
Pak Leon membawa keluarganya menikmati perjalanan ke kota Semarang. Tadinya Ibu Anggun tidak mau ikut, tetapi Bulek Ratih berhasil membujuknya. Karena banyak peserta pada acara jalan - jalan tipis itu, Ibu Anggun memutuskan untuk menggunakan mobil Alphard milik suaminya beserta supir pribadinya untuk menjalankan mobilnya itu.
Perjalanan menunju Ibukota provinsi Jawa Tengah, dilakukan saat waktu menunjukkan pukul 10.30. Tak sampai 30 menit kemudian, kendaraan yang dibawa Pak Uto itu sudah memasuki kawasan Semarang perkotaan yang sangat ramai. Kota ini lebih ramai dan lebih besar dari kota Solo yang paling sering Asti singgahi. Bahkan di kota ini juga mempunyai sebuah pelabuhan laut yang cukup besar yang bernama, "Tanjung Mas".
Di sepanjang jalan yang mereka lalui banyak berdiri gedung-gedung bagus dan bertingkat tinggi . Lalu lintasnya juga sangat ramai dengan puluhan kendaraan yang melintas dengan berbagai jenis mobil yang ada di jalan raya itu.
Akbar tak bisa diam, saat melihat puluhan mobil ada di sekitar kendaraan yang mereka tumpangi. Bayi itu duduk di bangku depan, dipangku Leo. Kadang seruan lucu yang keluar dari mulut bayi itu juga ditanggapi Pak Uto dan Leon. Jadi suara mereka terdengar bersahut-sahutan. Suasana di dalam mobil mewah itu jadi terasa gembira dan menyenangkan.
Di bangku tengah, duduk Ibu Anggun diapit Asti dan Bulek Ratih , masing masing di sampingnya. Wanita ingin agar kedua keluarga barunya lebih leluasa melihat pemandangan kota dari jendela kaca yang ada di sampingnya. Sementara di belakang Mbak Ning dan Bu Jum berkomentar dengan penilaiannya sendiri terhadap keramaian dan kesibukan kota di siang ini.
Saking ramainya lalu lintas di jalan- jalan utama kota, Asti hanya sempat melihat sebuah taman yang mereka lewati. Terpampang di sana dengan huruf besar itu nama taman itu, " Simpang Lima" .
Mereka juga diajak melewati , sebuah wilayah yang disebut kota lama. Sebuah daerah yang penuh sejarah dengan peninggalan gedung dan bangunan tua. Seperti gereja, kantor dan juga rumah tinggal.
Saat Pak Uto mau membawa mobil itu menuju ke arah 'Lawang Sewu' , salah satu destinasi wisata terkenal di kota itu. Justru Ibu Anggun yang menolak. Dia tidak terlalu suka dengan cerita mistis yang menyertai keberadaan gedung peninggalan zaman kolonial itu, sehingga membuatnya tidak nyaman.
Mereka berhenti di area perbelanjaan atau toko oleh-oleh. Di tempat ini banyak dijual berbagai makanan khas kota itu cukup terkenal. Sampai bagasi mobil dipenuhi dengan berbagai makanan dan kue- kue itu yang dimasukan ke dalam beberapa kantong kresek. Semua hasil buruan Asti dibantu Ibu Anggun, si Ibu mertua yang sangat sabar, lembut dan penuh kasih.
Mereka juga mampir ke sebuah toko jajanan yang sudah lama dicari dan diincar Asti sejak lama. Yaitu Lumpia Semarang yang asli. Di toko itu, Ibu Anggun sampai memesan beberapa varian lumpia dalam beberapa kotak untuk di bawa pulang.
Mereka juga mampir makan siang di sebuah restoran yang banyak menyajikan makanan khas kota itu. Termasuk soto Semarang. Sedangkan Akbar makan nasi putih dengan manuk goreng. Ternyata pilihan makanan berkuah segar itu dapat dinikmati oleh semua orang yang ikut dalam rombongan jalan - jalan tersebut.
Semakin siang, udara di kota Semarang semakin panas. Karena kota itu ada di dataran rendah, sekaligus berbatasan dengan laut Jawa di pantau Utara.
" Senang?" tanya Leon. Setelah mobil itu yang dikemudikan Pak Uto sudah memasuki kembali halaman rumah orang tuanya.
Jawaban Asti hanya anggukan kecil saja. Pria itu menyerahkan Akbar pada Bu Jum. Sebab baju bayi itu sedikit kotor dan basah. Jadi harus segera diganti.
Para ART sibuk mengangkat kantong kresek di bagasi mobil. Atas petunjuk Ibu Anggun, beberapa kantong makanan yang tidak awet disimpan agak lama diletakkan di sebuah meja sudut di ruang makan. Sedangkan berbagai jenis kue dan makanan yang agak awet dibawa oleh seorang ART menuju paviliun.
__ADS_1
Seorang ART lainnya segera menyiapkan beberapa piring kecil dan sendok kecil. Semua atas perintah Leon yang melihat Asti sudah tak sabaran untuk mencoba lumpia Semarang yang mereka beli tadi.
Di kardus itu ada tersaji lumpia basah dan Lumpia goreng dengan saus kental yang lezat. Wajah Asti menggambarkan kenikmatan saat dia menikmati gigitan demi gigitan lumpia itu yang disajikan oleh Art di piring kecil.
