Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 109. Kehidupan Bagai Arus Air yang Mengalir


__ADS_3

Tak lama pesawat berputar-putar di atas kota Yogyakarta yang terbalut udara pagi yang mulai terang. Hari ini sudah pukul 05.30. Ada diantara para penumpang sudah menyelesaikan sholat Subuh di bangku masing- masing.


Mereka diberikan tahu untuk memasang seal belt. Akbar sudah ada di pangkuan Joko. Bayi itu tidak menangis saat pesawat terguncang sedikit. Gerimis pagi mengawali pendaratan mereka di bandara yang terlihat memulai kesibukannya.


Ninuk membantu Asti mengeluarkan barang-barang dari kabin. Sebagian berupa tas besar berisi keperluan Akbar, stroller dan oleh- oleh. Joko segera memakai gendongan depan untuk membawa Akbar dengan mengandeng tangan ibunya ikut antrian keluar dari dalam pesawat.


" Alhamdulillah!"


Kata- kata itu hampir diucapkan oleh seluruh jemaah yang merasakan ketegangan sedikit kir karena cuaca kurang bersahabat.


Di antrean bagasi, mereka menunggu. Joko menarik koper - koper milik keluarganya dibantu oleh Lek No. Wajah Bulek Ratih masih agak pucat walaupun sudah diberi segelas teh hangat yang dibeli Ninuk setelah mereka melewati beberapa gerai makanan dan minuman.


Beberapa bus tampak sudah agak lama menunggu kedatangan rombongan mereka di luar gedung bandara. Ninuk mendorong koper dengan tas besar yang ada di pundaknya. Begitu juga dengan bawaan Asti. Sementara Lek mendorong dua koper, miliknya dan milik istrinya.


Lelaki paruh baya itu tampak masih bersemangat saat membantu kernet dan petugas dari travel memasukan koper- koper di bagasi bus. Koper keluarga Ninuk terlihat berbeda karena sudah diberi stiker dan nama panggilan mereka. Mereka juga mendapat izin diturunkan lebih dahulu, karena rumahnya melewati Kantor travel, tempat akhir rombongan berhenti di sana. Sebelum diantar atau dijemput anggota keluarganya.


Kegiatan serupa juga dilakukan pada dua bus yang lainnya. Joko dan Akbar memilih duduk di depan. Sebab bayi itu sudah tampak segar setelah Asti mengganti Pampers, menyeka wajahnya lalu mengganti bajunya di toilet bandara. Walaupun sekarang hanya menggunakan shirt dan celana katun panjang, tetapi Asti menambahkan baju hangat.


" Kita pulang, Dek!" ledek Bu Haji Anissa yang duduk di kursi seberangnya, bersama Pak Haji Anwar. Setelah selesai , pria itu memimpin doa sekaligus ucapan selamat dan rasa terima karena menggunakan jasa dari kantor travel umroh miliknya.


Perjalanan sudah melewati jalan di luar luar kota Yogyakarta. Mata Asti terus memandang segala kehijauan di sisi kanan dan kiri jalan, dari jendela bus. Ada barisan hutan bambu, hamparan sawah yang baru sebagai mulai panen. Perkampungan penduduk dengan rumah- rumah yang mempunyai ciri-ciri tersendiri. Sampai beberapa bangunan pabrik- pabrik dari arah jalan Klaten sampai menuju Solo.


Tampak jalan ke arah utara luar kota Solo mulai sangat dikenalinya, arah jalan pulang ke rumahnya. Sebagian rombongan nantinya akan diturunkan di halaman kantor travel. Tetapi tadi Lek No sudah mengatur koper-koper milik keluarganya agak di pinggir jadi mudah diambil. Mereka akan turun langsung di depan ruko.

__ADS_1


Benar saja, bus mulai mengarah ke simpang tiga setelah melewati sebuah SPBU terbesar di daerah itu. Tak lama tampak dari sisi jalan di kiri, tampak deretan bangunan bertingkat dua dan tiga, pertokoan 'Ayu Sulaksmi Niaga'. Bus bergerak perlahan memasuki jalan masuk ke jalur ruko yang cukup lebar, di sisi jalan raya tersebut.


Kedatangan bus pariwisata itu di depan ruko menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitarnya termasuk Mas Yanto.


Pria itu tertegun ketika pintu bus yang paling depan terbuka. Selain ada kenek yang turun, tak lama Joko ikut turun mengendong Akbar.


Pria itu segera memeluk kerabatnya itu. Tak lama disusul dengan turunnya Asti, Ninuk , Bulek Ratih dan Lek No. Pintu bagasi bus dibuka. Dibantu Yanto dan kernet bus, mereka mengangkat empat buah koper besar dan dua tas kulit milik keluarga tersebut.


Barang- barang milik Akbar juga sudah diturunkan di dekat meja warung tenda. Joko menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan untuk sang kernet. Karena selalu ringan tangan mengatur koper dan bawaan milik keluarganya. Di bus tadi, rombongan Keluarga Lek No adalah yang paling banyak anggota nya, lima orang dewasa dan satu bayi. Sebab kebanyakan yang ikut dalam rombongan umroh mereka biasanya pasangan suami istri atau anak dan orang tua saja.


