
Kepergian Asti yang menginap di rumah Bude Ayu, dua kali dalam seminggu itu ternyata menjadi perhatian tetangga depan rumah. Ibu Suparlan yang mempunyai 1 anak remaja putri dan dua anak tingkat SD.
Bagi Asti, kalau tetangganya itu bertanya dengan sopan dan baik, tentu saja akan dijelaskan dengan baik. Tampaknya tetangga Asti yang satu ini memang berbeda.
Apalagi Ibu Suparlan yang mempunyai nama gadisnya Inneke, itu merasa dirinya paling modern. Hanya karena dia pernah tinggal di Jakarta. Dalam angan Ibu Suparlan, ada hal negatif karena Asti sering pergi keluar rumah dan pakai acara menginap segala!
Asti semakin gemes! Halo apa kabar gamis panjang dan kerudung rapi yang ia kenakan setiap keluar rumah hanya formalitas? Dia pergi juga diantar dan dijemput suaminya. Bukan orang lain!
Sekilas pandang, Asti menatap wajah wanita itu yang suka memakai make-up lengkap walau seharian hanya di rumah. Dia tidak berkata apa pun lalu berbalik kembali ke rumah. Sopan nggak sopan, lebih baik masa bodoh!
Seperti juga kehidupan, kita hanya dapat mengikuti arusnya. Entah berhenti di mana? Atau terkena pasang atau gelombang?
Setidaknya Asti punya penghasilan sendiri, jadi lebih bebas menggunakan untuk keperluan pribadinya. Jadi tidak mengandalkan gaji suami. Walaupun Satrio mempercayakan seluruh gajinya diberikan ke Asti, sebab dia yakin istrinya itu akan hati- hati dan cermat mengatur keuangan rumah tangga mereka.
" Sana keluar, ikut ibu- ibu senam di taman atau main voly di lapangan depan!" Ajak Satrio yang melihat Asti hanya berbaring di sofa ruang tamu.
Padahal Asti melakukan hal itu sejak Satrio izin lari pagi ke alun- alun kota sampai dia kembali ke rumah, istrinya belum beranjak dari tempat kebesarannya itu.
" Nggak, ah! "
Satrio segera duduk di samping istrinya itu ." Apa sudah Satrio junior di sini ?"
Pria itu berbisik lembut sambil mengusap-usap perut istrinya yang masih datar.
" Sudah ah , Mas. Geli! Aku nggak hamil kok. Cuma ..."
Pria itu membelai wajah cantik itu agak cemas. " Ayo, ngomong dong!"
" Aku tinggal di rumah Bude Ayu aja, ya?"
__ADS_1
Mata Satrio mengerjab tidak percaya. " Kamu mau ninggalin aku, Yang?"
" Bukan! Aku tinggal di desa aja, ya? Mas kan bisa pergi dan pulang kerja dari desa. Aku nggak betah di sini."
Lama - lama Asti akhirnya menangis pelan. Bahunya berguncang keras karena dia berusaha menahan semua kepedihan itu.
Lelaki itu meraih tubuh Asti dan memeluknya erat- erat. Satrio sengaja membawa Asti tinggal di sini justru untuk menjauhkan Asti dari berbagai masalah karena perseteruan antara Bude Ayu dan Mas Timbul. Sewaktu- waktu permasalahan itu akan meledak.
Sorenya Satrio membawa istrinya itu berkeliling kota. Tidak sampai satu jam seluruh sudut kota itu mulai mereka telusuri. Ternyata kegiatan sederhana itu cukup memberi kebahagian tersendiri bagi Asti.
Di alun- alun kota itu banyak penjual makanan membuka lapaknya. Harganya pun murah meriah. Jadi mereka wisata kulineran jajan di warung kaki lima.
" Enak? " tanya Satrio saat Asti mencoba makanan dari tahu dan tepung itu, saat tinggal dan kuliah di Bandung, makanan itu disebutnya batagor.
Asti memperlihatkan wajah tak suka. Satrio juga agak merasa aneh setelah mencicipinya sedikit. Karena makanan itu berbeda jauh dari cara mengolah, penyajian dan bumbunya.
" Besok aku tinggal dinas keluar kota, kamu baik- baik aja ya di rumah!"
" Sayang waktuku sangat mepet kalau ngantar kamu dulu ke desa Lalu kembali ke kantor, nggak sempat. Mana si Bos ikut dalam rombongan, lho!"
Asti membantu suaminya memasukan beberapa pakaian ganti dalam koper kecil. Sedang baju seragamnya hanya dilipat bersama gantungannya supaya tidak lecek karena koper itu agak kecil.
Pagi sekali Satrio keluar rumah dengan Fortuner hitamnya. Ternyata ada dua tetangga yang sesama anggota polisi ikut nebeng mobil Satrio.
