
Bude Diah menarik napas lagi. Matanya mulai terlihat sedih dan muram. " Sebenarnya, Mbah Sanjaya dulu berniat untuk menjodohkan kamu dengan Susanto. Sampai dia keluar dari pekerjaannya di sebuah Toko Elektronik terbesar di Jakarta. Lewat bantuan bosnya, dia membuka usaha yang hampir sama di dekat SPBU di sana..."
Tangan Asti menepuk halus punggung tangan Bude Diah berusaha menguatkan. " Manusia yang berencana, Bude. Hanya Allah yang menentukan. "
" Asti, Susanto nggak keberatan kok, kalau kamu menerima dia menjadi suamimu. Usahanya yang sekarang cukup untuk menghidupi seorang istri bahkan seorang anak juga..."
"'Bude, Asti belum kepikiran untuk menikah lagi dalam waktu dekat ini. Bukan Asti menolak jodoh yang diberikan oleh Allah. Tetapi Asti masih berusaha menghilangkan rasa trauma dan sakit hati akibat perbuatan Satrio.."
Lama juga Bude Diah diam tercenung. " Susanto juga dengar ada dua orang pria mapan yang juga berusaha mendekatimu. Bukalah hatimu, Cah Ayu!"
Jadilah Asti tertawa geli." Jangan dengerin gosip konyol dan nggak benar itu, Bude! Memangnya Asti artis papan atas apa? Sampai dikejar banyak orang. Huh!"
Lembut sekali wanita itu memeluk Asti. " Pokoknya, Walaupun kamu nggak berjodoh dengan Santo kita tetap bersaudara kan, Asti!"
" Iya, Bude. Asti janji. Tidak akan memutuskan tali silaturahmi di antara keluarga Mbah Sanjaya dan Mbah Putri!"
Tak lama Bu Jum muncul sambil membawa Akbar yang sudah sangat mengantuk. Diletakkan bayi itu, di boks kayunya. Di sebelah ranjang besar di ruang tidur utama Asti.
" Anak ini duplikatnya Satrio banget, waktu masih kecil. Anak Mbak Widya itu memang kurang ajar! Kalau sampai nggak mau mengakui Akbar sebagai anaknya!"
" Biar, De! Satrio memang sengaja melakukan itu untuk menutupi kesalahannya sendiri. Tetapi ucapan adalah doa. Biar semua peristiwa nanti terbukti. Pasti ada waktunya, Allah tidak akan pernah tidur ...."
" Begitulah.. .Mbak Widya selalu melakukan sesuatu yang selalu dianggapnya benar. Sampai mereka ribut dengan suaminya ketika Satrio dituduh menghamili teman perempuan sekelasnya sewaktu dia di SMA!"
" Masa, De? Kok, aku baru mendengar soal yang ini, Lho!"
" Yah begitulah... Satrio termasuk anak broken home. Mungkin dia sudah merasakan kalau hubungan kedua orangtuanya sudah tidak harmonis dan tidak pernah tinggal bersama. Itu berawal ketika Mbak Widya mendengar gosip kalau di tempatnya bertugas suaminya hubungan dekat dengan seorang janda muda."
" Wanita muda yang bernama Lilis itu yang mengurus semua keperluan Mas Cahyadi, dibantu satu orang ART. Tanpa ngomong apa pun, Mbak Widya datang ke sana dan menghajar wanita muda yang memang bekerja di rumah dinas itu."
" Ternyata banyak orang yang memberi informasi yang salah kepada Mbak Widya yang tinggal berjauhan karena tugas yang mereka emban. Beberapa dari orang itu hanya bertujuan untuk menjatuhkan wibawa Mas Cahyadi yang menjadi camat di daerah sana."
" Kelanjutannya bagaimana, Bude?"
__ADS_1
" Lilis terluka parah parah. Kakinya patah karena diamuk Mbak Widya. Untungnya wanita itu tidak melaporkan tindakan penganiayaan Mbak Widya ke pihak yang berwajib. Bisa berabe kan? Tetapi Mas Cahyadi sangat malu, atas perbuatannya istrinya itu. Mereka bertengkar hebat. Sampai hampir bercerai. Lelaki itu sudah hampir menyerah dengan sikap Mbak Widya yang sangat keras kepala."
Mata Asti terbelalak tak percaya. Berita itu sungguh di luar perkiraannya.
" Sampai terjadilah sebuah perjanjian dengan disaksikan oleh pengacara. Pak Cahyadi menikahi Lilis sebagai rasa tanggung jawab. Kaki Lilis patah, wanita itu tidak bisa bekerja lagi. Sedangkan dia harus menghidupi mertua perempuannya yang sudah tua dan anak laki - lakinya yang masih kecil. Mereka berjualan kue-kue di dekat kantor kecamatan. Dengan perjanjian itulah, Mbak Widya terpaksa mengikhlaskan suaminya menikahi Lilis. Sebagai rasa tanggung jawab. Sebab berita mereka cukup viral waktu itu. Sekarang mereka malah sudah punya dua anak, perempuan dan laki-laki yang sudah berusia remaja."
Bude Diah menarik napas kembali.
" Justru Satrio yang semakin liar dalam pergaulan dengan teman nya sejak dari dia kelas 3 SMP sampai SMA. Mungkin karena gosip itulah, itulah Satrio dipindahkan sekolahnya dan ikut tinggal di desa bersama bapaknya. Sampai dia kuliah di kota lain. Bahkan istri muda Pak Cahyadi itu yang mendorong Satrio mengikuti berbagai tes untuk masuk Akabri."
