Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 120. Menentukan Hari Depan


__ADS_3

Kedua pria yang merupakan sesepuh di kampung ini pun tak mampu menolak saat disediakan sarapan pagi. Apalagi Bulek Ratih sudah mengeluarkan satu wadah nasi goreng hangat yang segera di tata di meja halaman samping.


Pepatah orang di kampung ini pada umumnya, mereka tidak menolak diberi apa pun, oleh tuan rumah! Karena itu merupakan sebagian dari rezeki yang diberikan oleh Allah lewat perantara orang lain.


Mbak Ning pun segera menyiapkan piring, sendok dan gelas. Mereka pun menikmati nasi goreng lengkap itu hasil olahan Asti di halaman samping. Mereka menolak masuk ke dalam rumah , karena tahu ada tamu lain yang menginap di rumah ini, yaitu keluarga Pak Leon. Apalagi pojok halaman samping di rumah ini cukup bersih dan rindang. Di tempat itu dipenuhi dengan pot- pot besar dari drum bekas berisi pohon buah cangkokan yang tumbuh rimbun dan subur.


"Monggo, Pak! Silahkan! " ujar Bulek Ratih sopan dan hormat.


Tak lama Pak Roh dan Mas Yanto pun ikut bergabung menikmati sarapan bersama-sama. Di dalam rumah juga sudah datang Pak Leon. Kali ini dia bertamu sendirian. Kedatangan pria itu sebenarnya hanya beralasan untuk melihat keadaan Ibu dan kakak perempuannya. Padahal dia sebenarnya ingin melihat Asti yang ternyata masih sibuk berkutat di dapur sejak pagi tadi.


" Nak Leon, mari sarapan bareng! Asti lho, yang masak nasi goreng ini!" Goda Bulek Ratih jenaka.


Sepertu biasa, Pak Leon tidak menolak. Apalagi dia tahu masakan Asti terkenal lezat. Hanya bumbu yang dimasak calon istrinya itu lebih ringan, dengan banyak mengurangi takaran dari yang seharusnya.


Mbak Ning pun sudah mengangkat satu baskom nasi goreng komplit. Sepiring besar berisi potongan dadar telur, semangkok daging berbumbu , kerupuk dan sambal.


Ibu dan kakaknya pun sudah turun dari kamarnya di lantai atas dan ikut bergabung. Begitu juga dengan Ninuk, Bu Jum dan Mbak Ning. Yang kurang adalah Asti. Tadi mereka sempat mendengar Akbar menangis di kamarnya. Tentu si bayi itu mulai menuntut perhatian si Ibu yang sibuk mengurus para tamu mereka sejak kemarin.


Benar saja, tak lama muncul Akbar yang sudah mandi dan wangi. Bayi itu berlarian di ruang tengah dengan gembira. Sebab rumahnya kembali ramai dipenuhi tamu. Di sana juga ada Tante Ninuk dan Mbah Uti Ratih.


"Akbar mau mam?" ledek Ninuk.


Karena Ninuk makan di lantai berkarpet tebal sambil nonton tv. Akbar menggeleng. Asti yang selalu mengajarkan agar Akbar makan dengan makanannya sendiri. Dia tahu para perempuan di rumah ini suka makan yang pedas dari sambal atau cabe. Jadi dia tak mau makan disuapi dengan makanan di piring mereka.


" Ndak!" tolaknya lucu. Dengan cepat dia berlari menuju ke pelukan Pak Leon yang menggendong dengan hangat. Lelaki itu meneruskan makannya sambil mendudukkan Akbar di pangkuannya.


Mata Mbak Mesya terus memperhatikan interaksi antara adiknya dengan si bayi. Tampaknya Leon sangat akrab dengan anaknya Asti. Mungkin Leon juga merindukan kehadiran seorang anak selama pernikahannya yang dulu itu. Sebab mantan istrinya, yaitu Corinne Fasha adalah penganut faham kebebasan wanita dan Childfree.


Seperti biasa, Asti tak akan main perintah kepada Bu Jum yang masih menikmati sarapannya. Sebab dia sangat menghargai tugas dan tenaga dari orang-orang yang bekerja dan membantunya untuk mengurus rumah ini.

__ADS_1


Dia melihat sebentar kepada Pak Leon yang tampaknya tidak terlalu terganggu karena makan sambil mengendong Akbar. Mereka makan di meja makan yang hanya berisi empat kursi. Sementara Bu Jum dan Mbak Ning makan di ruang tengah dengan sisa bangku plastik yang belum ditumpuk oleh para tetangga tadi malam.


Pak Leon dan Asti bertatapan. Maksud Asti, ingin mengatakan kepada pria itu agar Akbar disuruh turun saja. Sebab dia juga sedang menyiapkan makanan khusus buat Akbar. Nasi tim sayur dan ayam yang dihaluskan dengan alat Food Processing.


" Asti, nasi gorengnya lezat. Kamu pakai bumbu rahasia restoran bintang lima, ya?" tanya Mbak Mesya setelah meneguk teh manis hangat.


Asti tersenyum geli. " Masa, Mbak? Itu hanya nasi goreng kampung dengan bumbu seadanya. Kalau enak, ya. Alhamdulillah!"


" Kemarin aku nggak sempat cobain tongseng masakan Bu Ratih, Lho! Kata anak-anakku itu lezat sekali!" Potong Ibu Anggun juga nggak mau kalah.


Waduh, Pipi Bulek Ratih memerah karena mendapat pujian dari tamunya yang berasal dari kalangan berada itu. Takut selera mereka berbeda.


" Saya juga berbisnis kuliner, Bu Ratih. Banyak tukang masak saya yang berasal dari daerah ini!" Jelas ibunya Pak Leon.


