Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 152. Bertemu Kerabat Baru


__ADS_3

Kamar tidur Leon berada di lantai atas dari bangunan rumah megah bergaya klasik Eropa ini. Di Lantai dua itu, memang khusus di buat untuk kamar-kamar tidur khusus anggota keluarga Basuki Murti menginap. Selain mempunyai 3 orang anak, mereka mempunyai 5 cucu. Tiga cucu dari anak Mbak Mesya, kakak sulung Leon. Dua dari anaknya Mbak Alya atau panggilan dari Viola.


Sedangkan untuk tamu menginap, mereka mempunyai paviliun tersendiri. Bangunannya ada di sisi rumah utama. Paviliun itu jadi juga mempunyai 3 kamar tidur. Juga dilengkapi dengan dua kamar mandi di luar dan mempunyai ruang tengah yang multi fungsi. Bisa digunakan untuk menerima tamu ataupun ruang istirahat dan bersantai.


Di sebelah kamar tidur Leon, ada kamar bayi atau kamar tidur untuk anak. Tetapi Asti masih tidak tega, kalau anak bayinya harus tidur sendirian di kamar yang cukup besar itu.


Akhirnya dibantu oleh dua ART laki - laki yang ada di rumah ini. Satu boks bayi yang ada di kamar anak itu, dapat dipindahkan ke kamar Leon. Jadi Akbar bisa tidur lebih aman di boks itu.


Akbar semakin hari semakin dekat dengan Leon. Terkadang anak itu tak mau jauh dari ayahnya kalau sudah bersama Leon. Padahal Leon juga sudah cukup lelah bekerja setelah pulang dari proyek. Tetapi Leon dengan sabar selalu memenuhi permintaan Akbar untuk bermain dengannya. Sehingga Akbar menjadi sangat patuh dengan pesan, nasehat ataupun perintah dari ayahnya itu.


Makan malam di keluarga Basuki H. Murti akan diadakan di ruang makan utama pada pukul 19.00. Untungnya Akbar sudah kenyang minum susu tadi, jadi dia hanya makan sedikit dan tak terlalu membuat repot Bu Jum ataupun Asti untuk menyuapinya.


Di ujung meja makan yang bagus itulah, Leon duduk di kursi dan memimpin doa untuk mereka. Pria itu banyak mengucapkan syukur dengan kehadiran istri, anak dan Bulek Ratih sebagai bagian dari keluarganya. Apalagi pernikahannya itu juga menjadi obat bagi kesembuhan ayahanda.


Dua ART wanita cukup sigap melayani segala keperluan mereka di meja makan. Tadi Mbak Ning dan Bu Jum ingin makan saja di meja dapur, namun Ibu Anggun melarangnya. Sebab mereka sekarang sudah menjadi tamunya. Bagian dari keluarga Asti. Tanpa memandang apa pun kedudukan dan pangkatnya, seorang tamu wajib dihormati. Jadi kini mereka makan bersama di satu meja.


Ada banyak menu makanan yang tersaji di meja makan panjang itu. Dari makanan ala western seperti beefsteak, lasagna, sampai fried chicken dengan french fried. Sampai yang menu yang tradisional seperti ayam bakar Taliwang, gado-gado Betawi juga rawon Jawa Timuran lengkap dengan tauge kedelai dan telur asin rebus.


Asti melihat Leon dengan cepat menghabiskan dua potong daging beefsteak ukuran sedang dengan potongan kentang goreng... Ditambah satu potongan sendok besar lasagna yang menggoda karena ada paduan daging giling, saus bechamel dan keju itu dimasak di dalam open yang mengeluarkan bau harum.


Akbar menikmati kentang goreng dengan sedikit mayones. Sesekali Leon mengamati bayi itu yang duduk di stroller nya. Sebab kursi makan itu terlalu tinggi untuk Akbar duduk yang akan membuatnya terjatuh.


