
Pagi hari di rumah keluarga Basuki Murti berlalu seperti biasanya. Bu Jum dan Asti segera beranjak ke paviliun setelah membantu Mbak Siti merapikan dapur. Para anggota keluarga sudah menyelesaikan sarapan bersamanya. Termasuk Leon, Joko dan Dimas yang segera kembali ke ruang kerja milik Pak Murti dulunya.
Terlihat Mbak Tia sudah membawa berbagai alat - alat kebersihan, sebagai tugas menjadi ART di rumah ini. Wanita itu berjalan menuju tangga ke lantai dua. Dia tentu akan lebih dulu membersihkan kamar-kamar yang ada di lantai ata. Tempat yang digunakan Dimas dan Joko tidur di sana.
Ibu Anggun masih meneruskan obrolannya dengan Bulek Ratih.. Ketika mereka berpindah tempat, menuju teras depan paviliun yang terasa lebih lapang sejuk dan nyaman di pagi menjelang siang ini. Sebab teras itu menghadap arah Selatan, jadi agak menghalangi jatuhnya cahaya matahari dari timur. Apalagi di dekat teras itu tumbuh tanaman yang lebih tinggi di sisi pagar untuk menghalangi pandangan dari luar.
Sementara Lek No dan Pak Murti akan mulai berjalan-jalan pagi ke luar dari depan rumah. Muji ikut membantu mendorong kursi roda yang digunakan oleh Pak Murti. Nanti dia akan kembali pulang.
Rencananya mereka nanti akan mampir ke rumah Mbak Mesya. Setelah berkeliling kompleks yang cukup indah dan nyaman ini. Sebab jalan utamanya sangat lebar dan teduh dengan berbagai pohon pelindung yang besar dan rimbun di area kompleks pemukiman kelas elite ini.
Sebenarnya rumah Pak Murti hanya terpisah jaraknya satu blok dari rumah Mbak Mesya, anak sulung beliau. Namun karena rumah di sini kebanyakan dibangun layaknya villa atau tempat untuk peristirahatan, jadi setiap hunian mempunyai halaman dan taman depan yang sangat luas dan hijau. Sehingga jarak rumah ayah dan anak itu jadi terasa agak jauh. Hampir 900 meteran jaraknya. Akbar mengikuti rombongan itu dengan mengayuh sepeda roda tiganya. Lek No menggunakan tali untuk menarik sepeda itu agar Akbar tetap bisa mengikuti rombongan itu dan tidak terlalu melelahkan bagi kaki kecilnya.
Dari pantauan monitor di pos jaga depan rumah dan hape Leon, terlihat Mbak Tia mulai memasuki kamar tidur utama yang biasanya digunakan Ibu Anggun sehari- hari di lantai bawah. Mbak Tia ternyata melupakan alat perangnya yang biasa digunakan untuk bebersih itu. Berupa sapu dan seember air dan alat pel yang paling trend di gunakan pada rumah- rumah perkotaan karena iklannya cukup booming waktu itu.
Tentu dia sengaja melakukan itu, agar semua kegiatan yang dilakukan lebih leluasa. Terlihat dalam pantauan CCTV terbaru yang sengaja dinyalakan Ibu Anggun ketika dia meninggalkan kamarnya untuk sarapan.
Mbak Tia sudah sangat hapal dengan semua letak barang - barang yang biasa digunakan oleh Ibu Anggun di kamar itu. Sebab Pak Murti masih menggunakan kamar tidur lamanya yang ada di ujung ruangan dengan balkon tersendiri.
Di ruangan itu masih mempunyai tersedia beberapa alat bantu kesehatan yang digunakan untuk Pak Murti. Seperti ranjang dengan kelengkapan yang mirip di ruang rumah sakit. Ranjang yang bisa disetel tinggi rendahnya untuk bagian kepala untuk memberi kenyamanan bagi si pasien. Ada tiang untuk infus. Dua tabung oksigen dan penyangganya yang sudah terisi penuh. Juga ruangan kaca dengan teras tersendiri yang menghadap taman samping.
Mbak Tia langsung berjalan mendekati lemari khusus yang menyimpan perhiasan milik majikannya itu. Dengan santainya wanita itu membuka pintu lemari itu yang terdiri dari beberapa laci untuk menyimpan setiap kotak dari setiap set koleksi milik Ibu Anggun.
__ADS_1
Pak Leon dan Pak Sadli agak tegang melihat Tia ternyata telah mempunyai kunci duplikat tersendiri yang dapat membuka lemari khusus penyimpanan perhiasan itu dengan mudahnya. Padahal di setiap laci disimpan satu set perhiasan yang telah diberi nomor. Nomor itu telah didata Mbak Mesya beberapa waktu yang lalu lengkap dengan foto bentuk setiap perhiasan itu. Tanggal dibeli dan toko pembuatnya.
Kemarin Ibu Anggun akhirnya dapat meneliti kembali, setelah cukup lama mengamatinya dari beberapa kotak perhiasannya itu. Ada beberapa perhiasan yang hilang, dari setiap satu setnya dari kotak khusus itu. Mungkin Tia dapat melakukan hal itu karena sejak Pak Murti sakit dan dirawat di rumah sakit, Ibu Anggun bisa seharian berada di rumah sakit untuk menjaga suaminya yang menjalani perawatan opname hampir seminggu.
Tak Lama terdengar suara klik saat tanpa sengaja Mbak Tia menyentuh satu tombol pada bagian di laci lemari hias itu yang menyimpan koleksi perhiasan Ibu Anggun yang lebih mahal lagi. Biasanya itu berupa perhiasan yang terbuat dari mutiara atau berlian.
Suara itu berbarengan dengan keluarnya cahaya merah sebagai tanda di monitor bagi Pak Sadli untuk segera masuk ke dalam rumah. Karena adanya tindakan pencurian.
