
Hampir dua hari Satrio tak mengirim kabar pada Asti. Entah pria itu masih bersama wanita itu untuk menikmati malam mingguan yang panjang. Atau Satrio sudah masuk dinas lagi. Tentu dipikirnya sang istri mengira dia masih bertugas di lapangan seperti biasa dan kesulitan mendapat sinyal. Sebab saat Asti memeriksa gantungan pakaian seragam Satrio di lemari, ada tiga buah seragamnya yang juga dibawanya bepergian.
Joko pun sudah mengingatkan pada dua pemuda yang merupakan sahabatnya saat mereka bersekolah di SMA, agar mereka berhati- hati dan waspada. Sebab lelaki yang mereka ikuti bukan hanya suami dari sepupunya saja. Tetapi dia seorang anggota polisi yang sangat terlatih bl dalam situasi apa pun di lapangan, termasuk para penguntit. Sebab Joko juga mendengar Satrio sangat mahir dalam bidang komputer dan komunikasi.
Tampaknya kedua orang itu menyadari kalau orang yang diikutinya mulai bersikap mencurigai gerakan mereka. Sehingga mereka berhenti di sebuah desa lain, dan mulai menelpon Joko. Sampai Joko menyusul mereka yang bertahan di sebuah rumah penduduk di jalan raya perbatasan Solo- Yogyakarta.
Karena situasi seperti inilah, Joko tak bisa memberitahukan Asti secara gamblang. Takut sepupunya itu kepikiran dan stres. Sedangkan Asti mempunyai bayi dan masih harus menyusui bayinya itu.
" Aku boleh nginap nggak di rumah, Mbak Asti?" tanya Ninuk. Saat di menelpon dari tempat kostnya.
Setelah menyelesaikan ujian akhirnya, Ninuk mulai bosan tinggal sendirian di tempat kost. Padahal banyak waktunya yang luang karena sudah tidak ada jam belajar di sekolah. Tetapi segala urusan sekolah belum selesai. Terutama pengumuman hasil ujian atau kelulusan. Bahkan Ninuk kehilangan rasa antusias untuk memilih jurusan yang sesuai cita-cita dan keinginan semula.
" Ya boleh, aja. Tetapi momong Akbar, mau?"
" Mau dong! Eh, Mbak. Akbar biar tinggal di desa aja, ya. Aku sudah nggak sekolah lagi. Ibu sama bapak juga sudah kangen sama si ganteng!"
Aduh, baru empat hari yang lalu Akbar pulang kembali ke rumah ini. Sudah dikangeni oleh Mbah Kung No dan Mbah Uti Ratih!
Asti yang merasakan ketulusan dan kasih sayang mereka tak pernah berubah. Bahkan kepada bayi kecilnya juga. Sekarang dia cukup tenang, setelah Joko mengatakan kalau dia adalah bagian dari keluarganya. Jadi dia tidak sendirian!
Kata Ninuk untuk sementara Joko masih mengawasi pembuatan pondasi untuk bangunan ruko selanjutnya. Kakak laki-lakinya itu cukup tertarik dengan berbagai cara dan teknik terbaru dalam pembangunan rumah dan gedung. Sebab di daerah mereka ini semakin ramai dan banyak pendatang yang membuat rumah tinggal yang bagus dan gedung-gedung usaha yang modern.
Pada umumnya, pembangunan rumah- rumah di desa mereka hanya mengandalkan tenaga tukang kayu dan tukang batu yang berpengalaman saja. Tentu saja semakin berpengalaman akan semakin tua usianya.
__ADS_1
Selebihnya banyak warga yang akan ikut bergotong royong menyelesaikan rumah itu. Si pemilik rumah hanya memberi para warga yang membantu itu dengan menyiapkan makan siang atau menyediakan kopi dan cemilan sederhana seperti singkong atau ubi rebus.
Bahkan ada juga warga yang membeli rumah yang dijual utuh. Sehingga mereka akan menggotong rumah itu untuk dipindahkan ke tanah si pembeli. Mereka para warga desa akan bergotong royong memindahkan rumah itu secara bersama-sama.
Kabar pembangunan rumah Asti itu pun mulai jadi pembicaraan banyak orang di desa Sendang Mulyo. Terkadang para ibu yang sudah selesai berbelanja di pasar kecamatan, akan melipir sebentar ke arah rumah yang akan sedang dibangun Asti.
Padahal jaraknya lebih jauh dari pasar, kira-kira 3 km lagi. Tetapi rasa mau tahu mereka terobati ketika melihat pagar seng yang menutupi sebagian bangunan rumah Asti yang sudah setengah jadi. Apalagi mereka juga melihat Joko atau Lek No yang sering ada di sana.
