
Hari ini sudah hampir pukul 14.00. Leon terpaksa kembali ke proyek. Percuma juga menunggu kepulangan Asti dari berbelanja perlengkapan untuk bayi. Sejak tadi teleponnya pun juga tidak diangkat setelah dihubungi beberapa kali. Bahkan tak ada notifikasi dari M-banking di hapenya... Jadi istrinya itu berbelanja perlengkapan bayinya dengan menggunakan uangnya sendiri.
Sendirian di kantornya, Leon jadi mulai merenungkan semua kejadian dalam sepuluh hari ini. Tampaknya dia harus berbicara dari hati ke hati pada istrinya itu dan lebih banyak bersabar . Di sinilah yang terlihat peranan Almira yang pandai memancing di air yang keruh.
Dulu, Mas Adam yang mengenalkan mereka dengan wanita muda yang bernama Almira itu. Saat itu mereka bertemu di warung tenda Joko. Selain Adam yang mencintai tunangannya itu, Leon pun bisa menilai kalau Joko pun ada rasa tertarik pada sosok gadis cantik bernama Almira itu.
Sayangnya, Almira adalah gadis muda yang penuh impian. Tentu seorang pengusaha muda seperti Joko yang membuka warung tenda di pinggir jalan, bukanlah gambaran suami ideal untuknya di masa depan. Padahal Joko juga seorang sarjana yang kuliah di PTS di Semarang dengan usahanya sendiri.
" Salam, saya Almira!" ujar gadis muda itu . Almira datang bersama Mas Adam. Leon tidak jadi mengulurkan tangannya... Sebab gadis itu berhijab unik itu malah menangkupkan kedua telapak tangannya di dada. Tanda tak mau bersentuhan dengan pria yang bukan muhrimnya. Suatu pemandangan yang lazim di daerah ini.
Sesaat Leon menatap cara gadis itu mematut diri. Pashmina yang dipakai untuk menutup kepalanya itu bergaya sorban , dengan anting-anting hias dijepit di dekat telinga. Gaunnya tunik hijaunya berpotongan tidak simetris. Berpadu dengan celana Palazzo dari tenun abu- abu hitam.
" Saya Leon!" ujar pria sambil mengenalkan nama dua asisten lainnya.
Saat makan itulah, mereka melihat Akbar digendong pengasuhnya menuju warung... Ternyata Wanita paruh baya itu sedang mencari Joko.
" Maaf, Mas Adam saya tinggal dulu. Kalau perlu apa pun. Bisa minta tolong sama Firman!" ucap Joko sopan.
Sebelum masuk rumah, Joko sempat meraih Akbar yang minta digendong. Padahal bayi itu sudah digendong pengasuhnya.
Gadis cantik dengan penampilan hijab yang modern dan sangat modis itu memang mempesona para kumbang di sini. Namun Leon memang menghargai kerja keras Almira yang sangat profesional di bidangnya.
Pertemuan mereka itu dimulai dari cerita Leon tentang Akbar yang keluar dari halaman rumah depan dengan baby Walker nya. Begitu pun cerita Mas Adam tentang Asti dan Joko yang merupakan tetangga Omnya di desa Sendang Mulyo. Sampai mengalir cerita Almira yang berhasil mendadani rumah Asti itu.
Lagi- lagi Almira mengacuhkan cerita Mas Adam, tentang keluarga Asti dan Joko yang hidup berkecukupan di desa karena mempunyai sawah dan kebun yang luas.
Justru Almira sendiri yang selalu menceritakan tentang sosok ibunya Akbar itu kepada Leon, pada beberapa pertemuan mereka selanjutnya. Sebab bayi lelaki yang baru belajar berjalan itulah yang mempertemukan mereka. Apalagi Asti terlihat sangat cantik dan bersahaja dengan kesederhanaannya itu.
Kerja sama itu tak sengaja dilontarkan Pak Cakra. Biasa, pria itu memang jarang berbicara bisa secara bebas dengan para wanita muda di sini. Selain adat istiadat dan kesopanan yang dijunjung tinggi para wanita desa. Mereka juga sangat membatasi diri dengan pergaulan dengan pria yang bukan muhrimnya. Termasuk Asti. Wanita cantik itu tetap sopan dan ramah, tetapi sering menundukkan wajah bila berbicara dengan pria lain.
