
Sebelum Magrib, kendaraan berjenis Elf itu telah memasuki kawasan pemukiman yang sangat unik. Karena pemukiman itu letaknya di atas tanah yang berbeda-beda ketinggiannya.
Rumah-rumah itu pun dibangun dengan model seperti tempat untuk peristirahatan. Tentu dengan taman- taman yang luas, hijau juga indah. Ternyata rumah Pak Basuki H. Murti, milik Ayah Pak Leon berada di Semarang bagian atas.
Setelah beristirahat sejenak, pak Leon mengajak mereka duduk- duduk di samping teras. Dari kejauhan tampak Kota Semarang Bawah dipenuhi lampu - lampu berkelap- kelip yang sangat indah.
Dua orang ART segera menempatkan para tamu, Pak Leon itu pada bangunan khusus di samping rumah utama yang mirip paviliun. Di sana ada tiga kamar yang saling berjejer, dengan dua kamar mandi di ujung ruangan. Ruangan luas di depan kamar tidur itu, lebih mirip ruang bersantai. Karena mempunyai jendela kaca lebar yang memperlihatkan keapikan rumah- rumah para tetangga yang letaknya bertingkat- tingkat.
Di ruangan itu ada barisan sofa rendah yang tampak empuk dan nyaman. Ruangan itu mempunyai rak tinggi , yang menempatkan sebuah televisi dan berbagai beda hiasan untuk menjadi pajangan. Kebanyakan berupa sovenir dan hiasan yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.
Di ujung ruangan ada sebuah pintu penghubung. Pintu itu merupakan jalan menuju rumah utama dengan melewati sebuah taman, sebelum menuju ke ruang keluarga.
Pak Leon dan Dimas yang membantu mengangkat koper Asti. Sementara dia mendorong stroller Akbar. Bayi gemoy itu masih tertidur karena kelelahan dalam perjalanan yang cukup panjang hari ini.
" Nanti kita berangkat ke rumah sakit setelah pukul 19.00 saja!" ujar Pak Leon memberitahukan kepada Asti dan Ninuk. Sebab dia meminta Bu Jum menjaga Akbar di rumah. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak bayi yang seusia Akbar. Terlalu berbahaya dan sangat riskan bagi seorang bayi.
Pria itu berjalan keluar dari paviliun menuju ruang tamu di rumah utama. Tak berapa lama ada seorang ART yang datang membawakan mereka makanan dan minuman dengan rak beroda.
Wanita yang mengaku bernama Mbak Sinah itu mau dibantu Bu Jum meletakkan berbagai hidangan di meja lebar itu. Sementara supir sudah beristirahat dengan Dimas di bangunan lain yang disediakan di dekat garasi besar itu.
Pak Leon sudah mengeluarkan sebuah Kijang Innova untuk membawa Asti , Ninuk dan Bulek Ratih ke rumah sakit. Ternyata kedatangan mereka juga sudah ditunggu oleh Papanya Pak Leon dengan tidak sabar.
Mereka benar - benar tidak mengetahui, kalau selama ini Leon banyak berkonsultasi pada ayahnya itu. Sejak ayahnya pensiun dari dinas ketentaraan, beliau berusaha lebih dekat dengan putra bungsunya itu. Barulah pria tua itu menyadari kalau Leon sangat tidak bahagia dengan pernikahannya.
Dia menikahi Corinne Fasha, yang juga merintis bisnis di bidang fashion. Corinne mempunyai sebuah butik pakaian siap Jadi yang sebagian merupakan busana wanita import. Pelanggannya kebanyakan para artis muda, gadis- gadis kalangan menengah sampai atas. Karena setiap potong baju yang dijual, harganya cukup mahal.
Sejak kepindahan Leon ke Semarang setahun yang lalu, mulai menimbulkan pertengkaran di antara Leon dan Corinne. Sampai mereka bercerai dengan sengit di pengadilan Agama. Isu perselingkuhan itulah yang membuat Leon memenangkan gugatan, tanpa memberi semua permintaan Corinne atas harta gono-gini yang diminta
__ADS_1
Sampai suatu hari Leon mengatakan kepada sang ayah, kalau dia sangat mengagumi sosok Asti. Wanita muda yang sederhana. Seorang janda cerai beranak satu yang rumahnya tidak jauh dari lokasi proyek yang sedang dikerjakannya.
Saat itu pun, Leon baru saja menceraikan istrinya setelah sidang yang cukup berat dan berjalan berlarut- larut. Karena masing-masing mengunakan tenaga pengacara profesional.
Asti pun belum dapat membuka hatinya akibat perceraiannya dari Satrio yang memberinya rasa sakit hati, nelangsa dan tak percaya diri. Asti hanya bersikap ramah dan santun sebagai tetangga. Tidak lebih! Itu yang diterima Leon berminggu-minggu kemudian. Bahkan hampir lebih dari 5 bulan.
Mungkin kesabaran Pak Leon dan rasa sayangnya pria itu pada Akbar yang membuat Asti mau membuka dirinya. Bayinya itu akan tumbuh besar dan memerlukan bimbingan seorang laki-laki yang disebut ayah. Walaupun selama ini banyak orang yang menyayangi Akbar, dari Lek No, Joko juga para pekerja di warung tenda.
Pak Leon mengiringi mereka ketika memasuki loby utama rumah sakit terbesar di Ibukota Provinsi Jawa Tengah ini. Mereka menggunakan lift menuju lantai tempat ayahnya, Pak Basuki Murti dirawat.