Kabar itu pun semakin santer dan meluas sampai terdengar oleh ibu-ibu dari desa tetangga sebelah. Maklum beberapa ibu yang lebih muda usianya sudah banyak memakai hape. Foto-foto rumah megah Asti pun berseliweran di media WA dengan berbagai caption dan komentar.
Bagi warga desa yang yang mengenal Asti sebagai cucu Pak Harjo Winangun, tahu kalau warisan yang diterimanya sangat banyak. Karena sebagian besar yang sawah yang mengelilingi desa mereka dulu adalah milik Mbah Buyut Winangun.
Lain halnya , warga dari desa tetangga, mereka mengira itulah harta itulah yang diberikan almarhumah Bude Ayu kepada Asti selama menjadi istri ketiga Pak Kushari. Sebab kekayaan mantan kades desa sebelah pun tak main-main.
Tampaknya anak- anak Pak Kushari lebih suka menikmati kekayaan orang tuanya itu dibandingkan disuruh sekolah atau bekerja. Beberapa anaknya dengan cepat menghabiskan sebagian dari warisan itu untuk hidup berfoya- foya dan gaya hidup bebas
Ninuk datang dengan Scoopy kesayangannya, keesokan harinya. Gadis remaja itu juga membawa tas besar, tanda - tanda dia menginap agak lama di rumahnya. Asti selalu terbuka menerima musuh debatnya tetapi rasa sayang sebagai adik itu.
" Sudah dipikirkan mau kuliah di mana?"
Tanya Asti setelah mereka selesai menikmati seporsi bakso yang tadi dibawa sepupunya itu dengan label, bakso terenak di daerah ini.
"Sudah . Minatku masih masuk fakultas pendidikan aja, mungkin yang di Yogyakarta atau Semarang."
__ADS_1
" Ya, sudah, disiapkan saja semua persyaratannya. Nanti bilang ke aku, Nuk. Perlu biaya apa saja! Apa perlu kita survei ke kampus di yogyakarta atau Semarang. Mungkin Akbar perlu jalan-jalan lagi, ya. Dek?"
Ada suara gumaman tak jelas dari mulut Akbar. Ninuk meledeknya, sehingga suara mereka bersahut- sahutan dengan lucunya. Sore itu mereka bercakap-cakap sambil mengurus keperluan Akbar.
Entah hanya perasaannya saja! Suasana di rumah ini semakin membuat Asti tidak betah untuk tinggal agak lama di rumah dinas Satrio ini. Tetapi menetap di desa pun kurang pantas bagi Asti, karena Satrio masih bertugas di kota ini. Nanti para ibu tetangga kompleks berkomentar lagi, karena dia sering meninggalkan suaminya di rumah sendirian.
Padahal dia hanya ibu rumah tangga biasa alias pengganguran. Malah ada ibu tetangga sebelah yang berkomentar, kalau Asti adalah pengacara, alias pengangguran banyak acara. Asem tenan!
Sudah tiga hari Satrio tak menampakkan batang hidungnya. Malah Mas Adam yang rajin mengirim WA, dengan foto-foto pembuatan pondasi dari bangunan ruko yang akan segera dibangun.
Kadang ada foto Joko juga yang bergaya laksana seorang insinyur lapangan. Dulu, Bude Ayu pernah menawarkan untuk membiayai kuliah Joko untuk masuk fakultas pertanian. Tetapi Joko malah memilih masuk politeknik dan hanya sampai diploma tiga saja. Tentu Joko tak mau memberatkan bapaknya dengan biaya kuliah yang besar. Dia dapat merasakan susahnya sang ayahnya bekerja mengolah sawah dan kebun kelapa mereka.
" Mbak, di dekat sekolahku ada bengkel perabot rumah tangga yang bagus, lho. Bukan perabot milik Mbah Buyut yang kaku, berat dan penuh ukiran. Sepertinya ada video barang-barangnya deh. Cocok sama gaya rumah Mbak Asti yang modern , minimalis dan tropis begitu, ya?"
" Bagus beneran, Nuk?"
"Iyalah, masak aku bohong!"
'Tunggu aja, Nuk! Nanti sambil cari contoh penataan ruangan yang sesuai. Kalau pakai jasa yang menata ruangan gitu, takut lebih mahal lagi biayanya..."
Sorenya, Ninuk izin ke rumah temannya yang ada di pinggiran kota. Takut terlalu malam. Asti memberikan kunci pintu rumah cadangan untuk dibawa Ninuk.
Biasanya malam minggu, alun-alun di kota ini ramai oleh anak-anak muda yang nongkrong. Belum lagi ada beberapa lapak jajanan dan makanan yang membuka dagangan di sepanjang jalan menuju alun-alun itu.
__ADS_1
Asti tak tertarik dengan ajakan Ninuk itu, karena tidak tega membawa Akbar berboncengan naik motor juga dalam cuaca malam yang agak dingin dan lembab.