
Sudah hampir seminggu Joko dan Pak Cakra berada di Madiun. Mereka masih disibukkan dengan berbagai pendataan surat kepemilikan tanah, yang harus disesuaikan dengan pencatatan yang ada di kelurahan setempat. Bahkan mereka juga membentuk team tersendiri untuk mengadakan pengukur lahan itu di lapangan.
" Yang, kita ke Madiun, ya?" bisik Leon di suatu malam Kepada Asti.
" Apa soal tanah di sana belum selesai juga, Mas ?" tanya Asti sambil merapikan gaun tidurnya.
" Sudah ... Cuma Kita mau lihat proses pembayarannya. Sekalian saja liburan saja satu keluarga semuanya... Di sana masih ada beberapa kerabatmu kan? Termasuk Pak Samudro Wijoyo Winangun itu yang banyak membantu dalam urusan ini."
" Semua diajak?" tanya Asti kurang yakin.
"Iyalah... Ajak Lek No dan Bulek Ratih juga Ninuk!"
Sebenarnya Asti sudah tidak nyaman dengan tubuhnya ini. Mau langsung mandi saja setelah melayani kebutuhan suaminya yang satu itu. Tidak nyaman tidur dengan tubuh yang basah setelah berkeringat. Walaupun sudah berganti pakaian. Namun Bulek Ratih selalu mengingatkan agar Asti selalu menggunakan air hangat untuk mandi, saat dalam keadaan tekanan darahnya masih rendah. Anemia, itulah yang disebutkan Dokter Mursito sewaktu memeriksanya sakitnya itu.
Hal inilah yang tidak mungkin dia kerjakan saat ini. Bersibuk diri untuk masak air di dapur, menjelang tengah malam. Hanya untuk mendapatkan air hangat agar dia bisa mandi junub. Pasti kegiatannya itu akan membuat penghuni yang lain terganggu. Bisa - bisa Mbak Ning dan Bu Jum yang kamarnya di samping dapur juga akan terbangun. Padahal dalam seminggu ini, keduanya sudah mengambil alih semua tugas Asti sebagai ibu rumah tangga. Saat kesehatannya belum pulih benar.
Perlahan Leon membalikkan tubuhnya, ditatapnya wajah cantik Istrinya itu tanpa kerudung, dengan daster batiknya. Rambutnya hitam terurai sampai sebahu. Walaupun sekarang rambut itu agak sedikit berantakan.
" Tidurlah! " bisik Leon sambil mengecup dahi istrinya itu dengan lembut. Seminggu ini dia sangat was-was dengan berbagai perubahan pada tubuh istrinya itu. Takutnya ada bakal adiknya Qani di rahim Asti. Sedangkan kesehatan istrinya belum terlalu stabil.
" Besok kita periksa, ya! Ke dokter Lydia... Yah, siapa tahu. Iseng-iseng berhadiah, begitu!"
Kesal Asti memukul bahu suaminya agak keras. " Apanya yang iseng-iseng, sih!" Omel Asti panjang lebar. Sambil menebarkan selimut tebal. Kalau AC di dalam kamar dengan keadaan suhu yang terendah seperti ini, dia semakin susah tidur. Inilah kebiasaan yang membedakan dirinya dengan Leon.
Terbiasanya Asti dengan rumah di desa yang banyak pohon-pohon besar. Jadi tidur di malam hari pun tetap nyaman dengan ventilasi yang menyerap dinginnya udara malam dari luar. Sedangkan Leon yang biasa tinggal di Jakarta dan Semarang yang udaranya agak panas, selalu memerlukan AC untuk kesehariannya. Tidak siang juga malam hari, baik di kantor maupun di kamar harus selalu dingin.
Telapak tangan Leon bergerak mengusap -usap perut Asti yang tampak masih rata. " Di sini ada adiknya Qani, mungkin..."
__ADS_1
Bibir Asti langsung manyun." Aku kan KB, Mas! Nggak kebayang punya anak lagi, sementara Qani aja belum juga berumur setahun! Apa kamu nggak lihat? Akbar yang sudah berusia 3 tahun saja masih iri dengan adiknya. Ditambah punya adik lagi. Waduh ngurus bocil - bocil perlu bantuan berapa orang lagi itu nanti?"
