Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 277. Kematian Pakde Kerto


__ADS_3

Ucapan Ardi itu juga dibarengi suara Pakde Kerto yang terbata-bata. Membuat semua orang ikut menahan nafas mendengarnya. Mereka semua terdiam.


" La illa ha illa lah" suara itu menggema di kamar yang suram itu. Mereka menyaksikan detik demi detik tarikan napas Pakde Kerto. Pegangan tangannya semakin kuat di tangan Ardi. Ketika pria tua itu mencoba menarik nafas yang terakhir, dengan suara seperti orang tercekik.


Pak Kades melihat sesaat ketika lidah Pak Kerto yang terjulur keluar seperti menahan sakit yang amat sangat. Dari bibir Ardi dia terus melafalkan doa- doa. Bahkan tadi berucap telah memaafkan segala kesalahannya beliau. Karena ada rencana dan intrik besar yang akan diketahuinya, setelah adiknya yang sengaja membawa Emilia pergi depan bantuan orang lain.


Pak Kushari selalu bisa mencari berbagai peluang. Otaknya terus bekerja, bahkan mendapatkan seribu rencana lainnya. Jadi pria itu terkejut, ketika Emilia mendengar rencana busuk itu. Sehingga dia memerlukan bantuan anak buah Pak Manaf untuk menghilangkan jejak Emilia .. Daripada wanita itu berbicara kepada orang lain dan membuka kedok kejahatannya.


Pak Kushari terlihat sangat tega dan tidak mempedulikan keadaan Emilia, yang langsung dibawa kapal kecil menjauhi kota Banjarmasin! Terserah Pak Manaf. Mau dibunuhnya perempuan asing yang dijadikan menantu Winangun itu.Atau kalau bisa dijual ke ke Malaysia tanpa identitas lengkap! Di sanalah Emilia terjebak!


Setelah dia kembali ke Sendang Waru, Pak Kerto hanya terdiam ketika mendengar tindakan yang telah diambil adiknya itu. Pak Kushari sudah menyiapkan alibi yang tepat! Jadi keluarga Winangun tidak mengetahui kalau dia sudah menyiapkan rencana yang lebih keji lagi. Menguasai semua harta peninggalannya warisan Winangun yang tak terhitung jumlahnya dari ribuan hektar sawah, kebun, rumah joglo yang besar dan penuh sejarah!


Ardi mengusap wajah tua Pak Kerto yang terlihat penuh dengan penderitaan itu di akhir helaan nafasnya. Dengan tegar dia mengatupkan kedua kelopak mata Pakde Kerto yang melotot lebar. Kedua tangannya yang kurus itu segera disatukan di atas perutnya.


Ardi melangkah terhuyung menjauhi kamar itu. Segera Pak Darmaji datang untuk menahannya. Dia membawa pemuda itu menjauhi kamar. " Tarjo panggil Pak Dokter Ahmad Sofyan untuk segera ke sini!"


Tarjo terperanjat kaget. Anak sulung Pak Kerto itu tak mampu lagi mengelak dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai anak laki- laki tertua di keluarga ini. Pria itu ngeloyor ke luar dari rumah tanpa berkata apa-apa. Tentu dia melaksanakan perintah Pak Kades itu


Ibu Musdalifah yang sejak tadi menyingkir ke belakang rumah, berjalan kembali menuju kamar Pak Kerto yang kosong. Matanya nanar menatap kesunyian di sana. Sampai dia melihat ke arah selang infus yang airnya tidak menitik lagi. Terhenti! Walaupun jarum infus itu masih menempel di pergelangan tangan kiri suaminya.


Dadanya seperti diketuk dengan sangat kuat. Ada rasa sesak yang tertinggal setelah dia mengeluarkan semua unek-unek yang ditahannya dalam kurun waktu selama sepuluh tahun terakhir ini.


Semua kesulitan ini diawali beberapa tahun sebelumnya, ketika sakit Ibunya yang berat dan harus dibawa ke rumah sakit di kota Sragen. Biayanya pengobatannya menjadi cukup besar setelah dirawat berhari- hari. Hal itu menjadi beban yang harus ditanggung keluarganya... Sampai Musdalifah yang saat itu sudah bekerja di rumah Pak Kerto, nekat mencari pinjaman itu langsung kepada majikannya.


Begitulah cara kerja Pak Kerto yang tak mau merugi. Serupiah ataupun tigapuluh juta rupiah pun harus dikembalikan kepadanya, walau dengan cara apapun. Termasuk kepada Musdalifah sekalipun, yang setahun ini menjadi ART di rumahnya. Jadi gadis itu pun harus melunasi hutangnya dengan segera!


