Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 187. Jangan Menyesal Belakangan


__ADS_3

Mas Qasim kembali ke mejanya setelah mengantar kepergian keluarga Pak Leon... Pria itu hanya diam saja, sambil mengambil tas kecil yang tadi diletakkan di atas meja. Dia mengambil dompet dan segera berjalan menuju meja kasir. Pria itu membayar beberapa minuman dan cemilan yang tadi mereka makan di sana. Kecuali Pak Leon dan Bu Asti, yang tidak menyentuh es teh yang telah dia pesankan sebelum kedatangan mereka.


Pria itu menatap sekali lagi pada kelompok perempuan itu. Salah satu di antara para wanita muda itu adalah tunangannya. Sebenarnya dia kurang suka menerima perjodohan ini, yang diatur oleh Adik ayahnya almarhum yang mereka teman seperjuangan ayahnya Nurwati. Apalagi keluarga Pak Baihaki Sarman cukup terpandang di kota itu. Hanya saja, dia sangat kecewa setelah tahu, kalau sahabat tunangannya itu adalah wanita yang beberapa bulan yang lalu, menjadi viral karena tingkah laku dan tindakannya. Bahkan Nurwati pun berusaha menutupi keberadaan dari awalnya ke datangan Almira, ke rumah kostnya dan memberikan bantuan yang cukup besar pada Almira.


" Saya langsung kembali ke Magelang sore ini, Nur. Tolong! Sampaikan salam saya dan mohon pamit untuk pada kedua orang tuamu!" Ucapnya tegas.


" Mas, bukan begini caranya!" ujar gadis yang bernama Nurwati itu, agak marah dan sedikit tersinggung.


" Saya nggak percaya dengan kamu lagi! Sebab kamu lebih mempercayai sahabatmu yang sangat munafik itu. Karena dengan beraninya dia memutar balikkan semua fakta yang sebenarnya. Kamu sudah menyerang Ibu Asti, hanya berdasarkan rasa setia kawan yang sangat konyol. Padahal wanita itu harus berjuang untuk mempertahankan bayinya yang harus dilahirkan secara prematur, karena permasalahan yang dibuat Almira!"


Ketiga wanita itu kaget. Sebab Pak Cakra mengirim utuh video kedatangan Almira ke ruang perawatan Asti. Semua perkataan keji wanita muda itu dan intrik yang sengaja dibuatnya agar Asti percaya, kalau dia masih berhubungan dengan suaminya itu.Tentu saja, pria itu sangat percaya bukti itu. Apalagi suara amukan Almira sangat jelas terdengar di sana.


Padahal saat Ibu Asti juga dalam keadaan yang tidak baik. Wanita itu mengalami tekanan psikologis yang sangat berat. Bahkan dengan keadaan kandungannya pun bermasalah, dan harus dalam pengawasan dokter secara intensif.


Di sana terlihat Asti terbaring tak berdaya dengan selang infus dan selang oksigen. Apa wanita itu bisa melawan segala caci makian yang dilontarkan Almira dengan kejam?


" Maaf, Mas... " Bisik Almira buka suara.


" Untuk apa? mengintip akun bisnis saya, agar kamu selalu dapat memantau kegiatan Pak Leon?"


Mata Mas Qosim itu menatap Almira dengan kesal. " Mungkin nanti, urusanmu bukan hanya dengan para netizen yang terhormat itu saja! Untuk persoalan Almira ini, kamu itu, kok! Tidak ada kapok- kapoknya, dengan segala ambisi untuk mengejar Pak Leon! Dia bisa melaporkan segala tindakanmu ini ke kantor polisi!'


" Ternyata, selama ini kamu berhasil menjual penderitaan yang kamu buat sendiri. Sampai Nurwati pun terperdaya, membela terus dirimu yang jelas sangat bersalah dan hal ini. Tampaknya, lantai dingin penjara lebih cocok untuk mengurung kegilaan kamu Almira! Leon Narendra Murti sudah merasa terusik kehidupan pribadinya, dengan tindakanmu ini. Jangan salahkan Pak Leon, kalau dia akan mengejar dan memenjarakan kamu!"