Inilah makanan yang selama ini dicarinya karena sangat orisinil. Isi lumpia itu berupa cacahan rebung yang terasa sangat lezat dan nikmat. Tetapi rebung itu telah diolah secara khusus sehingga tidak berbau. Lain halnya ketika Asti pernah membeli sejenis lumpia seperti ini, di kota lain, walau ada sebutan 'Lumpia Semarang '. Ada bau bacin atau pesing dari olahan rebung atau bambu muda sebagai isiannya. Sejak itulah Asti menjadi kapok untuk mencoba makanan seperti itu. Kalau bukan Lumpia yang asli, yang dibeli di kota Semarang.
" Nanti sebelum pulang, kita mampir lagi ke sana, untuk dibawa pulang sebagai oleh- oleh!" Janji Leon.
Entah perasaan Asti yang sedang bahagia, sehingga dia menerima saja semua perlakuan manis dari suaminya itu.
Sore harinya, Pak Leon berjalan - jalan di halaman rumahnya yang luas dan hijau bersama ayahnya. Di belakangnya ada Ibu Anggun yang sedang mengandeng Akbar.
Wanita itu bertanya- tanya ketika tadi pagi, hanya melihat Asti turun sendirian dari kamar di lantai atas. Saat itu jam sarapan sudah lama lewat. Tetapi ibunya Leon maklum. Tamu mereka sangat kelelahan karena menempuh perjalanan yang cukup jauh kemarin untuk ke tempat ini.
" Asti, mana Leon?" tanya ibu Anggun.
" Maaf, Bu! Mas Leon tidur lagi bersama Akbar. Anak itu agak ngambek tadi mencari saya!"
Pada saat Asti beranjak untuk pergi ke paviliun, Ibu Anggun naik tangga menuju kamar Leon. Ketika pintu kamar itu dibukanya tampak pemandangan yang sangat mengharukan ada di atas ranjang sana. Akbar tidur di pelukan Leon. Mereka tampak nyaman tidur di kasur itu dengan keadaan udara pagi yang juga sangat dingin.
Saat Ibu Anggun berbalik mau keluar kamar, Leon terbangun ...Dia melihat kehadiran ibunya di kamar ini.
" Mama, ada apa? Asti tadi sudah turun kan?"
" Sarapan dulu Leon! Bukankah kamu mau ajak Asti dan keluarganya jalan - jalan ke kota Semarang?"
"'Siang dikit, nggak apa-apa, Ma. Tunggu Akbar bangun saja!"
Baru saja Leon selesai bicara, Akbar juga ikut terbangun... Bayi itu tersenyum saat pipi gembul itu diciumi Leon dengan gemas....
__ADS_1
" Akbar, mau makan?"
" Mau!"
" Oke , bosku. Kita berangkat!"
Tubuh kecil Akbar digendong di pelukannya. Mereka bercanda riang sambil menuruni tangga menunju ruang makan. Di sana sudah menunggu Asti, Bulek Ratih dan dua pekerja di rumah istrinya itu. Bu Jum dan Mbak Ning.
Pada sebuah bangku taman yang terbuat dari balok kayu itu mereka duduk. Sang ayah masih menjalani rawat jalan, dan diet ketat dengan pengawasan dokter ahli Jantung. Namun kehadiran Leon dan keluarga barunya cukup membahagiakan hati lelaki tua itu.
" Leon, masalah pesta resepsi untuk perayaan pernikahanmu, bagaimana?"
" Nggak usah, aja. Pa! Yang penting Papa dan Mama selalu mendoakan keberkahan dan kelanggengan, pernikahan Leon ini!"
"'Nak, janji itu adalah hutang?"
" Kesehatan Papa lebih utama. Fokus saja dengan obat- obat yang harus Papa minum! "
" Kamu bahagia, Leon!"
" Saya bahagia, Pa! Walaupun Asti sudah punya anak... Tetapi dia juga tidak berniat untuk menunda mempunyai momongan lagi. Tetapi Akbar adalah prioritas kami saat ini."
Mata tua pria itu agak menahan haru. Dia sudah tidak sekuat dulu, lagi. Akbar mendekat ... Bayi laki- laki masuk ke pelukan Leon.. Mereka menatap langit senja yang tampak kemerahan di ufuk barat. Indah dan syahdu.
" Rumah ini nanti, akan menjadi milikmu juga, Leon! Tolong jaga Mamamu ... Dia tidak setegar yang terlihat ... Sebenarnya Mamamu itu agak rapuh. Setelah kita banyak melewati cobaan hidup dan segala kesulitan."
" Papa, Leon selalu berdoa kepada Allah agar Papa selalu sehat walafiat dan diberi umur panjang. Apa Papa tidak mau melihat cucu dari Leon yang akan dilahirkan Asti nanti ?"
" Papa inginnya begitu, Leon... Hanya melihat kamu sekarang, Papa juga sudah tenang. Corinne sudah membuat kamu dan keluarga kita sangat malu. Kalau dia masih mengganggu hidupmu lagi. Biar mantan anak buah papa yang melibasnya!"
__ADS_1
Mereka bercengkrama sore itu di taman samping. Di meja ada bermacam- macam kue yang siang tadi mereka beli di kota Semarang sebagai camilan. Tak lupa segelas teh hangat telah dituangkan oleh Mbak Ning ke dalam gelas - gelas yang ada di dalam baki.