Kehidupan keluarga Musdalifah sebenarnya juga sudah sangat kekurangan. Makanya Musdalifah muda bekerja di rumah besar Pak Kerto Juwono menjadi salah satu ART. Dia hanya lulusan SD saja. Setelah tidak melanjutkan pendidikan, Musdah ikut membantu ikut orang tuanya menjadi buruh tani.


Keluarga Musdalifah tinggal di sebuah desa yang sangat terpencil, di desa Sekar rawe, yang merupakan desa yang letaknya paling selatan dari wilayah kelurahan Telomoyo. Desa itu menjadi perbatasan dengan wilayah Wonogiri di balik bukit- bukit terjal penuh batu-batu padas dan tanah berkapur yang kering.


Sebenarnya tanah persawahan di sana cukup subur. Namun kedua orang tua Musdalifah hanya tinggal mempunyai rumah dengan sedikit sisa tanah yang ada di pekarangan depan dan belakang rumah mereka Sawahnya mereka terjual sepetak demi sepetak untuk membiayai pengobatan ibunya yang sering sakit-sakitan setelah melahirkan adik bungsu beberapa tahun yang lalu.


Dari pemeriksaan terakhir oleh dokter yang bertugas di puskesmas Telomoyo, rahim Ibunya Musdalifah itu mengalami infeksi berat. Karena saat melahirkan hanya dibantu oleh dukun beranak atau Paraji. Jadi wanita itu sering mengalami nyeri yang amat sangat dan tubuhnya panas dingin bila sakitnya kambuh.


Keadaan mereka yang serba kekurangan, membuat mereka tidak bisa mengobati ibu mereka untuk menjalani operasi di rumah sakit di kota besar. Pilihannya hanya rumah sakit terdekat, di kota Sragen.

__ADS_1


Keluarga mereka hany mengandalkan upah dari mengerjakannya sawah para tetangganya di sana. Sedangkan ayahnya menjadi tukang batu di beberapa proyek pembangunan. Apabila musim tanam sudah lewat. Terkadang mereka seharian hanya makan singkong rebus atau pun pisang yang diambil dari kebun belakang, bila tidak punya uang sepeser pun di kantong.


Sampai ada tetangga yang menawarkan pekerjaan kepada Musdalifah untuk menjadi pembantu rumah tangga di rumah Pak Kerto Juwono. Sebab pengusaha sukses itu memerlukan banyak asisten di rumahnya untuk memasak, membersihkan rumah atau cuci dan setrika. Sebab Istri beliau juga membuka toko sembako terbesar di depan jalan desa mereka, tepat di perempatan jalan di dekat kantor kelurahan Telomoyo. Jadi jarang di rumah.


Sampai Musdalifah tidak bisa mengelak, ketika Pak Kerto berniat untuk menikahinya. Itulah cara yang harus dilakukan gadis itu membayar hutangnya yang cukup banyak itu., tepat setahun yang lalu.


Sayangnya pernikahan mereka yang dilaksanakan secara siri, dan tanpa pesta di rumah orang tua Musdalifah, juga diketahui pihak lain. Berita itu juga langsung disampaikan kepada istri Pak Kerto yang sah. Perempuan yang telah memberinya tiga anak laki-laki yang sehat dan tumbuh besar itu tidak terima cara suaminya menikah lagi dan menduakannya.


Pasangan suami - istri itu bertengkar dengan hebatnya. Wanita yang bernama Ajeng itu segera pergi meninggalkan rumah, dan menuntut bercerai.


Dia kembali ke rumah orang tuanya yang berada di Pekalongan. Wanita itu hanya membawa pakaian dan perhiasannya saja.Tetapi ketiga anaknya yang sudah bersekolah di SD dan SMP ditinggalkan di rumah suaminya.Agar sang istri muda yang mengurus mereka!


***


Suara motor bebek itu terdengar memasuki halaman depan rumah. Terlihat Pak Dokter Ahmad Sofyan terburu - buru masuk ke dalam rumah. Dia ditemani oleh Pak Puryanto untuk memeriksa keadaan Pak Kerto.


Wajah pria itu menatap Pak Pur dengan hati- hati." Pak Kerto sudah meninggal sepuluh menit yang lalu, Pak!"


" Innalilahi Wa Inna Ilaihi Raji'un!" seru Pak Puryanto agak keras.


