Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 246. Kehadiran Pak Sampurno di desa Sumber Sari.


__ADS_3

Gema suara azan Dhuhur terdengar dari kejauhan. Semua kegiatan di kelurahan, juga pembayaran lahan yang mengambil bagian di ruangan lain di kelurahan itu dihentikan sementara. Semua orang, akan beristirahat untuk makan siang dan sholat Dhuhur berjamaah.


Ternyata masjid yang tadi mengumandangkan azan itu, letaknya cukup jauh dari kantor kelurahan itu. Jaraknya hampir 2 kilometer dari sini. Letak masjid raya itu tepatnya berada di depan kantor kecamatan setempat, yang juga menempati sebuah gedung berlantai dua yang bagus dengan halaman yang luas , bersih dan asri.


Leon membawa Pak Lurah dan beberapa staf tertinggi di kantor itu dengan mobilnya menuju ke mesjid. Sedangkan beberapa pekerja pria lainnya dari kelurahan tersebut, menyusul dengan menggunakan sepeda motor. Masing masing dari mereka saling duduk berboncengan.


Ada kesibukan tersendiri, ketika ibu- ibu yang tergabung dalam organisasi PKK di kelurahan itu mulai menyiapkan makan siang. Mereka masak di dapur umum yang terletak di bangunan lama kelurahan tersebut. Sebelum direnovasi seperti yang sekarang ini, dan menjelma menjadi gedung yang bagus dan modern.


Para ibu PKK menyiapkan masakan untuk makan siang kali ini dengan porsi yang lebih banyak lagi. Sebab mereka tidak hanya menyiapkan makanan itu untuk orang-orang yang bekerja di kelurahan ini. Tetapi beberapa petugas keamanan, yang terdiri dari aparat dari polsek setempat, satpol PP sampai barisan pemuda dari kelompok tertentu, untuk menjaga kegiatan pembayaran lahan itu agar aman dan tertib.


Pokoknya semua orang yang dilibatkan dalam kegiatan besar itu. Sampai untuk tiga hari mendatang . Kalau dihitung jumlahnya hampir mencapai 50 orang. Suatu kegiatan yang besarnya hampir menyerupai kegiatan lain, seperti acara perayaan hari kemerdekaan RI atau ulang tahun hari jadi Desa Sumber Sari, yang selalu dirayakan secara besar-besaran.


" Mbak, Yuk, kita cari makan siang di luar saja!" bisik Ninuk. Sedikit tak nyaman kegiatan Ibu - ibu itu. Mereka kan tamu yang tidak diundang, jadi kurang sopan kalau ikut makan siang bersama di sini. Takut memberatkan juga, sebab rombongan mereka juga terdiri banyak orang, hampir sepuluh orang. Walaupun Ninuk tahu, sosok Leon adalah tokoh utama dari kegiatan itu.


Mungkin Ninuk juga melihat ada wanita dari staf kelurahan yang bersikap kurang baik kepada Asti. Padahal mereka jelas-jelas ditempatkan di ruangan tersendiri. Bukan berbaur di halaman depan, bersama penduduk yang mengantri giliran untuk mendapatkan pembayaran tanah atau lahan mereka.


Rombongan itu segera keluar dari teras di samping gedung kelurahan itu, dipimpin oleh Ninuk. Lek No dan Bulek Ratih setuju dengan usul Ninuk. Mereka sebenarnya masih cukup kenyang setelah menikmati kue-kue dan makan bakso yang tadi dibelikan oleh Asti.


Apalagi melihat reportnya para ibu- ibu PKK tadi harus bekerja keras menyiapkan makanan yang cukup untuk semua orang. Walaupun keluarga Leon tidak tahu, kalau Pria itu yang membiayai acara makan siang bersama itu dengan uang dari koceknya pribadi. Sebab Leon merasa banyak mendapat bantuan dan kemudahan dalam urusan ini.


" Sugeng, kita cari masjid dulu! Nanti kita ke arah kota Madiun saja untuk mencari makan dan tempat untuk sekedar jalan-jalan tipis!" kata Lek No dengan bergaya bagai bos besar.


