Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 130. Akhirnya Menikah


__ADS_3

Dua hari menjelang hari H, rumah Asti semakin ramai. Serombongan pekerja dari perusahaan yang menyewakan alat- alat pesta berdatangan. Mereka memasang tenda di halaman samping rumah kiri yang cukup luas, juga di lahan kosong di sebelah kanan rumah Asti.


Teras depan rumah nanti akan dijadikan tempat pelaksanaan ijab kabul, mulai ditata. Namun Bu RT meminta tempat itu diberi tirai penutup, pada pagar depan agar acara terasa lebih sakral.


Para pekerja itu juga menata beberapa pot bunga milik Asti yang berisi tanaman hias untuk menambah aksen hijau dan lebih estetik.


Ninuk dan Izzah mulai memilah-milah sovenir. Mereka akan memberikan kode khusus untuk tamu undangan khusus dan tamu dari pihak keluarga pria akan diberi sovenir yang dikemas dalam tas kain bewarna biru. Sedangkan untuk tamu dari para tetangga dan sanak saudara Asti akan disiapkan sovenir berbentuk dompet plastik dari berbahan limbah yang dikemas secara unik. Suvenir itu berupa tempat pensil, dompet atau tempat lipstik.


Pembagian sovenir itu menjadi tugas Ninuk. Sebab dia sangat yang mengenal wajah para tetangga dan kerabat keluarga yang masuk dalam daftar undangan.


" Mbak Asti ini ada kiriman dari toko sovenir lagi!" Cetus Ninuk.


Pak Leon memesan lagi untuk diberikan kepada para ibu tetangga dan teman-teman Ninuk yang telah membantu mereka dalam persiapan acara ini. Jumlahnya terbatas. Jadi barang itu harus disimpan dulu.


Sovenir itu berupa tas wanita yang terbuat dari kreasi daun eceng gondok. Seperti tas besar untu para ibu yang dapat dibawa untuk mengaji juga tas selempang untuk di pakai jalan- jalan.


Para ibu tetangga siang itu malah asyik duduk - duduk di teras Asti. Untuk melihat para pekerja dari katering yang sedang menghias meja prasmanan dan gubuk- gubuk untuk makanan. Mereka memberi hiasan gelombang atau lipatan pada taplak untuk menutup kolongnya dengan paduan kain warna putih dan biru navy. Cara kerja mereka memang cepat dan profesional. Tak lupa memberi ujung meja dengan dua vas berisi rangkaian bunga hidup sebagai pemantau.


" Bagus banget, Mbak Asti!" Bisik Bu RT kagum.


Padahal Asti sering melihat penataan meja makan seperti ini saat menghadiri beberapa undangan. Biasanya ada di gedung maupun di hotel, Asti menerima undangan itu dari beberapa kerabat yang masih menghargai keberadaan keluarga Winangun.


Asti hanya memanggil Mbak Dian untuk merias wajahnya secara natural saja, agar tidak pucat sewaktu difoto. Pak Leon pun setuju, sebab calon istrinya itu hanya akan memakai kebaya dan kain batik yang dimodifikasi seperti hijab dengan warna gading.


Bukan baju pengantin dari bahan brokat atau renda yang dipenuhi hiasan payet atau batuan Swarovski.


Gaun untuk acara ijab kabul itu dipesannya secara khusus pada Bu Shawa pemilik konveksi langganannya. Tentu saja, wanita itu merasa senang karena mendapat kepercayaan sebesar itu.


Saat ini gaun untuk wanita berhijab semakin variatif saja modelnya. Tetapi masih sedikit, pemilik usaha jahit membuat kebaya khusus pengantin untuk wanita berhijab.


Hal itu disebabkan penggunaan kebaya Jawa identik dengan potongan kain yang dijahit pas badan pada pemakaiannya biar terlihat indah. Belum lagi bila kebaya itu terbuat dari bahan brokat atau tile yang menerawang. Semua pakem itu tentu tidak nyaman bila pengantin wanitanya berhijab.


Bu Shawa mendokumentasikan pembuatannya hijab itu dari mulai lembaran kain, menjahit pola , sampai menjadi potongan kebaya muslim yang syar'i dan kain batik panjang sebagai padanannya. Pakaian itu sudah dipasang di manekin.

__ADS_1


Bahkan respon dan tanggapan orang cukup baik ketika foto dan video itu ditayangkan di salah satu media sosialnya.


