Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 230. Sambutan yang Tidak Ramah


__ADS_3

Asti juga kurang bersemangat saat diminta datang ke rumah Pak Kerto itu. Dia tahu bagaimana sikap pria itu dulu terhadap Mbah Harjo dan Bude Ayu. Pria itu berpura-pura baik di depan kakeknya itu tetapi akan mampu menipunya dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Sampai Kakeknya Asti terpaksa menyetujui sebagian lahan sawahnya dikerjakan Pak Kerto dengan sistem bagi hasil yang tidak seimbang.


Dulu pria tua itu berani memaki - maki Bude Ayu, yang merupakan mantan istrinya adiknya itu di depan umum. Tak peduli kalau semua perkataannya yang dilontarkan itu terdengar sangat kasar dan jorok! Padahal di depan kantor kelurahan juga banyak anak kecil yang melihat keributan itu.


Saat itu Bude Ayu hanya mengingatkan kepada Pak Kerto, kalau status sawah yang sedang digarapnya itu masih milik keluarganya. Walaupun letak sawah itu berbatasan dengan sawah dari warga desa lain. Lelaki itu tidak terima ketika Bude Ayu berhasil memperlihatkan bukti tanah kepemilikan tanah ayahnya. Juga perjanjian sistem bagi hasil yang hanya ditulis tangan dan ditanda tangani beberapa saksi para tokoh desa setempat.


Saking emosinya dengan ucapan lelaki tak tahu diri itu pun, Bude Ayu pun menjual sebagian lahan sawah yang digarap lelaki itu. Tentu banyak warga desa lain yang berminat untuk membelinya. Sebab kebanyakan sawah di lokasi itu sangat subur dan dekat dengan sumber air. Sampai separuh lahan sawah itu dibeli oleh Pak Samsuri, adik Ipar dari Darmaji Hendardi. Kerabat keluarganya yang memang tidak menyukai sepak terjang kedua Juwono yang masih menjadi warga di desanya.


Hasil penjualan sawah itulah yang digunakan Bude Ayu untuk membelikan Asti sebuah toko di pasar Kecamatan. Asti membuka toko itu yang menjual berbagai jenis pakaian wanita. Setelah keinginannya untuk melanjutkan kuliah atau bekerja di Yogyakarta dilarang oleh kakak almarhum ayahnya itu.


Banyak alasan yang dilakukan Bude Ayu setelah dia kembali ke rumah Joglo. Setelah 40 hari meninggalnya Pak Kushari, suaminya. Pertama, dia tidak nyaman dengan anak-anak tiri dari kedua istri Pak Kushari itu. Mereka selalu saja meributkan mengenai pembagian harta warisan dari harta peninggalan ayahnya yang sudah banyak berkurang. Sebab tidak dikelola dengan baik oleh ahli waris atau anak -anaknya.


Padahal pada masa berkabung dan berduka itu seharusnya mereka. lebih banyak mendoakan almarhum ayahnya itu. Agar diampuni segala dosa dan kesalahannya yang dilakukan Pak Kushari sewaktu hidup di dunia.


Kedua, Pakde Kerto tak mau melepaskan tanah sawah garapannya itu kembali ke keluarga Winangun... Hanya karena lahan sawah itu banyak memberi keuntungan. Padahal dengan meninggalnya Pak Kushari, secara otomatis gugur semua perjanjian itu. Perjanjian yang terjadi antara Bude Ayu, mantan suaminya itu dan juga Pakde Kerto yang banyak diuntungkan dari situasi tersebut.


Ketiga, dia juga masih mempunyai tanggung jawab menggurus keponakannya itu yang tinggal di rumah Joglo, sendirian setelah Pak Harjo berpulang hampir dua tahun yang lalu. Selama ini semua urusan rumah, sawah dan kebun diserahkan kepada Sarno dan Ratih. Mereka adalah bagian dari keluarganya juga.


***


Akbar lebih suka menghabiskan waktu bermain dengan sepedanya yang baru tetapi seken itu. Sehingga anak itu lebih memilih tinggal di rumah bersama Mbak Putri. Daripada ikut ayah-ibunya ke desa, ke rumah Mbah No. Jadi


Bu Jum hanya memasukkan beberapa barang keperluan Qani itu ke dalam tas khusus bayi.

__ADS_1


Asti hanya melihat betapa Akbar sangat suka bermain dengan sepedanya itu. Sebelum pergi, Asti meminta Mbak Ning ikut mengawasi Akbar yang kali ini bermain sepedanya di halaman ruko. Kebetulan hari masih pagi, jadi pelataran ruko itu agak kosong karena belum banyak pengunjung yang datang ke sana.


Leon masih mengutak-atik mesin mobil Inova yang biasa digunakan oleh istrinya itu. Setelah menyalakan mesin mobil, pria itu mulai yakin kalau mesin mobil itu masih dalam keadaan prima. Sebab Dimas juga rajin membawa mobil itu ke bengkel service terpercaya di kota sebelah, secara berkala.


Qani tampak tenang ketika dibawa bepergian dengan ayahnya kali ini. Bayi itu melonjak-lonjak senang di car seat nya itu, ketika Leon menyetel musik untuknya. Selain mengoleksi berbagai lagu anak-anak islami, di audio mobil itu sering diputar lagu anak-anak berbahasa inggris.


Asti tersenyum melihat dengan cepat Leon menguasai mobil ini yang jarang digunakannya. Dia yang meminta Joko yang membawa Pajero miliknya ke Madiun. Sebab lahan yang akan mereka survei itu lokasinya ada di daerah perbukitan. Tentu membutuhkan mobilnya yang mesinnya kuat dan lincah di jalan tidak rata.


