Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 121. Adanya Berita Baru


__ADS_3

Mas Yanto mulai agak curiga ketika melihat sebuah sepeda motor berjenis sport warna hitam melintas di depan rumah Asti. Motor itu melintas bukan pada hari ini saja! Beberapa hari sebelumnya, motor itu pun melakukan hal yang sama. Kalau ada orang yang disuruh mengamati rumah ini, seharusnya jangan memakai motor sebagus itu!


Terlalu mencolok! Karena Mas Yanto tahu, ekonomi penduduk di sekitar rumah Asti hanyalah kalangan menengah ke bawah. Mereka mempunyai motor pun, sejenis motor biasa, kalau nggak bebek, ya matik. Biasanya digunakan sebagai alat transportasi dan alat angkut barang saja.


Bukan untuk bergaya! Sebab penduduk di kampung ini lebih mengutamakan mendapatkan uang untuk sesuap nasi daripada mengutamakan gengsi.


Setelah mendapat laporan dari Mas Yanto pagi tadi, Joko langsung mengecek monitor yang ada di rumah Asti dan ruko. Benar saja! Motor sport hitam itu dalam seminggu ini sudah tiga kali mengelilingi rumah Asti. Arah datangnya dari utara kota sana, berbelok di jalan depan rumah Asti, berjalan sampai ke arah barat ujung kampung ini. Tak lama motor itu akan kembali berbalik lagi. Nanti di depan rumah Asti motor itu berjalan lebih perlahan. Mungkin untuk mengamati situasi dan keadaan yang ada dalam rumah Asti. Meskipun rumah itu berpagar besi kokoh dan tinggi.


Sampai Joko menyadari, di atas helm si pengendara motor itu ada sebuah kamera ala GoPro. Apakah ini yang disebut mengamati sesuatu secara diam-diam? Sekilas, Joko mencatat nomor polisi motor itu. Tetapi plat itu merujuk nomor dari daerah Yogyakarta. semakin curiga saja Joko jadinya!


Tak lama, sepupu Asti itu sudah menghubungi sohib terbaiknya yang bermarkas di kota, tempat dulu Asti pernah tinggal setelah menikah dengan Satrio.


" Bro, ada berita penting apa, nih?"


Sambut Mas Barep setelah tersambung dari nomor Joko. Tak pakai lama, Joko menyebutkan tentang motor yang dicurigainya itu. Segera saja Joko mengirim foto si pengemudi motor sport hitam, juga motor itu dengan nomor polisi yang lengkap. Joko yakin orang ini tinggal di kota tempat Si Barep berada.


" Oke, akan kami cari siapa orang itu! Apalagi motornya bukan nomor daerah kita. Kita akan ringkus si cecunguk itu!" ujar Mas Barep kesal.


Dia takut kecolongan lagi. Karena perkara Jago saja belum tuntas. Kini muncul penyusup baru dengan motif yang berbeda.


Joko menatap hapenya agak lama. Kalau pria pengemudi motor itu hanya berasal dari kalangan orang umum biasa, dia akan mampu menghadapi secara langsung. Tetapi Kalau orang ini suruhan Satrio? Gampang, dia akan panggil anggota keluarga Mbah Sanjaya yang sudah gerah dengan tingkah laku Satrio yang terlalu jumawa selama ini.

__ADS_1


Sementara di rumah Bulek Ratih, di desa Sendang Mulyo. Asti, Lek No dan Bulek Ratih sedang menyusun daftar tamu, susunan acara, dan jamuan makan yang harus disediakan dalam acara tersebut.


Sebuah pesta sesederhana apa pun, tetap memerlukan persiapan yang matang. Kalau kata orang Jawa, yang penting makanan yang dihidangkan cukup pantas untuk menjamu para tamu. Sebab, kalau para tamu kurang menyukai hidangan pada suatu pesta atau hajatan akan menjadi omongan yang kurang baik di belakang hari kemudian.


Apalagi ini pesta pernikahan untuk Asti dan Pak Leon. Walaupun bagi mereka, bukan pernikahan yang pertama pula. Nanti Asti yang akan menyampaikan undangan itu secara lisan kepada para tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya. Tentu akan didampingi Bu Ani, istri Pak RT Sembodo.


Kalau untuk mengundang warga Desa Sendang Mulyo, tentu itu menjadi tugas Lek No dan istrinya. Sebab mereka hanya mengundang tetangga yang dikenal cukup baik saja. Tidak seluruh warga desa itu. Terlalu riskan akibatnya.


" Ini daftar nama tetangga kita di Sendang Mulyo, Lek! Terserah mau siapa yang jalan! Lek No atau Bulek Ratih?" tanya Asti.


Kedua suami istri itu berpandangan. Biasanya mereka selalu berbagi tugas. Untuk mengundang para ibu- ibu nanti Bulek Ratih yang datang dari rumah ke rumah. Kalau Lek No lebih gampang. Pria itu akan mengundang para bapak saat mereka mengikuti acara yasinan yang diadakan di rumah warga secara bergantian setiap malam Jum'at.