Bahkan Ibu Shawa itu akan meminta satu foto saat Asti nanti mengenakan kebaya itu di hari pernikahannya. Dia percaya gaun pengantin itu akan sukses terjual. Sebab Asti dengan gaun itu akan sangat serasi dan menyatu.


Selama ini, Asti menyerahkan semua urusan gaun itu di tangan Bu Shawa yang berusaha merealisasikan keinginan Asti. Seba dia hanya ingin menggunakan kebaya pengantin yang sederhana. Apalagi harganya tentu tidak semahal yang ditawarkan oleh butik - butik ternama yang ada di daerah ini.


Justru yang senewen malah calon pengantin laki- lakinya. Padahal Asti tak menuntut apa pun. Bu RT pun kemarin sudah diminta tolong Pak Leon untuk menyiapkan mahar buat Asti. Wanita itu rela pergi ke kota untuk membelikan Asti seperangkat alat sholat, sekaligus sebuah Al Qur'an yang bagus karena kulitnya diberi sampul dari sejenis kain songket.


Pria sering susah tidur di malam hari. Oleh karena itu, dia sekarang menuju ke rumah Asti. Sambil melihat persiapan yang hampir rampung.


Para ibu tetangga juga sudah berlomba- lomba menyiapkan bahan masakannya, untuk acara besok. Malah sejak sore tadi jalan di depan rumah Asti sudah dipenuhi harum semerbak berbagai aroma masakan.


" Santai, Leon!" Bisik Pandu. Suami Mbak Mesya yang ikut bersamanya.


Mereka satu keluarga akhirnya dapat datang, siang tadi dan ditempatkan di tempat kost Pak RT. Satu tetangga juga menawarkan dua kamar yang kosong. Sebab anaknya merantau ke Bekasi dan Tangerang, karena bekerja di pabrik di kota itu.


Lamat- lamat mereka mendengar suara Asti mengaji dari kamar tidur utama. Kedua pria itu bertatapan. Karena tahu, tanggung jawab Leon lebih berat lagi. Dia akan menjadi kepala keluarga dan seorang Imam dari wanita yang sangat menjunjung tinggi ajaran agamanya.


Kesalahan Leon itulah yang selalu menjadi cambuk keras baginya. Kehidupannya di Jakarta sebelum dan sesudah menikah pun sudah sangat liar.


Sering keluar masuk tempat dugem menjelang pagi, gonta-ganti pasangan hampir sama seperti berganti baju. Sampai Leon muda mencoba minuman keras saat pikirannya sedang suntuk.


Pada sebuah diskotek itulah dia pertama kalinya bertemu dengan Corinne Fasha. Mereka datang menjadi tamu undangan dari seorang artis muda yang sedang merayakan ulang tahunnya. Justru Corinne yang tampil sangat modis, dan bersahaja di samping sahabat wanita yang sedang merayakan hari jadinya malam itu.


Pesta itu semakin liar menjelang tengah malam. Bukan karena para tamu tampak teller dan tak terkendali. Di antara gemerlap lampu ruangan dan suara musik keras, Leon mulai melihat ada satu dua tamu mulai menelan pil koplo.


Sebagai anak seorang tentara, Leon sangat menjaga nama baik ayahnya. Leon dan dua temannya segera menyingkir dari pesta liar itu


Takut terkena razia. Biasanya ada saja dari orang itu yang iseng dan akan melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib.


Di luar gedung mereka bertemu dengan Corinne yang juga ikut menyingkir. Apalagi Corinne pun sudah mabuk berat. Dia tampak berputar-putar di area parkir dan kehilangan arah untuk mencari mobil pribadinya. Sampai ditolong oleh Leon dan dua sohibnya itu. Gadis itu diantar sampai loby apartemennya.


Merasa berterima kasih, Corinne mencari informasi tentang Leon. Wanita itu semakin tertarik setelah mengetahui , latar belakang keluarganya. Mereka bukanlah keluarga biasa. Sang Kakak Alya Murti juga berbisnis di bidang fashion. Malah sudah punya dua gerai butik di mall termewah di Jakarta.

