Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 276. Kata yang Tak Terucapkan


__ADS_3

Suasana di kamar tempat Pakde Kerto terbaring cukup mencekam. Hanya ada suara kesibukan dari tangan Dokter Ahmad Sofyan yang bekerja cekatan. Namun wajah-wajah cemas terlihat dari beberapa pria yang sedang menunggu di luar kamar. Mereka terus memperhatikan cara dokter itu menyiapkan peralatan infus yang akan digunakan untuk menolong Pakde Kerto dengan segera.


Akhirnya selang dari botol infus yang digantung di atas ranjang itu mulai bekerja. Setitik demi setitik air infusan itu mulai menitik, masuk ke nadi di pergelangan tangan pria tua itu.Terlihat tangan itu juga seperti tinggal tulang dibungkus kulit. Saking kurusnya. Pantas dokter tadi agak kesulitan untuk mencari nadi untuk menusukkan jarum infus tersebut.


Dari ruang lain yang letaknya ada di depan, kedua cucu perempuan Pakde Kerto yang mulai menangis tertahan. Keduanya cemas dan sedih melihat keadaan Mbah Kung itu tidak lagi bereaksi dengan semua yang terjadi di sekelilingnya. Keadaan itu berlangsung hampir dalam seminggu ini.


Merekalah adalah anak- anaknya Tarjo, yang selalu ikut membantu Mbah Musdalifah untuk menjaga sang kakek, setelah mereka pulang dari sekolah. Sementara Mbah Putri sibuk menyiapkan makan siang buat para cucu- cucunya. Karena istrinya si Tarjo itu bekerja di sebuah warung makan yang letaknya di seberangnya jalan raya provinsi, tepat di depan jalan masuk Desa Sendang Waru. Dengan upah yang tak seberapa itu, Sumi berusaha mencukupi kebutuhan makan dan sekolah anaknya.


Bocah perempuan yang sudah kelas 6 dan kelas 3 SD itu sangat takut dan cemas. Sang kakek sudah tidak bisa diajak berbicara lagi. Malah kedua mata tuanya itu selalu melihat ke langit-langit rumah atau terkadang menengok ke jendela kamar. Seakan - akan ada yang ditunggu kedatangannya oleh pria tua itu.


" Bagaimana ini, Pak Kades ...Pak Kerto bukan hanya sakit stroke... Beliau juga kurang gizi ..." ungkap Dokter Ahmad Sofyan gelisah.


Pak Darmaji tertegun. Sambil menatap satu demi satu wajah anak-anak dari Pakde Kerto yang berkumpul di ruang tengah... Mereka hanya dapat tertunduk, sedikit malu dan juga tak berdaya. Sebab selain kurang berpendidikan, mereka juga kurang empati dan tidak berinisiatif untuk menolong ayahnya sendiri. Selalu mengandalkan bantuan dari para tetangganya. Terutama kepada pasangan suami -istri Darmaji Hendardi. Kebetulan beliau menjabat sebagai Kepala Desa ini sejak 5 tahun yang lalu.


Bahkan terhadap sakit ayahnya dalam setahun ini, Tarjo dan adiknya itu juga acuh tak acuh. Takut dimintai untuk mengeluarkannya biaya yang lebih besar lagi, untuk mengobati sakit beliau. Sedangkan mereka sendiri tidak mempunyai penghasilan tetap.


Malah seringnya ada sedikit pemasukan yang diterima dari pekerjaan tidak tetap yang Tarjo dan Danang lakukan. Seperti pepatah, yaitu 'gali lubang tutup lubang' karena uang itu tidak pernah mencukupi kebutuhan rumah tangga. Akhirnya mereka harus berhutang lagi di warung tetangga lainnya.


" Nanti saya minta suster Wati datang untuk mengganti infus, bila isi yang di botol ini habis." Ucap pria itu yang menjadi pimpinan di puskesmas Kelurahan Telomoyo.