Seruan Pak Pur tadi juga didengar oleh orang - orang lain di luar kamar. Ucapan duka cita itu terus berkumandang sampai ke halaman depan rumah.


Ibu Musdalifah menangis tergugu di bangku yang dia duduki.Tubuhnya terasa tak bertenaga lagi. Inilah puncak dari segala puncak kesedihan dan penderitaan yang dialaminya di rumah ini.


Ada seorang ibu yang datang menghampirinya. Wanita itu adalah istri Pak Kades. Ibu Ika mendengar berita duka itu dari suaminya. Terlihat ketika suaminya datang bersama Ardi , Lek No dan Kang Kasat masuk ke dalam rumah. Mereka tahu kalau Pak Kerto telah berpulang. Namun mereka menunggu kedatangan seorang dokter dari Puskemas untuk lebih memastikan berita itu secara medis.


Seorang pengurus desa berinisiatif, untuk menyampaikan kabar duka cita itu melalui pengeras masjid, yaitu Masjidil Agung Mujahidin. Berita itu berkumandang menjelang azan Maghrib. Berita itu diulang kembali setelah para jemaah menyelesaikan sholat berjamaah di sana.


Satu- persatu pelayat berdatangan. Pada lazimnya, kalau perempuan di desa melayat itu adalah membawa beras yang disimpan dalam wadah ditutupi kain . Nanti beras itu ditumpahkan pada wadah besar atau karung sudah disiapkan oleh pihak yang sedari berduka atau yang punya rumah. Sementara para ibu tetangga dekat mulai bergerak menyiapkan segala sesuatu untuk acara penguburan di pagi harinya.


Ardi dan Lek No sudah pamit kepada Ibu Mus untuk kembali ke rumah. Tadi Ardi menyelipkan 5 lembar uang seratusan ribuan ke tangan Ibu Musdalifah, yang diterima oleh wanita dengan tangan gemetar.


" Terimakasih Pak Ardi! Mohon maaf atas kesalahannya dan tindakan suami saya dan adiknya terhadap kakak dan keluarga Anda!"


Wanita itu terus memperhatikan mobil Avanza yang dikemudikan Pak Sarno saat meninggalkan halaman depan rumah Pak Darmaji Hendardi, Kepala desa Sendang Waru.

__ADS_1


Lembaran uang itu diselipkan di saku rok panjang hitamnya. Dia juga sudah melihat Tarjo dan adik-adiknya mau membantu para tetangga untuk mempersiapkannya segalanya.


Ibu Musdalifah terus bertahan di rumah ini, demua ini demi kehidupan keluarganya agar menjadi lebih baik lagi. Adik- adiknya sudah menyelesaikan pendidikannya. Mereka dapat bersekolah sampai lulus SMA dan SMK.


Setidaknya dengan ijazah itu mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Walaupun harus bekerja di luar daerah mereka sekalipun. Adik perempuannya yang paling bungsu sudah menikah dengan seorang pegawai bank swasta dan tinggal di Yogyakarta.


Rumah gubuknya sudah direnovasi Pak Kerto sewaktu mereka meresmikan pernikahan itu di KUA setempat. Tentu setelah Pak Kerto telah menceraikan istri pertamanya.


Sebagai mahar pernikahan, Pak Kerto Juwono juga membelikan keluarga Musdalifah dua petak sawah yang kini dikerjakan oleh ayah dan pamannya.Tanah subur itu memberikan kehidupan keluarganya yang lebih baik. Kedua orangtuanya pun setuju saja, ketika rumah dan sawah itu diurus sertifikatnya menjadi atas nama Musdalifah. Sebab anak sulungnya itu menjadi tulang punggung keluarganya. Saat Pak Kerto masih berjaya, Musdalifah selalu mengirim uang sebesar gajinya setiap bulan untuk membiayai pendidikan ketiga adiknya


Selama ini, Bu Musdalifah hanya diam saja. Ketik tanah dan rumah ini telah digadaikan Tarjo untuk membuka usahanya berupa sebuah bengkel motor di dekat pasar.Tetapi selama setahun ini pula, modal bengkel itu belum kembali. Padahal nilai gadainya sangat besar hampir mencapai 500 juta.


Wanita yang baru berusia 36 tahun itu belajar banyak dari kehidupan iparnya yang lain, yaitu Ibu Ayu Sulaksmi. Tetapi yang membedakannya adalah, wanita yang merupakan Budenya Asti itu berasal dari keluarga yang kaya raya. Jadi Bude Ayu tidak pernah merasakan kekurangan.Dia begitu tegar , Walaupun dihujat dan dicemooh oleh kedua kakak madunya dan lima anak-anak dari mereka, yang merupakan anak tirinya.