__ADS_1


Lewat kecerdikannya, Corinne berhasil mendekati Leon. Karena semakin sering bertemu, mereka menjadi dekat dan akrab. Apalagi saat Pak Basuki menanyakan apakah si bungsu itu akan memulai berkeluarga. Tampa banyak pertimbangan, Leon melamar Corinne setelah dua tahun menjalin hubungan percintaan.


 -----


Pagi cerah menyapa, di sekitar rumah Asti yang sudah tampak rapi. Mas Yanto, dan Firman sudah memasang hiasan janur kuning yang digantung tinggi pada tiang dekat dinding ruko. Janur itu akan menjadi tanda kalau di tempat itu ada acara pernikahan.


Pihak katering sudah datang dengan dua mobil boks membawa berbagai peralatan makan dan makanan. Mas Danu ikut membantu. Tak sampai dua jam, semua hidangan sudah tertata menarik dan cukup mengundang selera.


Para ibu sudah menyiapkan berbagai makanan kecil, jajanan dan minuman di gubuk masing- masing. Kemarin Pak Cakra juga sudah memesan tiga AC standing. Di teras depan, dalam rumah dan di tempat makan.


Rombongan Pak Haji Anwar dan beberapa tamu dari desa Sendang Mulyo datang lebih dulu. Acara utamanya hari ini adalah ijab kabul yang akan dilaksanakan di teras depan. Di sana sudah disiapkan karpet tebal, dan bantalan untuk duduk yang ada penyangga. Pihak dari dua keluarga pun dapat menyaksikan acara itu dari ruang tamu maupun dari halaman.


Pas acara puncak, Pak Leon maju didampingi Pak Pandu. Keluarga besarnya dari pengantin pria ternyata sangat kompak. Mereka mengenakan seragam khusus berwarna biru navy dan gold.


Disaksikan semua anggota keluarganya yang hadir siang itu. Pak Leon dibimbing oleh Pak Penghulu dari dinas kecamatan setempat mulai mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan nafas.


Lalu terdengar ucapan yang hampir bersamaan " Sah!". Tak lama, Asti dibimbing oleh Ibu Ani, Bulek Ratih dan Ibu Haji Anissa keluar dari kamarnya.


Mata Pak Leon menatap haru saat memandang wajah cantik Asti dalam pulasan makeup lembut yang sesuai dengan kebaya panjang berwarna gading dan kain batik hitam yang dijahit menyerupai kain lilit.


Mereka duduk berdampingan di depan meja rendah, mengikutinya arahan Pak Penghulu untuk penyerahan mahar dan mas kawin sampai penandatanganan buku nikah disertai dua orang saksi.


Dari sudut lain dua orang fotografer terus mengambil gambar pasangan pengantin baru itu. Sementara satu orang lain mulai membuat video dengan kamera terbaik.


Di samping Ibu Anggun, juga duduk Bulek Ratih dan Lek No. Pria itu kembali menjadi wali nikah Asti dan berharap inilah pernikahan terakhir. Sang keponakan yang akan membawa keluarga mereka menjadi lebih berkah dan memberikan kemakmuran. Acara ditutup dengan sungkeman kepada Ibu Anggun, Lek No dan Bulek Ratih.


Pak Haji Anwar pun memimpin para tamu dan undangan yang hadir menuju meja makan prasmanan. Sebagai pembawa acara sekaligus pihak keluarga pengantin wanita, beliau memberikan penjelasan sedikit, tentang tujuan acara itu.


Pak Penghulu dan beberapa orang yang datang dari kantor kelurahan dan kecamatan pun ikut menikmati sajian itu yang cukup kena di lidah mereka. Sementara Keluarga Pak Leon justru menyerbu masuk ke dalam ruang tamu.


Mereka ribut menyalami Asti, memeluk dan memberikan ciuman sebagai tanda diterimanya wanita cantik itu masuk ke dalam keluarga mereka. Mereka ramai juga berfoto-foto bersama. Sampai berkali-kali dan cukup membuat heboh.


Tanpa rasa sungkan, Pak Leon mengendong Akbar yang mulai agak gerah karena tamu - tamu mulai berdatangan. Joko dan beberapa pegawainya menyiapkan kursi pelaminan untuk Pak Leon dan Asti duduk. Dalam sekejap, di belakang kursi itu sudah bertumpuk kado pemberian dari Keluarga Leon. Sementara tak jauh dari mereka duduk ada sebuah kotak besar untuk para tamu meletakkan amplop sumbangan.

__ADS_1


__ADS_2