Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 168. Suatu Keajaiban


__ADS_3

Asti malas melihat ramainya permasalahan Almira, di media sosial. Para Netizen menggulung habis keberadaan Almira. Seperti sebuah adegan film, sosok Almira berubah menjadi pemeran antagonis dan mendapat hukuman sanksi sosial dari masyarakat.


Para dokter pun itu sudah mengajukan tanggal yang pas untuk Asti melakukan operasi cesar untuk kelahiran bayi keduanya ini. Semua orang datang ke rumah untuk memberi support dan doanya. Terutama kedua ibu perinya itu, yaitu Bulek Ratih dan Bu Haji Anissa.


Mereka beramai-ramai mengantar Asti ke rumah sakit. Suasana ruang perawatan VVIP itu mendadak menjadi ajang pertemuan keluarga. Sampai Leon membawakan parcel besar yang dikirim Mbak Mesya dan Mbak Alya untuk Asti.


" Bismillahirrahmanirrahim!" itulah doa yang mereka ucapkan. Sesaat sebelum Asti akan dibawa ke ruang operasi. Seorang suster sudah menyuntik di paha kiri Asti setelah para tamu - tamu lain sudah pamit untuk pulang. Termasuk Ninuk yang akan langsung diantar Joko untuk kembali ke tempat kostnya, di kota sebelah.


Di kamar besar itu tinggal Mbak Ning menunggu bersama Bulek Ratih... Sementara, Leon dan Lek No ikut mengantar Asti yang sudah dibaringkan di atas brankar untuk dibawah ke ruang operasi di lantai dua.


Di sanalah kedua pria itu duduk menunggu, di depan ruang operasi.. Sosok Lek No menjadi tonggak kuat bagi Leon untuk dapat memberinya keyakinan dan kekuatan agar anak dan istrinya dapat melewati itu semua dengan baik.


"'Yuk, jadi ramai berita soal Almira!"


" Biar, Ning. Nggak usah dilihat lagi! Yang penting sekarang Asti sudah nggak salah paham lagi. Dia terlihat lebih sehat dan segar, dalam beberapa hari ini..."


"Mbak Asti, sih! Jadi orang terlalu baik. Jadi sering dimanfaatkan oleh orang lain dengan berbagai kepentingannya... Termasuk Mbak Almira itu!"


" Nggak apa-apa jadi orang baik... Sebab kalau ada yang berniat jahat, semua itu kita kembalikan kepada Gusti Allah! Biar mereka yang menerima ganjarannya."


" Hampir aja, ya. Yuk! Mbak Almira itu jadi calon mantumu. Dulu, naksir banget Joko sama perempuan itu.. "


" Sudahlah, Ning... Kata Joko juga, dia kaget sewaktu Almira putus tunangan dengan Mas Adam... Padahal, menurut penuturan Pak Haji Anwar, pihak keluarga Mas Adam sudah bersiap - siap melamar Almira. Nggak tahunya Mas Adam dibuangnya, hanya untuk dapat menggaet perhatian Pak Leon... Semestinya kita juga harus sadar diri, nggak semua keinginan kita itu dapat terpenuhi... Apalagi dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya!"


Kedua wanita itu terus ngobrol untuk mengisi waktu luang. Mereka telah memberikan tas kepada Leon tadi, berupa keperluan untuk Asti dan bayi perempuannya itu. Di sana ada pakaian ganti Asti dan bayi, pakaian dalam, perlengkapan mandi ibu dan anak serta berbagai keperluan lain untuk wanita sehabis melahirkan.

__ADS_1


Di ruang tunggu, depan kamar operasi, Leon tampak terus gelisah. Sementara Lek No terus membaca Alquran dalam aplikasi di hapenya. Detik- detik berlalu begitu lamban... Bahkan waktu seakan menjadi berhenti.


" Duduk saja, Leon! Berdoalah, agar operasinya berjalan lancar dan bayinya lahir dengan selamat!"


" Iya, Pak! Saya agak nervous ini.."


Ujar Leon sambil menggosok kedua telapak tangannya... Padahal Asti masuk ke dalam ruang operasi baru 20 menit yang lalu.


Hampir satu jam kemudian. Pintu operasi terbuka dari dalam. Seorang dokter keluar dari ruangan itu sambil melepaskan masker di wajahnya. Leon terburu- buru menghampirinya.


" Bagaimana dokter, keadaan anak dan istri saya?"


" Pak Leon, operasinya berjalan lancar... Bayi Anda perempuan! Sedang istri Anda masih dalam pengaruh obat bius. Kami harapkan dalam waktu enam jam sudah siuman... Sekali lagi, selamat!"


"'Terima kasih banyak, Dokter!" ujar Leon terbata-bata. Berkali, kali, dia melambungkan doa terimakasih kasih dan puji syukur karena Allah memberikan keajaiban ini di hidupnya...Istri dan anaknya selamat!


Bayi perempuan mungil itu sudah di azan kan oleh Leon dengan suaranya yang agak gemetaran. Azan itulah yang selalu diajarkan Pak Rob setiap sore kepada Leon. Pada pria sederhana itulah tempat Leon sering bertukar pikiran dan belajar agama Islam dari hal yang paling dasar. Menghapal surat-surat pendek , juga belajar sholat.