Bulek Ratih sebenarnya sudah malas berbaik hati kepada beberapa ibu tetangganya yang suka bermuka dua di belakangnya. Baik di depannya dan keluarga, tetapi menjelekkan dirinya dengan berbicara hal buruk, yang terkadang tak masuk akal. Agar para pendengarnya itu percaya dan yakin. Bahkan mereka melakukan hal tersebut tampa rasa bersalah, seolah dapat mengumbar semua isi dapur orang lain adalah suatu kepuasan tersendiri bagi mereka.


" Yo, wes. Aku yang jalan! Nanti ditemani sama Mar, kalau nggak sana Asni juga boleh!"'


"'Semua tetangga kamu undang, Yu?" tanya Mbak Asni lagi.


Wajah Bulek Ratih mulai cemberut. " Nggak semuanya ... Asti mau acara yang sederhana saja. Nggak pakai dekor atau pelaminan. Jadi makanan yang disajikan secara prasmanan. Kayak orang kota, gitu. Di sana anak remajanya kurang aktif dan hanya sedikit!"


Setelah ditotal secara lebih teliti, ternyata mereka akan mengundang lebih dari seratus orang kepala keluarga. Artinya ada lebih dari dua ratus orang yang menjadi tamu yang akan hadir di acara tersebut. Sebab biasanya tamu undangan akan datang ke suatu acara dengan membawa pasangannya. Belum lagi kalau mereka juga membawa anak!

__ADS_1


Tadi malam, Pak Leon sudah mentransfer uang lima puluh juta ke rekening Asti. Artinya dana sebesar itu cukup untuk memberi makan yang layak bagi lebih dari 500 orang tamu yang hadir di pesta pernikahan itu.


Mereka pun harus mendapatkan jamuan yang cukup layak. Tidak mewah, tetapi berkesan. Malah rencananya Asti akan menjamu tamu-tamu itu secara prasmanan. Alias tamu akan mengambil sendiri makanan yang telah disediakan di sebuah meja besar.


Cara prasmanan ini sudah banyak dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di kota- kota. Karena tidak merepotkan pihak penyelenggara acara pesta. Lain bila menyelenggarakannya acara di desa yang masih mempertahankan adat- istiadat, dan budaya setempat yang merupakan warisan nenek moyang mereka. Segala hal harus diikuti upacaranya agar selamat dan tidak terkena bala atau kemalangan.


Sekarang, Asti sudah mencari pengusaha atau pihak katering yang dapat memenuhi permintaannya itu. Selain itu dia akan mencari orang yang mempunyai usaha penyewaan tenda dan berbagai keperluan pesta. Seperti kursi, meja besar dan gubuk- gubuk untuk meletakkan makanan tambahan atau pelengkap. Mas Danu dan Firman yang diminta tolong oleh Asti, dan mereka juga sudah menyanggupinya.


Sebab dia tak mau merepotkan ibu- ibu tetangganya dengan menyiapkan makanan dengan porsi yang cukup banyak jumlahnya. Bisa-bisa dua hari dua malam para tetangganya itu begadang untuk menyiapkan segala macam hidangan utama. Yang Asti tahu, sebagian dari tetangganya itu bekerja sebagai pedagang, atau bekerja di toko, dan berbagai usaha yang banyak menjamur di daerah ini. Mereka bukan petani, yang dapat meninggalkan pekerjaannya karena mempunyai simpanan beberapa karung padi atau beras di rumah.


Malah Ibu Ani mengusulkan kalau dia dan para ibu yang akan membuat berbagai makanan kecil dan minuman di acara itu. Sebagai bentuk rasa ikatan kekeluargaan dengan Asti dan keluarganya.


" Sudah beres persiapannya, Asti?" tanya Bulek Ratih.


" Baru separuhnya, Bulek. Banyak tetangga yang mau bantu, kok!"


Pihak katering, sudah menerima orderan dari Asti tepat dua minggu sebelum acara. Dapur dari cabang mereka pun jaraknya juga tak terlalu jauh dari rumah Asti yang sekarang.


Bu RT hanya meminta tambahan untuk membuat gubuk- gubuk selain meja besar untuk meletakkan hidangan prasmanan utama, dengan berbagai makanan lain, selain hidangan pokok. Pihak dari jasa penyewaan tenda dan keperluan pesta menyanggupi permintaan Asti tersebut.


Beberapa orang yang tinggal di kota dan pinggiran kota di wilayah ini, sering menyiapkan acara seperti prasmanan ini. Biasanya mereka itu pendatang, atau orang yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga memilih yang praktis. Sebab membuat acara pernikahan di desa itu selalu melibatkan seluruh warga desa yang kental dengan budaya gotong royong dan saling tolong menolong.

__ADS_1


Mereka para ibu tetangga Asti, pernah melihat tayangan di YouTube tentang pernikahan di suatu gedung. Sebab acara makan di pesta seperti itu tidak memerlukan laden, atau pelayan. Biasanya Laden ini dilakukan oleh para remaja yang tergabung dalam organisasi karang taruna.


Di kampung ini pun remajanya hanya tinggal beberapa orang saja. Selebihnya, yang sudah dewasa mencari pekerjaan ke kota besar atau ke beberapa daerah yang mempunyai pabrik dan industri rumahan.


__ADS_2