Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 114. Soal Lamaran Pak Leon


__ADS_3

Bulek Ratih sedikit terkejut ketika mendengar laporan dari dua dayang- dayangnya itu, soal kedatangan Pak Leon ke rumah ini. Cepat mereka menyiapkan makanan untuk disajikan sebagai hidangan yang cukup pantas untuk makan malam bagi tamu terhormat mereka. Sedangkan Bulek Ratih membawa baki berisi tiga cangkir kopi, dan singkong goreng merekah yang pernah diajarkan oleh Asti cara membuatnya yang dilihatnya dari tayangan di YouTube.


"'Bu Ratih, apa kabar?" Ucap Pak Leon sopan, sambil menyalami tangan wanita itu.


" Baik,. Sama siapa Nak Leon sehingga sudi datang ke rumah kami di desa yang terpencil ini?" tanya Bulek Ratih ramah.


" Sama Yanto, Bu! Kata Mas Yanto, dia masih ada berkerabat dengan Ibu Ratih, kan?"


Bu Ratih tersenyum bangga. " O, iya. Tepatnya di ujung jalan di belakang pasar itulah asal desa kelahiran saya. Jadi satu desa itu hampir semuanya penduduknya saling terkait hubungan kekerabatan. Termasuk Mbak Ning, Bu Jum juga Mas Yanto. Kami semua termasuk keluarga besar. Kecuali Pak No dan Asti. Keluarga mereka sejak dulu hanya punya anak sedikit. Apalagi Mbah Buyutnya Asti, beliau dengan susah payah membuka daerah terpencil ini sebagai petilasan seorang abdi dalem istana. Sampai semua pengikutnya, menetap dan menempati daerah ini dan menjadi pemukiman seperti sekarang ..."


" Pantas, Keluarga Lek No dan Asti sangat dihormati oleh Pak Rahman Sidiq. Sampai beliau mengembalikan tanah yang dulu merupakan hadiah pernikahan dari mertuanya..."


" Iya, Pak Rahman sudah menceraikan Kakak perempuan ayahnya Asti! Karena Bude Ayu berniat mengasuh Asti yang sejak bayi bapaknya sudah meninggal. Malah ibunya menyerahkan bayi itu kepada mertuanya." Lanjut Lek No.


" Jadi, Mbak Asti masih mempunyai seorang Ibu?"


" Kami belum tahu nasib ibunya Asti, sejak wanita itu kembali ke kampungnya di Kalimantan Selatan. Keluarganya di sana juga mengalami musibah kebakaran besar- besaran di kampung tempat mereka tinggal. Sampai ada anggota keluarganya yang meninggal dalam musibah itu... Setelah itu, Kak Emilia tidak pernah mengirim kabar lagi pada Mbah Harjo Winangun. Kamu sudah kehilangan jejaknya ...." Cerita Lek No sambil menahan rasa sedih.


" Secara umum, keluarga kami sudah pernah mendengar asal- usul Ibu Ayu Sulaksmi. Sebab Papa saya sangat menentang perceraian mereka. Tetapi Pak Rahman juga salah, terlalu memperhatikan kesejahteraan orang lain, sampai anak gadis itulah yang lebih diprioritaskan olehnya. Bagaimana Ibu Ayu nggak sakit hati , jadi dia memilih mundur dan bercerai. Gadis muda itu yang dinikahi Pak Rahman. Anak dari perempuan yang bekerja di rumah mereka di kampung tempat beliau bertugas. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua anak. Tetapi anak-anak itu juga mengalami cacat sejak lahir. Yang laki -laki mengalami folio , sedang perempuan ada gangguan dalam perkembangan otaknya, sehingga harus disekolahkan secara khusus."


Bulek Ratih tampak bingung. Apalagi Lek No. Justru Pak Leon yang tersenyum menenangkan pasangan suami istri itu. " Papa saya menjadi pimpinan atau komandan di daerah, tempat Pak Rahman Sidiq bertugas. Namun papa sering berpindah tugas lagi ke daerah lain sampai kembali ke Jakarta sebelum pensiun. Sepuluh tahun yang lalu."


" Sebentar, jadi Bapaknya Pak Leon itu pernah menjadi atasan Pak Rahman?"


" Iya! Sebagian tanah yang sedang dibuat proyek perumahan itu merupakan milik keluarga besar Pak Rahman Sidiq. Beliau dan saudaranya bersedia menjual tanah tersebut ke permukaan kami untuk biaya berobat dirinya dan anaknya. Anak perempuan yang bungsu terlahir istimewa sehingga membutuhkan biaya banyak untuk pendidikannya di sebuah sekolah berkebutuhan khusus. sedangkan Pak Rahman pun harus rajin kontrol secara teratur ke rumah sakit."

__ADS_1


" Mengapa dunia ini seperti daun kelor ya, Bu? Sempit ... Kita yang tidak saling mengenal, bertemu dan berkaitan dengan kehidupan masa lalu salah satu dari anggota keluarga kita!"


" Itulah niat saya datang ke rumah ini, Pak Sarno. Awalnya saya ingin menyambung silaturahmi dengan keluarga Lek No. Tetapi Minggu lalu Papa saya harus diopname di rumah sakit di Semarang karena jantungnya bermasalah..."


" Innalilahi wa innailaihi Raji'un!"


Bisik Bulek Ratih saat mendengar keadaannya ayah Pak Leon yang sakit.


