Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 66. Pada Pemakaman Mbah Sanjaya


__ADS_3

Berbagai ritual adat- istiadat cara orang desa untuk memperlakukan Jenazah Mbah Sanjaya telah dilakukan. Mulai dari memandikan sampai mengkafani jenazah yang dilakukan di ruangan tamu rumah itu. Semua itu telah diberi arahan langsung dari seorang ulama setempat, yang merupakan teman baik almarhum Mbah Sanjaya.


Tadi sebelum Joko pergi untuk mengantar Akbar pulang bersama Bu Jum juga Mbak Ning, Asti sempat meminta untuk  diambilkan mukena dan sajadah kecilnya. Benda yang terbuat dari bahan parasit ringan itu selalu disimpannya pada saku jok mobilnya. Tepat di belakang bangku pengemudi.


Honda Jazz merah yang dikemudikan Joko meninggalkan Desa Sendang Ranti yang tampak berduka. Banyak juga jasa Mbah Sanjaya untuk kemajuan desa ini. Terlihat sangat jelas dari kehidupan penduduknya yang makmur. Sebab hampir sebagian rumah-rumah penduduk di desa adalah bangunan baru yang dibangun secara permanen. Malah ada beberapa yang merupakan bangunan bertingkat, lengkap dengan pagar tinggi dan garasi mobil, yang dapat memuat lebih dari satu mobil.


Desa Sendang Ranti ini tidak hanya mengandalkan dari hasil pertanian padi saja. Ada kebun pembudidayaan buah mangga dan sayuran hidroponik. Banyak juga penduduk yang memiliki usaha peternakan ayam , dari ayam potong sampai petelur. Bahkan UMKM mereka terbilang maju dalam memajukan berbagai industri kecil seperti pembuatan kerajinan tangan, tas ransel dan konvektif dan serta pembuatan batik.


Di Masjid besar dan megah Itulah Mbah Sanjaya disholatkan. Asti sengaja mengambil saf paling belakang. Dia di sana bersama dengan dua anak perempuan almarhum, yaitu Bude Diah dan Bude Arimbi. Hanya dengan cara seperti itulah Asti dapat mengantar kepergian beliau. Hanya doa dan doa. Semoga segala perbuatan dan amal baik beliau diterima oleh Alla SWT.


" Ikut ke makam, kan?" Bisik Bu Haji Anissa yang sudah ada di sisinya.


" Ikut, Bu Haji! Walaupun buruknya hubungan saya dengan keluarga Satrio, Mbah Sanjaya dan Mbah Putri Sri Sumiarsih masih tercatat sebagai adik kakak." Kata Asti perlahan.


 Rombongan ibu-ibu merangsak bergerak  di belakang Asti. Bersama Ibu Haji Anissa dan seorang anak perempuan dari almarhum Mbah Sanjaya, Bude Ambar. Mereka berjalan bersama-sama menuju ke pemakaman yang letaknya ada di ujung desa Sendang Ranti. Tertutup rimbunan hutan jati dan barisan pohon -pohon Kamboja yang sedang berbunga dan mengeluarkan aroma wangi yang khas.


Di depan mereka,  Jenazah dibawa dalam keranda beroda dengan penutup dari bahan beludru berwarna hijau yang dipenuhi rangkaian bunga.


Keranda itu didorong oleh warga secara bergantian dan beramai- ramai. Banyak orang yang terus mengucapkan tahlil di belakang keranda itu. Di antara banyaknya warga yang mendorong keranda itu, tampak Lek No.


Walaupun lelaki itu tidak berhubungan langsung dengan  darah keluarga Sanjaya. Namun Lek No belajar banyak dari beliau, tentang mengolah sawah dan kebun. Agar dia dapat terus menjaga warisan sawah dan kebun milik  Harjo Winangun, setelah Kakek Asti itu Wafat.


Di depan, ada Bude Widya, sebagai anak sulung Pak Sanjaya. Dia ditemani oleh kerabat dan sanak keluarga. Para wanita itu juga membawa keranjang berisi bunga tabur, botol air mawar dan sebuah kendi. Cucu Pak Sanjaya yang paling kecil, terus membawa pigura berisi foto beliau.


Asi berjalan perlahan, bersama rombongan di belakangnya. Setelah tiba di pemakaman, dia berdiri agak menjauh dari kerumunan orang- orang itu . Sedikit mungkin, dia tidak mau lagi bersinggungan dengan ibunya Satrio.

__ADS_1


Sejak perceraian itu, barulah Asti mengenali watak wanita itu yang terlalu berat sebelah. Terlalu membela Satrio! Tak peduli kalau anaknya itu yang salah dan berselingkuh. Terus saja dibelanya!


Malah menyalahkan Asti sebagai pihak yang justru paling lemah dan tak mempunyai orang tua untuk melindunginya.


Sayup- sayup terdengar lantunan bacaan dari tahlil saat jenazah diturunkan ke liang lahat. Tampaknya dua anak laki- laki anak Mbah Sanjaya turun ke sana untuk membantu. Juga beberapa cucu laki-laki yang lain, bahu - membahu dalam pemakaman ayah dan kakek mereka. Kecuali Satrio!


Acara penguburan telah selesai. Para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman i satu- persatu. Hanya anggota keluarganya berdiam agak lama. Lalu segera mereka pulang ke rumah.


