
Rasa lelah mendera tubuh Asti setelah kembali dari pemakaman. Padahal dia hanya duduk dibonceng Lek No tadi yang lebih berhati-hati membawa motornya karena kehamilannya itu. Perjalanan yang tak sampai 10 menit itu harus melewati jalan ujung desa Sendang Mulyo yang dipenuhi batu-batu padas, yang tidak rata. Ternyata pembangunan belum juga menyentuh semua wilayah di desanya ini.
Satrio masih tak terlalu percaya kalau Ninuk yang akan membawa motor dengan Asti yang dibonceng. Anak bungsu Lek No itu, walaupun perempuan kalau sudah membawa motor gayanya sudah seperti Paulo Rossi yang sebentar lagi motor balapnya akan mencapai garis finis.
Pria itu pernah melihat gaya Ninuk yang menggeber motor scoopy barunya melintas di jalan raya antar provinsi itu. Ninuk mampu melewati truk-truk besar yang sarat dengan muatan sembako. Belum lagi bus-bus trayek pendek antar kota, di sekitaran wilayah timur Jawa Tengah sampai ke Madiun.
Sesampainya di rumah Asti, Ninuk dan Bude Prapti bergantian membasuh wajah, kaki dan tangan mereka di kamar mandi. Pesan untuk Asti dari Bulek Ratih yaitu, Asti harus juga mengganti baju yang tadi dipakainya selama ada di pemakaman tadi. Memang itu niat Asti semula karena tubuhnya sudah basah oleh keringat. Bukan karena takut sawan, karena dia sedang hamil dan dari makam.
Begitulah beberapa nasehat para ibu-ibu di desa ini tentang berbagai pantangan yang harus dipatuhi untuk menjaga keselamatan jabang bayi sampai dilahirkan dengan selamat.
Eh, si Jenong juga ikut berbaring di kamarnya. Ninuk juga ingin merasakan dinginnya AC di ruang kamar Asti. Tadi dia tidak hanya harus membonceng ibunya, juga membawa beberapa botol air mawar dan bunga setaman yang dipesan ibunya kemarin dari warung Mbah Gito di pasar Kecamatan.
"Pindah, kamu. Sana!" Usir Asti.
Mata Ninuk melotot, "Pelit amat, Mbak. Satu jam aja , ya ... Numpang mendinginkan tubuh masak nggak boleh?"
"Di bawah aja, buka karpet! Aku malas kalau tempat tidurku ditempatin orang lain..."
"Pantas ... Mas Satrio suka mengeluh. Mbak Asti sekarang jadi bumil yang cerewet bin bawel juga jutek sejak mengandung!"
" Biarin," Jawab Asti malas sambil membaringkan tubuhnya yang semakin membesar karena kehamilannya ini.
Belum tahu aja si Ninuk merasakan menjadi wanita dewasa dan menikah. Sejak dia mengetahui di dalam rahimnya ada calon anaknya, tubuhnya merasakan semua rasa tak nyaman itu sejak dari kehamilan yang tercatat lima minggu sampai sekarang.
Hampir tiap hari, Asti harus merasakan kepalanya yang terasa berat dan pusing, kakinya nyeri dan kram. Belum lagi hanya bisa berbaring telentang. Sebab dari minggu ke minggu perutnya semakin buncit dan begah. Macam orang makan dan selalu kekenyangan.
Senja tampak temaram di langit Barat. Dari balik jendela kamarnya, Asti memandangi matahari yang menyerupai bola merah keemasan itu perlahan-lahan bersembunyi di balik rimbunan hutan bambu, alias Alas Pring. Semburat kemerahan menyebar di antara bias senja. Di desa ini, menjelang sore hari terasa lebih hening, sepi dan tenang..
Sampai mereka mendengar ketukan di pintu depan. Ninuk berlari menuju ruang depan untuk membuka pintu. Bude Prapti, Ninuk dan Asti menatap bingung, karena tidak mengenal wajah pria tua yang menjadi tamu mereka itu.
Beliau berusia lebih tua dari Lek No, dengan rambut putih yang menghiasi seluruh kepalanya. Senyumnya terlihat tulus di wajahnya yang lelah dan sedih.
"Saya Rahmat Sodiq, mantan suami Ayu Sulaksmi! " Kata Bapak itu sopan memperkenalkan dirinya .
__ADS_1
"Maaf, Pak! Apa bapak belum mendengar kabar kalau Bude Ayu sudah meninggal? Baru tadi malam kami mengadakan acara Yasinan untuk memperingati 100 harinya."
Ucapan Asti yang lembut dan sopan ternyata cukup mempengaruhi pria tua tamunya itu .
" Apa Mbak ini yang bernama Nastiti Anjani?"
" Iya, Pak! Saya keponakan Bude Ayu."
Mata pria itu berkaca- kaca. " Kamu sudah tumbuh dewasa, ya! Ternyata Ayu benar -benar mampu merawat dan menjagamu. Padahal dulu kamu adalah bayi perempuan yang mungil dan ringkih. Saya yang egois karena menceraikan Budemu, hanya karena dia berniat lebih lama tinggal di desa hanya untuk mengasuh keponakannya yang malang."
" Maksud, Bapak?"
" Iya, saya memaksa Ayu ikut kembali ke pos tempat saya berdinas di Bengkulu. Tetapi Budemu bertahan di desa ini untuk merawat kamu, sejak ibunya meninggal...."