" Tadinya, saya akan membawa mereka untuk berkenalan dengan Asti dan keluarga Pak Sarno setelah selesai umroh. Saya bukan ingkar janji! Tetapi papa saya masih dalam masa pemulihan jadi tidak diizinkan dokter untuk bepergian dengan jarak jauh. Apa boleh saya melamar Asti tanpa didampingi oleh orang tua atau orang lain?"


" Melamar? Jadi Nak Leon mau melamar Asti?" tanya Lek No kaget.


" Iya, Pak! Saya sudah berbicara lebih dahulu dengan Asti. Sepertinya dia masih kurang yakin akan niat saya. Jadi ke rumah inilah saya datang..."


Ada helaan nafas yang keluar dari dada Pria itu yang lebar h banyak berperan sebagai ayah angkat Asti. Rasanya lega, karena inilah doa yang selalu dia dipanjatkannya agar Asti dapat menikah kembali dan berjodoh dengan lelaki yang tepat.


" Dia hanya menerima saya untuk kebaikan dirinya dan Akbar. Begitu, Pak!"


" Berapa lama Nak Leon mengenal Asti?"


" Mungkin lebih dari enam bulan... Saya agak susah mendekatinya! Karena Mbak Asti sangat menjaga kehormatannya dirinya. Apalagi saat dia dilabrak mantan istri saya. Persoalan itu malah berdampak buruk, karena Mbak Asti semakin menutup diri. Jadi saya agak mundur sedikit. Walaupun Ninuk, Joko atau Mbak Ning dengan sukarela menceritakan keseharian Mbak Asti. Juga masalah perceraiannya!"


" Nak Leon, sebagai wali Asti saya juga tidak menuntut syarat yang aneh- aneh. Saya berharap Nak Leon mencintai Asti dengan tulus. Menerima semua kekurangannya terutama statusnya yang janda beranak satu..."


"' Saya menerima semua itu dengan segala konsekuensinya. Termasuk soal pekerjaan saya. Usaha saya di sini belum terlalu berkembang, karena proyek itu masih terus berjalan. Tetapi saya masih ada tabungan, deposito juga rumah tinggal di Jakarta! Jadi saya masih sanggup memberikan nafkah yang layak buat Asti, Akbar dan anak-anak saya nanti."

__ADS_1


" Memang ada orang yang masih meragukan kemampuan ekonomi, Nak Leon?" Tanya Bulek Ratih tidak percaya.


" Ya, adalah... Bu. Walaupun orang itu hanya berani ngomong di belakang saya. Cuma saya diam. Nanti kita buat surat perjanjian pranikah, kalau rumah dan ruko itu milik Asti dan akan diwariskan kepada Akbar."


" Baiklah, kalau soal begini yang saya kurang paham Nak Leon..." Bisik Lek No.


" Mungkin ada orang yang bercerita kalau Asti tak mendapat harta gono-gini yang layak dari Satrio. Sebab Asti hanya minta hak asuh Akbar jatuh kepadanya. Pernikahan dan perceraian Asti itu benar-benar menghancurkan perasaan Asti!" ujar Bulek Ratih berusaha menjelaskan permasalahan tentang omongan yang tak masuk akal itu.


" Saya percaya, Bu! Pak Rahman banyak cerita tentang kebesaran nama mertua itu di daerah ini. Selama ini pun, Pak Rahman merasa sangat bersalah pada mantan istrinya itu. Terlalu egois. Padahal Bu Ayu hanya minta diberi waktu untuk mengurus Asti yang masih bayi. Sampai bayi itu cukup kuat untuk dibawanya ke tempat suaminya bertugas. Tetapi Pak Rahman sudah terburu menceraikan istrinya itu."


" Lagipula, Pak Harjo juga melarang Bude Ayu membawa cucunya pergi kemana pun. Waktu itu, sudah ada istri saya yang mengurusnya. Hanya Bude Ayu tak menceritakan soal perceraian itu dan kepergiannya kembali ke Jawa."


Semua terdiam, sampai Lek No teringat untuk membahas permasalahan yang penting saat ini.


" Kapan Nak Leon mau melamar Asti secara resmi?"


" Kapan Asti siap, saja Pak? Makanya saya mohon bantuan Pak No dan istri...."


" Sebenarnya, kalian cepat menikah saja. Tidak baik berlama-lama. Apalagi kalian sama-sama pernah menikah dan bercerai. Nak Leon juga sudah lama mengenal Asti dengan segala sikap, watak dan tingkah lakunya!"


" Saya selalu siap, Pak! Nanti saya meminta bantuan orang di kecamatan untuk mengurus surat- surat dan persyaratan yang diperlukan!"


" Alhamdulillah!" Seru kedua saudara Bulek Ratih bersama suami mereka yang ikut berkumpul di ruang tengah. Mereka sejak tadi hanya mendengar saja percakapan Pak Leon dan pasangan suami istri itu di ruang tamu. Sengaja Pak No bercerita secara gamblang tentang keberadaan Keluarga Winangun dan keturunan mereka. Kadang banyak orang suka memutar berita dan kebenaran yang ada untuk kepentingan diri sendiri atau pihak lain.


"Minggu depan, Nak Leon datang ke rumah Asti setelah Magrib. Kami akan ada di sana ... Saya akan meminta bantuan Pak Haji Anwar untuk membicarakan soal lamaran pernikahan. Mudah mudahan semua berjalan lancar!"

__ADS_1


" Aamiin! " Jawab semua orang yang hadir di sana. Segala kebaikannya setidak dapat dimudahkan. Apalagi ini untuk masa depan Asti, Salah satu keturunan Winangun sejati.


__ADS_2