Leon terdiam. Ucapan Asti ada benarnya. Tetapi selama ini dia selalu memperlakukan Akbar dan Qani dengan adil. Dia menyayangi keduanya tanpa membedakan mana anak tiri, mana anak kandung. Karena Qani dan Akbar adalah anaknya.
Sebenarnya Leon ingin punya anak banyak, agar rumah ini selalu ramai. Sebentar lagi juga akan keluar surat IMB dari dinas setempat, Izin untuk membangun rumah tambahan di sebelah barat.
Rencananya bangunan tambahan itu ada di sebelah kanan rumah. Bangunan itu dirancang dengan dua lantai...Bangunan tambahan itu akan diperuntukkan untuk akses keluarga inti saja.
Meskipun bangunan rumah Asti itu sudah bagus menurut para tetangga di sana. Namun di mata Leon masih ada kekurangannya. Tidak ada ruang privasi antara anggota keluarganya, dengan orang-orang yang diperkerjakan di rumah ini. Mulai dari ART , sampai pekerja Warung tenda yang bebas masuk keluar rumah, karena diperlakukan sebagai layaknya saudara.
Setidaknya kalau anak-anak sudah agak besar mereka dapat beraktivitas dengan suasana yang lebih mendukung. Misalnya adanya ruang belajar tersendiri yang nyaman, tenang dan tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Selama ini Asti selalu menerima siapapun yang datang ke rumah ini dengan tangan terbuka. Apalagi para ibu tetangga yang sering datang menjelang sore. Mereka kadang datang dan membawa makanan untuk dimakan bersama di teras samping.
Leon bukan tidak suka saja cara para ibu tetangga itu ngobrol, ngalor - ngidul walaupun jarang bergosip. Tetapi mereka sering tidak mengontrol kegiatan anak-anak yang mereka bawa ke rumah ini. Ada yang seumuran dengan Akbar. Lebih banyak lagi yang di atas usia anaknya itu.
Bahkan anak-anak itu berani mengambil makanan yang ada di meja ruang makan tanpa minta izin dahulu dengan dari Mbak Ning. Malah sering nyelonong masuk ke kamar utama, saat ada Qani tidur di sana.
Pada gambar yang sudah dirancang Mas Adam, di lantai satu pada bangunan tambahan itu hanya, dibuat kamar tidur utama, dua kamar tidur anak-anak dan satu kamar untuk orang tua Leon kalau mereka menginap di rumah ini.
Di lantai satu yang berbentuk leter L, itu ruangan di depan kamar tamu itu difungsikan sebagai ruang bermain anak sekaligus tempat mereka belajar. Di sana akan banyak tersedia aneka rak-rak kayu terbuka untuk menyimpan berbagai mainan. Ada meja belajar dan rak buku. Di tambah satu dapur kering.
Di lantai atas akan dibuat beberapa kamar, yaitu kamar untuk Ninuk, Joko dan Lek No bila akan menginap, dan dua kamar cadangan untuk tamu keluarga. Masing-masing kamar ada kamar mandi di dalamnya dengan satu ruangan penghubung yang mempunyai balkon menghadap ke arah timur. Di sana akan dipasang tv dan seperangkat sofa untuk ruang keluarga.
Mas Adam juga akan membangun sebuah ruangan koridor yang akan menjadi penghubung rumah Asti dengan bangunan tambahan yang baru. Ruangan itu nantinya, dibangun sebagian dengan atap terbuka atau atap transparan di atas ruang cuci pakaian dan jemur. Juga kamar mandi untuk bilas setelah berenang.
Sudah lama Leon ingin mempunyai kolam renang pribadi di rumahnya. Sebuah kolam renang yang tidak terlalu besar , namun memadai untuk digunakan dirinya dan anak - anak.. Kolam renang akan digunakan sebagai hiburan dan untuk olahraga.
__ADS_1
Hampir dua bulan ini segala urusan surat-surat itu dipegang Mas Adam. Sampai pria itu harus bolak-balik dari berbagai instansi kecamatan sampai tingkat yang lebih tinggi lagi. Juga pengukuran tanah dari dinas BPN daerah setempat.