Hanya dalam waktu tak sampai dua puluh menit, Inova itu sudah memasuki halaman depan rumah Joglo. Asti melihat ada beberapa pria duduk santai di kursi teras depan. Mereka ngobrol sambil minum kopi dan makan berbagai makanan khas desa... Ada singkong rebus, pisang rebus dan berbagai makanan gorengan.


" Qani!" panggil Bulek Ratih ketika melihat bayi itu digendong Bu Jum turun dari mobil. Sementara Leon membukakan pintu untuk istrinya itu.


Leon dan Asti segera mengucapkan salam kepada orang-orang yang sedang ngobrol dengan Lek No dan Pakde Muin itu. Satu- persatu Leon dan Asti menyalami mereka. Walaupun Asti hanya menangkupkan saja kedua tangannya di dada.


" Langsung saja, Pakde!" ujar Bulek Ratih.


" Bu Jum, titip Qani, ya!" bisik Asti karena dia akan meninggalkan anak itu di rumah Joglo saja. Hampir saja bayi itu merengek dan menangis karena mau ikut. Untung di rumah itu ada Mbak Mar dan Mbak Asni yang dengan cepat dapat mengalihkan perhatian bayi cantik itu.


Asti termenung duduk di samping Leon yang membawa Inova itu menuju desa sebelah. Pria itu mengikuti Fortuner yang ada di depannya, dibawa Pakde Muin bersama istrinya dan satu sesepuh desa yang akan menjadi saksi dari pengakuan Pakde Kerto itu.


Kedatangan mereka sudah disambut Bu Musdalifah, istri muda Pak Kerto. Tetapi wanita itu tidak bisa disebut muda lagi. Usianya kini belum menginjak 40 tahun, tetapi wajah wanita itu sudah sangat tua. Wajahnya cantik itu menjadi kusam dan tirus. Hilang sudah kemudaan dan kecantikan yang dulu sangat mempengaruhi iman dan keteguhan hati Pak Kerto akan ikatan pernikahan yang sedang dijalaninya dengan istri pertamanya. Sehingga laki-laki itu nekat menikahi pembantu rumahtangganya setelah menceraikan istri pertamanya.


Kini wajah Ibu Musdalifah itu penuh dengan guratan kepedihan dan kesulitan hidup yang dirasakan selama hampir dua puluh tahun dinikahi oleh Pak Kerto. Sungguh hidupnya sangat sia-sia, karena berharap hidup nyaman dan sejahtera dengan bergelimangan harta dan kemewahan dari seorang lelaki tua yang kaya yang mau menikahinya dengan banyak mengumbar janji untuk membahagiakan hidupnya lahir dan batin.

__ADS_1


Wanita itu mempersilahkan para tamunya masuk. Namun bangku yang ada di ruang tamu yang hampir tak layak diduduki itu, tidak cukup dengan jumlah orang yang hadir. Sehingga Pakde Muin dan Leon akhirnya memilih berdiri.


Tanpa mereka ketahui, anak sulung Pak Kerto itu keluar dari kamarnya. Pria itu langsung nyelonong keluar rumah tanpa permisi. Sampai Pakde Muin dan Lek Sarno saling berpandangan.


" Mari masuk! Di dalam sudah ada Bu Kades!" ajak Bu Musdalifah ramah.


" Ada Bule Ika, Bu ?" tanya Asti kaget.


Pak Kerto sudah dimandikan oleh seorang wanita yang dipanggil untuk menggurus beliau. Dia juga sudah berganti baju yang bersih.


Mereka melewati ruangan demi ruangan yang kosong tanpa banyak barang yang menghiasi rumah itu lagi. Sebuah rumah besar yang dulu merupakan rumah terbagus dan termewah di desa ini... Sekarang bahkan sudah tersisa lagi kemegahannya. Kecuali ruang-ruang yang sudah sangat usang, berdebu dan banyak kerusakan di dinding, atap dan lantainya yang termakan oleh waktu.


" Asti, sini Nak!" panggil Ibu Ika Sawitri melihat rombongan itu. Di depan kamar ada sebuah bangku panjang dari kayu dan beberapa kursi plastik.


" Mbak Mus, jangan repot - repot! Kami. hanya mampir sebentar!" Cegah Bulek Ratih karena melihat wanita itu akan masak air dari sebuah kompor gas di ujung dapur sana.


" Iya, Bu. Kami sudah minum kopi dan makan kue di rumah Pak Sarno!" Ujar pengurus desa itu tersenyum.


" Mana anak dan menantu Pakde Kerto yang lain?" Tanya Pakde Muin geram.


" Tadi Tarjo pergi. Danang dan istrinya masih di dalam kamar! Sumi sudah berangkat bekerja di warung nasi depan sambil mengantar kedua anaknya sekolah, " kata Istri Pakde Kerto menjelaskan dengan terbata-bata.


Asti masih ragu-ragu melangkah. Dia tertegun saat berdiri di depan pintu kamar yang sangat suram itu. Memandang sosok laki-laki tua yang terbujur tidak berdaya... Wajahnya kurus dan pucat. Tubuhnya yang dulu tinggi, gemuk dan besar Sehingga kelihatan gagah perkasa. Sekarang hanya tinggal sosok lelaki tua bertubuh kurus kering ditutup oleh selimut. Hanya denyut napas di dada pria itu yang tampak sangat tersiksa dengan sakitnya yang menandakan dia masih hidup dan bernyawa.

__ADS_1


__ADS_2