
Leon sudah membawa mobilnya mencapai pusat kota Semarang. Kendaraan terlihat semakin memadati arus lalu lintas yang semakin ramai menjelang senja. Asti hanya memanjatkan doa agar sang Bapak Mertua mendapatkan pertolongan yang terbaik dari tim dokter yang menangani sakitnya saat ini.
Di halaman depan rumah sakit swasta terbesar di kota inilah, Leon memarkir mobilnya. Dimas segera berlari mendampingi majikannya itu. Asti berniat menyusui Qani yang mulai rewel karena kelelahan dalam perjalanan yang cukup memakan waktu yang agak lama.
" Kamu jangan kemana -mana dulu! Nanti aku telpon!" Pesan Leon tadi. Setelah dia mendapatkan informasi dari petugas di resepsionis.
Pria itu mau mencari informasi lebih lanjut tentang keberadaan ayahnya lebih lanjut. Namun karena daerah yang mereka tadi lewati adalah pengunungan, sehingga informasi yang disampaikan Mbak Mesya kurang jelas karena putus nyambung.
" Bu Jum, pegang hape aku dulu, ya! Aku gantiin Qani baju di kamar mandi" Pinta Asti.
Setelah digantikan pakaian dan dibasuh wajah dan tangannya, Qani baru terdiam. Wajah cantik dari bayinya yang mungil itu masih memandangi Ibunya dengan pandangan sedih.
" Sebentar, ya! Ayah tengok Eyang Kakung dulu...!"
Bayi itu hanya terdiam. Asti merapikan kain gendongannya agar Qani nyaman. Di depan lobi tampak Leon sudah menunggu kedatangannya bersama Dimas.
" Dim, ajak Bu Jum ke kantin, dulu ! Papa hanya boleh dijenguk satu orang saja di dalam kamarnya!"
Dimas dan Bu Jum berjalan ke kantin rumah sakit yang letaknya ada di bagian belakang bangunan utama.
" Papa nggak apa-apa, Mas ?" tanya Asti menyela karena rasa khawatir.
" Beliau sudah mendapat penanganan dokter yang paling tepat. Hanya harus banyak beristirahat dan pikirannya harus tetap tenang ! " bisik Leon sambil membawa Asti naik lift menuju ke ruangan tempat ayahnya akan menjalani opname untuk pemulihan kesehatannya.
Di ruang tunggu yang luas di lantai lima, ada beberapa kerabat dari pihak kedua orang tua Leon yang juga sudah hadir lebih dahulu di sana. Namun mereka masih belum dapat diperkenankan masuk untuk menjenguk si pasien oleh dokter yang menangani sakitnya Pak Basuki Murti ini.
Sampai ada sosok Mbak Mesya yang segera menyambut kedatangan Asti yang mengendong Qani. Di belakangnya berjalan Leon yang berusaha kuat dan tabah.
" Ayok? Papa nanyain terus cucunya yang paling kecil ini!" Ajak Mbak Mesya. Mereka berjalan menuju ke sebuah kamar perawatan yang ada di paling sudut.
__ADS_1
Terlihat di dalam ruang VVIP, Pak Basuki Murti terbaring lemah... Di sampingnya ada selang infus tergantung. Beliau membuka matanya ketika mendengar pintu kamarnya terbuka.
" Cucuku?" bisiknya tak percaya. Wajahnya tiba-tiba agak lebih bersemangat dan cerah.
Pria tua itu menatap haru ketika berhasil melihat wajah Qani yang memakai jaket dengan tudung kepala yang lucu . Bayi perempuan itu tersenyum pada sang kakek karena juga sangat mengenali wajah beliau. Sebab sering diajak Leon video call kalau sedang kangen dengan si Eyang.
" Qani agak capek... Tetapi nggak apa-apa demi melihat Eyang Kakung segera sembuh dan pulih kembali kesehatannya... Cepat sembuh, Eyang... Qani nunggu di rumah Eyang di Semarang!" bisik Asti. Membahasakannya dirinya sebagai Qani. Karena bayi berusia 8 bulan itu hanya berceloteh tanpa kita tahu artinya dari omongannya itu.
Jari kurus dan panjang milik Pak Murti itu membelai pipi Qani yang mulai membulat. Adegan itu membuat Mbak Mesya sangat terharu. Karena hanya Leon, anak lelaki satu-satunya dalam keluarga mereka, yang baru memberinya satu cucu yang masih bayi ini. Sedangkan dari kedua anak perempuannya, beliau sudah, mempunyai 5 cucu. Dua diantaranya sudah menjadi mahasiswa, sementara yang lain mulai bersekolah dari SD, SMP sampai SMA.
" Papa Istirahat dulu... Biar Asti dan Qani pulang dan istirahat di rumah... Besok pagi, bisa nengok Papa lagi, ya!" Bujuk Mbak Mesya.
" Kamu datang dengan Leon kan Asti?" tanya pria itu lemah
" Iya, Pah! Kami keluar dulu! " Pamit Asti.
Sebenarnya cukup mengkhawatirkan juga membawa bayi ke rumah sakit ini. Tetapi ini keinginan seseorang pasien, yang sangat merindukan cucu mungilnya, yang tinggal terpisah jauh darinya. Sehingga tidak setiap saat dapat bertemu. Ada Jarak yang memisahkan mereka .
