Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 205. Demi apapun Juga


__ADS_3

Kehebohan pagi di rumah Asti sudah mulai terasa. Di dapur sudah ada Mbak Ning, Bu Jum dan Putri. Mereka padahal sudah menyiapkan sarapan yang cukup mudah diterima oleh orang- orang di rumah ini. Nasi goreng komplit dan ceplok telor. Semua sudah tertata rapi di atas meja makan.


Para ART itu sedang menyiapkan makan siang untuk para pekerja di lahan sebelah. Sebab mereka semua akan pergi siang ini untuk mengikuti jalannya sidang kedua atas kasus Almira. Mereka semua sudah cukup puas ketika melihat wajah pucat Mbak Almira itu yang mendapat banyaknya tuntutan yang diajukan Joko kepada wanita itu pada sidang pertama yang terjadi hampir 2 Minggu yang lalu.


Bahkan Joko tidak mempedulikan keadaan Almira yang sudah hampir pingsan. Berbagai bukti diberikan oleh Pak Mahendra Suwondo sang pengacara handal itu di pengadilan yang akan menjerat Almira dengan tuntutan hukuman kurungan penjara. Dari kasus yang viral itu saja, semua orang yang hadir di persidangan itu jadi merasa marah terhadap perbuatan atas Almira terhadap Asti.


Apalagi ada video penjelasan dari sang dokter yang menangani keadaan Asti yang sangat labil. Bahkan wanita itu diprediksi akan melahirkan bayinya secara prematur. Walaupun sudah bed rest. Semua karena tekanan berat itu dialami Asti sejak kandungannya berusia 20 bulan.


Belum lagi suara keras dan penuh dendam Almira saat mencaci maki Asti. Bahkan wanita itu semakin tidak peduli ketika Asti tersadar dari pingsannya, dan mendengar semua kebohongan demi kebohongan dari Almira yang memang berusaha menghancurkan pernikahan Asti dengan Pak Leon.


Terlihat di video itu wajah pucat Asti dalam keadaan tak berdaya... Berbagai selang menggantung di sisi ranjang, tempat dia terbaring. Sebab dari alat-alat itulah yang membantunya untuk bertahan dan tetap hidup. Mulai dari selang infus, masker oksigen di mulutnya, dan bunyi beberapa mesin di sampingnya ...Sebab Asti banyak berharap agar dia nanti akan dapat melewati semua ketidakberdayaan dirinya, demi melihat Almira membayar semua hutang dari hasil kekejian hatinya itu.


" Pada mau kemana ini. Kok, sudah ramai dan rapi ?" tanya Mas Adam yang baru datang... Dia ada keperluan dengan Pak Leon. Jadi sengaja pagi-pagi datang ke rumah ini.


Ketiga wanita yang tadi berjibaku di dapur akhirnya menghentikan kegiatan mereka... Sarapan sudah tersedia... Namun Mbak Ning tetap akan menyediakan makan siang untuk orang-orang yang bekerja di lahan sebelah. Mereka para pekerja yang direkrut Mas Adam untuk membuat membuat pagar sementara yang terbuat dari seng. Pagar itu akan dibuat di sekeliling lahan yang sudah rata karena pohon - pohon sudah ditebang dan dicabut akar kuatnya.


Guna pagar adalah agar lahan itu aman dari gangguan orang -orang yang tidak berkepentingan. Mereka Juga nanti akan membuat bedengan besar sebagai gudangnya, tempat menyimpan berbagai bahan-bahan pembangunan rumah... Biasanya barang- barang yang cukup mahal dan berharga sangat mudah diincar dan dicuri orang yang pandai memanfaatkan keadaan. Sebab di bedeng gudang itu disimpan berbagai alat - alat bantu pembangunan, bahan untuk pondasi rumah dari potongan baja dan besi sampai tumpukan semen dan yang lainnya.

__ADS_1


Sebuah bangunan bedeng lain juga disiapkan untuk pekerja beristirahat dan tidur. Bedengan itu dibangun di dekat musholla tua yang sudah jarang digunakan warga setempat karena sudah hampir rubuh. Jadi Leon akan memperbaiki kamar mandi mushola itu untuk keperluan MCK para pekerja bangunan yang tinggal di sana.


Nanti Pak Sembodo yang akan diminta Leon untuk menjadi pengawas keamanan lahan itu. Setelah pak RT menyelesaikan pekerjaan utamanya di proyek yaitu menyiram tanaman penghijauan dan tanaman hias di taman perumahan tahap 1.


" Kami mau menghadiri sidang di Solo!" Jawab Mbak Ning. " Kasihan Mbak Asti, diteror terus dengan teman dan sahabat Almira... Padahal hanya dimanfaatkan saja untuk membalas sakit hatinya kepada Mbak Asti saja."


Ucapan Mbak Ning itu terasa bagai sebuah tamparan keras di pipi pria tampan dan pendiam itu. Mas Adam terdiam. Tadinya pihak keluarganya sudah berniat mau membantu Almira dengan kasusnya. Setelah orang tuanya datang ke rumah Keluarga Mas Adam... Mereka bersedia meminjamkan sejumlah uang untuk membayar jasa seorang pengacara untuk membantu urusan Almira di pengadilan di Solo. Tetapi Pak Haji Anwar Zahid melarang niat baik kerabatnya itu... Setelah beliau mengetahui kalau yang membawa kasus Almira ke pengadilan adalah keluarga Asti, yaitu Joko.