Bahkan Bude Ayu tetap mempertahankan harta pemberian Pak Kushari sebagai pembayaran atas sakit hati akibat perlakuan keluarga pria itu terhadap keluarganya. Bude Ayu juga tidak mau tahu dengan segala kesulitan yang dialami oleh para istri almarhum dan anak-anaknya setelah Pak Kushari meninggal.


Begitu juga yang akan dilakukan Ibu Musdalifah nanti. Sedikitnya dia akan bertahan di rumah ini sampai 40 hari kematian Pak Kerto. Rencananya dia akan kembali ke kampung halamannya. Ke sebuah desa di pedalaman yang sangat terisolir tempatnya.


Sebuah tempat yang sering dihina dan diremehkan oleh anak- anak tirinya itu sebagai kampung udik saking jauhnya. Karena letak desa itu yang sulit dijangkau dengan transportasi umum. Jadi memerlukan uang yang lebih banyak lagi untuk kita menyewa mobil atau naik ojek motor untuk menuju ke desanya itu.


Suasana malam semakin gelap. Pak Kades dan beberapa anak buahnya sudah mendirikan tenda di depan rumah dan memasang lampu LED agar terang.


Satu persatu sanak keluarga Pak Kerto datang dari tempat yang agak jauh ke rumah ini. Sebisa mungkin wanita itu menyiapkan sajian seadanya kepada tamunya itu. Tetapi uang pemberian Pak Ardi itu tetap tersimpan rapi di bagian kantong terdalam dalam blusnya, dan diberi peniti supaya tidak terjatuh.. Nanti uang inilah yang akan dia gunakan untuk ongkos pulang ke rumahnya di kampung.


Kedua menantunya membantu membawakan berbagai gorengan dan teh hangat. Bu Kades juga meletakkan berbagai kantong kresek yang berisi sayuran dan lauk mentah untuk diolah untuk keluarga ini makan. Tetapi Ibu Musdah sudah tidak punya kekuatan lagi. Tenaganya sudah terkuras habis terkuras sejak pagi hari. Dia belum istirahat ataupun tidur setelah seharian ini.


Dia sangat lelah dalam seminggu ini. Lelah menggurus semua keperluan suami yang sudah tidak punya daya upaya lagi untuk hidup. Lelah dengan rencananya keji Tarjo dan adiknya yang mulai menghitung sisa harta peninggalan lelaki tua itu yang masih dapat dijual.


Bahkan pengabdian hidupnya selama bertahun - tahun mengurus anak-anak bandel itu tidak diindahkan lagi . Bagaimana dia harus menggurus sekolah mereka, menyiapkannya sarapan dan seragamnya. Bahkan berkali-kali dipanggil pihak sekolah karena kenakalan mereka. Sementara Pak Kerto berasyik masyuk dengan perempuan-perempuan muda lainnya di berbagai desa dan daerah yang sering dia kunjunginya.


Wanita-wanita muda yang cantik dan seksi itu mau saja melayani kebutuhan lelaki itu karena uang banyak yang dipunyainya. Gadis - gadis muda , berpakaian seksi dan terbuka . Bahkan ada satu salah satu yang tercantik bermodel kini yang dikencani Pak Kerto. Gadis itu juga dikontrakan rumah besar di pinggiran kota.


Para gadis muda, cantik dan molek itu, biasanya ditemui Pak Kerto sebagai pelayan di berbagai tempat hiburan malam yang berada pinggir jalan luar kota. Dari warung makan, warung remang-remang pinggir jalan sebuah tempat hiburan malam seperti bar ataupun karaoke.


Itulah yang dilakukan Pak Kerto di luaran sana. Bu Mus mendapatkan berita dan fakta itu dari adik laki-lakinya yang bekerja di sebuah toserba di pinggiran kota Surakarta . Adiknya sering melihat Pak Kerto membawa pergi gadis-gadis muda keluar dari tempat karoke yang paling terkenal di wilayah itu.

__ADS_1


Begitulah perjuangan Bu Musdalifah, mengatasi rasa sakit hatinya. Dia akan bertahan, seperti yang diajarkan Bude Ayu. Dia bertahan karena orang tuanya berhak hidup layak. Dia bertahan agar adiknya mempunyai pendidikan yang cukup.Sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak Tidak seperti dirinya yang terjebak dalam rumah tangga penuh onak duri!


__ADS_2