
Suasana di rumah Asti kembali ramai dengan kehadiran Ninuk selama dua hari ini. Gadis itu rajin mencetak bacaan dari surah - surah Al Quran, juga huruf latinnya yang diambilnya dari internet.
Semua bacaan itu untuk dibaca selama ibadah umroh. Karena ayahnya, yaitu Lek No sudah kurang jelas membaca dengan huruf yang kecil. Kecuali memakai kaca mata bacanya yang sudah lebih dari dua plus. Jadi Ninuk kembali mencetak bacaan itu dan latinnya dengan huruf yang lebih besar. Si Ibu pun nggak mau kalah, juga minta dibuatkan yang sama kepada Ninuk.
Koper - koper besar berwarna biru yang berisi pakaian dan keperluan masing-masing anggota keluarga itu telah tersusun rapi di lantai dua. Setiap koper telah ditempelkan label nama. Ada empat koper besar yang akan mereka bawa nanti. Pakaian Akbar akan dimasukkan ke dalam tas besar yang juga dihadiahkan oleh kantor biro perjalanan Umroh milik Pak Haji Anwar itu.
Sampai suatu sore, Pak Leon mampir ke rumah Asti. Padahal dua asisten pria itu sudah memberitahukan kepada Joko sebelumnya kalau mereka akan pergi ke Semarang minggu ini.
Tampaknya Pak Leon akan menemui Asti terlebih dahulu. Wanita itu sudah semakin jarang terlihat di luar rumah atau membawa Akbar ke halaman ruko ketika sore hari. Pria itu masih kurang yakin, apakah Mbak Asti sudah sehat benar untuk melakukan perjalanan ibadah umroh yang menurut perkiraannya cukup berat itu. Sebab ibadah itu memerlukan waktu lebih dari sepuluh hari di negara Arab sana dengan segala kegiatan yang padat setiap harinya.
" Assalamu'alaikum.." Salam Pak Leon ketika berdiri di pintu samping rumah itu.
"Wa alaikum salam, " jawab Ninuk." Masuk saja, Pak Leon!"
Gadis itulah kebetulan sedang duduk di kursi dekat pintu samping, sambil menggunting berbagai label bertuliskan nama-nama anggota keluarganya. Rencananya label itu akan ditempelkan ke beberapa barang seperti hape, dompet dan berbagai benda lain. Agar tidak tertukar ataupun tercecer, karena mereka belum tahu bagaimana akomodasi hotel di sana. Apakah mereka terpisah kamar, atau tergabung dengan beberapa jemaah wanita lainnya.
Senyum Ninuk terlihat begitu cerah, melihat keberadaan Pak Leon. Lelaki yang menurut pandangan gadis muda itu adalah pasangan yang sangat tepat untuk mendampingi Kakaknya, Mbak Asti.
Bahkan Ninuk dapat merasakan segala hal yang telah dilakukan pria mapan itu untuk keluarga ini berasal dari ketulusan hati.
Sejak beliau menolong Akbar yang berjalan keluar dari pintu pagar rumahnya, sampai membawa Asti ke rumah sakit. Bahkan dengan entengnya membayar semua biaya perawatan Asti yang cukup mahal karena mengunakan kamar VVIP selama Asti dirawat di rumah sakit swasta terbaik di daerah ini.
" Wah sudah lengkap ini persiapan, ya?" tanya Pak leon ketika melihat label-label nama yang telah selesai digunting dan bertumpuk di meja.
" Iya, Pak. Ini sudah selesai ! Silakan duduk. Mau dibuatin kopi atau teh manis, Pak?"
" Apa saja , Ninuk. Asal tidak merepotkan..."
"Tenang, Pak. Ada Mbak Ning yang sudah sangat mengenal selera Pak Leon."
Dengan riang , Ninuk mencari Mbak Ning di kamarnya. Benar saja di sana Mbak Ning sudah siap -siap keluar dari kamarnya.
" Mbak Ning, kopi satu untuk Pak Leon , ya! " pinta Ninuk.