Ruangan VVIP itu mempunyai ruang tersendiri untuk menerima pengunjung. Bahkan di sana disediakan kulkas, seperangkat kursi tamu juga TV besar sebagai hiburan. Ruang itu seperti kamar hotel bintang lima saja layaknya!
Di sana juga sudah ada Ibu Anggun, ibunya Pak Leon. Beliau ditemani salah satu dari ART yang mengurus semua keperluan kedua majikannya itu.
Satu persatu tamunya itu dipeluk oleh Mamanya Pak Leon dengan rasa haru dan penuh syukur. Apalagi, dokter memperbolehkan pasien itu pulang besok dan menjalani rawat jalan.
Pria itu melihat ada tiga wanita yang berkunjung ke kamarnya ini. Semua memakai pakaian yang santun dan berkerudung. Namun yang berhijab warna hijau lembut itu, wajahnya terlihat cantik, muda dan bercahaya.
" Iya, saya. Pak!" sahut Asti berjalan mendekat ke arah ranjang besi itu.
Pak Leon segera berdiri di samping Asti untuk menguatkan. Mungkin Pak Murti terlihat ringkih, sebab tubuhnya yang dulu tinggi besar sudah kehilangan berat badannya hampir 20 kg karena sakitnya dalam satu tahun terakhir ini.
" Maaf saya baru bisa menengok , Bapak!" ucap Asti santun.
" Nggak apa-apa! Jantung orang tua ini saja yang selalu bermasalah! Saya hanya berharap kalian memang berjodoh. Semoga pernikahan kalian ini akan memberi banyak berkah dan dapat menua bersama."
Ada rasa haru ketika calon menantunya itu meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. " Semoga Allah segera memberikan Bapak kesembuhan, kesehatan dan umur yang panjang!"
__ADS_1
" Aamiin! " Jawab Pak Leon.
" Ini Asti, Pah! Nama lengkapnya Nastiti Anjani. Dia keponakannya almarhum Ibu Ayu Sulaksmi..." jelas Leon Lagi.
Mata tua Pak Basuki Murti berembun. " Yang muda- muda malah cepat dipanggil oleh Allah. Apalah yang sudah tua ini, Leon! Papa berharap kamu menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab dalam pernikahanmu nanti. Titip dia Asti. Walaupun sudah tua, kakak perempuannya dan Mamanya selalu memanjakannya..."
Mereka pamit pulang ke rumah diantar supir pribadi Pak Basuki Murti yang selalu stand by di rumah sakit. Sementara Pak Leon akan menunggu ayahnya malam ini di rumah sakit. Tentu sebelum dia kembali pulang untuk mengawasi proyek tersebut sekaligus menikahi Asti.
Paginya Ibu Anggun mengajak mereka sarapan di ruang makan, yang terletak halaman samping. Ruang makan itu seperti model teras yang terbuka dengan pot- pot gantung yang ada di sisi ruang makan itu, yang juga terhubung dengan dapur. Ruang makan itu hanya diberi atap tinggi, Seluruhnya menghadap ke taman, dengan air terjun buatan yang airnya itu berbunyi gemericik dan ikan koi berenang di sana.
Bu Jum sudah menyiapkan susu dan makanan Akbar berupa nasi yang dicampur dengan sayur dan daging cacah berbumbu. Dia mengalihkan perhatian Akbar yang sangat tertarik melihat ikan- ikan koi besar yang berenang bebas di kolam itu.
" Kita akan menunggu di sini, sampai Papanya Leon pulang siang nanti. Biar suami saya melihat cucunya yang ganteng ini, sudah datang ke rumah ini "ujar Ibu Anggun.
Akbar yang diajak ngomong hanya senyum- senyum tidak jelas. Kalau sudah begini, Bulek Ratih teringat gaya Satrio yang terlalu pede.
Ninuk dan Bu Jum berjalan-jalan di sekitar komplek pemukiman ini yang setiap rumahnya dibangun dengan model berbeda-beda, mirip tempat penginapan atau bungalow di luar negeri. Karena memang hunian ini dirancang sebagai rumah ala villa. Karena letak tanahnya berada di daerah ketinggian. Jadi udara di sini pun terasa lebih segar dan agak dingin. Bahkan kepadatan dan keindahan kota Semarang di bawahnya dapat terlihat sebagian di siang hari.
" Kita pulang malam ini. Ada urusan dari Kelurahan yang tidak bisa diwakilkan!" Kata Asti. Sebab tadi malam Leon mendapat WA dari salah orang di kecamatan yang dimintai tolong mengurus pengajuan numpang nikahnya Leon di alamat rumah Asti. Urusan surat- menyurat itu memang kadang agak merepotkan juga.
Bu Jum ternyata sudah mampir ke rumah Mbak Misye di blok D, yang letaknya rumahnya lebih di bawah lagi. Rumah mereka lebih besar, dengan kolam renang dan taman yang bagus.
Bulek Ratih tahu, semakin hari Pak Leon semakin rajin menelpon Asti. Kadang hanya menanyakan hal- hal kecil, seperti Akbar sudah makan atau belum.
Kemarin Ninuk berbisik - bisik kepada pengasuhnya Akbar itu. Kalau perubahan sikap Pak Leon itu disebutnya bucin , juga posesif!
Mungkin Pak Leon akan dapat diterima Asti dengan sepenuh hati. Sebab pria itu selalu bersikap sangat sabar, hangat, dewasa juga penuh penuh perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya kepada Akbar dan calon istrinya itu saja. Juga kepada keluarga Lek No dan orang-orang yang ada di rumah Asti itu.
__ADS_1