***
__ADS_1
Agak malas- malasan Leon balik ke rumah. Badannya sudah berdebu, saat mengawasi pengecoran bangunan berlantai dua di sana. Sebagai insinyur teknik sipil , Leon banyak menyerap ilmu di berbagai proyek pembangunan karena sebelumnya bekerja pada perusahaan developer besar di Jakarta.
Terlihat Asti, Bulek Ratih dan Bu Jum ada di halaman samping. Asti sedang menikmati sekotak serabi Notosuman yang gurih. Berbagai panganan khas kota Surakarta itu dibelinya. Walaupun dia tidak ngidam karena panganan itu sangat orisinil. Tidak ada dijual di kota lain, karena akan menghilangkan ciri khasnya.
Bu Jum berinisiatif menyiapkan teh manis buat majikannya itu. Tadi pagi Bulek Ratih datang dan mengusulkan acara belanja itu untuk menghibur duka lara hati keponakannya itu.
Tak banyak yang mereka beli. Sebab baju bayi milik Akbar pun masih ada. Asti selalu membeli baju bayi dulu itu dengan kualitas yang baik sehingga menjaga kenyamanan saat dipakai si bayi juga lebih awet.
Bulek Ratih malah yang yang kalap berbelanja ketika dia melihat gaun- gaun bayi lucu dan cantik. Gaun mungil itu yang dipajang di atas etalase toko di salah satu toko yang menjual perlengkapan bayi. Wanita itu membeli dua gaun ala princess warna pink dan merah. Juga membeli asesorisnya yang senada warnanya merah dan pink, seperti bando, sepatu dan kaos kaki bayi. Semua itu dibayar Bulek Ratih dari uang pribadinya. Dia bersikeras tidak mau diganti uang yang telah dikeluarkan itu, dengan dalih untuk memberi hadiah bagi cucu perempuan itu yang akan lahir tak sampai dua bulan lagi.
Sebab selama dalam masa kehamilannya itu, Asti lebih suka memberinya uang tunai kepada Bulek Ratih sekedar untuk belanja dapur. Dulu Asti yang sering membelanjakan Bulek Ratih itu sembako untuk keperluan di dapurnya kecuali beras. Sekarang A dua minggu sekali, Asti akan mengirimkan amplop yang dibawa Joko. Amplop itu berisi uang dari hasil tokonya, bukan diambil dari uang belanja dari uang bulanan pemberian Leon.
Pita akan berbelanja barang kebutuhan toko diantar Firman dan Kancil, dengan menggunakan mobil Asti. Mereka akan ke kota atau mengambil pesanan di pengusaha konveksi langganannya, di kabupaten sebelah.
Toko" Muslimah" sekarang semakin banyak menjual pakaian muslim untuk para remaja dan ibu-ibu muda. Malah bertambah koleksinya dengan variasi jaket, outer dan beberapa gaun pesta muslimah yang bagus dengan harga yang tidak terlalu mahal.
" Mas Leon, mau coba kue ini?"
Mereka semakin jarang duduk berduaan ataupun berbicara secara intim di kamar. Lebih banyak Asti yang menghindar. Semua urusan Leon diserahkan ke Bu Jum. Sebab gerakan Asti makin lambat dengan perut yang semakin besar.
" Yang, bicaralah! Kalau aku punya salah, tolong kasih tahu... " bisik Leon pelan. Perlahan Leon bersimpuh duduk di kakinya.
Asti tadi baru saja selesai sholat isya dan mengaji. Walaupun dia bersekolah umum dari SD sampai SMK, Sebisa mungkin dia menyerap ajaran agama itu dari Mbah Kung Winangun yang masuk pesantren sejak kecil. Beliau lah satu-satunya penerus Winangun di desa ini, yang diharapkan menggarap sawah dan kebun peninggalan leluhurnya. Padahal niat awalnya Mbah Harjo Winangun adalah menjadi pengajar di pesantren khusus pria itu, tempatnya menimba ilmu. Kalau bisa dia melanjutkan pelajarannya sampai ke tanah Arab atau Mesir.
