
Lek No sudah meminta Yanto untuk membuka pintu garasi depan. Pemuda itu agak kaget setelah diberitahu akan kedatangan Satrio.
Sebab dia tak terlalu mengenal sosok pria yang menjadi mantan suami Asti.
Benar saja, tak berapa lama ada suara motor besar yang memasuki halaman depan rumah Asti. Yanto menutupnya lagi, sebelum kembali bertugas menempati posnya, di pintu depan masuk ruko.
" Assalamu'alaikum, Lek!" Sapa Satrio.
Setelah turun dari motor sport hijau itu. Kemudian meletakkan helmnya di stang motor. Lek No tidak hanya membalas salam Satrio. Pria itu juga menerima jabatan tangan pria yang masih terhitung cucu keponakannya Mbah Putri Winangun.
" Silakan duduk!"
Satrio menerima ajakan Lek No untuk masuk ke dalam rumah Asti . Mereka menuju ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Namun ruangan itu berfungsi sebagai ruang tamu. Tak banyak pernak- pernik di sana, kecuali seperangkat kursi tamu dari kayu bergaya modern dengan pembatas ruangan yang berfungsi sebagai rak hias.
Mata Satrio memandangi rumah Asti yang tampak nyaman dengan penataan barang yang apik dan berbagai furniture bergaya masa kini. Tampilan yang ringan, simple dan modern.
" Mbak Ning! Ada tamu ini!" Panggil Lek No pada perempuan yang baru saja muncul di ruangan besar di belakang mereka.
" Iya, Pak!" sahut perempuan yang dipanggil Mbak Ning. Kembali wanita itu masuk ke dalam dapur.
Sebentar saja, wanita itu datang lagi dengan membawa sebuah baki plastik berisi dua cangkir kopi dan satu piring besar berisi potongan kue.
" Ayo dicicipi dulu! "' Kata Lek No sopan. " Aku sudah dengar kalau kamu sering mengawasi rumah ini dan Akbar!" ujar pria itu membuka percakapan.
" Maaf, Lek..." ujar Satrio sopan.
"Kalau masih ada yang mau kamu bicarakan dengan Asti. Datanglah ke rumah ini, lalu bicaralah baik - baik dengan Asti. Jangan mengintai dan mengintimidasi seperti itu, seakan-akan kami keluarga yang telah masuk daftar hitam untukmu!"
" Saya kangen, Akbar. Lek!"
Lek No melihat ke air muka cucu kesayangannya Pakde Sanjaya itu dengan pandangan tidak percaya. Pria itu berusaha menahan segala emosinya. Matanya berpendar kecewa.
"Bukankah sebelumnya kamu tidak mau mengakui kalau Akbar itu anakmu! Itulah yang membuat Asti marah dan sakit hati. Tolong Satrio! Jangan kamu usik kehidupan Astri lagi!"
__ADS_1
" Maaf kan saya, Lek! Maaf... Waktu itu, saya marah dan gelap mata. Jadi berbicara sembarangan! Hidup saya semakin tidak tenang sampai sekarang. Bahkan Mbah Sanjaya pun sakit dan dirawat di rumah sakit di Solo. Bapak juga sudah nggak di Purwokerto lagi."
"Maksudmu?" tanya pria paruh baya itu bingung.
" Bapak tinggal dengan istri mudanya kembali di desa. Karena dulu ibu, pernah menutupinya dari perhatian orang lain.Tetapi sejak peristiwa perceraian kami, Ibu dan Bapak jadi nggak akur mereka bertengkar sangat hebat, sampai Bapak pergi dari rumah."
" Terus kamu pikir itu semua perbuatan Asti? Memang anakku itu bisa apa, Satrio? Dia hanya diam dan terus menangis selama berbulan - bulan sejak kamu berselingkuh!"
" Kata ibu, akibat omongan Asti yang telah mengembalikan kutukannya itu agar diterima istri dan anak-anakku, nanti!"
" Terus kamu percaya ucapan ibumu itu? Satrio, Satrio! Kamu itu anak zaman sekarang... Aneh saja kalau masih percaya dengan mitos hal - hal musyrik seperti itu."
Tak lama Bu Jum keluar membawa Akbar yang berceloteh riang dalam gendongan pengasuhnya itu. Satrio bangun dari duduknya untuk mendekati Bu Jum. Sementara Mbak Ning mulai membuka stroller. Benda itu tadi sudah disiapkan dekat pintu ruang tengah.
" Masuk Bu Jum, Mbak Ning! Bawa Akbar main di lantai atas aja!"
Suara keras Asti dan kemunculannya yang tiba- tiba di dekat ruang tamu mengejutkan semua orang.
Kedua perempuan yang dipanggil namanya oleh Asti Itu terkejut. Mereka dengan terburu- buru membawa bayi berusia sepuluh bulan itu menuju tangga ke lantai dua. Asti memandang pria yang tadi hampir mengambil Akbar dari gendongan pengasuhnya.
Satrio belum pernah memandang wajah sedingin Asti. Matanya menatap tajam. Kedua tangannya bertumpu di atas perutnya.Tak ada senyum lembut yang manis dan air muka ramah yang selama ini menjadi ciri khas dari Asti.
