Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 49. Tindakan Ibu Anggita


__ADS_3

Setiap ucapan yang disampaikan oleh Ibu Anggita malah membuat Asti terhenyak. Padahal sehari- hari wanita cantik istri Pak Sadewo itu bersikap lemah lembut, tutur katanya sopan. Karena darah ningrat yang mengalir di tubuhnya, sehingga Ibu Anggita sangat menjaga toto kromo.


" Ayo, Mbak Asti, turun! Jangan bengong gitu, dong!" ujarnya gemas.


"Apa ini Ibu Anggita yang sama? Mamanya si kembar?"


Gemas wanita itu, mencubit pipi Asti yang semakin tirus dalam beberapa bulan ini. Sehingga dia cepat langsing kembali setelah melahirkan dengan umur bayinya yang baru beberapa bulan saja.


" Tenang, Mbak!" Balas Ibu Anggita santai.


Wanita itu yang memakai tunik biru bergaris putih dengan celana panjang jeans, cepat bergerak keluar dari dalam mobilnya. Asti mengikuti dari belakang, ketika Ibu Anggita mengetuk pintu pagar rumah itu.


" Permisi?"


"Ya, Bu. Mau cari siapa ya?"


" Saya Puspitasari, Bu. Bisa bertemu dengan Pak RT, ya?"


" Waduh, Pak RT sudah berangkat kerja, sejak pagi, Bu. Saya Tatik, istrinya Pak Wardiman. Mari masuk!"


" Apa saya nggak merepotkan, Ibu?"


"'Oh, nggak, nggak! Biasa,  kalau ada warga yang perlu dengan surat menyurat, bisa saya bantu sedikit."


Mereka diterima dengan terbuka oleh Bu Tatiek, yang tampak nya baru pulang berbelanja dari pasar. Dalam gendongan Asti, Akbar terbangun. Sampai harus ditenangkan sebentar oleh Asti dengan menepuk-nepuk pantatnya.


" Ini, Bu. Saya mau bertanya sedikit. Waktu dua bulan lalu ada teman yang memberi informasi tentang rumah no 24 yang akan  dikontrakkan. Apa sudah diisi orang lain, ya?"


" Yah, Ibu sedikit terlambat. Sebab rumah itu sudah dihuni oleh pasangan  muda yang baru menikah lebih dari sebulan yang lalu."


" Kalau boleh tahu, rumah itu dibeli atau dikontrakkan ?"


" Oh, wanita itu baru saja membayar untuk sewanya  per-tiga bulan. Katanya suaminya baru ditugaskan di kota ini. Yah, mereka agak buru- buru pindah jadi banyak surat yang belum dilengkapi katanya."


Wajah kecewa Ibu Anggita tampak sangat meyakinkan wanita yang diajaknya bicara.


" Di blok lain ada juga rumah yang dikontrakkan, karena rumah itu agak besar jadi sewanya sedikit lebih mahal. Ibu tertarik? Saya kenal dengan pemiliknya." Ujar Ibu RT menambahkan.


" Terima kasih, Bu! Sepertinya saya harus mencari kontrakan di daerah lain saja. Dananya tidak cukup, maklum karena anak kembar saya baru mau masuk sekolah...."


Lalu, mengalir cerita apa emak - emak tentang kehidupan sehari- hari. Asti hanya menahan senyum, mendengar cerita rekaan yang diucapkan oleh Ibu Anggita. Tentang susahnya mengatur uang belanja, mahalnya harga sembako di pasar sampai segala urusan pekerjaan dapur.


Sampai mereka pamit keluar dari rumah itu. Sebelumnya, Ibu Anggita titip parkir mobilnya di samping rumah Pak RT karena ada jalan buntu, sedangkan tempat itu juga sudah beraspal, dan cukup aman ditempati mobilnya.


" Bagaimana Asti. Kita lanjut?  Pantang pulang sebelum menang! Apalagi  mereka mengaku pasangan suami istri!  Bisa kena perkara , Satrio ini  di kantor."


Mereka harus berjalan kaki melewati beberapa rumah lagi untuk mencapai rumah yang dimaksud. Rumah dengan nomor 24 terletak di tempat yang paling pojok , di ujung jalan Taman Firdaus III itu.


Bangunan rumah itu agak terpencil dari rumah tetangganya yang lain. Karena di depan dan di samping rumah itu adalah halaman dan taman dari tetangga lain. Sebab rumah- rumah di sini rata- rata berukuran luas dan mempunyai halaman dan taman yang asri di depan rumah rumah masing- masing.


