Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 206. Pak Murti Kembali Sakit


__ADS_3

Hari-hari di rumah, Asti selalu saja disibukkan dengan segala urusan rumah tangga. Mulai dari menggurus kedua anaknya yang masih kecil. Walaupun sudah dibantu Bu Jum dan Putri.. .Setiap pagi dia akan mengatur menu masakan bersama Mbak Ning. Kadang ikut membantu menyiapkan sarapan dan makan siang.


Selain itu Asti juga menggurus semua keperluan suaminya... Mulai dari menyiapkan pakaian kerjanya. Menyeduh kopi yang akan menemani pria itu menyelesaikan makan paginya. Juga mengantar pria itu sampai keluar dari pintu depan untuk berangkat bekerja.


Asti terkadang juga menerima laporan dari dua usahanya itu secara berkala. Dari toko pakaian yang ada di pasar juga dari mini market di ruko miliknya.


Akbar dan Qani pun akan selalu mengikuti kemanapun si Ibunya ini akan berpergian. Sehingga Asti jadi harus berpikir ulang bila akan melakukan aktivitas di luar rumah. Bila urusan itu benar-benar sudah sangat mendesak, kedua bocil itu pun harus dibawanya serta... Lengkap dengan membawa kedua pengasuhnya juga. Kata orang sekarang cukup rempong atau merepotkan juga.


Mbak Ning memang serba bisa, setelah dia selesai masak, akan dikerjakan juga pekerjaan rumah tangga lainnya. Seperti memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Kadang Putri pun untuk menyapu dan mengepel lantai semua lantai rumah, yang di lantai dua juga.


Seminggu sekali, Bu Jum dan Asti akan membuka kamar-kamar di lantai atas untuk dibersihkan dari debu dengan alat vacuum cleaner yang dibelikan Leon sewaktu kunjungan ke Semarang dan sempat ke mall yang menjual alat-alat kebersihan untuk rumah yang serba elektronik.


Terkadang Bu Jum ikut membantu menjemur pakaian di samping rumah. Nanti dia akan memilah - milah pakaian anak-anak, dan pakaian orang dewasa setelah pakaian kering.


Kadang mereka semua berkumpul di ruang tengah, sambil mendengarkan musik atau bercerita disambi menjaga kedua bocil tersebut. Asti mulai akan menuliskan berbagai lauk pauk dan sayur yang persediaan mulai habis di kulkas dapur. Besoknya Mbak Ning dan Putri yang akan berbelanja di pasar. Terkadang mereka juga memulai persiapan untuk membuat menu makan siang. Ada yang memetik sayuran, menyiapkan bumbu dan ada yang mulai memasak nasi.


Bagi Asti, kalau mereka harus menyiapkan makanan hanya untuk sepuluh orang saja sekali makan masih sanggup. Namun Mas Adam berencana untuk memakai tenaga kerja yang lebih banyak lagi, agar rumah di sebelah itu selesai lebih cepat dari target waktu yang ditetapkan selama enam bulan.


Setelah mengamati keadaan, di daerah ini. Mas Adam akan mempekerjakan dua orang yang khusus menyiapkan makan siang buat semua pekerja di rumah tambahan itu. Sebab solusi itu lebih baik, daripada pekerja bangunan itu sakit perut setelah membeli makanan dari warung yang murah harganya tetapi tidak bersih saat masak dan menyajikannya.


Bu Jum mendengar ada suara mobil yang memasuki halaman depan setelah mendengar pagar garasi yang dibuka


" Mbak Asti, kok... Seperti Pak Leon yang pulang ya?"

__ADS_1


Benar saja, Pak Leon sudah masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam. Wajah suami Asti agak cemas. Lelaki itu langsung memeluk tubuh istrinya. Sampai pria itu agak tenang sedikit.


" Ada apa, Mas?" Bisik Asti merasa takut juga. Dia mengusap dahi suaminya itu yang basah dan berkeringat.


Biasanya pria ini akan menghadapi berbagai permasalahan yang ada di hadapannya dengan tenang dan banyak berpikir panjang. Tetapi sekarang mengapa dia begitu berbeda?


Cepat Mbak Ning menyodorkan segelas air putih. Setelah melihat majikannya itu dalam keadaan yang tidak baik. Seperti dia membawa kabar buruk!


Segera Leon meneguk air putih itu. Barulah pria itu sedikit lega. Dia menatap Asti dan bersama tiga wanita lain yang selalu membantu istrinya itu dengan penuh pengabdian dan rasa kekeluargaan.


" Papa kambuh lagi sejak tengah malam. Dokter Arianto sudah merujuknya ke rumah sakit yang terdekat dengan rumah... Tetapi Papa nggak mau! Sampai Mama mendengar kalau Papa ingin melihat kamu dan Qani... Tetapi sekarang, sakitnya bertambah parah!"


