
Ninuk bangun lebih pagi... Tentu saja dia harus bersabar menunggu kehadiran dua bocil tersayangnya untuk bangun dan bermain bersamanya. Sampai gadis muda itu harus bolak -balik masuk kamar tidur utama hanya untuk melihat Qani...Dengan sabar diamatinya wajah bayi mungil dan cantik itu yang tidur sangat tenang di dalam boks kayunya.
Bayi perempuan berusia 7 bulan itu seperti boneka hidup. Wajah cantiknya adalah duplikat dari wajah Mas Leon. Namun ada sedikit ciri khas dari wajah Mbak Asti yang tertera pada bayi itu, yaitu hidung bangir dan kulit putih mulus.
Leon jadi maklum. Dia juga menyadari, betapa keluarga Lek No dan anak -anaknya adalah bagian dari kehidupan dari Asti dan pernikahan mereka.
Betul juga, ada sedikit adegan drama yang terjadi di pagi itu setelah Qani bangun... Bayi yang sudah dimandikan Bu Jum dan tampil cantik dengan gaun dari bahan kaos berwarna pink itu menjadi rebutan antara Ninuk dan Leon.
" Dek, nggak ikut ayah?" tawar Leon. Sejak tadi bayi itu ada di pelukan Ninuk.
Adiknya Joko itu sudah memonopoli bayi itu sejak Leon mulai sarapan dan berganti pakaian untuk berangkat ke proyek.Tadi juga Asti sudah membongkar koper perjalanan Leon. Semua baju kotor itu sudah dipindahkan ke keranjang cucian. Asti kembali menyiapkan beberapa potong baju bersih untuk dimasukkan kembali ke dalam koper itu.
Koper itu hanya dapat memuat 3 setel pakaian saja, pakaian dalam dan perlengkapan mandi Leon yang dikemas dalam pouch kecil. Sebab koper itu selalu ada di dalam bagasi mobilnya. Benda itu untuk mengatasi keadaan darurat, apabila Leon dalam perjalanan ke kota lain, dan kemalaman di jalan. Setidaknya dia bisa singgah di losmen atau hotel terdekat untuk beristirahat dan menginap.
Dulu Asti sudah mengusulkan kepada Leon agar mencari seorang supir yang orang asli daerah ini. Orang yang cukup mengenal daerah ini yang dekat dengan perbatasan daerah yang meliputi kawasan Provinsi DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Selama ini, Mas Leon dan asistennya hanya mengandalkan GPS bila harus menyambangi beberapa klien dan pengusaha lain ke kota lainnya... Sebenarnya kota-kota itu tidak terlalu berjauhan jaraknya dari proyek ini. Namun kalau seseorang tidak tahu jalur alternatif terdekat, jarak yang ditempuh menjadi sangat jauh lagi.
Maklum, Pak Cakra hanya mengenal seluk-beluk beluk kota Semarang setelah dia dua tahun tinggal di sana. Juga beberapa daerah di Jakarta dan kota di sekitarnya.
Dia sudah menjadi asisten sejati Pak Leon sejak mereka bertemu di sebuah perusahaan properti terbesar di Jakarta, yang dimiliki oleh seorang tokoh konglomerat terkenal. Leon sering mendapatkan tanggung jawab dalam urusan pembangunan gedung perkantoran dan apartemen mewah untuk hunian kalangan orang berduit dan ekspatriat yang bekerja di Ibukota.
Qani akhirnya minta gendong dengan ayahnya, setelah melihat Pak Leon sudah berpakaian rapi. Dengan penuh rasa sayang Leon menimang - nimang bayi yang berusia 7 bulan itu.
" Dek, cium ayah ! " bisik Asti. Bayi itu mematuhi perintah ibu, sebagai tanda ayahnya akan siap berangkat kerja.
Sengaja Asti melakukan itu, takut Leon di tunggu seseorang di kantornya. Walaupun jarak rumah dan kantor itu tak sampai sepuluh menit. Namun Leon sudah terbiasa ngantor tepat waktu, yaitu pukul 08.00.
