Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 221. Masih Berkerabat


__ADS_3

Pakde Muin memang orangnya sangat enerjik. Walaupun sudah pensiun dari dinasnya, dia masih aktif bekerja pada perusahaan milik temannya yang ada di Semarang dan Purwokerto. Katanya sebagai penyelidik swasta.


Pantas saja Bude Mayang, yang usianya lebih muda lebih 20 tahun darinya terpikat dan mau menikahi pria tua itu. Sejak masih berdinas, uang pria itu cukup banyak. Apalagi dia juga menikahi istri pertamanya itu yang berasal dari kalangan berada. Sayangnya Istri Pakde Muin yang hanya memberinya satu anak perempuan yang sudah dewasa itu, sudah meninggal dunia hampir lima tahun yang lalu.


Wanita itu terkena kanker rahim dan bertahun-tahun sakit dan dirawat oleh keluarganya di kampungnya, di daerah pinggiran kota Purwokerto.


Anak Pakde Muin juga sudah dewasa dan berumah tangga. Wanita ikut suaminya yang bekerja di sebuah bank. Mereka tinggal di Medan, Sumatera Utara.


Asti dan Mbak Ning sudah menyiapkan makan malam. Mereka melakukan itu sebelum azan Magrib tiba... Jadi siapa pun yang sudah lapar dan mau makan duluan dipersilakan. Bebas saja.


Anak-anak juga sudah dibawa Bu Jum dan Putri ke warung tenda bersama Pakde Muin dan istrinya... Mbak Ning sedikitnya agak lega. Walaupun pakaian yang Bude Mayang kenakan itu cukup ketat dan dapat mengalihkan perhatian kaum Adam yang ada disekitar ruko dan warung tenda itu. Ternyata wanita itu tidak bersikap genit atau suka mencari perhatian orang lain.


" Iyalah, Mbak Asti! Pakde Muin itu walaupun sudah tua dan tidak tampan. Tetapi kan good rekening, gitu!"


" Bisa wae kamu, Mbak Ning!" balas Asti geli. Yah Ampun! mengapa orang-orang pecinta sinetron Indonesia yang ada di rumahnya ini, jadi sangat pandai menilai penampilan setiap orang, ya?


Ternyata warung tenda pada malam itu sangat ramai dengan pelanggan. Sampai cukup menarik perhatian Asti yang jarang datang ke sana. Kecuali malam ini, sebab Akbar dan Qani belum juga masuk rumah juga. Padahal hari itu sudah lewat pukul 20.00. Jadi akan masuk untuk waktunya bagi mereka beristirahat atau tidur.


Dari meja di ujung sana terlihat Qani sudah mau digendong oleh Bude Mayang. Ternyata wanita itu membujuk anak Asti itu dengan membelikannya berbagai makanan berupa kue dan Chiki.


Akbar sedang ditanggap oleh Pakde Muin. Bocah berusia 3 tahun itu bercerita banyak tentang kesehariannya di rumah bersama ibu, adik dan para pengasuhnya. Sementara Bu Jum dan Putri menikmati sepiring mie goreng. Mereka ditraktir oleh Pakde Muin yang terlihat sangat royal.


" Waduh enaknya yang dapat traktiran?" Ledek Mbak Ning. Bu Jum dan Putri tersipu-sipu setelah menghabiskan makanan mereka yang ada di piring masing-masing.


" Pakde Muin yang memaksa kita ikut makan! Malah borong makanan dan minuman dari mini market, Mbak!" Lapor Bu Jum.

__ADS_1


Di meja ada sekantong makanan yang dibeli mereka untuk kedua anak Asti itu. Mbak Ning mau bercerita, tetapi Asti memberi kode dengan cara menggelengkan kepalanya.


Belum tahu saja Mbak Ning, kalau sebagian usaha yang dijalankan dan dikembangkan oleh Pak Cahyadi dengan istrinya yang sekarang adalah berkat modal yang ditanamkan oleh Pakde Muin... Mungkin karena beliau selalu berpindah-pindah tempat tugas. Sehingga mau mempercayakan usaha itu kepada suami kakak sepupunya itu. Tentu dengan melihat betapa pandainya Pak Cahyadi membaca peluang dalam bisnisnya tersebut.


Dari kemampuan Bu Lilis membuat kue-kue, mereka membuat berbagai toko oleh-oleh yang didirikan di beberapa tempat wisata di daerah itu. Beliau juga mendirikan pertokoan yang disewakan, usaha laundry dan kontrakan seperti kos- kosan untuk mahasiswa yang lokasinya berada dekat pada kampus-kampus tertentu di sekitar kota Purwokerto..


Belum lagi rencana terbaru dari mereka untuk membuka tempat penginapan untuk keluarga di sebuah tempat wisata yang terkenal dengan udaranya yang sejuk dan segar.


Dari kejauhan Akbar mengenali pasangan yang baru datang dan mendatangi tempat mereka. " Mbah No, Mbah Ratih!" teriak Akbar senang.