" Mengapa nggak Mbak Ninuk aja yang buat biar akrab sama calon kakak ipar?" ledek Mbak Ning.
" Pak Leon siap nggak dibawa ke UGD?" tanya Ninuk dengan manisnya.
" Memang kenapa?" tanya Mbak Ning agak ragu-tagu, takut kena prank si Ninuk yang suka ngerjain orang.
__ADS_1
" Takut sakit perut atau diare karena salah memasukkan kopi atau gulanya ke dalam gelas ..."
" Waduh, kenapa jadi repot begini sih, Mbak!" Akhirnya Mbak Ning dapat menghela napas lega.
Bagaimana pun Ninuk jarang membuat kopi atau teh bila ada tamu berkunjung ke rumah. Si Ibu adalah wanita yang sangat terampil di dapur. Kalau di rumah, dapur adalah daerah kekuasaannya. Setelah itu ada almarhumah Bude Ayu dan Asti yang sangat piawai mengolah berbagai masakan dan makanan. Paling Ninuk hanya disuruh bantu - bantu mengupas dan memotong sayuran.
Di rumah, Ninuk bertugas membersihkan rumah atau menyapu halaman. Terkadang gadis itu hanya menjadi pesuruh umum bila ada kegiatan masak memasak untuk acara di desa yang lebih besar lagi. Seperti peringatan Maulid Nabi, pesta tumpengan untuk perayaan kemerdekaan RI atau sedekah desa. Belum Lagi kalau ada acara potong memotong Qurban di hari Raya Idhul Adha.Jadi dia harus bersiap sedia dengan motornya untuk membeli bumbu, tambahan makanan lain apabila terlupa atau kurang persediaannya ke pasar.
Di kamar Asti sedang mendandani Akbar setelah mandi sore. Biasanya anak itu makan sambil dibawa jalan keluar rumah oleh Bu Jum. Terkadang Akbar masih dinaikkan ke stroller agar makannya rapi dan cepat selesai. Lebih sering anak itu berlarian ke sana ke mari, yang membuat Bu Jum cukup repot untuk menyuapi makannya.
" Om Yon!" panggil Akbar ketika melihat Pak Leon. Pria itu tersenyum melihat wajah cerah dan gantengnya Akbar setelah mandi sore. Bayi gemoy itu berlari dan masuk ke dalam pelukan hangatnya.
" Akbar sudah makan?"
" Sudah, " jawab Akbar cepat
" Hey, anak kecil jangan bohong, dong. Makan dulu!" Tegur Ninuk.
Dia tahu Akbar pasti lebih suka bermain dengan Pak Leon daripada makan. Sebab dia melihat Bu Jum sedang mengambil makanan untuk Akbar di meja dapur. Makanan itu dimasukkan dalam mangkok tertutup. Juga sebotol air minum dengan sedotannya.
" Sana makan yang banyak, biar tambah gembul!" Pinta Ninuk.
Bayi itu segera turun dari pangkuan Pak Leon. Karena dia memang sudah lapar. Dia diam saja ketika dibantu Ninuk dimasukkan ke dalam stroller. Jadi anak gemoy itu aman dan nyaman saat didorong ke luar rumah. Mbak Ning sudah membawa kopi seduhannya untuk Pak Leon
" Mbak Asti masih repot, ya. Di dalam?"
" Lho Pak Leon mau ketemu Mbak Asti? Ya, sudah saya panggilkan!"
Cepat Ninuk beranjak dari duduknya. Dia segera mengetuk pintu kamar Asti. Tak lama Asti muncul. Dia terkadang hanya beristirahat sebentar setelah merapikan kamarnya.
"Mbak, Pak Leon mau ketemu, itu!" Kata Ninuk berbisik- bisik.
" Ngapain? Kan biasanya pada nongkrong di warung Joko...."
" Ya , ada perlu kali sama, Mbak!"
Tanpa sadar Asti merapikan kerudung bergo yang dipakainya. Wanita muda itu menghampiri Pak Leon yang duduk di ruang tengah.
" Mbak Asti sedang istirahat? Saya ganggu, dong."
