Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 215. Tiada Maaf Bagi Mbak Tia


__ADS_3

Tergesa-gesa Muji balik ke rumah. Dia mendapat perintah untuk mengambil semua barang-barang di kamar Mbak Tia. Termasuk semua pakaian, dan barang-barang pribadinya. Dibantu Pak Suh, pekerja di rumah ini yang menjadi tukang kebun. Mereka mengambil koper dan dua tas besar untuk mengangkut barang tersebut.


Di kantor polsek di depan kompleks perumahan elite itu, Mbak Tia masih berusaha berkelit dengan segala tuduhan lainnya. Termasuk ucapannya semula untuk tidak mau mengakui perbuatannya itu. Pak Leon memperlihatkan rekaman CCTV ketika Mbak Tia masuk kamar Ibu Anggun. Bahkan terlihat jelas saat wanita itu mengambil barang berupa tas, baju dan yang terakhir mengambil perhiasan yang ada di meja rias.


Barang- barang yang berada di kantong kresek itu dapat dijadikan bukti untuk kejahatan yang telah dilakukannya. Bu Anggun tidak akan memenjarakan wanita itu asal dia keluar dari rumahnya dan mengembalikan semua barang - barang yang telah dicuri itu. Apalagi kalau kalung pemberian suaminya itu dapat kembali ke tangannya dan akan dijadikan kenangan terakhir.


Dari kamar Mbak Tia itu, Muji dan Pak Suh sudah memasukkan pakaian dan barang-barang pribadi Mbak Tia ke dalam koper besar dan dua tas jinjing dari plastik. Mereka membawa semua barang itu melalui pintu belakang. Cepat kedua orang itu mengangkat koper dan tas plastik yang berisi makeup, dan peralatan pribadi Mbak Tia.


Muji membawa motor itu dengan membonceng Pak Suh sambil menggotong koper yang katanya dibeli wanita itu di Singapura. Koper besar berwarna merah itu diletakkan di depan sedangkan dua tas kresek ditenteng Pak Suh.


Para pekerja di rumah Pak Basuki itu juga sudah lama mencurigai niat tak baik Mbak Tia. Dengan cepat beberapa ART yang telah cukup lama bekerja di rumah itu jadi tidak betah. Kadang mereka diadu domba oleh Tia, bahkan diintimidasi secara halus oleh Tia agar berhenti kerja karena kesalahan yang dibuat secara tidak sengaja. Termasuk Mbok Kar, ART yang paling lama bekerja pada majikannya itu, sejak mereka masih tinggal di Jakarta dan pindah ke daerah ini.


Di kantor polsek, Ibu Anggun meminta Pak Sugeng memeriksa kembali barang - barang pribadi milik Mbak Tia. Sebagian memang milik wanita itu. Tetapi mata Bu Jum terbelalak ketika mengenali salah satu cincin milik Mbak Asti di kotak perhiasan itu. Sebab itulah cincin yang diberikan Pak Leon saat melamar Asti pertama kalinya. Karena banyak ornamennya pada cincin pertunangannya itu, jadi jarang dipakai Mbak Asti dalam kesehariannya. Selain takut merusak berlian kecil yang mengelilingi batu permata besar berwarna biru itu yang ada di tengahnya. Sehingga membentuk bunga yang indah. Juga agak merepotkan mengunakan cincin besar itu untuk digunakan sehari-hari. Jadi Asti hanya mengenakan cincin kawinnya yang lebih simpel modelnya.


" Pak Leon, itu bukan cincin tunangan milik Mbak Asti, ya?"


Cepat Leon meraih cincin itu. Saat dia membaca tulisan di dalam cincin itu, mata pria itu langsung melotot. Karena sangat marah, dia mengambil cincin itu lalu mendekati Mbak Tia.


" Bagaimana kamu bisa mengambil cincin ini, heh?"


Mbak Tia sudah menghentikan tangisnya. Dia semakin tak berdaya. " Eh, saya nggak sengaja menemukannya di kamar Ibu!"