Seorang ART yang cukup berumur, mengambil alih Akbar. ketika melihat air minum di botolnya habis. Wanita itu membawakan air minum di gelas plastik dengan sebuah sedotan.


" Bilang apa, Dek?" Perintah Leo lembut


" Terima kasih!"


Bayi itu mendapat elusan lembut di kepalanya dari ART tadi. " Sama- sama."


Bu Jum membantu mengurus Akbar karena bajunya basah. Sampai Akbar minta ikut dengan pengasuhnya itu. Padahal mereka sudah bersudah bersusah payah memindahkan boks bayi di kamar Leon, agar Akbar dapat tidur bersama mereka.

__ADS_1


" Dedek nggak mau bobok sama, Ibu?" tanya Asti lagi untuk meyakinkan bayinya.


" Ndak!" Jerit Akbar. Terpaksa Leon yang mengambilkan tas pakaian Akbar yang ada di kamarnya di lantai atas. Sementara Asti membujuk Akbar yang mulai menangis untuk dibawa ke paviliun.


Tidak tega, Asti membiarkan Akbar tidur dipeluk Bu Jum. Begitulah... kalau anak itu berada di tempat yang baru. Akbar merasa tak aman. Jadi drama yang dimunculkannya bermacam-macam. Dia akan mencari Bu Jum. Sebab sehari- hari Akbar merasa aman bersamanya, mengurus semua keperluan, juga memberi kasih sayang dan perhatian.


Setelah dibaringkan di ranjang, barulah Akbar mulai tertidur. Sudah pukul 20.00. Jadi jam tidurnya sudah terlewat satu jam. Pantas dia sedikit agak rewel.


Leon sedang ada di balkon ketika Asti masuk kamar itu. Tentu suaminya tidak mendengar ketika Asti mengetuk pintu dari luar, dan membuka pintu kamar dari jati yang berat itu. Di luar suara angin menderu - deru dari pengunungan itu, merambah ke seluruh lembah.


" Mas, gerimis itu. Nggak mau masuk ke dalam?" Panggilan Asti dari pintu kamar, memecahkan lamunannya. Leon masuk ke dalam kamar sambil merapatkan jaket kaosnya.


Tentu pria itu lupa, kalau udara di daerah ini lebih dingin suhunya dibandingkan dengan Semarang kota yang lebih dekat dengan daerah pantai.


Apalagi di proyek pembangunan, suhu udara sudah semakin panas saja. Walaupun daerah tempat tinggal Asti itu juga di dataran yang tidak terlalu rendah.Tetapi hampir sebagian tanah di sana mengandung kapur.


Tanah berkapur itu sangat cocok ditanami pohon jati. Jadi tanaman itu tumbuh subur di mana - mana. Di halaman rumah, di pinggir jalan ataupun di kebun. Sehingga masyarakat di sana banyak memanfaatkan daun jati sebagai pembungkus makanan atau untuk pembungkus dalam pembuatan tempe tradisional. Jadi harga daun pisang di sana lebih mahal daripada daun jati.


Setelah panen padi selesai, para petani itu harus berpikir tepat untuk menggunakan lahan sawah yang mengering itu untuk bertanam palawija... Seperti Lek No yang menanam kacang tanah, atas anjuran dari seorang penyuluh pertanian.


" Akbar nggak mau tidur di sini?" tanya Leon.


" Anak Bu Jum, dia!" ujar Asti agak sedikit kecewa.


Biasanya Akbar selalu dekat dengannya, walaupun ada Bu Jum. Apalagi ini, di tempat yang jarang dia datangi. Rasa tidak nyaman Akbar itu mungkin berasal dari diri Asti, sejak dia hamil besar dan bayi itu lahir.


" Anak pintar, dia! Pasti Akbar mau kita segera memberinya seorang adik!"


" Maumu, itu. Mas! Bayi tidak hanya dikandung dan dilahirkan. Tetapi kita perlu mengurus semua keperluannya, dari kebutuhan sehari- hari, kasih sayang, perhatian juga biaya pendidikannya..."


