Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 236. Cerita Bude Mayang


__ADS_3

Tampaknya Mbak Ning cukup tertarik dengan cara Pakde Muin membantu Asti tadi sore. Dia sering melihat kegiatan seperti itu di rumah Mbah Jarwo Kendi, tetangganya di desa yang dikenal sebagai paranormal atau dukun.


Kesehariannya Mbah Jarwo itu selalu berpakaian hitam atau lurik Jawa yang berwarna gelap. Sehari-hari dia hanya duduk di depan rumah untuk menerima kunjungan dari beberapa orang yang bertamu ke rumahnya untuk meminta pertolongan. Sepertinya pekerjaan itulah yang dilakukan Mbah Jarwo Kendil untuk menghidupi keluarganya. Padahal sebagian besar tetangganya bekerja sebagai petani. Sebab sawah di desanya sangat subur, karena dekat dengan irigasi yang dialiri dari sungai besar di sana.


Para tamu yang datang ke rumah Mbah Jarwo itu itu berasal dari berbagai desa di sekitarnya. Bahkan sampai ke pelosok sekalipun. Mereka membawa berbagai permasalahan, dari hal yang paling remeh sekalipun, sampai di luar nalar pikiran manusia secara logika.


Misalnya ada tamu yang mengadu kalau dia kehilangan barang berharga di rumahnya. Ada yang kehilangan uang, perhiasan emas ataupun motor. Nanti Mbah Jarwo akan memberi petunjuk, setelah mereka setuju untuk memenuhi beberapa persyaratan.


Syarat itu sering disebut juga dengan mahar, berupa sejumlah uang dengan nominal tertentu.Juga membawa barang lain sebagai pelengkap seperti bunga setaman, sirih atau garam. Nanti Mbah Jarwo Kendi itu akan membaca mantra dari mahar itu, sambil menyebut ciri - ciri orang yang dicurigai atau menjadi maling barang yang hilang tersebut.


Seharusnya kehilangan barang seperti itu, sebaiknya dilaporkannya ke kantor polisi. Karena menuduh orang tanpa bukti, justru akan menimbulkan fitnah dan perselisihan. Tak jarang prediksi Mbah Jarwo sering menimbulkan rasa saling curiga di antara keluarga dan tetangga. Sebab ciri-ciri orang yang disebutkan Mbah Jarwo itu terlalu umum. Terkadang menimbulkan salah persepsi dari orang lain.


Apalagi kemampuan Mbak Jarwo tentang ilmu santet, pengasihan atau teluh... Entah dari sisi apa Mbah Jarwo berlaku sebagai paranormal itu... Dukun beraliran aliran putih atau hitam, kah? Sebab menggunakan cara ini adalah nyawa taruhannya. Sebab orang yang menggunakan media seperti ini sudah sangat menakutkan. Karena motivasinya yang beragam.. Ada yang sakit hati karena cintanya ditolak, balas dendam, iri hati atau juga keserakahan manusia akan harta orang lain, yang bukan miliknya.


Lihat saja, kehidupan Mbah Jarwo tetap tak berubah dari tahun ke tahun. Bila dibandingkan dengan para tetangga di desanya. Walaupun mereka hanya petani, namun hidup mereka lebih makmur. Banyak dari warga di sana dapat menyekolahkan anaknya sampai jenjang tertinggi dan menjadi orang sukses.


***


Ada kelegaan di hati Mbak Ning, melihat kesehatan Asti berangsur -angsur membaik. Saat mereka berkumpul untuk makan malam bersama. Asti masih ikut nimbrung. Sekarang, Asti sudah kembali berisitirahat di kamarnya... Bu Jum dan Putri menidurkan Qani dan Akbar di kamar sebelah.


Di ruangan tengah, tinggal Mbak Ning dan Bude Mayang. Mereka nonton TV berdua saja, sambil ngobrol. " Bude Mayang, apa tahu soal kemampuan Pakde Muin tadi sore?" tanyanya iseng.


" Maksudnya, kemampuan apa Mbak Ning?"


" Itu, lho... mengobati orang!" Jelas Mbak Ning.


Bude Mayang tertawa geli. " Suami saya itu mantan polisi Intel, lho. Mbak Ning! Masa dikira dukun, sih !"


" Maksudnya... bisa menyembuhkan orang sakit , atau membuang roh jahat di tubuh orang. Begitu. Bude!"