Ada rasa sesak di dada Asti mendengar ucapan itu. Dia belum belum lagi mengunjungi mertuanya yang ada di Semarang. Hampir setahun lebih, setelah dia hamil besar dan Qani lahir.


" Ayok, aku juga takut... Nggak bisa bertemu Papa kali ini!"


" Berdoa pada Allah, Mas! Mudah- mudahan, beliau masih dapat melihat Qani... Malah segera cepat sembuh." Ujar Asti menenangkan hatinya.


" Amin!" Balas ketiga wanita lainnya yang berbeda dalam rentang usia


Pria itu terduduk lemas di kursinya. Sekarang Asti yang harus tampil lebih tabah dan kuat mental. Segera di teleponnya Dimas agar datang ke rumah ini dan bersiap - siap untuk pergi ke Semarang. Dia sendiri belum berani membawa mobil Leon dengan mesin yang lebih besar dalam perjalanan yang sangat jauh. Apalagi suaminya, pikirannya belum terlalu tenang setelah mendengar sakit ayahnya tadi.


Sementara Bu Jum mulai memilih dan memasukan pakaian dan perlengkapan Qani di dalam tas bayi yang cukup besar itu. Putri pergi ke dapur.

__ADS_1


" Mbak Ning, aku titip Akbar di rumah ini, ya. Bersama Putri! Bapak mertua sakit parah! Nanti kalo Bulek Ratih dan Lek No selesai dengan urusan sawah, biar menyusul ke Semarang sambil membawa Akbar!"


" Iya, Mbak!" Jawab Mbak Ning yang ikut masuk kamar utama untuk membantu Asti berkemas.


Di dapur, Putri menyiapkan bekal untuk Qani dari nasi tim yang tadi sudah disiapkan Asti. Termasuk susu formula yang sudah dimasukkan ke dalam botol susu dengan ukuran yang lebih besar.


Hampir satu jam kemudian, Dimas sudah memasukkan beberapa tas besar pakaian dan koper perjalanan Pak Leon ke dalam bagasi. Mbak Ning membawa car seat untuk Qani.


Pak Leon sempat menelepon dan memberi beberapa arahan kepada Damar dan Pak Cakra yang akan menggurus kantor selama kepergiannya itu ke Semarang. Mereka berangkat pukul 11.00, tanpa makan siang lebih dahulu.


Sesekali Leon menikmati kopi buatan istrinya yang sempat dimasukkan Putri ke dalam tumbler. Asti dan Leon tidak sempat pamit pada Akbar. Karena anaknya masih tidur tadi.


" Hati-hati Dimas!" perintah Asti sedikit agak cemas. Sebab Dimas membawa mobil itu agak ngebut... Asti juga mendengar tentang telah dimulainya pembangunan jalan tol lintas pulau Jawa yang masih dalam tahap penyelesaian... Sebab perjalanan ke Ibukota Jawa Tengah itu dari rumahnya ini memerlukan tempuh hampir memakan waktu 4 sampai 5 jam melalui jalan raya umum.


Setelah mendengar azan Dhuhur, Asti meminta Dimas berhenti di sebuah restoran terdekat di pinggiran jalan ... Mereka harus beristirahat dulu untuk makan siang, istirahat dan sholat.


Tampak Leon sudah lebih tenang setelah dia selesai sholat berjamaah bersama Dimas dan beberapa orang di mushola dekat rumah makan ini. Qani sudah terbangun dan digendong Bu Jum dengan kain. Bayi mungil itu menikmati nasi tim yang diolah Asti dicampur dengan kuah sup sayuran yang sudah dicooper tidak terlalu halus.


Kedua pria itu makan dengan makanan yang sudah dipesan Asti sebelumnya. Mereka memilih meja yang agak jauh di sudut bangunan restoran bergaya ala Jawa itu. Di meja sudah tersedia nasi putih, semangkok sayur asem, ikan gurami bakar dan sambal merah... Beserta gorengan yang lain yaitu tempe goreng tepung dan tahu isi. Tak lupa es teh manis.


Asti juga meminta air panas yang dimasukkan ke dalam termos kecilnya untuk membuat susu untuk Qani nanti dan menyeduh kopi untuk Leon.


Perjalanan semakin cepat, saat mobil dibawa Leon. Walaupun demikian dia agak berhati-hati membawa Pajero itu. Karena di dalam itu ada dua wanita yang paling dia cintai dan sayangi, anak dan istrinya.

__ADS_1


Tetap saja, Asti meminta berhenti ketika mendengar azan Ashar. Padahal, Leon ingin segera sampai ke rumah sakit dan melihat keadaannya Ayahnya itu. Namun Asti selalu mengingatkan kepada suaminya... Agar dia selalu berserah diri kepada Allah SWT, yang menentukan segalanya... Sehat dan sakitnya manusia, kelahiran dan kematian juga rejeki dan umur kita!


__ADS_2