" Kok, Asti lihat selama ini Pak Cahyadi dan Bu Widya baik- baik saja?"
"Nggak tahulah. Mungkin mereka menjaga image pada masyarakat di sana. Sebab kedua orang itu punya nama dan jabatan yang tinggi. Namun sejak pensiun, justru Pak Cahyadi yang lebih sering tinggal bersama Lilis dan anak mereka di pinggiran kota Purwokerto. Mereka mengembangkan berbagai usaha pembuatan berbagai makanan, membuka toko sembako dan kafe dan cukup sukses. Sedangkan Mbak Widya hidup di kota sendirian dengan mengandalkan uang pensiunnya saja!"
"Justru Satrio sering bilang kalau usaha itu miliknya. Sebab dia sering bergaya dengan barang- barang mahal dan royal terhadap rekan kerjanya." Lapor Asti
" Selama Satrio tinggal di rumah ibu tirinya, Lilis memperlakukan Satrio dengan baik. Begitulah Lilis, Walaupun masih muda, tetapi orangnya apik, sabar dan selalu tampil di belakang suaminya. Jadi Pak Cahyadi lebih nyaman di rumah istrinya itu daripada bersama Mbak Widya. Mereka menampung Satrio dan mendampingi , sampai dia mandiri dan menikah. Yah, didikan Ibu Widya dan Eyangnya yang membuat Satrio jadi pribadi yang kurang bertanggung jawab. Mereka sangat memanjakannya!"
" Lho, kamu juga belum dengar, To?"
" Dengar apa lagi, Bude?"
" Zahra sudah melahirkan dua bulan yang lalu. Persis seminggu setelah Mbak Sanjaya berpulang. Anaknya perempuan, tetapi karena terlambat mendapat pertolongan bayi itu mengalami beberapa kendala. Malah ada gosipnya, kalau bayi yang dilahirkan Zahra mengalami cacat pada kaki kirinya."
" Astaghfirullah!"
" Kalau soal Nanik, Susanto yang lebih tahu permasalahan perempuan konyol itu . Besok kita tanya saja kepadanya! Dia itu kalau sudah ngobrol sama Joko, akur banget... Bisa-bisa mereka nggak tidur sampai pagi alias begadang!"
Paginya Bude Diah ikut mengurus keperluan Akbar bersama Bu Jum. Asti, Mbak Ning dan Ninuk saling membantu di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Benar saja, tepat pukul 07.00. Joko dan Susanto muncul dari pintu samping rumah Asti. Mereka bergabung untuk ikut sarapan. Bude Diah mau ikut Asti ke pasar sambil menengok Bulek Ratih dan Lek No di desa.
Tahu kalau ibunya akan bepergian menggunakan mobil. Akbar mulai ribut minta ikut. Ninuk terus meledeknya. Lucu juga melihat Ninuk dan Akbar berantem adu mulut menggunakan bahasa planet.
__ADS_1
" Cowok bensin!" ledek Ninuk.
Mulailah Akbar mengeja kata- kata Ninuk yang agak sulit diucapkannya. Mulut Akbar sampai manyun terus tetapi tidak bisa menyebutkan kata itu!
" Boy, belajar sampai besoknya!"
ledek Ninuk lagi.
Akbar mana peduli ketika dia digendong Bude Diah menuju pagar di depan rumah. Hati- hati Asti mengeluarkan mobilnya dipandu Mas Yanto. Bersamaan dengan itu, keluarlah rombongan Pak Leon dan dua asisten dari depan rumah Bu RT. Mereka akan berangkat untuk menuju proyek pembangunan di ujung desa sana.
" Hay, Jagoan mau ikut Ibu pergi, ya?" sapa Pak Leon.
Akbar tersenyum menyambut perkataan Pak Leon. Anak itu melambai- lambaikan tangannya sebagai ucapan kata salam.
" Itu pria dari kota yang bernama Leon itu? " Bisik Bude Diah kepada Bu Jum.
" Iya, Bu! " Jawab Bu Jum patuh. Sebab Bu Jum sedang memasukan tas keperluan Akbar di bagasi. Walaupun keperluan Akbar jauh lebih sedikit dari sebelumnya karena anak itu semakin besar.
Asti akan mampir dulu ke pasar untuk melihat persiapan Dania membuka toko. Bude Diah hanya membeli jajanan pasar yang disukai di antar Ninuk. Sedangkan Bu Jum menjaga Akbar yang mulai berjalan di koridor toko- toko yang masih belum buka semuanya di pagi itu.
" Sini, Nang! " panggil Bu Jum ketika Akbar mulai berjalan sampai jauh. Anak itu sangat tertarik dengan ramainya orang berbelanja. Sebagian besar adalah ibu- ibu yang tinggal di sekitar pasar.
Akbar menunjuk pada penjual balon di luar pagar pasar. Balon itu mempunyai warna yang berbeda dan banyak menarik perhatian anak kecil yang lainnya.
Tiba- tiba ada seorang pria muda yang menyerahkan sebuah balon bewarna merah itu kepada Akbar. Bu Jum mengucapkan terimakasih. Saat Akbar menerima benda berisi helium itu dengan antusias.
" Bilang apa, Dek sama Om?"
Ucapan terima kasih Akbar dengan bahasa bayinya yang lucu. Disambut dengan elusan sayang di pipi bayi itu.
" Bu, jaga Akbar baik- baik. Pasar mulai ramai!"
" Ya, Om..! Segera Bu Jum mengendong Akbar. Bu Jum hanya, melihat kalau pria tadi memasuki toko emas yang ada di sebelah toko, tempat Asti berjualan berbagai pakaian wanita.
__ADS_1