Rencana Leon untuk mengajak keluarganya liburan ke Jawa Timur, khususnya ke Madiun diterima dengan senang hati oleh semua orang. Karena semua ART akan dibawa serta, Kancil menyanggupi salah satu dari keluarga kakaknya yang akan menjaga rumah Asti itu.
Ninuk segera pulang dari tempat kostnya. Dia yang ditugaskan oleh Leon untuk menggurus seluruh akomodasi yang diperlukan dalam perjalanan yang memerlukan waktu lebih dari seminggu itu. Apalagi Asti belum sehat benar. Tentu dia memerlukan bantuan orang lain untuk menjaga dan merawat Akbar dan Qani.
Lek No malah mengusulkan agar mereka menggunakan mobil Elf yang akan disewa dari kenalannya di kota sebelah. Mereka akan menggunakan dua supir yang akan bergantian membawa mobil itu, selama dalam perjalanan itu.
Setelah dihitung, ada sepuluh orang yang menjadi penumpang mobil Elf itu. Sebab Pakde Muin akan menyusul beberapa hari kemudian. Rencananya Pakde Muin itu akan membawa mobilnya sendiri ditambah satu orang pria muda, dari keluarga Mbah Sanjaya, yaitu salah satu cucu beliau.
Ninuk langsung menghitung biaya ongkos pulang - pergi, sewa resort atau hotel sampai biaya makan sehari - hari. Gadis itu dengan senang hati melakukannya, karena ada sumber keuangan yang dapat dipercaya yaitu Mas Leon sendiri.
" Mbak - Mbak dan Bu Jum, Mas Leon nggak menanggung kalau mau jajan atau beli oleh-oleh untuk sendiri, ya?" Ledek Ninuk sambil mengibaskan buku catatannya.
" Hu, hu!" Jawab Bu Jum dan Mbak Ning kompak.
" Beres, Mbak ! " Jawab Putri senang-senang saja. Sebab dia pengalaman kepergian pertamanya meninggalkan daerah ini, setelah bekerja di rumah Mbak Asti.
Beberapa hari ini mereka mulai packing pakaian untuk Qani dan Akbar dengan beberapa printilan yang lain. Putri dan Mbak Ning membawa tas besar berisi pakaian mereka masing - masing. Asti menyiapkan satu koper besar untuk pakaian dia dan Leon.
Di dapur Mbak Ning dan Bu Jum menyiapkan lauk- pauk yang awet dan dapat tahan bisa lama kalau dibawa bepergian. Ada rendang daging ala Jawa, tempe orek, daging serundeng dan sambel yang dimasak sampai tanak agar tidak cepat basi.
Pakde Muin bertahan di rumah Asti karena beliau mendapat sebuah informasi dari salah satu keluarga Mbah Sanjaya yang tinggal di luar desa Sendang Ranti. Soal kerabat Asti dari pihak ibunya.
Salah satu kerabat ada yang memberi tahu pad pernah melihat anak muda yang dulu tinggal di dekat desa mereka. Pria asing ini sering wara-wiri di sekita wilayah ini beberapa bulan yang lalu. Namun kesibukan anggota keluarga ini menyiapkan acara kepergian untuk jalan - jalan itu , membuat Pakde Muin harus menahan diri dulu. Takut berita ini menggagalkan kepergian mereka. Sebab anak muda itu sudah lama tidak terlihat lagi alias pindah tempat.
Dari beberapa kali ucapan Leon,
__ADS_1
pria itu sengaja membawa seluruh keluarga dan orang-orang di rumah ini bepergian agar dapat menghibur istrinya. Lagipula Senin depan dia akan ikut memantau transaksi pembayaran dari pembebasan lahan yang akan diselesaikan oleh team dari Kantor Pusat perusahaan Leon yang ada di Semarang. Kegiatan itu akan dilaksanakan di halaman kantor kelurahan di desa Sumber Sari.
Mereka juga sudah menyiapkan banyak bantuan dari ormas, pihak kepolisian juga satpol PP setempat. Agar saat pembayaran berlangsung, para penduduk yang menerima uang itu tetap terjaga keamanannya dan keselamatannya.