__ADS_1
" Nggak kok, Pak. Lagi melipat pakaian Akbar."
Pria itu terpana saat menatap wajah cantik Asti yang bersih tanpa makeup. Terlihat wajahnya lebih segar di bandingkan saat wanita itu jatuh sakit dulu.
" Saya titip ini, untuk jajan Akbar. Mohon nanti nama saya disebut di depan Ka'bah, ya. Mbak. Biar tahun depan saya juga bisa pergi ke sana juga..."
Ada amplop coklat, yang diletakkan
"Ini apa, Pak?" tanya Asti bingung.
Lama, pria itu terdiam." Nggak ada maksud apa-apa. Saya sudah tukarkan uang rupiah dengan uang real . Biar bisa untuk beli pampers atau susunya Akbar di sana!"
"Terima kasih banyak, Pak! Maaf saya dan Akbar selalu saja merepotkan Bapak!"
" Mbak, kenapa saya terus dipanggil Bapak atau Pak, sih. Saya belum tua- tua amat, kok!" Kata Pak Leon meledeknya.
Mendengar ucapan lelaki itu seketika wajah Asti memerah. Dia agak sungkan memanggilnya dengan sebutan lain. Padahal panggilan 'Pak' itu dia ucapkan sebagai rasa hormat saja.
" Tolong sebut nama saya di segala doa yang Mbak Asti panjatkan. Semoga sayalah, lelaki yang dapat berjodoh dan pantas untuk mendampingi Mbak Asti. Walaupun saya masih banyak kekurangannya ... Terutama dalam ibadah saya sebagai seorang muslim. Saya akan terus belajar..."
" Pak Leon.." ucap Asti ragu- ragu.
" Ayolah, Mbak! Saya dan Mbak Asti punya pengalaman yang sama dalam pernikahan, yaitu bercerai. Niat saya ini tulus untuk Mbak Asti."
Suara Pak Leon yang sangat mantap itu juga didengar Ninuk dan Mbak Ning. Wajah Ninuk sampai terperangah karena kaget. Memang tidak seindah cara orang melamar di film atau di televisi. Namun ini terlihat penuh kepastian.
" Apa Mbak Asti mau menikah dengan saya. Menjadi istri saya dan menjadi ibu dari anak anak saya nanti?"
" Ayo jawab, iya. Mbak!" Pinta Ninuk.
" Baik, saya menerima lamaran itu. Mudah-mudahan niat tulus Pak Leon akan membawa kebaikan pada hidup saya dan Akbar..."
" Alhamdulillah!" Ucapnya pelan.
Setelah mendengar jawaban Asti yang pasti. Pria itu segera meneguk sisa kopinya. Terlihat wajahnya tampak lebih santai dan lega. Tidak seperti sebelum dia menyampaikan niat itu, tampak tegang dan gelisah.
" Nanti setelah Mbak Asti dan keluarga pulang dari Umroh. Saya akan membawa kedua orang tua saya berkunjung ke rumah ini. Hanya sekedar bersilaturahmi saja! Soal lamaran, biar saya bicarakan dengan Pak Sarno , ya? Bagaimana baiknya..."
Dia duduk agak lama di sana. Sebab Ninuk dan Mbak Ning ikut duduk menemaninya. Mereka menjadi saksi dari niat dan kesungguhan pak Leon hari ini.
__ADS_1
Tak lama terdengar Azan Magrib berkumandang. Biasanya Joko yang akan sholat lebaran dahulu dengan satu orang pegawai di warung tenda. Kalau pelanggan belum terlalu ramai, mereka akan sholat berjamaah dengan Pak Roh dan Mas Yanto sekalian.
Akbar digendong Pak Leon keluar dari rumah setelah selesai sholat Maghrib. Setelah kaum lelaki, ruang musholla itu akan digunakan oleh Asti dan para wanita penghuni rumah ini. Mereka juga semua belajar mengaji kepada Mbak Asti. Biasanya menghapal surat- surat pendek Al Qur'an . Bacaan yang sering mereka gunakan untuk ibadah sholat fardhu dan sholat sunnah.