" Beres, Pak Bos!" Ucap Pak Sugeng sedikit hormat, setelah mendengar ucapan Lek No


" Ngaco aja, kamu! Nggak usah neko-neko. Panggil aku bos! Bis iya!"


" Kurang panjang, kalau mau disebut Bis, Pak! Harus ada 30 bangku di dalamnya!" sahut Mas Aji.


Tawa mereka berderai. Ternyata Pak Sugeng dan Lek No sudah berkawan akrab sejak lama. Selama ini, jika Lek No membutuhkan berbagai macam armada angkutan, lelaki itu menyiapkannya. Mulai dari mobil bak terbuka sampai truk yang digunakan oleh Lek No untuk mengangkut hasil panen padi di sawah mereka.

__ADS_1


Mobil Elf, segera memasuki halaman mesjid desa yang cukup megah juga. Mobil itu terparkir di sebelah Pajero milik Leo. Sebab Asti hapal dengan mobil itu yang menggunakan nomor polisi daerah Semarang. Akbar dan Qani menunggu tak jauh dari mobil itu terparkir bersama Putri dan Mbak Ning. Kebetulan mereka juga sedang berhalangan, sehingga tidak ikut sholat dengan Asti, Ninuk dan Bulek Ratih, juga Bu Jum di dalam masjid.


Di sudut halaman masjid raya itu mereka duduk di tangga beton yang hanya mempunyai dua atau tiga anak tangga. Walaupun terlihat aman, Mbak Ning dan Putri akan mengawasi kedua anak majikannya dengan cermat.


Tak lama rombongan jamaah sholat Dhuhur sudah menyelesaikan sholatnya. Satu persatu mereka keluar dari dalam masjid. Akbar berteriak memanggil ayahnya, ketika melihat Leon ada dia antara mereka.


" Ayah, ini ada Akbar sama Dedek!" panggilnya.


Pak Cakra segera menoleh. Sebab Leon masih asyik ngobrol dengan Pak Lurah Acmad Sudiro. Beliau adalah orang yang paling disegani di wilayah ini selain Pak Camat.


Akbar yang tak sabaran segera berlari ke arah Leon. Pria itu tertawa ketika mendapatkan Akbar sedang memeluk kedua kakinya dengan erat.


" Ibu mana, Kak?" bisik Leon sambil mengangkat tubuh gemoy Akbar untuk digendongnya. Qani juga mengulur kedua tangannya untuk minta digendong. Kali ini bayi perempuan itu mengalah, karena yang menggendongnya adalah Pak Cakra.


" Ini anak-anak, Pak Leon?" tanya Pak lurah itu ramah.


" Iya, Pak!" Dia meminta Akbar dan Qani menyalami Pak Lurah dan staf pentingnya itu.


" Baik, Pak Leon. Mari duluan!"


Akhirnya Joko dan Topan yang mengambil alih mobil Leon untuk mengantar Pak Lurah beserta wakil lurah dan dua stafnya kembali ke kantor kelurahan.


Dari pintu luar masjid, terlihat Lek No keluar dari masjid itu dengan tergesa - gesa. Dia sudah memasukkan hapenya kembali ke dalam sakunya.


" Leon, Asti! Sebaiknya kita harus kembali ke kelurahan. Sebab Om kamu datang bersama istrinya di sana!"


Asti segeralah menuntun Akbar masuk ke dalam mobil. Leon menanyakan keberadaan Pak Sampurno, ternyata juga baru datang.


Para staf dan aparat sedang menunggu persiapan para ibu PKK untuk makan siang bersama. Namun sebagian penduduk rata-rata sudah pulang kembali rumah masing-masing. Mereka lebih memilih untuk mengantri di esok hari. Padahal jam kerja di kelurahan itu sampai pukul 16.00. Tetapi para penduduk di sana sangat tahu kinerja para staf di kantor kelurahan itu, yang akan sangat lambat untuk melayani permintaan mereka.

__ADS_1


Di dalam ruangan kerja Pak Lurah yang merangkap ruang untuk khusus tamunya, terdengar suaranya pembicaraan yang cukup ramai. Inilah gaya bicara orang Jawa Timur yang berbeda dengan cara berbicara orang - orang yang berasal dari wilayah Jawa Tengah.


