
Sejak kembali ke rumah dinas di kota, kesedihan Asti semakin terasa. Meskipun banyak orang yang menyayanginya, namun kasih sayang yang tulus dari Bude Ayu tak tergantikan. Bisa dibilang, kakak ayahnya almarhum itulah ibu yang sebenarnya bagi Asti. Namun, Satrio menjadi benteng pelindung dirinya yang sekarang kokoh, hangat dan penuh cinta.
"Nggak baik sedih-sedih mulu. Ingat di rahimmu ini ada bayi. Nggak lucu kan kalau anak kita nanti lahir menjadi anak yang cengeng, lembek dan mudah putus asa!" Nasehat Satrio panjang lebar setiap dia menemui Asti yang lebih sering termenung.
"Sok tahu kamu itu, Mas! Semua bayi yang baru lahir itu ya cengeng , masih lemah atau butuh perhatian. Mungkin kamu dulu lahir sebagai bayi ajaib kali! Lahir langsung main perang-perangan, gitu!"
Satrio kaget dengan jawaban Asti. Pria itu yang tadinya mau memberi nasehat untuk menguatkan hati istrinya malah dapat jawaban menohok! Malah dibilang bayi ajaib lagi, Sial! Lelaki itu jadi terkekeh geli.
"Ya, aku yang salah, Maaf. Bayi memang baru lahir masih cengeng. Tapi apa si ibunya harus cengeng juga?"
Mulut Asti jadi manyun, " Wih, udah salah maunya bener, mulu ...."
"Udah, Yang. Pokoknya kamu jangan terlalu bersedih, ya. Kita doain aja biar Bude Ayu, tenang di sana. Diterima Amal baiknya, dihapus segala dosa-dosanya..."
Mata Asti tambah melotot. Ini orang memberi nasehat, atau doa di depan jemaah masjid untuk sholat Jumat, sih. Mata Satrio melirik tak yakin.
Bukan hal mudah bagi pria itu menghadapi sikap Asti yang banyak mengalami perubahan setelah kehamilannya. Beruntung Bude Prapti orangnya gesit, cekatan dan banyak pengalaman. Jadi dengan mudah, sepupu Mbah putrinya itu menjaga Asti yang mulai sering gampang tersinggung.
Sekarang Ninuk yang sering mampir kalau ada hari harpitnas, alias hari kejepit nasional, yaitu hari libur bukan di hari Sabtu dan Minggu.
Perjalanan tempat dia kost ke rumah dinas Mas satrio itu tak sampai 60 menit ditempuh dengan motor Scoopy miliknya yang baru.
Rumah dinas itu bertambah ramai, dengan kehadiran Ninuk yang super rame, receh dan rempong. Walaupun sering terjadi pertentangan antara Ninuk dan Asti dalam berbagai hal. Misalnya soal membuat bumbu rujak saja menjadi argumentasi yang pajang.
Apalagi Bude Prapti yang melarang Asti makan buah nanas. Padahal buah nanas itu sudah matang.
"Mbak Asti, aku mau kuliah deh!"
"Kuliah aja, Nuk! Yang penting serius, dan tekun menjalaninya!" Jawab Asti .
"Apa Bapak punya uang yang cukup untuk biaya kuliahku, nanti?"
"Tanya aja dulu! Terus dipikir yang matang ! Mau kuliah di mana, jurusan apa? Jangan baru masuk kuliah dengan biaya besar, nggak bisa lanjut. Kan, sayang ...."
__ADS_1
"Dulu kenapa Mbak Asti nggak kuliah? Padahal Bude Ayu punya tinggalan banyak!"
"Sok tahu , kamu! Siapa yang ngomong begitu?"
"Bapak lah, Mbah Harjo Winangun punya puluhan hektar sawah, kebun juga rumah. Semua warisan itu juga kan untuk Mbak Asti juga. Sebab Bude Ayu takut kalau Mbak Asti kuliah nggak mau balik ke Desa Sendang Mulyo. Desa itu telah memberi Mbak Asti banyak kesulitan hidup dan penderitaan, kan?"
"Nggak tahu, Nuk! Hanya mendengar kutukan itu saja, aku sudah sangat sedih dan sengsara. Tapi nggak apa, apa itu hanya rumor atau mitos. Kita semua sebagai manusia harus menjalani takdir kita bukan?"
Lama mereka terdiam. Ninuk sampai melihat tetesan air mata di pipi mulus wanita cantik itu yang sudah seperti kakak kandungnya saja. Akhirnya Ninuk memeluk tubuh Asti yang mulai bergetar karena menahan tangis. Tangis rasa pedih dan kehilangan. Dulu, dia sangat kuat ! Sebab ada Bude yang menjadi tonggak pelindungnya. Ucapan kebencian Fahira di kelas IX itu telah mengejutkan Asti.
Sejak Asti mendengar ucapan kebencian yang ditujukan pada dirinya sebagai gadis sial, karena membawa kutukan dari hutan bambu itulah. Kehidupan remajanya yang ceria dan menyenangkan mulai meredup. Apalagi Sejak Bude Ayu menikah lagi dan tinggal di rumah suaminya di desa sebelah. Dia kehilangan dekapan penuh kasih sayang itu.