Wanita itu menarik napas agak panjang. " Sejak Asti masuk ke rumah Pak Kerto itu, auranya sudah lain. Bicaranya jadi ketus dan keras. Seperti orang menahan marah yang sangat lama dan bertahun-tahun... Bapak malah membawa saya keluar dari kamar Pak Kerto, dan menyuruh menunggu di ruang depan. Jadi saya tidak tahu apa yang terjadi di kamar lelaki itu. Tetapi Intinya Pakde Kerto itu minta maaf pada Asti, karena dia dan adiknya sudah berusaha menghancurkan keluarga Winangun."


" Kenapa Mbak Asti bisa seperti itu ya, Bude? Nggak biasanya, loh!"

__ADS_1


" Bapak bilang, kematian Ibunya Asti ada hubungannya dengan Pak Kushari atau orang-orang di kampungnya Emilia yang memang memusuhi keluarga mereka sejak lama!"


Mbak Ning hanya tahu sedikit tentang keluarga Winangun karena saudaranya menikah dengan Sarno Winangun... Tetapi setiap dia berkunjung ke rumah orangtuanya, selalu saja ada cerita tentang keluarga itu dengan musibah yang datang beruntun. Dimulai dengan meninggalnya ayahnya Asti yang masih sangat muda. Lalu kepergian menantu perempuan Harjo Winangun, dari desa. Wanita muda meninggalkan bayi yang baru berumur 2 bulan, dan tak pernah kembali ke desa itu lagi. Kemudian dengan sakitnya Ibu Sri Sumiarsih, sehingga beliau meninggal saat Asti masih berusia 6 bulan.


Sampai Mbak Ning diminta oleh Bulek Ratih untuk bekerja di rumah Asti ini. Cucu Pak Harjo Winangun itu tiba- tiba saja sudah bercerai dari suaminya, yang seorang anggota polisi. Asti yang mempunyai seorang bayi juga memperkerjakan seorang pengasuh bayi juga, yaitu Bu Jum. Sebab sebagai single parent, Asti harus bekerja untuk membiayai kehidupan anaknya itu.


" Dulu Bapak juga membantu saya agar dapat segera bercerai dengan mantan suami... Pak Muin kasihan melihat saya harus bekerja jauh dari kampung dan anak-anak. Terutama untuk membiayai sekolah kedua anak saya Karena sejak suami saya menikah diam-diam dengan rekan satu kerjanya di pabrik di Kerawang. Dia lupa segala-galanya...."


Mbak Ning menepuk bahu Bude Mayang hati- hati untuk menghiburnya. " Dia lupa anak - istrinya yang tinggal di kampung . Tak pernah pulang , nggak memberi nafkah. Juga tidak mau menceraikan saya... Jadi pernikahan saya digantung hampir lima tahun!" Ujar Bude Mayang membuka cerita.


" Kenapa nggak langsung bercerai waktu itu, Bude?"


" Saya nggak punya uang, Mbak Ning! Mang Nurdin itu memang suami yang kebangetan ! Bukan saja dia melupakan anak dan istrinya. Saat orang tuanya sakit sampai, keduanya meninggal pun dia tetap tidak datang. Kami tinggal di desa yang sama. Jadi di sana saya bekerja serabutan... Apa pun pekerjaan yang ditawarkan oleh tetangga saya ambil. Dari buruh tani, momong anak tetangga sampai berjualan hasil kebun di pasar. Yang penting bisa dapat uang untuk memberi makan anak-anak dan ibu saya yang sudah tua."


" Sampai saya nekat pergi meninggalkan kampung. Anak-anak dititipkan pada kakak dan orang tua saya. Mereka semakin besar, tentu membutuhkan biaya untuk sekolah. Jadi saat dapat tawaran untuk membantu usaha Teh Lilis di kota Purwokerto, ya saya terima. Ternyata di Rumah Teh Lilis itu saya bertemu dengan Pak Muin, yang juga baru kehilangan istri setelah sakit bertahun - tahun."


" Sepertinya Pakde Muin baik, ya? Terlihat Bude Mayang tambah segar dan tambah cantik !" Kata Mbak Ning menggoda.


" Pakde Muin nggak cerita soal perubahan Mbak Asti, Bude?