Pak Roh berlari - lari keliling ruko untuk membuka pintu pagar samping. Tak lama lelaki itu muncul bersama Bu Jum. Dalam sekejap Akbar sudah berada dalam pelukannya. Wanita itu menangis karena rindu, juga bahagia melihat kedatangan mereka. Semua tampak sehat walaupun kelihatan lelah.


Mereka tadi sempat berpamitan sebelum turun dari bus. Sekarang bus besar itu mulai meninggalkan halaman ruko, berbalik menuju ke arah Timur. Tempat tujuan akhir, yaitu kantor travel milik Pak Haji Anwar.


Hawa rumahnya pagi itu yang sedikit berbau aroma jeruk dari cairan pembersih lantai menyeruak ke seluruh ruangan, membuatnya semua kangen.


Setelah lebih dari dua belas hari mereka selalu mencium wangi- wangian eksotis ala Timur Tengah. Wangi yang tajam dari campuran rempah dan bunga dari ruangan hotel, tempat ibadah, sampai barisan toko dan mall. Belum lagi udara gurun pasir yang lembab karena sedang musim dingin.


Di meja, tampak tumpukan makanan yang menjadi jatah penumpang pesawat. Mungkin jatah Bulek Ratih atau Lek No karena tidak menyukai sarapan berupa burger atau sandwich yang disediakan para pramugari dini hari tadi. Jadi mereka menyimpan makanan itu ke dalam tas dan dibawa pulang.


Bu Jum, Pak Rob dan Mas Yanto mencoba satu -persatu makanan khas ala orang barat itu. Malah Bulek lebih menyukai menu makan siang mereka saat ini, berupa nasi dengan sayur bening bayam, lauk tempe goreng dan sambel kecap.


" Bu Jum ini undangan buat kita?" tanya Asti. Di sana di atas meja di kamarnya ada empat amplop undangan yang sama dengan nama orang yang diundang berbeda - beda. Ada untuk suami - istri Sarno Winangun, Joko, Ninuk juga Asti.

__ADS_1


" Iya, Mbak. Kemarin yang nganter Mbak Kirana, pegawai Bu Haji Anissa yang jaga butik di ruko."


" Kenapa ditaruh di meja kamar saya, Bu Jum?"


Mata Bu Jum tiba-tiba meredup. " Itu undangan pernikahan Mbak Almira... Takutnya Mas Joko belum move on kalau menerima undangan pernikahan darinya..."


Tanpa sadar, Asti memukul dahinya. " Ya, benar . Bu Jum! Terima kasih. Untung disimpan di sini. Nanti kalau waktu acara resepsi kurang dua hari atau tiga hari, baru kita berikan semua undangan ini..."


Segera dimasukkan empat amplop undangan itu ke dalam laci meja riasnya. Semoga Joko diberi kekuatan dan hidayah setelah kepulangannya dari umrohnya. Agar bisa menerima wanita idaman hatinya sudah dipinang pria lain.


Setelah cukup beristirahat, mereka mulai membuka koper-koper itu. Sebagian besar isi koper Bulek Ratih adalah pakaian Akbar. Sementara Koper Joko penuh dengan oleh- oleh berupa sajadah, kerudung dan peci haji. Rencananya oleh-oleh itu akan dia berikan kepada orang yang bekerja membantunya di sawah.


Segala pakaian kotor milik Joko dan Lek No nanti akan dibawa ke laundry dekat kota. Sebab pakaian kotor milik Akbar dan para wanita hanya sedikit dan dapat dicuci di mesin cuci di rumah ini.


Tak lama, Mas Aidil, suami Mbak Kirana membawa pesanan dari Asti. Ada 50 kantong paket berupa air zamzam dalam botol kecil dan beberapa permen dan kacang khas tanah Arab untuk yang dikemas dalam plastik-plastik transparan untuk para tetangga.


Menjelang Ashar, Joko sudah mengeluarkan mobil Asti untuk kedua orangtuanya bersama dua koper juga 25 bungkus sovenir, dari paket pesanan Asti.


Sekarang Asti sudah meminta tolong kepada Pak Rob untuk membagikan kantong paket sisanya kepada tetangga di kanan dan kiri di rumahnya ini.


Untuk pegawai ruko, Asti membelikan kerudung, juga sajadah dengan tulisan nama mereka masing-masing. Sedangkan untuk pemilik ruko, Asti membeli berbagai makanan berupa Permen dan kue-kue berupa kacang- kacangan juga hiasan meja.


Ninuk masih izin kuliah hingga dua hari ke depan. Jadi dia bermaksud beristirahat di rumah Asti sat ini. Setelah melaksanakan perjalanan umroh yang cukup melelahkannya , namun sarat makna dalam kehidupan beragama seseorang.

__ADS_1


__ADS_2