Ternyata pengetahuan agama Pak Rob cukup luas, karena dia pernah tinggal di pesantren. Sayangnya bencana longsor yang menimpa desanya, membuat pria itu tidak hanya kehilangan anak dan istrinya juga sebagian dari anggota keluarga besarnya yang sudah lama tinggal di desa itu. Sampai pria itu pergi jauh dari desanya, merantau ke berbagai daerah di Pulau Jawa dan terdampar di desa Sidodadi.


Bayi itu segera dibawa para perawat ke ruangan khusus bayi setelah dimandikan diberi ganti baju warna pink. Sementara Asti dibawa ke ruang perawatan setelah dibersihkan tubuhnya oleh para perawat. Keadaan Asti masih belum siuman, namun semua terlihat lebih baik.


Bergantian Mbak Ning dan Bulek Ratih melihat bayi itu, diantar Lek No. Air mata Bulek Ratih meleleh terharu. Saat melihat dari ruang kaca besar... Bayi Asti tampak mungil, lucu dan lincah.


Keajaiban dari Allah itu selalu ada. Bayi mungil itu terlahir sehat dan sempurna walaupun sang ibu mendapatkan pukulan batin yang cukup besar dari perbuatan Almira. Kekuatan doa Asti dan kepasrahannya saat menghadapi ujian hidup yang bertubi - tubi telah memberinya kekuatan pertahanan diri dan iman.

__ADS_1


Kali ini , keluarga Lek No menahan jarinya untuk tidak memposting keberadaan Asti dan bayinya di rumah sakit. Itu permintaan Joko. Agar selama pemulihan paska operasi, Asti bisa tenang tanpa mendapat banyak kunjungan dari para tamu. Sekarang saja Asti masih terbaring tenang dalam tidurnya, dan terus dipantau oleh para suster dan dokter.


Sementara Leon menungguinya dengan sabar. Selang infus dan berbagai selang lain terus menitikkan irama kehidupan di tubuh istrinya itu. Sesekali Leon berdoa dalam bacaan yang sangat sederhana agar dia masih dapat diberi kesempatan untuk menjadi suami dan ayah bagi anak-anak ini.


" Mas Leon, sini makan dulu!" pinta Mbak Ning. Tadi Kang Kasat datang mengantar makan siang, masakan Bu Jum dan Mbak Mar yang tak kalah enaknya.


Leon menerima sepiring nasi berserta lau pauknya yang disodorkan Mbak Ning ke tangannya. Sementara Bulek Ratih sedang mengelap dahi dan wajah Asti dengan waslap dan baskom yang berisi air hangat, yang diberikan oleh suster jaga.


Perlahan Asti mulai terbangun dari siuman setelah hampir pukul 19.00. Tepat 6 jam setelah operasi cesar yang dijalaninya siang tadi. Dokter dan suster segera memeriksa keadaan Asti. Karena ketakutan yang amat sangat pada diri Leon, dia meminta bantuan khusus seorang tenaga perawat untuk menjaga istrinya secara seksama.


Wanita yang bernama Suster Eka itu yang diperbantukan oleh Dokter Eva menjaga Asti secara khusus. Terlihat dia bekerja sangat teliti dan profesional. Semua sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku di rumah sakit ini.


Lihat saja, keadaan Asti tampak lebih baik di pagi harinya...Lewat bantuan perawat yang lain, bayi perempuan itu sudah dapat menyusu pada ibunya.


Air mata Asti menitik saat dia memeluk hangat tubuh bayi mungil perempuannya. Walaupun mereka yakin wajah sang bayi akan berubah-ubah menjelang dia besar. Tetapi wajah bayi itu adalah cetakan wajah Leon yang lebih feminim, mungil dan cantik.


Siangnya Joko datang dengan mobil Asti membawa Akbar dan Bu Jum. Akbar terbengong- bengong saat ibunya memeluk seorang bayi. Sambil berbaring di ranjang rumah sakit. Bocah laki- laki- itu sangat marah dan cemburu. Dia berpaling dari Asti dan minta digendong oleh Leon. Semua orang tertawa oleh tingkah konyol Akbar.


" Sini, Nak. Itu adiknya Akbar!" Ujar Bu Jum pelan.


" Ndak. Aku nggak mau punya Adek!"


" Masa nggak mau punya ayah juga? Akbar dan Adek bayi juga anak ayah, loh!" ujar Leon yang kini berhasil mengendong bayi perempuan itu walaupun masih agak kaku gerakannya.


" Akbar, adiknya ini lucu dan cantik , Lo?"

__ADS_1


" Ndak! Aku mau pulang aja!"


Si Kakak mulai ngambek karena merasa si bayi mungil itu mulai mengambil semua perhatian orang-orang di sekelilingnya. Asti hanya mengelus - kepala Akbar ketika pamit pulang. Asti masih terbaring menahan rasa tak nyaman di bekas operasi itu yang masih basah. Jadi dia belum berani banyak bergerak.


__ADS_2