" Siap, sayang! Mau berapa anak? Kalau aku pengen satu anak laki- laki lagi dan dua anak perempuan! Impas kan?"

__ADS_1


Jawaban konyol Leon malah membuat Asti gundah. Tak peduli dengan bujukan suaminya itu. Asti segera memejamkan matanya. Dia cukup lelah dalam perjalanan tadi siang. Walaupun kedudukan hanya sebagai penumpang saja.


Sepertinya Asti mempunyai jam khusus di tubuhnya, sehingga terbangun tepat pukul 3 dini hari. Dia agak lama mengutak-atik air kran di kamar mandi untuk memberinya air hangat. Saat pertama kali dia membuka kran tadi, air yang akan digunakannya untuk berwudhu sudah seperti air es di dalam kulkas. Dia sedikit berjingkat karena kedinginan.


Leon juga ikut terbangun. Karena tubuh hangat yang dipeluknya sejak semalaman sudah tidak ada di sisinya. Pria itu masih belum terlalu rutin untuk menjalankan sholat malam. Walaupun Asti juga mengetahui kalau Leon sudah mulai tepat waktu untuk menjalankan sholat fardhu yang lima waktu itu.


Asti hanya berharap pria itu nanti akan dapat membimbing Akbar dan adik -adiknya yang akan dilahirkannya nanti, dalam ilmu agama. Sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia selain kekayaan, pendidikan tinggi, juga nama baik. Sebab manusia dapat hidup bersahaja karena bercermin pada tuntunan agama, dan berakhlak mulia.


Baru saja selesai melipat mukena dan sajadahnya, wanita itu malah mendapat serangan pertama dari suaminya. Dengan mudah dia ditaklukkan oleh Leon karena rayuan dan bujukannya yang tak pernah gagal untuk menaklukkan wanita yang paling pendiam dan patuh seperti istrinya ini.


Pagi harinya, samar- samar Asti mendengar suara tangis Akbar di depan pintu kamarnya.


Yah, rumah orang tua Leon ini masih asing ini dan membuat anaknya tidak nyaman...Di depan pintu berdiri Bu Jum dengan Akbar di gendongannya yang sedikit agak berantakan.


" Anak ibu, kenapa ini?" tegurnya lembut.


Ah, mulut Akbar yang membuka dan menutup tak jelas itu hanya membuat Asti tertawa. "Akbar sudah mandi, Bu Jum?"


" Sudah, Mbak. Tetapi dia tadi guling- guling di tempat tidurnya Yu Ratih, nggak bisa dibujuk. Minta cari Ibu!"


" Tinggalkan Akbar di sini aja.. Bu Jum, bisa kembali ke paviliun. Nanti biar Mas Leon yang kasih tahu ke sana, acara apa saja yang kita lakukan siang ini!"


" Permisi, ya. Mbak!"


Akbar masih menangis di pelukan ibunya. Tak lama bayi gemoy itu tertidur walaupun masih sesekali terdengar sisa isaknya. Segera dibaringkan anaknya itu, sambil Asti menepuk-nepuk pantatnya.


" Lho, ada Akbar di sini?" tanya Leon heran ketika dia keluar dari kamar mandi.


" Tadi dia ngamuk cari aku, Mas!"


Bayi itu terbangun karena diciumi Leon dengan gemas. Akbar berguling sambil memeluk ayahnya itu. " Mau bobok sama ayah, mm?"

__ADS_1


Hanya ada anggukan di kepala kecilnya. Asti meninggalkan kamar tidur itu, setelah melihat mereka benar-benar tertidur lagi. Apalagi pagi ini hujan gerimis datang. Dari jendela kamar tampak kabut tipis menutupi beberapa daerah yang tinggi di puncak gunung sana. Sejuk dan dingin.


__ADS_2