
Mbak Tia menatap nanar pada wajah - wajah orang yang mulai berdatangan di pos jaga keamanan ini... Dia mengenali salah satu dari mereka adalah, Pak Suwandi yang merupakan tetangga depan rumah, yang menjadi ketua RT di lingkungan ini. Sedangkan ketiga pria yang lainnya, sepertinya mereka adalah petugas yang berwajib hanya tidak berpakaian dinas. Sebab terlihat jelas dari penampilan mereka yang bertubuh tinggi tegap dan cukuran rambutnya yang pendek dan rapi.
" Kamu jual ke siapa barang- barang milik Ibu Anggun yang kamu curi, hah?" tanya Pak Sadli lagi.
"'Saya nggak jual, Pak. Kata Mbak Sanem, perhiasannya sudah diberi nomor dan akan mudah dilacak kalau di jual di toko emas mana pun!" Ujar Mbak Tia terus terang.
" Sekarang mana semua perhiasan itu, kalau hitungannya tidak lengkap... Biar Pak Sugeng yang menyeret kamu ke kantornya dan masuk penjara!" Tantang Leon membuka suara.
Wajah Mbak Tia terkesiap. Ada kesan rasa takut juga, karena anak majikannya itu selama ini terlihat lebih peduli dengan keadaan ayahnya yang sedang sakit.
Apalagi Mbak Tia tahu dari cerita orang-orang rumah. Termasuk dari Ibu Anggun sendiri, kalau Pak Leon menikahi Mbak Asti yang pada saat itu sudah berstatus janda muda dan beranak satu anak pula.
Betapa Mbak Tia, sangat iri pada wanita itu, saat melihat kedatangan wanita itu pertama kalinya datang ke rumah mertuanya ini. Dipandanginya wajah cantik Mbak Asti itu, tetapi penampilannya begitu sederhana. Tidak sesuai dengan derajat tinggi Pak Murti dan kekayaan keluarga ini. Sehingga Mbak Tia semakin memandang rendah pada istri dari anak bungsu majikannya itu. Juga merupakan satu-satunya anak laki-laki dari pasangan suami-istri Basuki Murti.
Sampai Mbak Tia mempunyai pemikiran tidak baik, kalau dengan penampilannya yang cukup keren dan modern dengan umur yang sebaya dengan istrinya Pak Leon itu, pasti dia dapat menarik perhatiannya lelaki itu.
Tampaknya semua orang mulai geram dengan sikap diam dan tak peduli Mbak Tia. Sampai Pak Sugeng memaksa pembantu rumah tangga tetangganya itu menunjukkan tempat di mana Tia menyembunyikan semua barang dari hasil pencurian itu. Dia dikawal dengan Pak Sadli, Muji dan Pak Suwandi, masuk kembali ke dalam rumah utama milik keluarga Murti dan menunju ke kamar para ART yang ditempatkan di area belakang rumah besar itu.
Dari berdirinya di pos jaga depan, Leon masih menelpon Mbak Mesya, agar dapat menahan lebih lama lagi sang ayah di rumahnya. Sampai perkara Mbak Tia ini dapat diselesaikan secepatnya.
__ADS_1
Kebetulan di rumah itu juga ada Mas Pandu, yang belum berangkat ke Bandung untuk memulai pertemuannya dengan pebisnis di kota Paris Van Java itu esok hari. Jadi mereka ngobrol lebih lama dengan lebih banyak waktu luang di ruang tamu rumah Mbak Mesya itu yang tertata indah, bagus dan mewah.
Asti masih berada di kamarnya karena sedang menyusui Qani. Bayinya itu sudah mulai mengantuk. Tetapi Bu Jum izin segera pergi beranjak menuju pos jaga di depan rumah. Dia begitu antusias untuk menonton pengeledahan yang akan dilakukan pak Sadli dan orang-orang itu terhadap terhadap Mbak Tia. Bu Jum memang paling menyukai adegan seperti ini untuk dijadikan tontonan sekaligus pelajaran hidup baginya.
Mbak Siti pun ikut hadir, karena ingin lebih banyak tahu kecurangan yang dilakukan Mbak Tia selama ini. Padahal wanita itu baru bekerja tak sampai 6 bulan di rumah ini. Tetapi sudah sangat profesional dalam melakukan tindakan pencurian di kamar Ibu Anggun. Bahkan dapat membuat kunci duplikat untuk membuka lemari yang dibuat khusus untuk seluruh koleksi perhiasan Ibu Anggun.
Ternyata sebaik-baiknya manusia menyimpan bangkai, akhirnya akan tercium juga bau busuknya. Kalau kita melakukan sebuah kejahatan, akhirnya harus menerima konsekuensinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita itu. Mungkin mendapat rasa malu, dan yang lebih lagi mendapatkan tuntutan hukuman penjara!
Ibu Anggun dan Bulek Ratih berdirinya tertegun di sana. Beberapa barang milik pribadinya yang dicuri Mbak Tia sudah dikeluarkan dari tas kresek besar itu. Tas warna hitam itu biasanya digunakan untuk menampung sampah yang agak banyak...Tetapi dijadikan penyamaran oleh Tia untuk menyembunyikan semua hasil jarahan di kamar pribadinya itu.
Benda - benda itu sudah dikeluarkan dari kantong plastik itu diletakkan di atas meja. Di sana ada dua tas wanita mahal model terbaru, dompet kulit bermerk, beberapa balzer formal yang merupakan keluaran butik terbaik di kota ini. Juga ada satu kotak perhiasan emas berisi gelang, giwang dan beberapa cincin dengan mata dari berbagai batu mulia yang sangat bagus modelnya.