Pria itu melangkah cepat keluar dari area kafe mini itu ... Segera mencapai tangga turun eskalator, menuju lobi, sampai berjalan keluar dari gedung mal itu.

__ADS_1


Tinggal ketiga perempuan muda itu saling menatap kebingungan, saat mereka ditinggalkan begitu saja. Walaupun Mas Qosim itu pria sopan dan alim, tentu dia juga sangat murka dengan kejadian ini. Karena tindakan Almira dan Nurwati tunangannya itu, sudah menghambat semua urusan bisnisnya. Kerjasamanya dengan Pak Leon itu sangat didambakan oleh pria muda itu yang baru mulai merintis usahanya dalam menghidupkan kembali pabrik kecil warisan dari kakeknya.


" Saya kecewa dengan kamu, Almira! Ternyata ceritamu soal Pak Leon dan Asti itu bohong, kan? " Bisik Nurwati pasrah, sambil menatap ke arah Almira dengan tatapan tajam.


Air mata Nurwati kembali berlinang... Perbuatannya tadi restoran terhadap Ibu Asti, sekarang seperti sebuah bumerang yang menyerang dan menghancurkan kehidupannya sendiri. Apa yang ia harus sampaikan kepada orang tuanya nanti? Kalau Mas Qosim benar- benar mundur dari rencana pernikahan mereka.


" Nur, tunggu!" panggil perempuan lain yang tidak bercadar... Dia adalah saudara sepupunya, dari pihak ibunya. Wanita yang berpakaian hijab hijau sage itu sangat takut kalau Nurwati akan bertindak nekat dan tanpa perhitungan lagi.


Dulu dia sudah melarang sepupunya itu untuk tidak menerima Almira di rumah mereka yang dijadikan tempat kos-kosan dua lantai. Waktu itu Almira datang dengan keadaan yang sangat memelas. Dia sudah diceraikan dengan suaminya ketika kasusnya semakin viral di media sosial.


Saat itu semua orang yang mengenal dirinya dan mengikuti sebagian dari perjalanan hidupnya di Facebook dan Ig. Mereka berlomba-lomba menghujat dirinya. Padahal kesalahan hanya satu, mencintai Pak Leon! Seharusnya dia yang berhak mendapatkan cinta dan perhatian lelaki itu. Tetapi mata pria itu lebih tertuju pada Asti, seorang janda beranak satu. Seorang wanita muda yang menurut penilaiannya, kalah jauh dibandingkan dengan segala keunggulan yang ada pada dirinya.


Almira hanya sangat terkejut, kalau Asti dapat membangun sebuah rumah yang cukup bagus di lingkungan perkampungan yang sederhana. Walaupun tempat itu sangat strategis, karena berada di depan jalan simpang yang baru saja dibangun dalam dua tahun yang lalu.


Malah Mas Adam yang selalu membicarakan mengenai keturunan keluarga Asti yang sangat dihormati di desanya. Jadi dia memaksa bertemu dengan wanita yang selalu dikagumi Mas Adam itu.. Justru bujukan kepada lelaki itu agar mereka pura-pura menjadi tunangan, menjadi jalan cerita yang berbeda dari segala yang telah direncanakan dengan cermat.


" Al, kamu balik ke tempat kost, ya! Saya dan Nia mau ke rumah orang tua, di Sukoharjo... Tolong! Jangan ikut campur lagi dengan semua urusan kehidupan pribadi saya. Maaf....!"


Suara Nur terdengar terbata-bata dari balik cadar coklat tuanya... Tampaknya dia berusaha menahan segala kesedihan dan air mata yang akan tumpah lagi. Masa depannya dipertaruhkan kali ini!


Di Yogyakarta, dulu dia dan Almira tinggal di rumah besar yang dijadikan pemiliknya tempat kost khusus putri. Mereka tinggal di lantai dua dari rumah itu, hanya berbeda dua pintu kamar saja! Mereka semua penghuni di sana, berteman baik selama bertahun-tahun.