Rombongan pelayat dari desa Sendang Mulyo sudah berpamitan pada keluarga almarhum Mbah Sanjaya. Di sana berdiri anak-anak beliau, dari Bude Widya, Bude Diah Bude Arimbi juga Bude Arum.


Pakde Haki dan Pakde Hardi Atmojo masih berkoordinasi dengan beberapa sesepuh desa lainnya. Termasuk Lek No yang juga sangat dihormati oleh anak-anak almarhum.


"Asti, kamu pulang sendiri, ya? Ajak Bulek Ratih ke rumahmu! Lek No mau di sini sampai malam. Nanti Joko yang mengantar rombongan ibu-ibu itu pulang!" Perintah Lek No, yang diiyakan oleh Joko dan Asti.


 Tampak Joko sudah berada di tempat parkir. Dia memberikan kunci mobil Honda jazz milik Asti, yang tadi dibawanya. Bulek Ratih malah mau segera masuk ke dalam mobil Asti. Tampaknya Dia malas bertemu dengan ibunya Satrio lagi, karena masih merasa sakit hati dengan sikap dan perlakuan cucu kesayangan Mbah Sanjaya terhadap Asti.


"Asti, Sebentar! Dicariin Mbak Sasya, di dalam!" seru Bude Arimbi yang tiba-tiba datang menemuinya.


Tampak Si Bude berusaha mengejar Asti, agar cucu Mbah Winangun itu tidak keburu pulang, meninggalkan rumah ini.


Bulek  Ratih malah ikut keluar dari mobil, karena merasa urusan Asti akan menjadi lebih lama. Karena tertahan dengan orang- orang yang berkerabat dengan Satrio.


Benar saja,  tampak Mbak Sasya yang masih duduk di dalam bersama Mbah Putri. Wanita itu berdiri dan memeluk Asti erat-erat. Tanpa sadar air matanya menetes. Jangan tanya padanya, dia juga sangat kecewa dan menyesal dengan  cara mereka bercerai. Apalagi Pak Cahyadi lebih membela Asti. Dia membenci cara Satrio yang merusak rumah tangganya sendiri.


" Pak Catur kirim salam. Kalau ada waktu dia akan ke rumahmu bulan, depan!"

__ADS_1


" Beliau sehat?"


" Sehat. Asti maafkan Satrio! Dia sudah salah langkah dan Ibu juga terus membelanya. Maafkan, adikku yang manja, keras kepala dan nggak tahu diri itu!"


"Sama- sama, Mbak. Asti juga yang bersikeras untuk bercerai! Mbak juga lihat kan kesalahan Satrio di mana?"


" Bapak , Aku dan Mbak Tiara tetap mendukungmu! Jangan takut. Kalau ada apa pun bilang sama aku!"


Wanita cantik itu mengelus lembut pipi Asti dengan lembut. " Lek No sudah memberi tahu kalau rumah impianmu sudah jadi. Juga ruko sudah berjalan. Semoga kamu diberi rezeki yang melimpah untuk merawat Akbar!"


Asti keluar dari rumah besar itu setelah menyalami para ibu, dan cucu Mbah Sanjaya. Bulek Ratih terus mengikuti Asti. Bahkan mereka tak menyapa Bude Widya, Satrio dan Zahra yang masih duduk di bangku luar.


Langkah Asti semakin cepat meninggalkan rumah duka tersebut. Dengan beberapa tamu yang masih bertahan di sana.


" Ayok, masuk. Bulek!" Panggil Asti.


Bulek Ratih masih melihat Satrio dan Zahra yang juga memandangi kepergian mereka.


" Mau rasanya tak cungkil mata perempuan itu. Masih muda kok, nekat merebut suami orang!"


Suara pintu mobil di sampingnya sudah ditutup kuat oleh Ibunya Ninuk itu. Asti mulai menyalakan mesin mobil Honda Jazz itu. Sebelumnya dia mengulurkan selembar dua puluh ribuan pada anak muda yang membantu memberi aba- aba agar keluar dari tempat itu dengan aman.


Asti masa bodoh dengan pandangan dari sepasang suami istri itu yang terus duduk di depan rumah. Pikir Asti, dia akan hidup menderita, kesusahan dan berkabung dengan kesedihan setelah perceraian itu. Satrio salah kalau menilainya begitu!


Dia wanita desa yang mempunyai harga diri, menjunjung harkat dan martabatnya. Tak Sudi lagi dia bertemu dengan lelaki picik itu.

__ADS_1


Toh, semua orang sudah tahu sekarang, penyebab perceraian itu terjadi. Asti tak perlu banyak cerita. Sanksi sosial sudah diterima Zahra saat dia tinggal di rumah dinas Satrio.


Wanita muda sekelas Zahra, memang layak bersanding dengan bekas suaminya. Seperti barang - barang bekasnya di rumah dinas itu. Dari peralatan makan, perkakas dapur dan beberapa alat elektronik dari blender, mikser sampai teko elektrik adalah barang- barang dari kado pernikahannya dengan Satrio. Barang- barang pemberian kerabat, saudara juga teman-teman. Dia telah membuang barang itu, seperti dia membuang Satrio dengan segala keburukannya!


__ADS_2