Sebuah tamparan keras dihadiahkan Leon ke pipi perempuan itu yang semua warna dandanannya sudah bersatu dengan air matanya sehingga mirip lukisan abstrak anak - anak di TK. Karena warnanya saling tabrak antara warna bedak, eye liner dan blus on. Sehingga wajahnya penuh coreng tak karuan.

__ADS_1


" Maling kamu, ya? Mama, pantasnya perempuan ini dimasukan ke penjara saja! Banyak bohongnya! Biar dia merasakan lagi dinginnya lantai penjara... Asti bukanlah orang yang ceroboh. Cincin ini ada di dalam koper kami. Asti jarang memakainya tetapi selalu menyimpan perhiasan ini dengan rapi di kotak perhiasan miliknya."


Huh, pengen rasanya Bu Jum mengemplang kepala si Tia ini. Sering meremehkan Mbak Asti dan dirinya. Tetapi barang berharga milik menantu majikannya yang disimpan rapi pun kena diembat juga!


Segera saja permasalahan Mbak Tia diproses. Apalagi Ibu Anggun juga sudah mendapat telepon dari Mbak Siti kalau Pak Murti sudah diantar pulang oleh menantu mereka, Pak Pandu.


Joko dan Leon yang akan bertahan mengawal kasus ini. Dimas nanti yang mengantar ketiga wanita itu pulang ke rumah... Tadi Mbak Tini sudah berjanji akan mencarikan Art lain pengganti Mbak Tia.


Laporan pencurian itu sudah selesai berkasnya. Koper dan barang-barang pribadi Mbak Tia juga sudah datang. Walaupun tidak dikurung dalam tahanan tetapi Mbak Tia diwajibkan melaporkan diri seminggu sekali. Apalagi dia segera dipecat oleh Ibu Anggun dan dilarang kembali ke rumah.


Kedatangan Mbak Sanem mengejutkan mereka semua. Wanita itu diantar anak buahnya dengan sebuah sedan bagus. Ternyata wanita itu pemilik PT yang menyalurkan para tenaga kerja ke beberapa keluarga di daerah ini yang memerlukan jasa mereka.


Wanita itu membawakan sebuah kotak yang berisi kalung emas dengan bandul dari batu merah yang cantik. Perhiasan Itu adalah kalung milik Ibu Anggun.


Mata Ibu Anggun mendelik, " Kapan saya memberi perhiasan emas begini banyaknya, Mbak? Dia itu sudah mencuri dari kamar saya. Malah dia punya kunci lemari tempat menyimpan koleksi perhiasan saya... Terus siapa yang mau mengangkat dia menjadi menantu di keluarga saya, nggak salah omongan itu ?"


Bu Jum tertawa geli... " Kebanyakan menghayal dia, Bu. Saya sudah bilang, kalau pak Leon nggak bakalan suka sama kamu. Pelakor secantik Mbak Almira pun ditolak. Sampai perempuan yang sholeh dan berpendidikan tinggi saja bisa dikirim ke penjara!, karena mengacaukan rumah tangganya... Apalagi kamu Mbak Tia! Mimpi!"


Leon maju, mengambil perhiasan di kotak tersebut. " Ini punya Mama saya! Bukan itu saja, banyak barang lain yang dicuri Mbak Tia dari kamar tidur pribadi orang tua saya. Termasuk cincin pertunangannya yang saya berikan untuk istri saya dulu!"


Wajah wanita paruh baya itu tampak kecewa melihat kepada anak buahnya itu. Ternyata kebiasaan Tia berbohong dan mencuri itulah yang selalu melekat pada dirinya. Berkali-kali , dia bekerja di beberapa rumah majikan lainnya selalu mendapat komplain, karena banyaknya kehilangan barang berharga. Sehingga Mbak Tia dikembalikan lagi ke yayasan milik Mbak Sanem itu.


" Bagaimana Ibu Anggun, Pak Leon ?" tanya Pak Suwondo.