Beliau meletakkan dua botol infus plastik di atas meja, di samping ranjang tempat berbaringnya Pak Kerto dengan wajah tanpa ada cahaya kehidupan lagi


Dokter itu berpamitan pulang. Dia kembali diantar oleh Rangga Pradipta ke puskesmas dengan menggunakan motor Nmax kebanggaan miliknya itu. Pemuda tetangga sebelah rumah Pak Kades itu juga berkuliah di kota sebelah. Kampusnya itu satu perguruan dengan Ninuk, namun beda fakultas. Jadi mereka jarang bertemu

__ADS_1


Ada seorang tetangga yang berinisiatif membawakan satu dus air mineral dalam gelas dengan merek tertentu. Segera saja minuman itu dibagikan kepada para bapak yang masih berkumpul di depan rumah Pak Kerto Juwono. Namun para wanitanya satu persatu pamit mengundurkan diri, kembali ke rumah masing-masing.


" Ayo, kalau Nak Ardi mau melihat keadaan Pak Kerto, kita masuk ke dalam! " kata Pak Darmaji. Mengajak tamunya itu untuk melihat keadaan Pakde Kerto itu.


Kehadirannya pria muda yang terlibat santun dan berwajah tampan itu mulai menarik perhatian para warga lainnya yang ada di sana. Akhirnya Lek No memberi tahu jati diri Ardi yang sebenarnya, bahwa dia merupakan adik kandung ibunya Asti Winangun, Emilia Jaffar.


Banyak para pria yang hadir di sana dan usia lebih tua dari mereka mulai berkomentar lirih. Sebagian dari mereka tahu peranan Pak Kushari dan Pak Kerto dengan kepergiannya Emilia, ibunya Asti. Meskipun kejadian itu. sudah berlalu hampir seperempat abad yang lalu.


Bahkan dulu ada sesepuh di desa Sendang Waru, yang bersahabat baik dengan Pak Harjo Winangun. Beliau selalu mengingatkan, agar kakeknya Asti berhati- hati dengan topeng kebaikan yang diperlihatkan oleh Juwono bersaudara itu. Sebab itu bukan topeng kenaikan. Tampaknya ada peran tersendiri dari kedua Juwono bersaudara itu dibalik kepergian Emilia. Sehingga wanita itu pun harus meninggalkan bayinya yang masih kecil di sini.


" Bukannya Pak Kerto dulu sudah mengusir kakak tirinya Emilia itu untuk meninggalkan Surabaya. Takut rencana Pak Kushari untuk menguasai harta peninggalan Winangun diketahui mereka. Sebab masih ada Asti yang merupakan pewaris tunggal dari semua harta peninggalan Winangun. Walaupun harus menikahi Ibu Ayu dulu, demi melancarkan rencana mereka menguasai harta janda itu dan peninggalan keluarganya yang sangat besar!"


Lek No terdiam... Beberapa orang juga berpendapat demikian. Namun Pak Harjo Winangun di masa hidupnya adalah pria yang berpikiran jernih dan taat pada ajaran agamanya. Pantang dia menuduh seseorang tanpa ada bukti dan fakta yang nyata.Takut tuduhan itu nantinya menjadi fitnah. Sehingga membuatnya menjadi orang yang Dzolim terhadap orang lain.


Lek No melongo. Sungguh ini berita itu baru didengarnya. Dulu Lek No tidak pernah mau mencampuri urusan kehidupan pribadi Pak Harjo, Asti ataupun Bude Ayu. Walaupun tidak tinggal satu rumah, tetapi rumah mereka berdekatan. Apalagi di sana, Lek No hanya berlaku sebagai pekerjanya yang numpang hidup dan diupah karena mengerjakannya sawahnya. Walaupun tanggung jawabnya Lek No menjadi lebih besar lagi .Karena beliau dipercaya mengelola sawah, kebun kelapa, dan ternak sapi yang berjumlah puluhan. Tetapi Lek No mendapatkan imbalan yang cukup dari pekerjaannya itu, sehingga dapat memberikan kehidupan yang layak untuk keluarganya.


" Kamu sih, No. Diam saja! Juwono bersaudara itu kalau berbaik hati, sama orang itu ada maunya! Hanya mau mencari untung, mana mau rugi dia! Makanya Pak Winangun terperdaya... Tetapi Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui ..Lihat saja, Pak Kushari langsung kena serangan jantung, ketika semua barang dagangannya disita pihak yang berwajib! Karena ilegal. Malah keburu mati dia sebelum masuk penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya itu. Apalagi barang yang disita itu harganya mencapai ratusan juta rupiah!"


