Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 90. Keluh- Kesah Joko


__ADS_3

Akbar sudah menjadi perhatian orang - orang di rumah itu setelah dia selesai makan. Wajah bayi tampan itu berseri- seri. Berlarian ke sana ke mari , sampai susah beritahu oleh Bu Jum.


Takut anak itu jatuh, karena halaman samping itu diplester agak rendah di bagian Utara. Dengan got lebar yang diberi tutup supaya aman dan tidak bau. Joko melakukan hal itu agar halaman itu tidak tergenang air saat musim hujan atau mudah dibersihkan kalau kotor.


Bu Jum mengawasi semua tingkah polah Akbar dari pintu samping. Sementara Bulek Ratih dan Mbak Ning masak untuk makan siang, Ninuk dan Asti menyapu dan mengepel lantai.


Para pria berkumpul di halaman samping kiri ruko. Empat ruko itu juga ditutup untuk memberi para pegawainya istirahat. Maklum tahun baru


Para karyawan itu ada yang kost atau mengontrak di seberang jalan raya dari ruko tersebut. Sebab kampung itu lebih padat penduduknya. Bahkan ada beberapa warga yang mengusahakan beberapa rumahnya untuk disewakan atau dijadikan tempat kost.


Bulek Ratih sudah mengeluarkan berbagai makanan berupa gorengan ubi, bakwan juga singkong rebus . Ninuk membawa teko alumunium besar berisi racikan kopi tubruk khas desa. Jadi nanti orang yang meminumnya tinggal menuangkan pada gelas masing- masing.


Tiba- tiba saja, Joko sudah duduk di sofa lantai atas. Asti sedang mengepel lantai itu yang tadi selesai disapu Ninuk.


" Maafkan, Aku. Asti " Kata Joko pelan.


Asti menghentikan pekerjaannya sejenak." Nggak apa- apa. Tenang, aja...." Ujar Asti sabar.


Joko tersadar, kemarahan itu telah membuat kedua orangtuanya tidak nyaman saja di hari ini. Apalagi dia memarahi Ninuk dan Asti di depan orang banyak.


" Aku seperti orang yang nggak tahu diri, karena kamu yang selalu membantu ekonomi keluargaku selama ini. Hanya karena perkara sepele, justru menjatuhkan harga dirimu!"


" Memang kamu ada masalah apa sama Mbak Almira?"


" Sudahlah... Jangan ngomongin dia lagi!" Tolak Joko agak ragu- ragu, wajahnya terlihat sedikit putus asa


" Joko! Kamu itu sudah saya anggap seperti adik kandung sendiri. Walaupun beda umur kita paling cuma tua aku setahun. Tolong bicara terus terang dan jujur! Ada perkara apa kamu sama Mbak Almira?"

__ADS_1


Suara tegas Asti membuat Joko terdiam. " Dia sudah putus tunangan dengan Mas Adam, karena Orang tuanya sudah mendesaknya untuk segera menikah!"


"Memang kenapa dengan Mas Adam? Selama ini hubungan mereka baik- baik saja, kan?"


" Mas Adam tidak boleh menikah lebih dulu oleh keluarganya. Sebab kakak perempuan pertamanya juga belum menikah! Mbak Yati masih harus menyelesaikan kuliah spesialisasinya dulu. Baru dia akan bertunangan!"


Asti duduk di samping Joko, setelah dia merapikan berbagai alat kebersihannya. Dia hanya mendengar kalau kakak perempuan Mas Adam menjadi dokter di sebuah puskesmas di kecamatan yang berbeda di daerah ini.


" Apa kamu yakin mau menikahi Mbak Almira? Sedangkan dia tidak mencintaimu! Sulit Joko, kalau kita menikah tanpa ada rasa saling cinta dari kedua belah pihak. Rumah tangga terasa gersang tak ada rasa bahagia dan tenang..."


" Makanya, kalau Pak Leon berniat melamar mu, terimalah...."


Sekarang Asti semakin bingung. "Kok, aku jadi nggak ngerti ini. Apa hubungannya?"


"'Ada, ada hubungannya! Mbak Almira sudah lama tertarik pada Pak Leon. Sejak dia dilibatkan pada pameran perumahan Nasional di Semarang. Mbak Almira yang merancang pembuatan both yang menampilkan beberapa contoh rumah pada proyek yang sedang dilakukan di daerah ini. Tetapi Pak Leon masih menjaga jarak hanya untuk urusan belakangan bisnis. Pria itu agak berhati-hati ketika berhubungan dengan wanita. Dia sudah belajar banyak dari kegagalan pernikahan pertamanya."


" Aku justru nggak yakin! Apa Mbak Almira tertarik pada remahan peyek kacang seperti aku ini? Kalau pesona Pak Leon itu bagai matahari pagi yang menyilaukan mata para gadis-gadis muda. Pria itu tidak hanya tampan dan kaya juga terlihat bonafid dengan penampilannya!"!"


Asti tertawa. Dia malah kaget melihat wajah Joko yang kuyu dan tak berdaya. Kapan si pendekar pemberani ini menjadi lembek. Dengan kata-kata puitis, bak pujangga membacakan sebuah puisi patah hati.