Leon memunculkan wajahnya. Pria itu menatap agak sedih akan keadaan ayahnya yang sering sakit-sakitan. Hampir dalam waktu 5 bulan ini, Leon sudah bolak balik ke Semarang, setelah mendengar kesehatannya terus memburuk. Sudah banyak kerabat Keluarga yang lain, memberi usulan agar Pak Basuki Murti untuk dibawa berobat ke luar negeri. Tetapi pria tua itu yang lebih nyaman ditangani oleh dokter - dokter ahli jantung dalam negeri. Terutama yang bertugas di rumah sakit ini. Karena beliau sangat percaya pengetahuan para dokter Indonesia pun mengenai ilmu kesehatan juga juga sudah sangat maju dan modern.
Pak Ardi yang merupakan supir Mbak Mesya yang mengantar Asti, Qani dan Bu Jum ke rumah mertuanya. Sementara Leon akan berjaga di ruang tunggu bersama Mas Pandu, kakak iparnya. Mbak Mesya menempati sebuah ruang di kamar hotel letaknya berada di sebelah rumah sakit itu... Adik perempuannya, Alya dan suaminya sedang menggurus pendaftaran si Sulung yang berkuliah di negara Malaysia. Mereka baru saja berangkat kemarin. Jadi tidak bisa langsung menemui ayahnya yang sakit. Sebelum semua urusan si sulungnya terselesaikan di negara itu.
Mereka juga membutuhkan waktu yang agak lama atau untuk menggurus semua keperluan itu. Dari mencari membayar biaya kuliah, mencarikan apartemen yang paling dekat dengan kampus tempatnya kuliah. Mereka juga harus membeli berbagai keperluan rumah tangganya seperti perabot. Dari ranjang, kulkas kompor sampai B
Bahan makanan dan perlengkapan mandi.
"'Ya Allah! Asti , Qani! Kalian benar-benar datang! Leon tadinya mau berangkat sendiri paginya... Tetapi Papa sangat kangen dengan Qani!" Seru Ibu Anggun ketika menerima kedatangan menantu dan cucunya di rumah. Segeralah bawaan Asti diturunkan dari bagasi mobil. Yaitu tas besar berisi pakaian dan keperluan Qani, bayinya.
"Mama, istirahat saja... Besok kita akan ke rumah sakit menjenguk Papa! " Bisik Asti.
__ADS_1
Air mata kesedihan dan putus asa dari ibu Anggun menetes. Sekuat -kuatnya seorang istri, melihat keadaan sakit suaminya yang semakin memburuk, membuatnya semakin berpikir pendek. Takutnya Leon dan anaknya itu tak dapat lagi melihat keadaan Pak Basuki Murti yang sudah sangat parah.
Pria itu akhirnya mau di bawa dengan ambulance ke rumah sakit, setelah Leon memvideokan kepergiannya untuk ke Semarang bersama Asti dan Qani.
Lucunya, Ibu Anggun minta ditemani Asti tidur di kamar yang besar dan mewah itu. Jadilah Bu Jum ikut tidur di kamar itu dengan menggunakan kasur lipat yang digelar di lantai berkarpet bulu tebal.
Qani pun sudah terlelap setelah diganti lagi pakaian yang tadi digunakannya di rumah sakit. Bayi itu ditidurkan di samping Bu Jum. Takut bayinya terjatuh kalau ditidurkan di atas kasur spring bed super premium milik Ibu Anggun yang lebih mirip ranjang di hotel berbintang lima.
Di tengah malam, Asti terbangun. Seperti biasa dengan mengerjakan beberapa sholat sunah. Banyak doa yang dia panjatkan di dini hari itu. Terutama meminta kesembuhan kepada Allah SWT, agar sakit bapak mertuanya dapat diangkat dan diberi sehat kembali. Pria tua dulu yang langsung menerima kehadiran dirinya dengan tangan terbuka untuk menjadi bagian dari keluarga Murti.
" Asti?" Panggil ibu Anggun pelan.
" Ya, Ma!"
" Jangan tidur dulu... Tunggu Mama juga mau sholat Tahajud!"
Si Ibu mertuanya itu juga melaksanakan sholat di sepertiga malam. Dia tampak khusyuk memanjat segala harapan dan keinginannya itu kepada Allah SWT.
Setelah menyelesaikan sholatnya, Ibu Anggun memeluk tubuh menantunya itu. Wajah sedihnya sudah berganti dengan keikhlasan.
" Papa mendengar soal Leon yang menuntut Almira untuk masuk penjara. Perempuan sinting itu mengganggu rumah tanggamu lagi, ya?"
" Itukah yang membuat Papa jatuh sakit lagi?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan lemah." Mungkin, Papamu malah mencemaskan keadaanmu Asti. Pandu sudah dari awal tidak suka Cakra dan Leon membawa gadis itu ke kantor mereka di Semarang dan tergabung dalam tim kerja mereka."
" Asti juga nggak menghadiri sidang itu, Ma! Agak malas melihat wajah wanita cantik itu yang merasa tidak bersalah dengan segera perbuatannya...Malah mempengaruhi teman baiknya dengan cerita rekaan tentang saya yang menjadi penghalang bagi hubungannya dengan Mas Leon!"
Ucapan Asti membuat Ibu Anggun memeluknya rapat. " Yang membuat saya kasihan, hanya pada kedua orangtuanya. Mereka orang desa yang sederhana dan sangat membanggakan anaknya itu.
__ADS_1
Mereka sudah sangat malu dengan video tentang anaknya yang sudah viral itu , yang berakhir dengan perceraian Almira dengan suaminya itu. Ternyata, Almira belum kapok juga! Dia mencari tahu tentang aktivitas kegiatan bisnis Mas Leon dari kerjasama bisnis dengan tunangan sahabatnya itu! Jadi tambah rame ketika keluarga datang ke rumah dan bersikap meremehkan Asti!"