" Sebentar ya, Pak!" ujar Asti sopan. Dia tahu, siapa orang yang dapat diajak berbicara dengan mantan suami budenya.
Segera dimintanya Ninuk untuk memanggil Bulek Ratih dan Lek No. Sementara Bude Prapti membuat minuman untuk tamu tersebut. Di kulkas masih ada satu kotak brownies yang dibelinya di kota dua hari yang lalu. Lumayan sekedar pemanis untuk disuguhkan kepada lelaki itu.
Tak lama terdengar langkah dari pintu samping dapur, dari pintu penghubung itu munculah Lek No dan istrinya.
" Aku sih nggak kenal, Lek! Katanya mantan suaminya Bude Ayu!"
" Allahu Akbar, ya Gusti! Hampir sama dengan umurmu, lho. Lelaki itu tidak pernah muncul lagi. Langsung Budemu ditalak hanya karena mau ngurus kamu dulu. Lelaki yang egois dan keras kepala itulah yang dinikahi Bude Ayu!"
Mereka berdua menemui tamu yang datang tanpa undangan ke rumah ini. Mungkin karena ada suatu persoalan yang belum terselesaikan di antara mereka. Kedua orang tua Ninuk terlibat pembicaraan yang seru di sore itu. Asti dan Ninuk menyingkir ke kamar. Sedangkan Bude Prapti langsung menuju dapur.
" Itu mantan suami Bude Ayu, Mbak?" tanya Ninuk kurang percaya.
" Tumben nggak kepo? biasanya ... juga cari informasi sendiri!" Sindir Asti langsung.
Ledekan Asti membuat Ninuk ngamuk, " Emangnya aku tukang menguping, begitu?"
" Yah, kalau nggak merasa! Ya, jangan marah dan tersinggung. Baru begitu aja sudah sewot."
__ADS_1
"Ih... Mbak Asti ini ngeselin, deh. Ugh!"
Hanya ada tawa geli Asti karena berhasil menggoda remaja yang sangat kepo dengan semua urusan orang lain.
" Ngapain ngomongin masa lalu Bude Ayu. Saat itu aja Mbak Asti masih bayi! Apalagi aku kali, ya? Masih di awang- awang..."
" Untung kamu nggak tersangkut di pohon jati depan rumah sana awang-awang kamu! kalau ya, Jadi anaknya, Yu Kunti. Hi..."
"Dasar Bojo Mas Satrio, makin julit kamu, Mbak! "
" Masalah buat, Lo!" Jawab Asti sewot.
Pertentangan Asti dan Ninuk terus berlanjut. Bude Prapti sampai menahan napas saking gemesnya.
Yah, perempuan paruh baya itu merasakan betapa berubahnya cara anak muda sekarang, bersikap lebih kritis dan cepat tanggap.
Mana berani dia dulu membantah perkataan orang tua atau yang lebih dituakan! Takut dosa atau pamali. Jadi saat dia berusia 15 tahun, Kedua orang tua Bude Prapti sudah menerima pinangan seorang pemuda dari desa tetangga. Para pemuda itu kebanyakan orang tuanya petani. Yah, jadi Bude Prapti pun menikah dengan petani. Penghidupannya pun berasal dari pertanian. Tak banyak perubahan!
" Tumben tamunya belum pulang.." Bisik Ninuk setelah mereka makan setelah sholat Magrib berjamaah di mushola depan rumah. Ninuk membantu mencuci piring dan berbagai perkakas yang selesai digunakan untuk memasak.
Seperti biasa, dengan cepat Bulek Ratih menyiapkan makanan yang cukup layak untuk menjamu tamu mereka sore ini. Sebagian acara masak itu dibantu Bude Prapti dan Ninuk. Bude Prapti sudah masuk kamar untuk beristirahat.
Tadi Lek No yang mengantar tamunya pulang, saudaranya yang tadi membawanya ke rumah ini dengan motor sedang ada urusan penting di keluarga mereka.
Paginya. Bulek Ratih dan Lek No sudah menunggu Asti di ruang tengah. Mereka mengamati keadaan Asti yang terlihat lebih segar setelah beristirahat lebih lama.
"Sini, Asti! " Panggil Lek No. "Pak Lek dapat pesan dan amanah dari Pak Rahman kemarin!"
Pria itu meletakkan sebuah kotak kayu di meja. otak itu berwarna kecoklatan dengan pernis kayu yang mengkilat.
"Ini, peninggalan Bude Ayumu. Ada seperangkat perhiasan yang dulu diterimanya dari Pak Rahman, setelah mereka tukar cincin. Ini surat tanah di dekat pasar.Tanah ini dulu dibeli oleh Budemu sebelum dibawa suaminya bertugas."
Kotak kayu itu dibuka oleh Asti. Perhiasan itu masih utuh dan bagus.Tanda jarang dipakai Bude untuk kesehariannya. Mungkin hanya bentuk dan modelnya saja yang kuno. Alias susah ketinggalan zaman.
__ADS_1
Ini hadiah perhiasan kedua yang diberikan almarhumah Bude Ayu. Entah ... Asti belum berpikir untuk digunakan sebagai apa uangnya. Kalau perhiasan itu nanti akan dijualnya. Dia berhijab panjang, dan tak pernah menghias tubuhnya dengan perhiasan emas, di leher, lengan atau pun telinganya. Maklum zaman sudah berubah, Kalau sekarang lebih aman menyimpan uang atau perhiasan emas di bank. Lagi pula Asti tidak suka memakai perhiasaan.