Bagi Asti hal yang biasa saja bila para remaja laki-laki menjauhinya! Yang paling menyakitkan bagi Asti dia dijauhi seperti penyakit menular. Padahal selama ini dia baik-baik saja!
"Sudah, Mbak! Jangan melow ah, Nanti aku disetrap Mas Satrio karena membuat istrinya nangis!"
Bisik Ninuk menenangkan hati Asti. Apalagi saat mereka video call dengan Bulek Ratih dan Lek No yang sedang santai di rumah.
Di meja depannya ada berbagai makanan juga buah yang dipetik di depan rumah.Ternyata itu buah jambu air yang dulu ditanam almarhum Mbah Harjo Winangun .
" Mau Asti, besok tak kirim , ya!" Kata Lek No, sambil mengangkat jambu air besar bewarna hijau tua itu dengan semburat kemerahan
" Bapak kok aku nggak ditawarin? Malah Mbak Asti. Aku kan anakmu, Pak!"
Ucapan Ninuk itu bagai potongan dialog dalam sebuah sinetron, mereka yang mendengarnya pun ikut tertawa. Lek No jadi geli sendiri.
"Siapa yang bilang kamu anak tetangga, Nuk? Bapak nawarin Asti takut dia ngidam dan kepengen. Lha, kamu mah nggak usah ditawarin langsung, mau. Maklum rakus ....Ha, ha!"
Benar juga, besok siangnya Lek No dan Bulek Rati datang. Padahal baru sore nanti, Satrio mau menjemputnya.
Sepasang suami istri itu tak diragukan lagi, sangat sayang pada Asti. Rumah dinas Satrio yang tidak terlalu besar itu jadi lebih ramai dengan kehadiran mereka.
Apalagi Bude Prapti sudah menyiapkan masakan istimewa, tongseng ayam. Berhubung Asti sedang hamil, makanya daging kambing diganti dengan daging ayam.
__ADS_1
Ternyata pertemuan Asti dengan keluarganya yang datang dari desa itu sedikit demi sedikit mulai menghapus rasa duka di wajahnya.
Bulek Ratih pun banyak memberi pesan agar Asti harus menjaga kesehatan diri dan janinnya. Kini wanita itu tidak terlalu cemas, sebab ada keluarga dari Satrio yang menjaga keponakannya ini.
Malah, Lek No yang berdiskusi pada Satrio tentang pengelolaan uang hasil sawah dan kebun. Satrio tidak keberatan kalau sebagian uang itu digunakan Lek No untuk membiayai kuliah Ninuk. Gadis remaja itu sudah mempunyai tujuan yang nyata dalam mencapai masa depannya.
"Lihat dulu, Lek ,Nilai ujiannya! Terus cari kampus yang masih di Jawa Tengah aja, Lek! Jangan-jangan dia nanti keterima kuliah di Papua, mau naik sapi ke provinsi itu!"
"Ya, ampun Mbak Asti, meremehkan aku banget! Aku juga nggak bodoh-bodoh banget di kelas. Mungkin males sedikit ya, iya!"
Aduh jawaban absurd Ninuk kontan mendapat ledekan dari Asti dan Satrio.
"Cie, cie yang kompakan! Mentang-mentang suami istri, nih. Ya!"
"Iri? Bilang bos!" ucap Asti lagi.
Ketawa mereka makin meledak. Ninuk yang manyun. Tadinya dia sedikit senang dan bahagia, karena ada biaya untuknya melanjutkan pendidikannya. Tapi berat juga, kalau sampai dia tidak dapat bangku di PTN di Jawa Tengah.
Sebab, ribuan murid-murid yang sekarang duduk di kelas 12 baik SMA dan SMK pun punya impian yang sama, lulus ujian Nasional dan bisa mendapatkan kursi di perguruan tinggi Negeri dengan berbagai jalur.
"Pak, boleh nggak kuliah di swasta?" tanya Ninuk lagi.
Kini Satrio yang ngakak geli."Lho jadi pesimis. Kalah sebelum berperang!"
"Yah, kan masuk perguruan tinggi negeri nggak gampang!"
"Bayar sendiri kuliahmu!" Ujar Lek No kalem.
"Kok jadi ngancem...."
"Sudahlah, Ninuk. Selesaikan ujian akhir dulu. Baru pikirkan kuliah, ya. Nanti Mbak akan cari cara untuk membayar kuliahmu kalau nggak dapat PTN."
Semua menahan napas dengan janji Asti. Dia juga dulu sangat berharap banyak dapat kuliah, bekerja dengan ijazah sarjana dan keluar dari Desa Sendang Mulyo. Walaupun jalan hidup kita berbeda dengan yang diinginkan, setidaknya pernikahan Asti telah mematahkan rumor tentang kesialan dirinya karena kakek dan ayahnya telah melanggar mitos itu demi kemajuan desa mereka!
__ADS_1