Mereka semua warga di Sendang Mulyo dapat merasakan kesedihan, sakit hati dan putus asa yang dirasakan Asti karena tindakan Almira itu. Makanya dalam hitungan hari saja, seluruh warga desa, mengutuk keras tindakan Almira yang videonya masuk ke sebuah akun media sosial.


" Ruang sidangnya hampir penuh, Mas. Tetapi kami sebagai bagian dari keluarga Mbak Asti diprioritaskan untuk masuk lebih dulu... Saya nggak tahu, siapa yang memberi tahu orang-orang itu untuk datang ke sana. Bahkan ada wartawan yang datang juga untuk meliput berita itu!" Jawab wanita itu.


Masakan yang terdiri dari sayur, lauk pauk, sambal dan pelengkapnya itu rencananya untuk makan siang para pekerja di proyek pembangunan rumah sebelah. Mbak Ning melarang Asti memasak makanan yang begitu banyak. Sebab Qani sekarang akan sulit ditinggal agak lama karena sudah merayap ke mana-mana. Jelas itu sangat berbahaya bila tidak diawasi oleh orang dewasa.


Dari depan, Dimas sudah datang membawa mobil Inova... Ternyata dia tadi menjemput Bulek Ratih dan Lek No lebih dahulu dari desa...Kali ini Bulek Ratih mengajak Akbar. Di rumah ini masih ada Mas Danu dan Rifki, nanti mereka yang akan membantu menyiapkan makan siang untuk para pekerja tersebut.


Qani menikmati kebersamaan dengan ibunya itu, seharian ini. Bayi mungil itu bisa bermanja-manja dengan Asti, tanpa diganggu oleh kerja sang kakak. Bahkan bersikap sangat manis. Saat disuapi nasi tim campur, dia makan dengan lahapnya.

__ADS_1


Leon hanya datang sebentar ke sidang pengadilan. Sebab dia juga ada banyak urusan pekerjaan di kantornya. Almira pun didampingi oleh pengacara muda, tetapi tampaknya pria itu terlihat kurang berpengalaman. Karena pengacara muda itu harus berhadapan dengan seorang Mahendra Suwondo, yang jam terbangnya cukup tinggi dan sangat andal di bidangnya... Semua kasus yang ditangani selalu menang dalam persidangan.


Mbak Ning, Bu Jum dan Putri sangat menikmati acara sidang di pengadilan di kota itu. Layaknya mereka menonton salah satu bagian dari cerita di sinetron di TV kesayangannya mereka.


Padahal pada umumnya, sebagian orang menganggap kalau jalannya sebuah sidang di pengadilan itu agak membosankan. Selain juga melelahkan, karena lama dan memerlukan banyak pembuktian dari saksi juga data. Semua itu upaya itu diharapkan agar Halim dapat menjatuhkan hukuman yang sesuai apabila tergugat dinyatakan bersalah.


Sesekali Almira menatap wajah para anggota keluarga Asti yang duduk di samping kirinya. Walaupun dia tidak melihat Leon dan Asti ada di sana.


Putri takjub, dengan berbagai bantahan dari pengacara Mbak Almira itu, yang berusaha mengelak dari segala tuduhan. Tetapi selalu dapat saja dibuktikan oleh Pak Mahendra Suwondo dengan lengkapnya data yang valid dan sah. Sampai pengacara muda itu terdiam dan hampir putus asa.


Sidang semakin memanas. Bahkan pengunjung sidang sebagian sudah condong kepada pihak penggugat. Sebab terlihat jelas di sana. Perbuatan Almira itu berdasarkan motif yang sangat jelas untuk membalaskan dendam kepada Pak Leon untuk menghancurkan rumah tangganya.


Keputusan hakim telah dibacakan pada sidang berikutnya. Almira dijatuhi hukuman kurungan penjara 8 bulan. Lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta setahun kurungan penjara, agar Almira dapat merenungkan segala kesalahannya. Bahkan pihak keluarganya pun sudah semakin pasrah. Tak bisa berbuat apa - apa.


Di sidang pengadilan terakhir itu hadir Pak Leo, Pak Cakra dan Joko. Orang-orang yang bekerja di rumah Asti, sudah cukup puas, setelah dua kali berturut-turut menghadiri sidang itu. Apalagi ada akun gosip yang menyiarkan hasil keputusan sidang. Katanya Almira sudah jatuh tertimpa tangga pula di pengadilan itu.


Menurut Asti, selama ini, Almira tidak mau belajar dari kesalahannya. Malah dia menghimpun sekutu untuk menyerang Asti kembali... Padahal Asti adalah korban dari segala perbuatan Almira... Sampai saat ini dia berusaha bertahan. Hanya orang-orang di sisinya saja yang sudah gerah dengan kelakuan Almira. Mereka yang menyeret Almira masuk penjara.

__ADS_1


__ADS_2