Rumah tiga lantai tempat kost mereka memang sangat aman dan nyaman walaupun tidak mewah. Apalagi sang pemilik, sepasang suami istri yang sudah sepuh itu sangat toleran kepada mereka... Bahkan memperlakukan sepuluh wanita muda yang sedang belajar dengan giat itu, untuk menempuh pendidikannya layaknya anak sendiri... Sehingga tempat kost itu banyak dihuni para mahasiswi dari berbagai kampus yang berbeda di Kota Gudeg itu.


Nurwati Fatimah mengambil jurusan kependidikan Bisnis dan Dunia Usaha di sebuah kampus swasta, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kos itu. Sedangkan Almira menjadi salah satu mahasiswi di kampus negeri yang cukup terkenal di kota itu. Mungkin dia kost di situ, karena harganya sewanya cukup murah, setiap bulannya.

__ADS_1


Mereka menjadi dekat, setelah Almira tahu, kalau Nurwati tidak sesederhana penampilannya. Gadis manis itu adalah anak seorang pejabat di pemda di kota tempatnya berasal. Selain itu, keluarganya memiliki sebuah usaha konveksi seragam sekolah dan sebuah yayasan pendidikan Paud yang sekarang dipegang oleh Tante dan sepupunya itu.


Pada Nurwati itu pula, Almira meminta pertolongan, setelah kehidupannya hancur lebur akibat kasusnya yang viral menimpa dirinya. Pindah ke kota Surakarta, adalah jalan yang dipilih, daripada dia membuat malu seluruh keluarganya di kampung. Untuk sementara dia membantu administrasi di yayasan tersebut dan memakai hijab yang lebih lebar. Terkadang memakai cadar, agar tidak ada lagi orang yang mengenali lagi wajahnya dan mengusik kehidupan pribadinya.


***


Asti terduduk diam setelah mereka sampai di rumah. Segala barang belanjaan akan dibawa besok dengan mobil Inova itu lagi. Jadi tidak perlu dibongkar isi bagasi itu.


Puspita pamit setelah membawa satu kantong belanjaan yang tadi dibelinya untuk ibu dan ayahnya. Dia membelikan ibunya dua daster batik untuk dipakai sehari - hari di rumah. Juga sarung dan baju koko untuk sang ayah. Pria tua itu memakai sajadah dan kopiah bila pergi ke masjid dekat rumah mereka. Kopiah dan sajadahnya itu adalah oleh-oleh Asti dari perjalanan umrohnya hampir setahun yang lalu.


" Mbak Asti, makan ya? " bujuk Bu Jum.


Wanita itu menyelinap masuk kamar tidur utama, setelah meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Leon. Pria itu pun cemas dengan keadaan istrinya yang semakin diam setelah pulang dari kota Surakarta. Leon berharap, dengan tindakannya tadi, dapat menghentikan polah tingkah Almira yang semakin nyeleneh.


" Mbak Ning, masak apa Bu Jum?" akhirnya Asti buka suara.


" Masak sayur lodeh sama bacem tempe dan tahu! Mbak Asti mau dimasakin apa? Biar Bu Jum siapin.."


" Ngga usah , Bu Jum... Asti hanya merasa capek dan letih saja... Kok, hidup Asti begini, ya? Selalu saja dihadapkan dengan orang - orang yang nggak tahu diri ya, Bu Jum."


Keluhan Asti membuat Bu Jum miris. Dulu Asti terlihat lebih tegar saat dia baru berpisah dengan suami pertamanya. Bahkan bersemangat untuk menghidupi bayinya itu, dengan bekerja keras.


Kini, kehidupannya wanita muda itu sudah lebih baik dan cukup makmur... Tetapi ujian hidupnya lebih berat lagi. Semakin banyak saja orang yang tidak suka pada Asti.


Bahkan Almira dengan terang-terangan, memantau kehidupan pernikahannya dan kegiatan bisnis Pak Leon, lewat tangan orang lain. Belum lagi mengenai kasus Mas Tarjo yang belum tuntas.

__ADS_1


" Sabar dan tawakal, ya. Mbak! Ujian Allah itu berat, tetapi selama ini Mbak Asti selalu diberi kemudahan dalam hal apapun. Tandanya Mbak Asti orang yang kuat dan Sabar!"


__ADS_2