
Sabtu siang kerabat dari Bulek Ratih sudah berdatangan ke rumah Asti. Padahal Lek No dan Bulek Ratih masih tertahan dengan segala kesibukan mereka di desa Sendang Mulyo.
Para kerabat mendengar rencana keberangkatan umroh keluarga itu dari salah satu kerabat yang tinggal di desa sebelah. Padahal keluarga Lek No tak mau banyak sesumbar akan acara kepergian tersebut. Hanya mengadakan pengajian bersama sambil meminta doa keselamatan dari para tetangga yang datang pada malam itu.
Akbar seperti biasa akan mencari perhatian bila di rumah banyak orang. Hanya Bu Jum yang lebih berhati-hati. Sebab dia segera merapikan barang- barang berharga milik Mbak Asti di kamarnya. Seperti perhiasan, jam tangan yang tergeletak di meja rias. Cepat dikuncinya pintu kamar tidur utama. Kunci itu disimpan di saku dasternya.
Sejak masalah Dania, orang- orang yang bekerja di rumah Asti selalu lebih hati - hati dan waspada. Bukan Suuzon terhadap saudara atau kerabat sendiri, banyak yang sudah ditolong, namun banyak juga dari mereka menusuk dari belakang. Alias berkhianat atau menceritakan keburukan dan kekurangan anggota keluarga Winangun kepada orang lain.
" Ayo, dicicipi kue dan tehnya! " seru Mbak Ning yang sibuk mengeluarkan kue- kue yang disajikan pada piring , dia jadi juga menyediakan teko besar berisi air teh manis hangat. Semua sajian itu diletakkan di atas meja makan.
Asti akhirnya pulang dari pasar sambil membawa berbagai makanan yang dapat dibelinya dari pedagang yang banyak membuka lapak di seberang pasar. Dia cukup kaget juga ketika ditelepon Bu Jum tentang banyaknya tamu yang datang ke rumah siang itu.
Kedatangan Asti dan Ninuk hampir bersamaan dengan kedatangan Lek No dan istrinya. Kali ini mereka juga sama-sama naik motor. Sebab kendaraan beroda dua itu lebih fleksibel digunakan dan mudah mencari jalan alternatif lain yang lebih cepat.
Apalagi semua barang-barang yang akan dibawa untuk keperluan berangkat umroh untuk keluarga Lek No sudah disiapkan Ninuk dan Asti di lantai dua. Jadi tidak terlalu repot lagi. Karena semua sudah siap.
Saking banyaknya orang yang datang ke rumah Asti, mereka sampai duduk-duduk di lantai ruang tengah beralaskan tikar. Tamu yang lebih muda usianya lebih suka di teras depan atau duduk di taman samping kanan dekat kolam ikan.
Semua tamu yang datang disalami Bulek Ratih, Lek No juga Ninuk. Sayangnya Asti hanya dapat menangkupkan kedua telapak tangannya di dada. Sebab banyak juga dari keluarga Bulek Ratih itu adalah pria muda yang sebaya dengan Joko. Karena mereka bukan muhrim untuk Asti.
Akbar berpindah dari satu gendongan ke gendong para pria muda itu. Ada satu dua orang dari mereka yang sering menyambangi warung tenda Joko di kala malam Mingguan. Jadi Akbar sudah mengenalnya, sehingga bayi itu tidak malu-malu kalau digendong.
__ADS_1
Bu Jum segera mengambil Akbar yang masih diajak main dari halaman parkir ruko untuk mandi sore. Para kerabat itu pada umumnya menyampaikan doa agar mereka selamat sampai tujuan di tanah Arab dan kembali ke rumah dengan selamat dan ibadahnya berjalan lancar.
Para tamu makan dengan nikmat apa saja yang disediakan oleh Mbak Ning dan Bulek Ratih untuk mereka. Bahkan ada yang mau mencoba mie goreng dan nasi goreng warung tenda yang mulai terkenal ke beberapa tempat di daerah itu karena kelezatannya.
Beberapa piring mie Tek- tek dan nasi goreng istimewa olahan Chef Danu telah disajikan di meja taman halaman samping. Menjelang Maghrib, para pria sholat berjamaah di ruang musholla kecil.
" Banyak tamu, banyak rezeki! " ucap Lek No. Ketika satu persatu para kerabat pamit pulang. Mereka kebanyakan naik motor. Sedangkan kerabat yang rumahnya paling jauh mengunakan mobil bak terbuka. Di belakangnya duduk para ibu dan bapak yang sudah berusia lanjut. Namun naik kendaraan seperti itu sudah membuat mereka gembira saat kembali ke rumah masing- masing.
