
" Kita mau kemana, Mas?" tanya Asti kepada Leon.
" Kita bawa anak-anak jalan-jalan dan main ke mall dulu! Mumpung kita masih di kota ini...Kasian kan mereka cuma nunggu di parkiran saja .... Sementara ibunya berbelanja keperluan toko agak lama!" Ujar Leon berdiplomasi.
Kedua mobil itu sudah berjalan beriringan memasuki ke sebuah tempat parkiran yang cukup luas. Area itu merupakan itu berada di depan gedung megah dengan bertuliskan Paragon Mall.
Asti sebenarnya sudah tak berniat untuk berkeliling kota ini lagi. Apalagi untuk berjalan-jalan. Walaupun sejak menikah lagi dan mempunyai bayi, kesempatan untuk datang ke kota ini sudah sangat jarang dilakukannya . Sebenarnya dia sudah ingin membaringkan tubuhnya yang lelah dengan tidur yang cukup lama.
" Biar anak- anak mendapat hiburan dulu, ayuk!" ajak Leon meminta Asti ikut turun dari mobilnya.
Pak Cakra malah mengendong Akbar, dibuntuti oleh Mbak Putri. Dimas membantu Bu Jum memegangi stroller Qani. Rombongan itu sudah bergerak memasuki gedung mall yang cukup besar dan megah ini. Mereka berjalan dari satu lantai ke lantai lainnya menggunakan eskalator atau tangga berjalan. Puspita ikut nimbrung pada kelompok di depannya bersama Putri.
" Kamu kurang enak badan, Yang?" bisik Leon, yang terus mengandeng tangan Asti di belakang rombongan keluarganya itu. Jari jemari Leon meremas telapak tangan Asti yang dingin.
"Saya bukan capek badan juga setelah acara belanja tadi, juga capek hati!"
Leon menatap wajah suram Asti. Gangguan Almira ini semakin lama semakin membuatnya geram. Apakah gadis itu mengalami sedikit gangguan kejiwaan?
" Kita akan perlihatkan pada Almira, di mana tempat yang pantas untuk dia!"
Suara rendah dari ucapan Leon itu, masih sempat juga didengar oleh Asti. " Maksudnya Mas Leon, apa ini?"
" Dia bermain sebagai play Victim, kepada beberapa teman baiknya... Tetapi kali, ini dia tak akan berhasil lagi memanipulasi orang lain. Kita harus menghadapinya bersama - sama..."
Anak - anak senang dibawa ke arena play ground. Puspita dan Putri menjaga Akbar yang sedang mencoba berbagai wahana mainan yang cukup banyak tersedia di sana ... Sampai Akbar berteriak senang karena dia agak berlama-lama di arena mandi bola. Sementara Dimas dan Pak Cakra duduk di bangku tunggu yang disediakan di luar arena bermain. Qani yang sudah diturunkan dari strollernya, oleh Bu Jum, asyik merayap kemana -mana karena lantai itu berlapiskan alas seperti karpet dari karet yang empuk.
Dimas menatap Pak Cakra, karena selama ini mereka yang turut menjaga Pak Leon bersama Damar.
__ADS_1
" Sepertinya Pak Leon mau mempertemukan Almira dengan Mbak Asti! Perempuan itu semakin nekat, dia menggunakan tunangan sahabatnya itu untuk memantau kegiatan Pak Leon.." Ujar Pak Cakra pelan.
" Tampaknya rawatan rumah sakit jiwa lebih pantas untuk wanita separuh gila seperti Mbak Almira itu, ya. Pak!"
Pak Cakra mengangguk tanda setuju. " Sebenarnya, saya yang pertama kali naksir Almira, Dim... Tetapi perempuan muda itu hanya memandang sebelah mata kepada saya. Sebab dia ternyata mengincar si Bos, bukan asistennya ini. Saya pasrah dan sedikit kecewa pada mulanya. Apalah arti Cakrawala Yusnardi , tanpa Leon Narendra Murti. Saya hanyalah sebutir batu kali...."
Dimas hanya menelan ludah. Dia baru bergabung bekerja, setahun ini dengan Pak Leon. Setelah ayahnya pensiun dari pekerjaannya menjadi supir pribadi Ibu Mesya di Semarang. Wanita itulah yang meminta agar adiknya memperkerjakan Dimas, setelah dia menyelesaikan pendidikannya di sebuah SMK dan kuliah D2 Jurusan mesin otomotif di kota tersebut.
" Jadi, yang mengusulkan Mbak Almira untuk gabung di team kreator pada acara pameran perumahan di Semarang itu, Pak Cakra?"
" Ya, begitulah... Saya jadi harus tahu diri... Apalagi, mantan istri bos juga sangat bar-bar... Nggak mau diceraikan secara sepihak... Padahal kalau Bos mau membeberkan perihal perselingkuhan istrinya dengan seorang pejabat. Bisa geger dunia persilatan!"
" Bukannya sudah biasa, Pak Cakra! Kalau pejabat itu suka main cewek dan berselingkuh... Mereka kan punya uang dan jabatan, sih!"
" Nggak juga! Kalau yang diselingkuhi itu istri orang, seperti Pak Leon! Hanya, Leon saja banyak mengalah... Tetapi karena perceraian itu diurus oleh pengacara handal, Ibu Corinne tidak berkutik. Dia menyetujui semua tuntutan si pengacara Bos. Daripada nama pejabat itu dipublikasikan ke media massa, mereka akan banyak menanggung malu. Ternyata pria itu malah menjauhi Ibu Corinne setelah perkara perceraiannya itu telah selesai..."