" Pak Muin sejak kembali ke rumah Joglo juga sudah merasakan hawa yang tak enak di rumah Pakde Kerto itu... Coba Mbak Ning kapan -kapan lihat, deh! Rumah Pakde Kerto itu, rumahnya besar dan kokoh tetapi bobrok karena sudah tua, dan jarang dibersihkan atau diperbaiki... Mungkin kalau nggak ada orang yang tinggal di dalam sana, pasti penghuninya adalah para demit, genderuwo atau kuntilanak, kali... Saking seremnya!"


Mata Mba Ning melotot... " Benar ada rumah seperti itu, Bude?"


Bude Mayang mengangguk menyakinkan lawan bicaranya... Hanya suaminya yang tahu, tubuh Asti sudah tak punya kekuatan lagi setelah keluar dari rumah itu. Sampai orang-orang di rumah Joglo jadi ribut ketika Asti digotong suaminya masuk ke dalam rumah.


***


Paginya, Mbak Ning terkejut melihat Mbak Asti sudah ada di dapur lebih dulu. Wanita beranak dua itu tampak segar dan biasa - biasa saja.


" Sudah sehat, Mbak?"


" Lumayan, Mbak Ning ... Tetapi nanti nggak bisa bantu banyak, ya!"

__ADS_1


" Tenang aja... Mbak yang harus jaga kesehatan. Banyak Istirahat dulu ... Kasihan Akbar dan Qani kalau ibunya sakit. Mereka jadi ikut sedih dan diam seharian."


Leon menerima teh manis hangat yang dibuatkan istrinya dan diantar ke kamar tidur utama. Sesekali disentuh pipi Asti yang masih tirus karena tubuhnya hanya makan sekedarnya saja, untuk bisa minum obat sehari tiga kali.


" Mau diantar periksa ke rumah sakit, hmm ?" tanya Leon pelan.


" Nggak usah, Mas! Ini juga sudah agak mendingan, kok! Kepalanya sudah nggak berat lagi ... Cuma masih lemas kakinya."


"Istirahat saja dulu... Biar semua urusan rumah sama anak-anak, diserahkan pada Mbak Ning dan Bu Jum !" Bisik Leon masih khawatir.


" Iya, Mas... Nggak apa - apa kan disiapkan menu makan siang yang seadanya?"


" Nggak apa - apa, Sayang! Kemarin juga enak, kok! Dimas sama Damar saja sampai sampai nambah dua kali!"


Asti sangat tahu. Suaminya itu harus makan dengan lauknya harus ada protein hewaninya. Bisa berupa daging, ayam atau ikan. Kemarin di kulkas hanya ada sisa tulang iga sapi yang dibuat sup oleh Mbak Ning... Karena kesehatannya yang agak labil inilah, Asti belum bisa belanja ke pasar untuk memesan daging dan ayam pada penjual langganannya.


" Ikan nggak apa-apa kan menunya nanti?" bisik Asti takut Leon menolak.


" Yang, kalau kamu masak apa saja, aku makan, kok! Yang penting kamu sembuh dan sehat! Kalau sudah benar - benar sehat, kita bisa jalan - jalan ke Madiun dan kota-kota di Jawa Timur bulan depan!"


" Jadi urusan di Madiun berhasil?" tanya Asti lagi. Sebab wajah suaminya tercintanya itu menjadi cerah.


" Alhamdulillah! Cakra memang bisa diandalkan....Joko dapat belajar banyak darinya."


Saking senangnya, Asti memeluk erat tubuh Leon. Lelaki itu juga memberi ciuman sayang di pipi dan dahinya. " Melihat kamu sehat dan sudah nggak pucat seperti kemarin saja, aku sudah lega, lho! Lebih lega dibandingkan mendapatkan lahan yang sangat luas untuk proyek pembangunan Abadi Murti berikutnya, di Madiun!"


Asti tertawa geli, " Ah, rayuan gombal... Nggak mempan aku digituin sama Don Juan kayak kamu!"


"'Ih, si Nyonya Leon ini nggak percaya! Suamimu ini adalah lelaki paling setia di dunia..." ujarnya narsis.


Asti tersenyum sambil menahan geli. " Percaya, deh! Anak siapa dulu? Anak laki - laki Pak Basuki Murti, gitu lho!"


Tawa mereka berderai. Untung Qani masih terlelap di boksnya. Kalau tidak bayi perempuan itu bakal ngamuk melihat ayahnya bermesraan dengan ibunya di pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2