Asti, Ninuk dan Bu Jum bergotong royong membersihkan dapur dan mencuci piring. Sebab tadi Mbak Ning dan Bulek Ratih sudah menyiapkan makan malam. Kaum muda pada umumnya lebih menyukai jajanan seperti yang dijajakan di warung tenda. Namun kaum tua yang usianya sebaya dengan Lek No lebih menyukai makan makanan berat seperti nasi, sayur dan lauk pauk. Katanya lebih kenyang dan nyaman di perut.
Sampai Ninuk membisikan soal lamaran Pak Leon kepada kedua orang tuanya. Tentu saja suasana di rumah malam itu menjadi heboh. Berkali- kali terdengar ucapan syukur yang keluar dari bibir Bulek Ratih. Saking senengnya, tubuh wanita itu sampai merinding.
" Sudah dijawab lamaran Pak Leon itu, Asti ?" tanya Bulek Ratih lembut.
" Jangan takut, Asti! Kita berdoa saja, agar niat tulus Pak Leon itu terwujud. Sebab kamu masih muda perlu suami yang akan akan mendampingi hidupmu untuk ke depannya. Akbar pun perlu lelaki yang dipanggilnya bapak agar ada yang membimbingnya kelak..."
Ucapan Lek No yang penuh kebijakan dan nasehat itu membuat Asti terdiam. Padahal dia kemarin menjawab asal jawab. Takut mengecewakan pria itu. Karena kebaikan Pak Leon kepada dirinya, tidak bisa diukur dengan uang atau apa pun.
" Jangan galau, Mbak! Pasti Pak Leon nggak asal ngelamar saja. Dia selama ini selalu menjaga dan menghargai Mbak Asti. Dia bukan pria yang tebar pesona, kok! Kalau Mbak Asti menolak lamaran itu, huh! Bakal nyesel deh," kata Ninuk panjang lebar.
" Kenapa harus menyesal?" Tantang Asti.
__ADS_1
" Mbak Almira saja minggir! Karena dia tahu, kalau Pak Leon hanya mencintai Mbak Asti sudah cukup lama. Mbak aja yang selalu menjauhi kaum pria yang cukup potensial untuk jadi ayah sambungnya Akbar!"
Perkataan Ninuk yang berapi-api hanya membuat Asti agak bingung juga. Maklum anak itu baru menjadi mahasiswi satu semester saja. Namun kamus filsafat kehidupan sudah ditelannya bulat-bulat.
" Eh, kenapa Mbak Asti malah bengong. Hargai aku dong, Mbak! Sudah ngomong capek- capek dari A sampai Z nggak ditanggapi!"
" Ya, udah bocah. Banyak banget omongan mu.... " Bisik Asti pasrah!
" Begini, Mbak! Aku tuh bukan nasehatin, lho. Mana aku berani sama emaknya Akbar! Mau jadi anak yang kualat? Aku tuh cuma kasih saran, aja!"
" Banyak lelaki baik-baik di sini yang menyukai Mbak Asti. Cuma mereka agak minder melihat Mbak Asti yang semakin tertutup dan menarik diri dari kegiatan sosial. Cukup Mas Satrio saja sebagai lelaki brengsek yang pernah hadir dalam hidup Mbak Asti! Lupakan!"
" Terima kasih, sarannya adikku yang cantiknya seantero jagat Sendang Mulyo. Oke?"
Mata Ninuk jadi melotot melihat wajah kakak sepupunya itu malah menjadi agak konyol. " Mbak, Pak Leon yang terbaik! Coba Mbak sholat istikharah, memohon agar lamaran Pak Leon adalah Jawaban dari segala doa' Mbak Asti selama ini. Lelaki itu adalah jodoh yang tepat buat Mbak Asti!"
Mata Asti agak mengembun mendengar suara lembut Ninuk. Tanpa sadar dipeluknya gadis remaja itu yang kini sudah semakin dewasa dalam bertindak dan bersikap. " Iya, Calon ibu guruku. Selalu doakan Mbakmu ini, ya? Semoga kesejahteraan, kebahagiaan dan keberkahan selalu ada di dalam kehidupan keluarga kita..."
" Ya , udah, Mbak Asti. Tapi kerudung jangan diacak - acak juga! Tuh, jadi miring kan?" Omel Ninuk.
Percakapan itu juga didengar Joko, Lek No dan Bulek Ratih. Tampaknya sinar kebahagiaan mulai datang ke rumah ini. Bersamaan dengan niat suci Almarhumah Bude Ayu yang dulu sangat menginginkan pergi bersama keluarga besarnya ke tanah suci. Sebelum maut merenggut nyawanya.
__ADS_1
Mereka kembali ke kamar masing- masing untuk beristirahat. Besok adalah hari persiapan untuk keberangkatan.