Rumah yang dikontrak Satrio itu ukurannya tidak terlalu besar. Tetapi dibangun berlantai dua yang tampak bagus dan modern. Rumah itu juga dilengkapi garasi dan pagar besi tinggi . Benar-benar tempat strategis untuk menyembunyikan status hubungan mereka.


Tubuh  Asti gemetaran ketika dia melihat dibalik pagar itu ada  Fortuner Satrio yang  terparkir. Dari informasi Ibu RT tadi, si istri selalu ada di rumah kalau pagi hari. Karena dia bekerja sejak bulan lalu di klinik Medika Utama dan mendapat shift kerja di siang hari.

__ADS_1


Bangunan Klinik itu terdapat pada deretan ruko yang terletak di kanan dan kiri gerbang gapura yang megah, sebelum memasuki perumahan elite ini.


" Tenang Asti! Siapkan perekam di hapemu. Kita harus dapat membongkar kebohongan mereka!" Ujar Ibu Anggita, menepuk bahu Asti memberi kekuatan.


" Kalau benar mereka, sudah menikah. Bagaimana, bu?" tanya Asti ragu-ragu.


" Tanpa izin istri pertama, ada hukum pidananya. Ayo! Jangan ragu- ragu lagi untuk memperjuangkan hakmu!"


Agak lama, Ibu Anggita mengetuk pintu pagar di depan rumah itu. Bahkan Wanita itu agak kesal karena belum juga mendapatkan jawaban. Sebab dia yakin ada orang di dalam rumah, karena lamat- lamat terdengar suara mesin air menyala. Tampak dari dalam seorang wanita keluar dari pintu ruang depan.


" Siapa , ya?" tanya wanita muda yang sedang membuka pintu pagar untuk mereka.


" Selamat siang, Mbak! Maaf, Saya Ibu Anggita. Boleh tanya, apa ini benar rumah milik Pak Seno Subroto, ya?"


" Oh, ya. Benar, Bu! Tetapi saya sekarang yang mengontrak rumah beliau!"


Ada tatapan heran di mata wanita muda yang tampak seperti baru bangun tidur. Walaupun gaun tidurnya mahal dan bagus. Tetapi Asti agak risih melihatnya, selain panjangnya sampai di paha. Gaun itu tipis dan menerawang."


"Aduh, maaf. boleh tanya tentang Pak Seno, ya? Waktu beliau menawarkan rumah ini untuk dikontrakkan hape saya rusak, jadi kehilangan kontak. Padahal rumah ini mau saya ke kontrak karena letaknya lebih dekat ke kantor suami saya berdinas."


" Mari masuk dulu, Bu! Biar saya ganti baju dulu, Sambil mencari no hp beliau."


Sejak tadi wanita muda  itu beberapa kali menatap Asti, seperti agak pernah mengenalinya . Tak lama wanita itu keluar, mengenakan gaun daster batik yang pendek dengan gaya kimono dengan belahan dada yang cukup rendah.


Sekilas, Ibu Anggita dan Asti melihat rumah ini masih kosong dan belum banyak diberi perabot. Mereka akhirnya duduk di lantai yang diberi alas tikar plastik.


"Kami juga baru pindah. Jadi belum sempat membeli perabotan rumah tangga."


" Saya dengar tadi, kantor suami Ibu dekat dari kompleks ini?"


Cepat sekali Ibu Anggita menceritakan kantor suaminya dan pekerjaan di kantor tersebut.


"Lho, itu sama dengan kantor tempat suami saya bekerja juga, Bu!"


" Ah. iya? Boleh saya tahu nama suami Mbak?"


Dengan percaya diri wanita itu menyebutkan nama lengkap Satrio.


Hati Asti seperti disayat- sayat pisau. Perih. Inilah yang disebut luka tak berdarah itu?


Sesekali Ibu Anggita menatap mata Asti yang agak berkaca-kaca. Walaupun Asti tertunduk untuk mencegah air matanya menetes.


"Oh, ya? Kok, saya tidak mengenal Mbak! Boleh tahu nama Mbak siapa?"


" Zahra Madia Utami, Bu.


Memangnya ada apa, ya?"


" Padahal sebagai istri, nama Mbak seharusnya terdaftar sebagai istri anggota dan wajib ikut organisasi para istri tersebut. Apa Mbak  baru menikah? Bisa saya bantu urusannya. Sebab saya di organisasi itu menjabat sebagai kepala humasnya."


Wajah wanita muda itu memerah seperti menahan malu. "Baru calon suami, kok. Bu ...."