Wajah Tia sangat kaget dan pucat karena tombol itu kemudian mengeluarkan suara dentingan yang keras bersamaan dengan cahaya lampu berwarna merah di atas lemari itu berkedip - kedip. Saking kagetnya, Tia berusaha menutup lemari itu dengan cepat dan berlari keluar dari kamar tidur utama. Saat Tia keluar dari pintu kamar bersamaan dengan datangnya Pak Sadli yang akan mengecek ke dalam kamar tidur utama, tempat asalnya suara dan lampu tanda bahaya itu.
Tak ayal lagi, tubuh keduanya bertabrakan tepat di depan pintu kamar tidur utama. Tubuh kokoh dan tinggi besar milik Pak Sadli membuat tubuh Mbak Tia yang mungil terbanting dan terhempas cukup kuat ke lantai. Keduanya terjatuh. Ada suara teriakan yang keluar dari mulut wanita itu, karena rasa terkejut dan sakit. Bersamaan dengan itu terjatuh juga sebuah benda seperti kotak dari kayu yang dipernis warna gelap.
Cepat Pak Sadli memungut cincin yang terbuat dari emas dengan hiasan batu mulia besar dan warnanya agak berbeda. Termasuk sebuah sebuah giwang antik , yang merupakan bagian dari koleksi perhiasan milik Ibu Anggun.
Joko terus mengabadikan kejadian itu dengan kamera mahalnya. Saat Mbah Tia berusaha bangun dia terkejut. Di sekelilingnya sudah ada Pak Sadli yang juga sudah terbangun dari duduknya. Di sana juga ada Muji, Pak Leon dan Mas Joko. Wajah - wajah pria itu menatap Mbak Tia dengan seribu tanya.
Dalam kepanikannya, Tia sampai berusaha meraih kotak kayu yang tergolek dekat dia tadi jatuh. Pak Sadli sudah keburu meraup tiga benda perhiasan lainnya yang tercecer agak jauh dari Mbak Tia.
" Kamu ngapain membuka lemari perhiasan Ibu Anggun?" tuduh Pak Sadli. Setelah dia yakin cincin itu terlalu mahal dan bagus untuk dimiliki seorang Tia, yang juga seorang pekerja di rumah ini. Apalagi gaji mereka hampir sama besarannya dalam setiap bulan. Kecuali Mbak Siti yang merupakan pekerja yang paling lama di rumah ini sekarang. Hampir 7 tahun bekerja di keluarga ini.
Wajah Mbak Tia semakin panik. Leon tersenyum puas karena dia dapat memergoki perbuatan curang wanita itu terhadap harta benda milik ibunya.
__ADS_1
" Nggak, saya nggak ambil perhiasan Ibu! Saya tadi sedang membersihkan kamar tidur Ibu Anggun..." ucapnya berkelit.
" Tapi sapu dan kain pel nya masih di depan kamar saya, Mbak!" jelas Dimas sambil membawa ember, sapu dan kain pel itu turun dari lantai atas. Benda itu tadi masih ada teronggok di depan kamarnya.
" Terus saja kamu berbohong, Mbak! Saya nggak terima, ya! Kebaikan Mama saya kamu manfaatkan! Pak Sadli, ayo kita laporkan saja pada polisi yang bertugas di polsek depan kompleks!"
Pak Sadli menerima perintah Pak Leon dengan patuh. Namun sebelumnya mereka sudah membawa Tia keluar dari rumah utama dan ditempatkan di pos jaga depan. Mbak Tia kali ini tak berkutik. Sejak tadi Muji terus menyeretnya dengan paksa berikut kotak yang ada di pelukannya.
Di pos Jaga depan Mbak Tia didudukan di kursi. Air matanya terus mengalir. Ada rasa takut, malu juga was-was akan ancaman Pak Leon untuk membawa kasus ini ke polisi. Akan jadi apa dirinya kalau dia sampai masuk penjara?
Hilang sudah rasa jumawa pada diri wanita muda itu... Ternyata Mbak Tia itu masih satu kampung dengan ART yang bekerja cukup lama di rumah Mbak Mesya. Mbak Sartini.
Ibu Anggun dan Bulek Ratih terkejut melihat adanya ramai-ramai yang terjadi di depan rumahnya. Yaitu di depan pos jaga depan untuk para petugas keamanan rumah. Wanita itu mengajak Bulek Ratih untuk ikut menyaksikan kejadian di sana.
Melihat kehadiran Ibu Anggun, tangis Mbak Tia menjadi - jadi. Walaupun sangat menyayanginya pembantunya itu, tetapi Leon berhasil membuka mata ibunya, akan kecurangan yang dilakukan Mbak Tia selama bekerja di rumah ini.
" Maaf saya, Bu! Maaf. Saya jangan diserahkan ke kantor polisi... Saya nggak mau masuk penjara!" ucap Mbak Tia menangis histeris.
" Kamu sudah sering kan mencuri uang dan perhiasan saya ?" kata Ibu Anggun perlahan.
Mbak Tia sampai mencium kaki Ibu, agar segala perbuatannya tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib. Tetapi Ibu Anggun sudah sangat geram dengan kejahatan Tia kali ini. Walaupun dia sangat mempercayai cerita Tia yang mengalami kesulitan besar saat bekerja di Singapura. Sebab sebagian dari gajinya harus disetorkan kepada agen yang membawanya sampai ke negara itu, yang terkenal sangat ketat dengan pemberian izin untuk para pencari kerja dari negara Asia lainnya. Sehingga Mbak Tia berhutang sangat besar pada agennya, setelah mereka berhasil menyiapkan berbagai dokumen yang diperlukan untuk bekerja menjadi ART di negara itu.
__ADS_1