.
Dari kejauhan terdengar suara sirene dan beberapa mobil petugas polisi datang dan masuk ke dalam pasar... Orang- orang yang berkumpul di sana semakin bertambah banyak saja. Benar - benar mirip pembagian sembako atau berebut tiket nonton bola gratis di gelanggang kabupaten.
" Puspita kamu mau tetap di sini? Mbak Asti mau pulang ini... Kasihan ditunggu Akbar. "
Kesal, disentuhnya sedikit dahi Puspita itu dengan ujung jari telunjuknya. " Anak kecil, sok tahu kamu! Pak Leon di jam seperti ini ya masih bekerja di proyek, tahu!
Kamu ini, memang terlalu banyak nonton drama Asia yang romantis, sih! Pasangan yang menikah itu punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan bekerja. Memang orang bisa hidup hanya dengan makan cinta, apa?"
" Lho, kok. Mbak Asti yang sekarang sewot? " Kata Ninuk , " Pak Leon yang sekarang itu bucin banget sama Mbak Asti, itu kata Ninuk, lho ...."
" Gombal!" seru Asti kesal.
Maklum dia kini sedang berhadapan dengan generasi X, Y , dan Z zaman sekarang. Terlalu banyak yang berhalusinasi, mimpi terbang setinggi langit. Kalau jatuh, itu sakit banget ...
Apalagi model gadis remaja seperti Ninuk, Izzah atau Puspita yang sangat suka nonton Drakor. Segala keindahan cerita yang dibuat oleh sutradara dari Negeri ginseng itu sudah menawan hati ribuan remaja putri dan gadis muda lainnya. Seakan itulah dunia yang akan mereka hadapi saat ini.
Mata Dania bertatapan dengan Asti dan Puspita ketika mobil petugas dengan bak terbuka itu membawa gadis itu dan pasangannya melewati mereka menuju kantor Polsek setempat. Beberapa orang dari mereka ikut menyusul dengan motor. Termasuk Giman, orang yang dianggap berjasa karena mengenali pasangan Dania sebagai salah satu dari pembobol di toko tempat dia bekerja.
Iseng Asti menghubungi Joko yang mungkin sedang sibuk dengan mempersiapkan bahan baku untuk warungnya sore ini.
__ADS_1
" Ada apa, Asti?"
" Bisa, nggak kamu ke kantor Polsek! Tadi Mas Giman menangkap orang yang membobol tokonya. Pasar jadi ramai , nih. Karena dia bersama Dania belanja di sini!"
" Itu memang Dania, apa?" tanya Joko kurang memahami awal perkara itu. Mungkin cerita Asti agak sedikit menggebu saking tak percayanya dengan kejadian yang ada di depan matanya siang ini. Sebab keluarga mereka sudah memperkirakan ada bantuan Dania di belakang peristiwa pembobolan itu.
" Iyalah. Dania.... Tadi mobil patroli polisi datang ke pasar untuk membawa mereka ke Polsek. Istilahnya di interogasi kan?"
" Nggak tahulah. Sak Karepmu !" Ledek Joko tertawa geli. Dia senang meledek sepupunya itu dengan istilah masa kini atau kata- kata yang jarang didengar orang desa. Biasanya untuk menguji kecerdasan Asti. Sebab wanita itu sudah cukup lama tenggelam dengan seribu urusannya. Dari rumah tangga, anak , keuangan toko, dan sekarang suami baru!
" Mau datang, nggak? Cari info yang lebih akurat , sana!"
" Tunggu aja... " Jawab Joko santai.
***
Baru saja Asti meletakkan tasnya, ketika melihat wajah- wajah orang di rumahnya ini sudah menunggu dengan tidak sabar akan berita terpanas yang dia dapat hari ini.
" Minum dulu, Mbak!" Tawar Mbak Ning yang menyerahkan kepada Asti segelas air putih dingin.
Cuaca menjelang pertengahan bulan Maret ini semakin panas. Walaupun sesekali masih turun hujan di malam hari... Cuma sebentar dan tidak cukup deras.
" Tunggu sebentar, ya? Ganti baju dulu. Gerah ini !"
Semakin senewen saja wajah Mbak Ning dan Bu Jum. Mereka cukup maklum kalau pasar hari ini cukup ramai. Tetapi hijab yang dikenakan Asti itu merupakan bahan katun premium yang mudah menyerap keringat dan nyaman digunakan seharian.
" Kata Joko, Dania ditangkap dengan salah satu pembobol toko di pasar itu, ya. Mbak?" tanya Mbak Ning yang sudah tidak tahan, karena penasaran.
" Iya... Tahu- tahu kantor kepala pasar ramai aja siang tadi. Giman yang jaga toko agak curiga, Dania muncul lagi dan belanja di toko itu. Setelah berbulan-bulan dia menghilang tanpa kabar. Sampai Giman mengenali wajah lelaki yang mengantar Dania itu. Mereka cepat ditangkap, karena laporan Giman. Kalau tidak ditahan di kantor kepala pasar, bisa habis pasangan itu dihajar massa."
" Jadi itu Dania? Kok tega, banget..."
Ujar Bu Jum prihatin.
" Susah , Bu! Kalau sudah ngomong soal kebutuhan juga duit! Yang lawan jadi kawan, yang saudara jadi musuh.."
" Seratus!" Ujar Asti memberi nilai pada ucapan Mbak Ning yang mengandung kebenaran itu.
__ADS_1
Hidung Mbak Ning yang besar itu jadi kembang -kempis mendapat pujian dari majikannya itu.