Ardi melangkah pasti, di samping Pak Kepala desa. Kedatangan kedua pria itu segera disambut Bu Musdalifah, istri Pakde Kerto. Tetapi yang justru memberi reaksi adalah Pakde Kerto itu sendiri.


Matanya pria tua itu terbelalak lebar. Rupanya dia juga mengenali wajah bersih Ardi. Wajahnya itu serupa dengan Emilia. Tetap lebih mendekati sosok wajah Yusuf. Pemuda yang berhasil dia intimidasi bersama anak buahnya dulu agar segera meninggalkan kota Surabaya!


Ada rasa bersalahnya, juga rasa takut yang amat sangat. Pria itu seperti mau berteriak, atau berbicara sesuatu! Tetapi yang keluar dari mulutmu itu hanyalah erangan dan gumaman tak jelas.

__ADS_1


" Pak, Pak Kerto! Tenang.... Ini Pak Kades mau menjenguk! Bapak harus tahu, sudah seminggu ini Pak Kades dan Ibu Ika yang mengurus semua bantuan untuk Bapak. Mana anak-anak laki-laki yang bapak banggakan itu? Sama sekali tidak peduli...Justru yang peduli adalah para tetangga, Pak!" Seru Bu Mus panik


" Mereka yang sering bapak maki, bapak hina! Juga bapak rampas hartanya hanya perkara hutang yang bisa belum terbayar saja!" Ucap Istrinya itu semakin nelangsa. "Hidup mereka sekarang lebih baik, dari kita, Pak!_


"Ayo, Pak! Minta maaflah kepada mereka, mumpung masih diberi umur ...Kalau caranya begini, Saya yang akan pergi dari rumah ini jika Bapak sudah nggak ada! Jadi impas kan!? Bapak sudah merenovasi rumah orang tua saya, dan membiayai pendidikan adik - adik saya... Sedangkan saya sudah mengabdikan hidup saya selama ini! Saya kehilangan usia muda saya karena harus menggurus bapak yang sakit dan jatuh miskin."


Suara lirih dan tangis Bu Musdalifah semakin terdengar meluruh... Bagaimana tegar-nya seorang perempuan, akhirnya dia menyerah juga dengan keadaan ini. Anak- anak tirinya pun begitu tidak perduli dengan semua keadaan ini.


Rupanya tangisan dan keluhan dari istri muda Pak Kerto ini juga didengar oleh sebagian orang yang ada di rumah itu. Rumah besar yang kosong tak berjiwa. Rumah yang tidak lagi memberi rasa nyaman dan aman bagi penghuninya.


" Sabar... Bu Mus!" bisik Pak kades.


" Nggak apa-apa, Pak! Saya yang selalu merepotkan semua bapak-bapak di sini. Setiap saat saya harus berhadapan dengan kematian. Saya hanya mohon maafkan Pak Kerto! Kalau dulu beliau selalu bersikap sombong dan menindas para tetangga..."


Suara - suara aneh keluar dari bibir lelaki tua itu. Cepat Ardi mendekat ke ranjang. Dia duduk di kursi yang terdekat dengan tempat Pak Kerto berbaring.


Diraihnya tangan kurus lelaki itu. Pria itu ternyata mengenali Ardi yang wajahnya sangat serupa dengan Yusuf, kakak tiri Emilia...


Saat malam sebelumnya kembalinya mereka ke Jawa, ibunya Asti itu ternyata mendengar suatu rencana jahat, saat Pak Kushari mengadakan pertemuan rahasia dengan Pak Manaf di samping rumah. Lelaki itu merupakan seorang narapidana dan penjahat kambuhan di kampungnya itu. Sepertinya mereka membicarakan tentang suatu kerjasama dalam tindak kejahatan. Mereka seperti merencanakan sesuatu, demi kepentingan dan keuntungan sendiri.


"Ayo, Pak, ikuti saya!" bisik Ardi membimbing pria tua itu, untuk mengikuti ucapannya ." La Ila ha illa Lah!"


Perlahan-lahan pria itu ikut mengucapkan kalimat itu. Susah payah dia melakukannya, setelah melihat ada kesungguhan di wajah pria tampan itu.Tidak ada dendam apalagi kebencian di sana di wajah adik Emilia Jaffar itu.

__ADS_1


__ADS_2