Leon sangat menikmati saat kebersamaan dengan keluarganya ini ... Kalau tidak atas instruksi langsung dari sang Bos, yaitu kakak iparnya, Mas Pandu. Malas rasanya dia harus bepergian di hari Minggu, hari kebersamaannya bersama keluarga.. Sebab dia harus menemui seorang pria di kota Madiun. Pria itu merupakan seorang calo tanah, yang berhasil menemukan sebuah lokasi
lahan yang cukup luas yang letaknya ada ada di pinggiran kota yang terkenal dengan makanan khasnya yang sering. disebut ' Brem'.
__ADS_1
Sebelum Leon dan Pak Cakra, menemui pria itu. Tentu saja mereka harus cek lokasi terlebih dahulu. Selanjutnya nanti tugas Joko dan Damar untuk mencari tahu kepemilikan lahan luas itu pada dinas yang terkait. Sebab sang calo sangat menjanjikan kalau lahan itu cukup potensial untuk dijadikan lokasi proyek pembangunan perumahan mereka yang berikutnya.
Di depan rumah, Ninuk masih berjalan-jalan pagi sambil mengendong Qani ditemani Bu Jum... Ninuk berjalan melewati paviliun yang disewakan oleh Ibu RT itu... Di sana juga terlihat ada sebuah kesibukan... Tampak ada seorang pria muda terburu-buru mengeluarkan mobil yang sejenis dengan yang dipunyai Mas Joko, kakaknya, mobil sejuta umat ... Mobil berwarna hitam itu bergerak ke arah proyek perumahan di ujung barat sana. Jalan kampung ini cukup lebar dan beraspal mulus, karena menjadi penghubung ke proyek perumahan itu.
Jalanan di sekitar kampung ini terasa sangat sejuk dengan banyaknya pohon-pohon yang tumbuh tinggi dan rimbun. Sehingga Pak RT selalu giat mengadakan kegiatan bersih desa sebulan dua kali bersama para warga ... Karena semak-semak liar yang tumbuh di sepanjang jalan itu dapat menjadi sarang binatang liar seperti Ular. Padahal di sini ada beberapa lahan terbuka dan kosong yang sering digunakan anak-anak untuk bermain bola atau sepeda di sore hari.
" Itu yang namanya Mbak Nur, Bu Jum?" tanya Ninuk ketika melihat seorang wanita berhijab lebar berwarna biru tua keluar dari pintu pagar paviliun... Terlihat wanita itu menunju ke seberang ruko. Di sana ada beberapa penjual makanan yang mangkal. Dari penjual bubur ayam yang disebut bubur Cirebon sampai penjual makanan kecil, yang dibungkus daun pisang seperti lupis, lemper dan kue nagasari.
" Bukan, Mbak! Itu sih emaknya! Temannya Mbak Amira itu pakai cadar!" jelas Wanita yang menjadi pengasuh Akbar dan Qani itu.
" Jadi Mbak Almira sekarang menyaru dengan memakai cadar? Wah ngadi- ngadi perempuan itu , ya!"
Wajah Bu Jum penuh tanya. Maklum sejak Ninuk kuliah dan jadi mahasiswa hampir dua tahun yang lalu, cara anak Bulek Ratih ini berbicara sudah sangat berbeda! Kata orang, Ninuk termasuk kaum intelektual atau terpelajar! Walaupun Bu Jum juga tidak keberatan, sih! Sebab Ninuk tetap berlaku sopan pada siapa saja dan sangat menghargai orang lain.
" Nah, itu yang bernama Mbak Nurwati! " bisik Bu Jum, saat Ninuk akan menyudahi acara jalan pagi itu.
Tampak seorang wanita berhijab hitam dengan cadar biru muda berjalan keluar dari paviliun menuju ruko.
" Came on! Bu Jum!" ujar Ninuk.
Ternyata di depan mini market, ada beberapa ibu membuka lapak jajanan seperti nasi pecel , dan beberapa masakan rumahan seperti bihun goreng, tahu- tempe bacem dan aneka gorengan.
" Eh, Mbak Ninuk! Mari coba Mbak!" Sapa Bu Sati si penjual makanan itu. Rumah ibu itu ada belakang rumah Bu Ani.
" Nanti saja, Bu Sati! Lho yang lainnya mana? Katanya mau buka lapak setiap hari ?"
" Mungkin libur dulu, Mbak... Bu Ani sih maunya berjualan hanya di hari Sabtu dan Minggu saja!"