"Yakin, calon suaminya kerja di sana? Maklum, Mbak. Zaman sekarang banyak lelaki yang mengaku anggota untuk menggoda dan menipu wanita muda. Yah, kalau mendapat suami  berseragam dan banyak uang , orang tua di kampung jadi bangga juga, kan?"

__ADS_1


Mata Zahra berkedip agak bingung, tetapi juga ragu- ragu. Asti menelan ludah. Dia harus menuntaskan masalah ini segera. Dia membuka hape dan mencari foto Satrio.


" Maksud, Mbak Zahra. Foto orang ini yang bernama Satrio Wibowo?"


" Benar, Mbak!"


" Saya Nastiti Anjani. Istri sah dari Satrio Wibowo ."


Ibu Anggita mengangguk, mengiyakan. " Sekarang begini, Mbak Zahra yang terhormat. Apa hubungan Mbak dengan Pak Satrio?"


" Kami sudah bertunangan!" Jawab wanita muda itu tetap percaya diri.


Asti tersenyum sedih. " Mbak bertunangan dengan suami orang, dan juga sudah tinggal serumah dengan dia. Yakin yang Mbak lalukan ini benar?"


" Tetapi Mas Satrio bilang sedang mengurus perceraian dengan isyrinya.Terus karena istrinya itu banyak mengajukan tuntutan yang agak memberatkan, jadi perkara perceraian itu selalu tertunda."


" Mbak kena prank, sama Satrio! " jelas Ibu Anggita tersenyum sinis.


" Sebagai abdi masyarakat untuk izin menikah aja ada aturan yang cukup rumit, Mbak. Apalagi untuk urusan perceraian. Nggak sembarang langsung cerai. Apalagi sudah ada anak!" Jelas ibu Anggita makin meninggi suaranya.


" Biar saya aja yang ngomong, Bu!"


" Silakan, Mba Asti! Emosi saya jadinya!" Kata wanita itu sambil mengeluarkan tisu dan menyeka keringat di dahi dan lehernya.


" Mbak Zahra, saya akan membantu, mbak. Bila mau jujur dengan semua ucapanmu.Tetapi saya akan bawa kamu ke kantor Pak Sadewo bila semua ini hanya fitnah..."


" Maksudnya?"


" Saya akan merekam semua omongan, Mbak. Nanti saya akan samakan dengan ucapan Satrio. Kalau memang kalian saling mencintai dan ada niat untuk menikah, saya yang mundur."


" Jangan , Mbak Asti!" Larang Ibu Anggita cepat.


" Biar saya yang akan menggugat cerai Satrio, karena dia sudah lama menjalin hubungan dengan suami saya, iya kan. Mbak Zahra?"


"Mbak sudah tahu semuanya?"


"Sudah. Kamu tahu Zahra, apa ada seorang bapak yang memarahi Satrio saat kamu akan diantar pulang?"


" Iya, pria paruh baya itu mengikuti kami sampai ke tempat Satrio memarkir mobilnya."


" Pria itu mertua saya, bapaknya Satrio! Sekarang jelaskan, kemana kamu pergi pada hari Rabu sore itu?" Secara detail Asti menyebutkan tanggal dan waktunya ketika melihat Satrio dan Zahra pertama kalinya di tempat umum.


Zahra mulai memandang wajah Asti agak takut. " Satrio ke rumah orang tua saya di Wates untuk meminang saya. Kami bertunangan atas izin orang tua dan keluarga saya."


" Zahra, apakah kalian juga sudah berhubungan badan layaknya suami istri?"


Air mata wanita muda itu tampak bimbang." Satrio meminta hal itu untuk membuktikan kalau saya memang mencintai dia. Maaf, Mbak!"


Asti mematikan rekaman di hapenya. " Saya minta kamu tidak mengadukan hal ini pada Satrio. Pura- pura tidak tahu, dan berlakulah seperti biasa. Karena kamu akan aman. Kalau kamu bicara soal kedatangan saya dengan Ibu Anggita, kamu akan dibuangnya."


Wajah Ibu Anggita dan Zahra tambah takut dan bingung. "Sebab Satrio itu orang yang paling egois dan tak mau disalahkan."


"Jangan lupa. Diam dan berlakulah seperti biasanya Zahra. Selama ini adik saya dan separuh dari anak- anak muda di daerah ini sudah memantau tingkah laku kalian!" Ancam Asti sarkas. Sukses membungkam mulut tipis dan manja Zahra.

__ADS_1


__ADS_2