" Kita lihat aja, Dim? Tampaknya laporan ibu manager restoran tadi, membuat Pak Leon kaget juga... Saya nggak tahu, kalau Almira menggunakan kebaikan temannya itu untuk mengetahui semua kegiatan Pak Leon. Termasuk pertemuan bisnis tadi!"
Benar saja, di seberang area bermain anak-anak ada sejenis ruang tunggu untuk orang tua yang cukup leluasa. Di sana juga ada beberapa mini kafe dan pusat jajanan dengan tempat yang lebih privasi untuk pengunjung sekedar melepas lelah.
Asti pasrah saja, saat digandeng Leon menuju ke tempat nongkrong yang agak sepi di ujung bangunan sebelah barat. Mereka tadi sempat menitipkan anak-anak pada pengasuhnya, juga Puspita, Pak Cakra dan Dimas.
Kelompok wanita berhijab itu tertegun ketika Kak Qosim menyambut kedatangan Pak Leon dan istrinya. Mereka kini duduk berhadapan di sebuah meja besar, layaknya meja untuk acara makan sebuah keluarga yang harmonis!
" Perkenalkan, saya Leon dan ini istri saya, Asti. Tadi di restoran saya tidak sempat memperkenalkan keluarga saya , karena takut menganggu inti dari pertemuan kita tadi..."
Suara Leon sudah membuat ketiga wanita berhijab itu tertunduk. Apalagi Wanita yang berhijab besar berwarna biru navi dengan niqab hitamnya.
__ADS_1
" Perkenalkan, saya Qosim Maulana Jamaluddin, Bu... Kami sudah lama ingin bergabung dengan proyek yang dirintis Pak Leon di desa Sekarwangi..." Ujar pria yang bertampang seperti seorang ustaz muda. Wajahnya tampak alim dan teduh. Tutur katanya lembut dan halus.
Asti hanya mengatupkan kedua tangannya ke depan mulutnya, menyambut salam rekan bisnis suaminya itu. Walaupun dia mengenakan hijab ala kadarnya, namun segala aturan dan ajaran agamanya berusaha dia perbaiki semuanya.
" Ini , Nurwati Fatimah, calon istri saya. Insya Allah, kalau ada jodoh kami ingin meresmikan hubungan kamu dalam pernikahan tahun depan!"
Wanita berhijab coklat itu semakin tertunduk. Dia tahu dirinya salah dengan menyerang Asti yang sudah diincar Almira saat mereka bertemu di restoran masakan Jawa siang tadi.
" Sekali lagi, saya mohon maaf! Bisnis kita, Mas Qosim atas dasar saling percaya dan saling menghargai bukan? Atas dasar apa tunangan anda melabrak istri saya tadi di restoran dan mengaku kalau dia mengenal Asti... Sedangkan dia saja baru bertemu dengan Isti saya sekarang?"
" Maksud, Pak Leon?"
" Ya, kalau tunangan Anda sudah mulai mencari perkara dengan keluarga saya ... Lebih baik kita tunda dulu bisnis yang kita akan lakukan... Materi memang yang kita kejar dalam ikatan kerjasama ini. Namun ketentraman hidup istri dan anak-anak saya, lebih utama!"
Pria yang bernama Qasim itu semakin tak percaya ketika Leon mengirimkan rekaman CCTV yang tadi diminta Pak Cakra dari manajer restoran...Rekaman itu diambil dari pojok mushola yang digunakan untuk sholat pada bagian wanita.
" Apa-apaan kamu ini, Nur! Masih percaya dengan omongan Almira yang sudah seperti sampah itu! Kalau kerjasama ini tidak berjalan lancar, jangan harap saya menikahi kamu ... Sana kamu pilih dan bela selalu, Almira. Saya mundur!"
Ucapan Pria itu terdengar sangat marah. Sambil memukul meja kayu itu kuat -kuat. " Maaf, Pak Leon... Saya baru tahu tadi dari email Pak Cakra... Ternyata duri dalam rumah tangga Pak Leon adalah sahabat tunangan saya ini!"
Pak Leon menatap kelompok perempuan itu. Tampaknya perempuan yang berhijab coklat itu sudah menangis, karena terlihat dia berkali-kali mengusap matanya. Sedangkan wanita yang memakai cadar hitam itu beberapa kali menatap Leon yang sama sekali tidak peduli dengan kehadirannya.
" Biar Pak Leon... Saya akan usut masalah ini. Tolong pertimbangkan lagi kerjasama ini. Sebab ini adalah amanah dari almarhum kakek Mursyidi yang dulu tinggal di Madiun..." Ucap Pak Qosim mantap.
" Baiklah, sebenarnya ini hanya perkara urusan perempuan. Tetapi saya tidak suka dengan cara kalian menjatuhkan mental Asti! Ingat Almira, yang kamu serang itu Asti yang sedang sakit, dengan kehamilannya yang bermasalah karena intrik yang kamu buat! Tolong jangan mengintip kegiatan bisnis saya lagi!" Ujar Leon tajam.
" Saya tidak peduli kalau harus melawan perempuan alim sekalipun! Apalagi kalau hatinya busuk dan mata batinnya dipenuhi obsesi yang kurang wajar. Mas Qasim, nanti simpan rekaman ini, ya! Saya perlu bukti untuk melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Sebab saya akan melaporkan tindakan wanita itu , yang kurang menyenangkan juga menguntit kehidupan keluarga saya! Terimakasih. Assalamualaikum!"
__ADS_1
Pria muda yang dipanggil Mas Qosim itu mengantar kepergian Asti dan suaminya. Di dekat tangga eskalator turun sudah menunggu keluarga mereka. Di sana ada kedua asistennya Pak Leon, kedua anaknya yang masih balita dan tiga perempuan lainnya bersama mereka.