" Kalung dengan liontin merahnya mana, Mbak Tia ? " tanya Ibu Anggun mulai gusar. Sebab koleksi itu yang paling sering dipakainya kalau ada acara di luar rumah. Namun sudah beberapa minggu ini, Ibu Anggun belum menemukannya. Dipikirnya benda itu terselip ke kotak perhiasan lain yang tersimpan di laci lemari itu.
Bagi wanita itu, perhiasan berupa kalus emas dengan liontin batu merah itu seperti menyimpan kenangan tersendiri ... Sebab sejak saat itu kesehatan suaminya semakin terus menurun... Sehingga Ibu Anggun yang lebih sering ke luar rumah sendirian untuk menghadiri berbagai acara undangan dari kolega suami, teman bisnis atau kerabat dari keluarga mereka.
" Maaf, Bu... Sudah saya jual!" ujar Mbak Tia, terbata - bata.
Perhiasan itulah yang paling mahal yang dapat dia curi kamar itu. Pada saat itu Ibu Anggun belum sempat menyimpannya. Hanya diletakkan di atas meja riasnya. Sebab beliau keburu panik saat, Pak Basuki mengalami sesak napas yang hebat karena sakit jantungnya kambuh lagi pada malam itu! Paginya, saat Mbak Tia membersihkan kamar Ibu Anggun, dia melihat kalung itu tergeletak begitu saja di meja rias. Segera diraihnya kalung itu dan disimpan di saku celana jeans selutut nya. Setelahnya dia menyelesaikan pekerjaan mengepel lantai dengan cepat dan keluar dari kamar itu
__ADS_1
" Kamu itu sangat jahat, ya. Tia! Saya kasihan dengan ceritamu itu. Tetapi kamu mampu memanfaatkan kebaikan saya... Pak Sadli bawa dia ke kantor polisi saja! Kalung saya itu harganya puluhan juta, lho ! Main jual saja!" Kata Ibu Anggun semakin emosi.
Pak Sugeng juga sudah mendapatkan nomor telepon Mbak Sanem yang sering disebut namanya oleh Mbak Tia.. Justru pembantu Mbak Mesya sudah datang dengan membawa motor matik. Wajah Mbak Sartini merah padam mendengar perbuatan Tia yang dilaporkan Muji barusan. Dengan kesal dia menampar wajah teman satu kampungnya itu.
" Plak!"
Tamparan itu membuat pipi wanita memerah. " Tia, ternyata foto - foto kamu yang memakai barang - barang branded yang dipamerkan di medsos itu adalah barang curian! Ternyata itu semua milik Ibu Anggun... Kurang ajar kamu! Bikin malu aku dan warga dusun Sumber Makmur saja! Jadi orang kok, nggak mau belajar dari kesalahan dari masa lalu kamu, sih!"
" Memang kenapa depan dia, Mbak Tini?" tanya Ibu Anggun mau tahu.
" Dia dilaporkan majikannya tempatnya bekerja yang terakhir di Singapura karena mencuri uang, Bu Anggun ... Jadi dia masuk penjara di sana, hampir setahun kurungannya ... Sampai dibantu Mbak Sanem dan teman-temannya untu mendapat sejumlah uang, untuk ongkos Tia pulang ke tanah air. Sebab pekerja yang sudah bermasalah hukum, sangat tidak diminati para majikan di sana... Setelah pulang kampung, dia tampung pada agen penyalur ART dan Baby Sitter milik Mbak Sanem. Yah begitulah... Sampai saya yang menawarkan kepada Ibu Anggun untuk memperkerjakannya di rumah ini!"
" Oh, kalau sudah biasa maling, tangannya sangat gatal lihat barang orang yang bagus dan berharga, ya. Mbak? Sepertinya memang lebih baik kita bawa ke kantor polsek depan saja, Bu Anggun. untuk diproses!" Ujar Pak Suwandi.
" Bolehlah , Pak!" ujar Ibu Anggun. Wanita itu lebih takut lagi, kalau kejadian ini diketahui suaminya. Sebab dia sangat ceroboh akhir-akhir ini. " Ayo Bu Jum dan Mbak Tini temani saya sebagai saksi di polsek, nanti !"
Leon menyuruh Dimas mengeluarkan mobilnya, Mamanya akan ikut serta dengan dua wanita itu. Mbak Siti dan Bulek Ratih akan berada di rumah dan bersikap biasa saja, apabila Pak Murti pulang nanti. Seakan -akan di rumah ini tidak terjadi perubahan apapun... Takut masalah Tia ini akan membuat beliau banyak pikiran... Sedangkan dalam masa pemulihan kesehatannya, Pak Basuki Murti diharapkan hidup santai dan tenang.
Baru 20 menit kemudian Pak Murti , Lek No dan Akbar datang, diantar oleh Pak Pandu dengan mobil yang cukup besar itu. Karena hari sudah sangat siang, tentu pulang dengan berjalan kaki akan cukup melelahkan bagi Pak Murti dan Akbar juga
__ADS_1
Ruang tamu jadi semakin ramai dengan kehebohan cerita Pak Murti itu. Wajah pria tua itu berseri -seri. Ternyata mereka menemukan satu pembicaraan yang cukup menyambung di antara mereka, yaitu asal-usul tanah yang dimiliki Asti sekarang. Tanah hadiah pernikahan Pak Rahman dengan almarhumah Bude Ayu, kakak Ayahnya Asti..Sekarang tanah itu dijadikan tempat tinggal dan bangunan empat rukonya itu ...
Ternyata tanah itu berhubungan dengan warisan seluruh keluarga Pak Rahman Sidik...Kini menjadi bagian dari komplek Perumahan Griya Sekarwangi, yang dikelola oleh Leon.