Mereka berbicara dengan suara yang agak keras dan sedikit meledak - ledak. Walaupun ucapannya itu bersifat guyonan atau bercanda.


Sekarang banyak terjadi keanehan lagi, yang mereka rasakan, setelah rombongan Asti kembali ke kantor kelurahan. Tadi mobil Elf yang dikemudikan Pak Sugeng malah dipandu oleh seorang staf kelurahan untuk parkir di halaman depan kelurahan. Bukan di bekas lapangan belakang yang berdebu dan panas.


Apalagi setelah mereka melihat Leon turun dari dalam mobil itu. sambil mengendong Qani. Para ART dan supir memilih duduk-duduk di halaman depan kelurahan bersama Ninuk. Karena suasana di sana lebih teduh dengan banyak pohon besar tumbuh di sana. Sedangkan Asti dan Akbar mengikuti Leon ke masuk ke dalam ruang kerja pak Lurah Sumber Sari, Pak Acmad Sudiro.


Di sana terlihat Mbak Wati, seorang staf kelurahan dibantu Bu Lurah meletakkan beberapa cangkir teh manis dan piring berisi kue-kue di meja kaca


Mereka juga melihat kedatangan Leon dan rombongannya, selain Lek No dan Bulek Ratih juga ada Asti dan Akbar.


" Asti, sini! Ini Pak Lurah. Nastiti Anjani keponakan saya, juga istri dari Leon Narendra Murti!" Kata Pak Sampurno bangga.


Asti menunduk wajahnya. Sambil menakupkan kedua tangannya sebagai ucapan salam. Sudah lama Asti tidak melakukan bersalaman dengan pria lain yang bukan muhrimnya. Namun Asti suka tidak enak, kalau dia harus menolak bersalaman dengan pria yang sangat sepuh atau sudah tua.


Bergantian Pak Lurah menyalami Lek No juga Bulek Ratih yang merupakan kerabat dari Pak Sampurno. " Pak , makan siang sudah siap !" ujar Ibu Yatmi, istri pak Lurah.


" Monggo, bapak-bapak dan Ibu-ibu, kita pindah ke ruang makan untuk menikmati sajian makan siang. Maklum masakan orang desa.... Seadanya saja!"


" Maaf, Pak Lurah! Saya sudah mendapatkan undangan makan siang di rumah Pak Camat. Dia juga berkerabat dengan Asti ... Di sana sudah menunggu istri saya. Kami mau ke sana, membawa semua anggota keluarga pak Leon."


Asti berdiri di samping Pak Sampurno, untuk pamit. Sekilas wajah kedua hampir mirip. Sebab Itulah Pak Harjo Winangun sering datang ke saudara sepupunya yang tinggal di Madiun ini. Sebab wajah Pak Sampurno ini mirip dengan almarhum Bagas Winangun, ayahnya Asti. Pria tua itu datang ke sana untuk melepas kerinduan pada putra kesayangan yang telah meninggal dalam usianya yang masih muda, baru 23 tahun.


Hampir saja Wati menjatuhkan gelas kopi yang tadi dipegangnya. Gelas itu berbenturan dengan permukaan meja tamu di ruang kerja ini yang juga terbuat dari kaca.


" Maaf... Maaf! "'Ujar wanita muda itu terbata-bata. " Permisi!". Dia tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.


Betapa malu dan tak enak hatinya wanita itu. Dia sudah menegur wanita itu dengan keras, ketika istrinya Pak Leon itu mau memasuki ruang pembayaran. Ruangan itu disterilkan dari orang-orang yang tidak berkepentingan karena ada uang yang banyak di sana, yang dibawa pihak bank setempat.

__ADS_1


Di tempat itulah bagian utamanya. Di sana ada Pak Cakra, Pak Leon dan tiga petugas BPD setempat yang melakukan penghitungan, pengecekan uang dan penyerahannya. Sedangkan Joko, Topan dan tiga petugas kelurahan diperbantukan di loby untuk pemanggilan dan pengecekan surat dan persyaratan pembayaran.


__ADS_2