__ADS_1


" Lebih baik dia dikembalikan lagi ke agen penyalurnya saja, Bu. Jadi semua barang bukti dapat diambil!" Jelas Pak Sugeng mencoba menengahi. " Tetapi saya akan memastikan kalau Mbak Tia tidak boleh berkeliaran di daerah ini atau pun bekerja di keluarga di kompleks ini. Tindakan pencurian itu sudah parah! Percuma dihukum penjara juga! Nggak akan kapok!"


" Ya, sudah! Tolong Mbak Tia, kembalikan transfer dai Mama saya untuk uang belanja kebutuhan rumah tangga, yang sudah kamu korupsi cukup banyak setiap bulannya! Ayo buka hape dan perlihatkan pada kami saldo ATM, mu! Biar para bapak di sini bisa menuntut dengan pencurian, penipuan sekaligus korupsi uang belanja sekalian!"


" Maksud Pak Leon , Tia juga mengambil uang Ibu Anggun juga!" tanya Mbak Sanem terduduk lemas.


" Ini kesalahan Mama saya yang menyerah kebutuhan barang bulanan di rumah. Tetapi sebagian besar uang itu malah masuk kantong pribadinya, bukan membeli semua kebutuhan dapur dan rumah tangga!"


Karena mendapat ancaman dari pak Sugeng, Tia menyerahkan M-banking miliknya. Semua orang melotot ketika melihat saldo di ATM itu berjumlah fantastis. Hampir 30 juta. Padahal gaji dia sebulan saja hanya dua juta rupiah. Baru bekerja 5 bulan lebih. Tetapi Muji melihat kalau Mbak Tia suka berbelanja makeup, minyak wangi dan berbagai pakaian model terbaru dan kekinian. Tentu gajinya itu seharusnya berkurang banyak dengan belanja yang terlihat sangat boros tersebut.


" Kembalikan ke rekening Mama saya 20 juta rupiah. Sisanya saya anggap sebagai pesangon untuk kamu! Tolong Ibu Sanem bawa anak buah ibu pergi dari sini!" Pinta Leon tegas.


Ibu Anggun hanya memeluk lengan Leon dengan kuat. Kalau urusan ini diperpanjang tentu akan sangat menggangu ketentraman seluruh anggota keluarga Murti. Padahal Pak Basuki Murti masih dalam masa pemulihan sakitnya.. . Jadi beliau harus berpikir tenang, juga keadaan rumah harus memberinya rasa nyaman dan bahagia.


Ibu Anggun akhirnya pulang dengan Mbak Tini dan Bu Jum. Tia menandatangani berbagai berkas. Termasuk tuntutan akan masuk penjara bila dia melakukan tindakan pencurian lagi. Dari peristiwa itu, Ibu Anggun yang mengakui kesalahannya karena terlalu mempercayai wanita itu yang baru bekerja beberapa bulan di rumahnya itu. Ternyata wanita muda yang licik dan suka mencuri.


Kepulangan mereka yang tidak bersamaan untungnya tidak diketahui Pak Murti yang sedang beristirahat di kamarnya. Namun Ibu Anggun menyampaikan kejadian di polsek itu kepada Keluarga Pak Sarno dan Asti . Mereka berbincang - bincang di ruang tengah paviliun. Sementara Bu Jum dan Mbak Siti mengajak Qani dan Akbar bermain di halaman depan rumah yang cukup luas. Karena ada lapangannya parkir mobil yang diberi cone blok.


" Mama nggak apa-apa kami tinggal pergi besok?"


" Nggak apa-apa, Asti! Besok sore pun keluarga Alya akan kemari ! Sebenarnya Pandu juga sudah meminta mereka untuk tinggal di sini. Biar cabang perusahaan Abadi Murti yang di Bandung, dipegang orang lain... Tetapi anak-anaknya menolak pindah karena sudah betah di sana."


Mereka saling menguatkan hati. Bulek Ratih sampai memeluk besannya itu erat-erat. " Percaya sama orang boleh, Ibu Anggun . Tetapi hati-hati. Tidak semua orang terlihat baik pada sikap dan penampilannya saja!" pesan Bulek Ratih.

__ADS_1


__ADS_2