" Terlambat semuanya bukan? Atau kamu nggak iklhas mengirim biaya hidup Akbar setiap bulannya? Oke, nanti aku minta Ibu Imelda mengirim kembali uang itu ke nomor rekeningmu. Saya sama sekali tidak pernah menyentuhnya!"
Ucapan Asti yang sinis itu, semakin mengejutkan lelaki yang kini menjadi mantannya. " Maafkan aku, Asti!" Wajah Satrio memucat.
" Untuk apa? Untuk rasa sakit yang saya rasakan. Setelah berbulan-bulan saya selalu kamu rendahkan, kamu hina, dengan perselingkuhan dan perzinahan mu dengan perempuan itu! Apa dengan satu kata maaf saja, semua penderitaan saya selama 180 hari saat kamu berselingkuh itu terhapus kan? Tolong, Mas... Kita sudah mengakhiri segalanya di pengadilan agama dengan baik- baik! Jadi antara saya dengan Mas Satrio sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi. Maaf, tolong tinggalkan rumah ini. Sekarang juga!"
" Asti kamu kenapa begini?" tanya Lek No bimbang." Semua bisa diomongin baik - baik ."
" Terlambat, Lek! Percuma...." Suara Asti semakin tegas.
" Sebenarnya tidak ada kata karma dalam agama kita, Lek. Jadi orang ini belum merasakan azab karena berselingkuh dan berzina.Tidak mau bertobat. Menistakan agamanya sendiri! Sebab menurut dia, kita dengan keyakinan agama ini disebutnya bodoh, kolot dan munafik. Lek No!"
__ADS_1
Tak lama Asti membuka hapenya. Karena Satrio masih terpaku dan belum beranjak dari bangkunya.
"Apa Zahra nyaman tinggal di rumah dinas kamu itu di sana? Tentu dia sudah terbiasa, ya. Dipanggil para ibu- ibu di sana dengan sebutan pelakor, ****** atau perempuan binal. Oh, mungkin dia berteman baik dengan Ibu Suparlan, kali ya? Bukankah selama ini Jeng Inneke itu baik sama Mas Satrio. Jadi Mas selalu percaya dengan segala fitnah dan omongan jahatnya dari perempuan itu."
Lek No terdiam. Dia juga melihat kehadiran Joko, Ninuk dan istrinya berbaris di belakang Asti. Mungkin tadi Yanto yang memberi tahukan mereka akan kehadiran Satrio di rumah ini. Sehingga Joko dengan cepat masuk rumah Asti lewat pintu belakang.
" Permisi!" ujar Satrio segera meninggalkan ruangan itu. Bulek Ratih memeluk Asti yang tubuhnya masih gemetar menahan marah dan sakit hati.
Terdengar suara motor yang dikendarai Satrio keluar dari halaman depan. Juga suara pagar beroda itu yang didorong Mas Yanto agar menutup kembali.
" Kamu nggak apa- apa, Asti?"
" Nggak apa-apa. Asti baik - baik saja! Hanya nggak menyangka kalau orang yang suka nongkrong di warung Nasi di seberang ruko itu Satrio!"
" Lho kamu tahu darimana?" tanya Joko bingung. Sebab dia hanya menyampaikan berita penting itu kepada bapaknya saja.
" Dari Bu Haji Anissa. Dari lantai dua rukonya kan terlihat jelas wajah lelaki yang sering datang ke warung nasi di seberang jalan itu. Dia melihat lelaki itu selalu memandangi Akbar. Sampai Pak Haji Anwar dan Mas Adam juga diberi tahu. Takut Satrio bertindak nekat!"
Ninuk mencari Akbar dan dua orang wanita pekerja di rumah ini yang menyingkir ke lantai dua. Mereka asyik bermain di balkon.
"Turun Lek Ning, Bu Jum. Sudah Aman!"
" Itu tadi siapa sih, Mbak Ninuk? Sampai aku kaget dengan suara Mbak Asti yang keras dan melarang lelaki itu memegang Akbar."
" Bu Jum, itu bapaknya Akbar. Mbak Asti sakit hati karena kelaki itu dulu tidak nggak mengakui anaknya!"
Mbak Ning , mengusap kepala Akbar dengan lembut." Lha orang Akbar persis banget sama lelaki tadi. Sama ganteng dan senyumnya, ya. Cah Bagus?"
Mereka beriringan turun. Di kamar Asti masih terlihat sedih dan kecewa walaupun sudah dihibur Bulek Ratih.
Asti tetap bertahan di dalam rumah setelah Magrib. Dia membiarkan Mbak Ning dan Mbak Jum bergabung dengan Joko di belakang rumah. Mereka turut membantu melayani pengunjung Warung Tenda yang semakin malam semakin ramai.
" Bobok sayang!" ucap Asti lembut. Mata bulat Akbar memandanginya lama. Apakah bayinya yang imut ini merasakan juga kalau lelaki yang menemuinya tadi adalah ayahnya?
__ADS_1
Sejak Akbar berusia empat minggu itulah, Asti telah mengetahui hubungan yang terjalin antara Zahra dan Satrio. Berbekal foto - foto jepretan Ninuk ketika keduanya yang duduk mesra di kantin belakang rumah sakit pemerintah daerah di kota itu.