Selama tiga bulan Asti menikah dengan Satrio, suaminya itu jarang berbicara tentang pekerjaan. Katanya dia terikat kode etik kerja sehingga banyak menyimpan informasi rahasia.
Tadinya, Asti berpikir kalau tugas seorang polisi itu hanya berpatroli di jalan untuk mengatur lalu lintas atau menuntaskan kasus kejahatan.
Bu Haji juga mengusulkan agar Asti punya kesibukkan tersendiri agar tidak jenuh. Tetapi di kota ini dia tidak mengenal seorang pun kecuali suaminya.
__ADS_1
Terkadang Asti hanya iseng- iseng menanam biji cabai atau tomat dengan pot- pot plastik yang murah. Tanaman itu diletakkan di belakang rumah. Sedang di halaman depan hanya cukup untuk garasi mobil Satrio yang atapnya diberi tambahan dari asbes.
Mungkin memang dirinya sulit bergaul, jadi dia lebih menikmati saat sedang sendiri. Satrio pun hanya telepon satu atau dua kali sehari bila dia ada waktu luang. Sebab bila sudah di lapangan dia harus fokus dengan tugas dan pekerjaannya.
Ada seorang ibu muda tetangganya, akhirnya berhasil mengajak Asti tergabung dalam kelompok pengajian. Mungkin ibu- ibu di kompleks ini belum banyak yang berpartisipasi jadi mereka bergabung dengan kelompok pengajian dari pemukiman lain yang ada di seberang jalan perumahan. Di pemukiman itu ada mesjid besar yang sangat ramai saat waktu sholat fardhu di siang sampai malam hari.
Sesekali Asti datang di hari Kamis siang. Masih aman. Mereka benar- benar mengikuti pengajian dengan seorang Ustadzah Hanifah muda yang menjadi pemimpin kelompok majelis Taklim di mesjid besar ini .
Niat utama Asti ikut pengajian adalah belajar dan menambah ilmu agama. Sejak kecil dia mengaji dan membaca Al-Qur'an dibimbing oleh Mbah Kung. Di sekolah jam pelajaran agama hanya 2 atau 3 jam satu minggu. Kegiatan Rohis di SMK hanya mengadakan berbagai perayaan hari besar agama Islam. Setelah lulus SMK Asti hanya belajar agama lewat internet.
Ibu Anggita yang mempunyai anak kembar balita itu semakin akrab dengannya. Setiap wanita itu keluar rumah, anak kembarnya di jaga oleh ibunya yang memang tinggal bersamanya setelah ayahnya meninggal.
" Jeng boleh nggak aku ke rumahmu untuk belajar ngaji?" tanya Ibu Anggita suatu sore. Mereka baru saja keluar dari halaman masjid setelah acara pengajian selesai.
" lho, ibu bisa belajar dengan ibu Ustazah Hanifah kan?" tolak Asti halus.
" Sebenarnya saya malu. Karena belum bisa baca Alquran. Bapaknya anak- anak sibuk. Saya mualaf Jeng Asti..."
"Saya bukan guru ngaji, Bu.!"
"Tadi saya dengar suara Jeng Asti sewaktu mengaji merdu sekali suaranya. Tolong ya Jeng! biar saya juga bisa ngajarin si kembar ngaji. Ceramah Ustadzah Hanifah itu sangat menyentuh. Kita ini yang akan membentuk pondasi anak - anak di rumah."
Akhirnya Ibu Anggita datang setiap siang, setelah dia menyelesaikan pekerjaan rumah. Asti mengajarkan wanita itu mulai dari huruf Hijaiyah juga membaca Iqro. Ternyata Ibu Anggita sangat tekun dan bersemangat untuk belajar.
Terkadang wanita itu membawa berbagai makanan hasil kreasinya ke rumah Asti. Makanan atau masakan yang jarang Asti dapat di pasar atau belum pernah memakannya.
Sebagian masakan ala western masih diterima perutnya. Mungkin lidah ndesonya kurang cocok dengan pasta karena campuran bau dari susu dan keju membuatnya mual. Apalagi makanan ala Jepang yang terbuat terbuat dari ikan mentah, Asti langsung ambil langkah seribu.
Suami Ibu Anggita, Pak Sadewo malah mendukung kegiatan istrinya itu saat dia minta izin. Lagi- lagi Ibu Suparlan alias Jeng Inneke, kembali radar mau tahunya muncul lagi.
__ADS_1
Saat diberi tahu oleh Jeng Anggita kalau dia belajar ngaji dengan Asti, mulutnya langsung mencibir. Mungkin baginya belajar mengaji itu bukan kegiatan yang modern atau menjadi trend kehidupan kekinian.