Percakapan Ninuk dan tetangga depan rumah Asti itu menarik perhatian dua wanita yang berdiri di depan mini Market AS Berkah. Mereka sedang menunggu seorang pegawai laki- laki- yang sedang membuka pintu mini market yang terbuat dari kaca tebal.
Qani menunjuk ke arah pintu kaca itu, biasanya dia digendong ibunya dan masuk ke dalam mini market itu untuk melihat jalannya pengoperasian Mini market... Bu Jum tadi meminta Ninuk menunggu di depan area ruko... Sebab Wanita itu mau mengambil stroller juga sarapan untuk Qani dari rumah.
__ADS_1
Sekarang Qani duduk di strollernya dan menikmati suapan demi suapan menu bubur tim yang disiapkan Asti pagi tadi.
Ninuk bergegas naik ke lantai dua mini market.. . Di sana ada Wulan sedang merapikan dan menata barang- barang, suvenir, buket bunga untuk berbagai ucapan dan keperluan lain.
" Bagaimana, Lan? Betah kerja di sini?"
Tanya Ninuk kepada temannya itu. Dulu mereka satu sekolah di SMP dekat kecamatan. Wulan malah melanjutkan sekolahnya ke SMK .. Sayangnya Wulan yang sudah bekerja di sebuah pabrik di daerah Grobogan terkena PHK, karena pabrik plastik itu tutup tahun lalu. Sampai Wulan kembali ke desanya dan bertemu dengan Ninuk. Dia yang merekomendasikan Wulan pada sepupunya itu.
" Siapa kamu?" Ujar Wanita bercadar itu ketika mereka berpapasan dengan Ninuk di tangga menuju lantai dua. Rencananya dia mau melihat-lihat toko " Kadoku" itu. Kata Mbak Kasir tadi, sebagian isi toko di atas adalah hasil kreasi dari para wanita muda di desa Sumberejo. Kelompok pengrajin itu dipimpin seorang mahasiswi yang berjiwa seni dan wiraswasta yang tinggi.
" Kamu juga siapa? Pemilik? atau cuma pembeli saja!" Jawab Ninuk lebih ketus.
Wulan terkejut ... Nggak biasanya Ninuk keluar tanduknya bila diremehkan oleh seseorang.
" Silakan , Mbak lihat-lihat... Siapa tahu Mbak berminat !" ucap Wulan menetralkan suasana.
" Tolong , Mbak! Usir perempuan ini... Dari tadi kok, kerjaannya ngawasin saya mulu!"
Tadi memang Ninuk mau menegur Trisno dan Wisnu yang merupakan anak tetangga di desanya. Karena melihat mereka sedang sibuk merapikan barang-barang di rak-rak yang sudah kosong, jadi dia menangguhkan keinginan dan menemui Wulan di lantai dua.
Mungkin memang mereka harus dipertemukan di tempat ini, jadi bertemulah di sana.. Ninuk langsung percaya, kalau si Mbak Nur, contoh wanita muda yang agak mudah dipengaruhi orang lain.
" Lan, aku tinggal dulu! Malas bertemu dengan orang yang merasa paling benar dengan tindakannya yang salah!" Ninuk segera turun dan mencari Bu Jum dan Qani di pelataran depan ruko.
Wanita bercadar itu menatap Wulan, " Siapa dia? Gayanya sok jadi bos banget!"
" Dia Ninuk Pratiwi, teman sekolah saya sewaktu di SMP!" jelas wanita muda itu .
" Hati-hati, Mbak ... Teman, ya teman! Takutnya ada barang yang disikat!"
Mulut Wulan terbuka lebar..." Dia itu sepupunya Mbak Asti... Masa, mau mencuri di mini market milik saudara sendiri? Ya, nggak mungkin lah, Mbak!"
__ADS_1
Wajah wanita bercadar biru muda itu mendongak menatap gadis yang tadi menyampaikan berita tentang kebenaran itu!
Tadinya Nurwati cukup yakin kalau ruko tiga lantai ini milik Pak Leon, seperti yang diceritakan Almira sekilas. Sebab barang- barang di mini market dipilih yang terbaik mutunya dengan harga yang terjangkau. Ditambah dengan keamanan berganda, dari banyaknya dipasang kamera CCTV. Tetapi kalau semua milik Mbak Asti? Ah, rasanya tak mungkin! Sebab modal untuk membuka mini market ini tentu sangat besar... Paling murah pun lebih dari seratus juta rupiah.