Mata Bulek Ratih mengerjab tak percaya. Mungkin karena masyarakat di daerah ini memang selalu mempunyai acara masak bareng bersama warga seluruh warga untuk membuat berbagai hidangan dalam pesta rakyat.


Dari merayakan hari keagamaan seperti menyembelih kurban di Hari Raya Idul Adha sampai perayaan Maulid Nabi. Belum lagi membuat tumpengan untuk merayakan HUT RI. Juga berbagai pesta rakyat dari bersih desa, panen raya sampai perayaan hari jadi kelurahan dan kecamatan mereka juga.


" Sini, Akbar makan sama, Om!" bujuk Leon ketika Asti meletakkan piring plastik berisi makanan untuk anaknya itu di meja kecil dekat televisi.


Bayi itu menolak turun dari pangkuan Lelaki itu. Karena sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Asti saja yang tidak tahu! Saat dia masuk rumah sakit, dan harus menjalani opname. Beberapa kali Pak Leon mengajak Akbar main ke proyek pembangunan di ujung barat desa sana. Sebab Akbar mulai rewel di pagi hari karena kehilangan ibunya setelah berhari-hari tidak pulang ke rumah. Sehingga Pak Leon membujuknya dengan naik mobilnya menuju proyek bersama Bu Jum bersama tas bayi yang berisi segala keperluan Akbar.


Bayi itu cukup terhibur melihat beberapa alat berat yang bekerja untuk melengkapi fasilitas yang ada di sana. Seperti pembuatan jalan raya utama, jembatan di atas sungai kecil. Sampai membangun tembok pagar pembatas perumahan.


" Leon, ajarkan anak ini memanggilmu Papa, begitu! " Saran Ibu Anggun.


" Nggak cocok, Ma! Masa Papa sama Ibu? Biar Akbar memanggilnya ayah. Kan sepadan, tuh! Ayah dan Ibu!" Kata Mbak Mesya berpendapat.


Wajah Asti merah merona diledek oleh anggota keluarga Pak Leon. Tadi Lek No sudah menanyakan kepada Pak Tua, untuk mendapatkan hari baik bagi pernikahan mereka. Pria itu menyarankan hari Minggu, di minggu keempat bulan depan adalah hari baik buat pasangan itu menikah.

__ADS_1


Sampai dibujuk Bu Jum barulah Akbar mau diajak turun dari pangkuan Pak Leon. Biasanya Akbar didudukkan di stroller untuk menikmati sarapannya itu.


Ibunya Pak Leon melihat bayi laki- laki itu sangat tampan dan cukup terawat. Padahal ibunya harus meninggalkannya di rumah setiap hari untuk berjualan di pasar.


Lek No sudah pulang lebih dahulu siang tadi. Karena masih sibuk mengurus lahan sawah yang sudah ditanami bibit kacang tanah. Walaupun ada dua orang pria yang sangat mampu diandalkan dalam urusan tersebut.


" Mama mau pulang jam berapa?"


" Leon kamu ngusir Mama dan Mbakmu, ya?"


" Bukan begitu, Ma! Proyek akan terbengkalai kalau Mama menunda pulang. Aku dan Cakra sedang menyiapkan jalan utama di Utara proyek."


" Ya, sudah... Kamu nggak usah antar kami ke Semarang! Sama supir mu saja, ya? Si Dimas...'


Mbak Mesya masih asyik duduk di taman samping kanan. Main hape sambil melihat Bu Jum menyuapi Akbar makan. Walaupun di daerah ini termasuk dataran rendah, tetapi udaranya masih sejuk. Sebab warga di daerah ini masih menjaga kelestarian lingkungan, dengan mempertahankan berbagai pohon besar dan lahan terbuka hijau.


Apalagi di samping dan belakang rumah Asti masih ada ribuan meter tanah yang oleh penjaganya ditanami berbagai pohon buah dari mangga, pisang sampai singkong dan ubi. Hanya saja kebun itu tertutup rapat oleh pagar kayu tinggi dan agak kurang terawat.


" Akbar makannya gampang, ya. Bu?"


" Gampang, juga. Tetapi Mbak Asti selalu menambahkan sayuran, selain daging ayam dan ikan yang diolahnya tersendiri."


" Saya cukup betah di sini, agak sepi... Suasananya teras adem dan santai. Kalau kembali ke Semarang kerjaan saya semakin menumpuk saja. Sejak ayah kami sakit, ibu jadi bolak - balik antara rumah dan rumah sakit.. Jadi nggak ada orang yang bantu di galeri dan toko!"


" Wah, saya belum pernah ke Semarang, Bu! Paling kalau naik bus ke Jakarta cuma numpang lewat di terminalnya sebentar."


" Main ke rumahku, Bu Jum! Kami masih tinggal di satu kompleks, kok. Dekat dengan rumah orang tua, masih di perumahan yang sama. Hanya beda blok saja. Apalagi proyek Leon di sini. Dia pasti betah di rumah ini dan jarang menengok kami!"


Siang harinya, Pak Leon kembali datang untuk menjemput Kakak dan Ibunya pulang. Wanita itu memeluk dan menciumi pipi putra bungsunya penuh rasa sayang.

__ADS_1


" Sebelum hari pernikahan, kamu ajak Asti dan keluarganya ke Semarang untuk menengok Papamu! Biar dia kenal juga dengan Asti dan Akbar!"


Leon hanya mengiyakan saja. Pak Cakra juga tak bisa mengantarkan mereka ke Semarang. Siang tadi, pembuatan jembatan di Utara proyek perumahan mulai dilaksanakan. Sebab dengan dibuatnya jembatan penghubung yang lebih lebar dan dibeton, kendaraan proyek lebih mudah mendapatkan akses masuk ke perumahan tersebut.


__ADS_2