"Mana mental baja Joko Laksono anaknya Pak Sarno Winangun? Perkara Mbak Almira saja jadi ciut! Dia aja yang seorang perempuan, nggak jadi menikah dengan Mas Adam aja, langsung move on ke Pak Leon. Masak kamu langsung mundur?"


Mata Joko berpendar dengan pandangan ganjil. " Kecuali kalau kamu bisa menjadi penghalang buat Almira!"


" Ah, nggak lucu ngomong begitu. Joko!"


" Asti, terimalah lamaran Pak Leon kali ini. Mungkin hanya Satrio lelaki brengsek yang nggak menghargai kamu! Banyak lelaki dengan pikiran dewasa akan memilih kamu sebagai wanita yang pantas menjadi pendamping hidup seorang pria!"

__ADS_1


Tampaknya Joko juga tidak mendapatkan jawaban positif dari Asti. Akhirnya mereka menjadi terdiam. Di masa kehidupan rumah tangganya yang yang sulit, saat hubungan Asti dengan Satrio mengalami berbagai masalah. Joko yang selalu berdiri di garis depan untuk membelanya. Apakah dia juga dapat membantu saudaranya itu juga?


" Aku nggak percaya Pak Leon suka sama aku! Dia orang kota, pengusaha muda. Berpendidikan tinggi. Tentu akan menikah lagi dengan wanita yang sepadan dengan kedudukannya itu. Contohnya Mbak Almira! Hanya gadis itu yang paling pantas berdampingan dengan Pak Leon. Sudah orangnya cantik, berhijab, sarjana dan masih gadis lagi."


Suasana hening meliputi keadaan di antara mereka. Sampai lamat- lamat terdengar azan Dhuhur berkumandang. Asti segera meninggalkan tempat itu, dengan menuruni tangga menuju lantai di bawahnya. Namun dia sempat melihat Joko yang masih duduk termenung di sana.


Para lelaki di lantai bawah sedang bergantian mengunakan kamar mandi di dekat dapur dan di luar halaman untuk berwudhu. Di musholla kecil yang disiapkan Asti di dekat ruang tengah, cukup untuk menampung 4 sampai 5 orang shalat berjamaah di sana.


Akbar sudah duduk di kursinya, di dekat ruang tengah. Dia menikmati susu di botolnya sambil matanya yang sedikit demi sedikit terpejam karena mengantuk.


Asti mengendong Akbar setelah susu di dalam botol itu sudah habis. Beginilah Akbar, dia lebih cepat tidur kalau sudah terlalu capek karena bergerak. Banyak orang di rumah ini, membuatnya senang. Dia bergerak kemana pun walaupun dipantau Bu Jum. Asalkan pintu pagar ke atas tangga ditutup itu sudah cukup aman.


Sambil menidurkan Akbar, Asti terus memikirkan perkataan Joko tadi. Menurutnya wajar kalau pria kota itu, seperti Pak Leon contohnya. Dia ramah dan baik terhadap semua orang, terutama penduduk yang tinggal di sekitar lingkungan ini. Dia pendatang baru. Perusahaan perumahan yang sedang dibangunnya menggunakan akses jalan di depan rumah Asti setelah mendapat kesepakatan dengan penduduk setempat untuk memakainya.


Jalan raya itu sekarang cukup untuk dilalui dua mobil, dengan aspal yang mulus. Bahkan diberi got yang berfungsi sangat baik untuk pembuangan air. Bahkan Pak Leon pun kost di rumah Pak Sembodo bersama dengan dua asistennya.


Takutnya Asti, terlalu kepedean dengan perhatian pria tampan itu. Apalagi Mbak Almira lebih cocok mendampingi beliau. Mereka begitu serasi.


Bukan juga Asti cemburu. Dia harus banyak belajar dari pengalaman hidupnya selama ini. Terlalu mengharapkan kebahagiaan, dengan pernikahannya yang hanya berjalan sangat singkat. Tetapi sakit hati dan kecewanya masih terus dirasakannya sampai saat ini.


Perlahan Asti melipat mukenanya, sebelum dia keluar kamar. Terdengar pembicaraan singkat di meja makan. Di sana ada Pak Leon, Lek No , Joko di meja makan dan Bulek Ratih. Sementara yang lain ada yang membawa piring berisi makanan itu ke halaman samping. Termasuk ketiga pegawai Joko, Mas Yanto dan dua asisten Pak Leon.


Para wanita duduk di tikar dengan semangkok sambal pedas dan sepiring besar lalapan berupa potongan timun, rebusan daun kenikir, dan daun pepaya.


" Ayo, Asti. Makan!" Ajak Bulek Ratih.


Asti mengiyakan dengan patuh. Saat dia menuju dapur untuk mengambil piring. Kepalanya mulai terasa berat. Sejenak dia berhentilah untuk berpegang pada pintu dapur yang menuju ke ruang cuci. Lama-lama pemandangan di sekitarnya mulai gelap dan terasa dingin. Sampai tubuhnya tubuhnya rubuh perlahan di lantai dapur dengan suara agak keras.

__ADS_1


__ADS_2