Lek No segera menangkap tubuh padat Akbar yang berlari ke arahnya. Setelah pria itu memarkirkan mobilnya di halaman ruko setelah dibantu Yanto yang mengarahkannya. Pengunjung ruko dan warung tenda malam ini kebanyakan mengunakan kendaraan roda dua.


Dalam sekejap anak itu sudah digendong Lek No sambil mengecupi pipi gembul Akbar penuh rasa sayang. " Kamu tambah antep ya, Akbar!" puji lelaki.


Musim panen di sawahnya, membuat kedua suami istri sangat sibuk sejak seminggu yang lalu. Mereka memerlukan banyak tenaga buruh tani untuk memanen padi di sawah mereka yang cukup luas. Juga mengerahkan bantuan para tetangga untuk memasak dan menyiapkan makan siang bagi puluhan pekerja yang datang ke rumahnya setelah bekerja keras seharian penuh di sawah.


" Sudah selesai semua padinya di panen, Lek?" tanya Asti. Setelah dia mengenalkan sosok Pakde Muin kepada suami istri itu. Walaupun Bulek Ratih sudah kenal saat dia bersama Bude Ayu dulu mendatangi rumah beliau yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan Rumah Pak Cahyadi, ayah Satrio itu.


Mereka ngobrol akrab. Apalagi kancil tahu kalau mereka adalah orang tua Joko segera saja dia menyediakan kopi untuk mereka.


Bu Jum dan Putri segera membawa anak asuhnya itu kembali ke rumah untuk persiapan tidur. Asti mengajak Bulek Ratih dan Bude Mayang mampir ke mini marketnya. Dengan cepat dua orang pramuniaga pria di sana menyiapkan barang-barang yang diperlukan oleh Asti yang sudah diminta tadi sore sebelumnya.


Dalam kardus itu ada gula, kopi, teh dan bermacam-macam sembako lainnya seperti minyak goreng, tepung dan bumbu dapur seperti kecap, saos dan sebagainya. Kardus-kardus itu segera dibawa keluar dari mini market. Kedua pramuniaga sesaat mencari keberadaan Pak Sarno Winangun yang juga merupakan tetangga mereka di desa.


" Astaghfirullah, Asti! itu apa nggak terlalu banyak! " tegur Bulek Ratih tidak enak. Padahal Bude Mayang juga sedang asyik memilih berbagai perlengkapan mandi di pojok ruangan itu.

__ADS_1


" Asti belum sempat nengok ke desa, Lek. Mas Leon dan Joko masih ngurus tanah yang di Madiun itu!"


" Tenang, Asti! Ommu sudah banyak bantu mereka juga. Si Calo itu saja yang sengaja menaikkan tawarannya... Jadi Om Sampurno Winangun yang mendekati masyarakat di sana... Sampai mereka mau diajak bekerja sama!"


" Alhamdulillah! kata Mbak Ning... agak repot berurusan dengan calon tanah seperti itu, katanya!"


Bude Mayang membawa barang belanja pilihannya berupa sabun mandi cair, shampo botolan juga dua buah sikat gigi... Tetapi Asti meminta petugas kasir itu memasukkan barang - barang itu ke dalam tagihannya. Apalagi Bude Mayang adalah tamunya. Rencananya mereka akan tinggal di rumah Asti beberapa hari lagi... Sebelum kembali ke daerah asal mereka di Purwokerto


Kedua pria itu masih berbincang-bincang di meja semula. Lek No kaget ketika tadi dimintai kunci mobil oleh salah satu pekerja di mini market milik Asti itu.


Sampai Pakde Muin bertanya agak bingung... Sebab dia melihat para pekerja laki-laki itu memasukkan tiga buah dus besar belanjaan ke dalam bagasi mobil Avanza yang dikemudikan oleh Lek No.


" Kamu belanja malam- malam begini, Pak ?"


" Bukan belanja Kang. Itu jatah sembako dari Asti untuk di rumah.. Karena mini market milik ini punya Asti. Jadi kami yang ke rumahnya ini.."


" Maksud kamu, semua ruko dan mini market itu punya Nastiti Anjani, begitu!"


" Iya, Kang ... Apa Kang Muin tidak baca nama ruko dan mini market itu.. "Ayu Sulaksmi Niaga" Itu nama Budenya Asti itu. Dia mendedikasikan ruko dan mini market itu dengan namanya..."


" Astaghfirullah! Aku baru ngeh, Sarno ... Begitu sayangnya Asti dengan budenya itu ... malah namanya yang menjadi ruko juga tempat usahanya ini..."


Secara garis kekeluargaan, Pak Sarno Winangun dan Pak Muin Supangat tidak bersaudara. Tetapi karena pernikahan anggota keluarganya, mereka kini menjadi saling berkerabat. Bagi orang Jawa, saudara jauh pun sangat dihargai sebagai bagian dari keluarga mereka. Apalagi kalau mereka jarang bertemu seperti ini.


Lain halnya kalau mereka tinggal di perantauan, tetangga terdekat pun bisa menjadi saudara yang paling akrab. Apalagi bagi sesama orang Jawa, mereka akan saling tolong menolong. Apalagi mereka tinggal jauh dari keluarga dan kampung halaman.

__ADS_1


__ADS_2