" Istirahat saja, Mas. Besok kan harus kerja!" Elak Asti.
" Yang, apa hatimu sekeras ini?" pinta Leon lagi. Suaranya menahan getaran kesedihan
" Bisa, Sebab tidak ada maaf untuk perselingkuhan!" Jawab Asti datar. Tetapi dia memalingkan wajahnya saat dipandangi Leon dengan lebih teliti.
" Kamu mengira aku berselingkuh dengan Almira?" tanya Leon kaget.
__ADS_1
" Sudahlah, Mas! Kalian itu mau berbuat apapun di belakang saya sekarang. Terserah... Jangan kira saya hanya perempuan bodoh karena lahir di desa dan tidak bergelar sarjana! Malas, kalau kamu cuma selalu berkelit, pura-pura semuanya baik - baik saja. Lihatlah bangkai yang disimpan rapat pun akan terciumnya juga bau busuknya kalau disimpan lama-lama. Nanti kita tunggu sampai bayi ini lahir!"
" Maksudnya, apa ini. Asti?"
" Jangan pura-pura nggak tahu, Mas! . Almira sudah menerima tawaran pekerjaan itu kan? Selamat datang untuk si pelakor. Silahkan Mas menghancurkan pernikahan ini. Nanti semua akan kita urus dengan Ibu Imelda!"
" Asti, ada apa ini?"
" Buat apa Mas buka hape saya? Mau lihat curhatan Almira. Itu hanya sebagian. Dia sering telpon saya, dan banyak berharap pada Mas Leon! Nih foto - foto dia dengan Mas!"
Leon menyumpah keras. Memang terlihat di foto itu ada dia dan Almira di ruang kantornya. Tetapi wanita itu pandai memilih fotonya yang hanya sekilas berduaan saja dengannya. Padahal di ruangan itu juga ada suaminya dan Pak Cakra dan seorang pemilik satu rumah di sana.
Ternyata Pak Pram membawa salah satu sepupunya yang juga berminat untuk membeli rumah di sana. Tetapi rumah yang satu blok dengan rumah Almira sudah dipesan semua. Kecuali di dua blok lainnya. Sampai mereka melakukan negosiasi dengan pemilik rumah lainnya yang berminat dengan rumah yang dipojok jalan karena mau dibuat usaha. Jadi mereka bertukar tempat, agar saudara sepupu Pak Pram bisa bertetanggaan dengannya.
" Dengar Asti! Di ruangan itu tidak hanya ada saya dan Almira. Ada pak Cakra, suaminya juga dua orang pembeli rumah di unit satu. Mereka sedang bernegosiasi untuk tukar tempat!"
Agak kurang sabar, Leon membuka hape dan membuka foto- foto yang diambil Pak Cakra dua hari yang lalu untuk disertakan sebagai bukti atas kesepakatan mereka.
Asti tertegun. Benar ! masih di ruang kantor yang sama... Juga dengan pakaian yang sama itu, mereka berfoto bersama. Malah ada foto kedua pria bertandatangan dan mengesahkan perjanjian.
" Aku sudah nggak tahu lagi! Aku bisa gila ini... Mas Leon atau Mbak Almira yang berbohong? Jangan sakiti saya lagi. Saya menyerah..." Rintih Asti sambil berteriak tertahan.
Asti sudah tenggelam dalam tangisnya. Tubuhnya menegang tanpa dia sadari. Sampai Asti terpekik kecil merasakan sengatan nyeri di bawah perutnya. Semakin lama rasa sakit itu semakin mendera. Leon memeluk tubuh Asti yang mulai tergolek pingsan.
Pria itu berlari keluar kamar. Dia berhasil menemui Mbak Ning dan Bu Jum di halaman samping.
"Mbak Ning, Bu Jum , ayo ikut saya... Asti sakit!"
Kedua wanita tergopoh-gopoh mengikuti masuk kamar utama.
" Bu Jum, tolong siapkan pakaian ganti untuk Asti seperlunya... Nanti Bu Jum di rumah, sama jaga Akbar! Saya dan Mbak Ning akan membawa Asti ke rumah sakit!"
__ADS_1