Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 119. Menjadi Saudara dan Keluarga


__ADS_3

Mbak Mesya keluar dari kamar tidur utama, berbarengan dengan Bu Jum di belakangnya. Tentu setelah dia memindahkan Akbar ke dalam boksnya, agar anak asuhnya itu dapat tertidur dengan nyaman dan aman.


Sejak Mbak Mesya datang, dia sudah tertarik dengan sikap ramah tamah dan sopan santun yang dimiliki keluarga ini. Padahal dari cerita para tamu, asal keluarga Asti cukup dihormati di daerah ini.


Sayangnya, sikap Asti masih berhati- hati terhadap anggota keluarga Pak Leon lainnya. Terutama pada kakak kakak perempuannya Pak Leon itu yang cukup nyaman berada di tengah keluarga Lek No.


Acara ini hanya dihadiri oleh orang yang berasal dari desa kelahirannya Asti dan para tetangga di lingkungan sekitar rumah. Mereka adalah penduduk kampung yang sederhana, ramah dan terbuka menerima orang lain.


Pantas saja adiknya betah berlama- lama tinggal di sini. Tanpa ingat kembali ke rumahnya, kalau tidak diminta pulang- karena orang tuanya merasa kangen. Mereka takut Leon menjadi down karena dikhianati oleh istrinya Corinne.


Acara lamaran ini menjadi malam silaturahmi. Sebab mereka jadi saling mengenal antara sesepuh di desa Sendang Mulyo, tetangga Asti dan keluarga Pak Leon


Ternyata acara lamaran walaupun sangat sederhana saja. Namun berjalan lancar. Asti pun tidak mengundang jasa penata ruang untuk mendekor ruangan. Apalagi harus membayar katering mahal untuk menjamu tamu dengan hidangan yang pantas! Semua terlihat bahagia dan menikmati acara yang penuh ramah tamah dan penuh persaudaraan ini.


" Mbak coba tongseng masakan Bu Ratih! Ini yang paling the best menurutku, " panggil Leon kepada kakak perempuannya.


Wanita ayu itu menerima sebuah mangkok yang disodorkan oleh adiknya itu. Tak lama, mangkok itu telah dipenuhi masakan yang bahan utamanya adalah daging kambing yang dimasak seperti gulai tanpa santan. Apalagi ada campuran potongan kol , tomat dan taburan cabe rawit merah tampak semakin menggoda.


Para bapak selain menikmati sate lontong. Juga menyelingi hidangan tongseng berkuah panas dan pedas itu... Sebab mereka harus berhati- hati dengan masakan dari olahan daging kambing ini karena sangat tinggi kolesterol.


Ibu Anggun asyik menikmati sate kambing dan sate ayam berselang- seling dari tusukannya. Rasa daging sate itu lezat dan empuk saat digigit.


Di meja pun disediakan dua bumbu untuk melengkapi sate tersebut. Ada bumbu sambel kacang atau sambel kecap dengan irisan bawang merah, tomat dan cabe rawit. Karena semua potongan daging itu sudah direndam bumbu agak lama dan dibuang tetelannya. Jadi daging itu saat dibakar sudah memiliki rasa dan bau harum.


" Bagaimana, lain kan rasanya dengan yang sering kita makan di restoran yang ada di Semarang?"


" Ini memang beda! Bolehkan nanti aku minta resepnya pada Bu Ratih?" tanya Mbak Mesya antusias.


" Percuma, Mbak! Beda tangan akan beda rasanya. Walaupun resepnya sama dari Bu Ratih. Asti saja masih kalah angka jika mengolah menu yang satu ini!"


" Memang Asti bisa masak juga?"


" Memangnya seperti Mbak Mesya dan Mbak Viona! Urusan dapur diserahin aja semua ke pembantu. Mentang-mentang wanita Karier!"


Merasa dicemooh, Mesya mencubit lengan kokoh Adik bungsu itu. Yah, Leon yang sekarang tampak berbeda dengan Leon setahun yang lalu. Pria ini dulu sangat terpuruk akibat persoalan rumah tangganya yang terus mengalami berbagai permasalahan dan keretakan.

__ADS_1


Hubungan Leon dan istrinya semakin runyam, sejak mereka mulai sering bertengkar karena hal -hal kecil. Apalagi Corinne kekeh tak mau ikut suaminya pindah ke Semarang. Sebab Leon sudah menerima tanggung jawab untuk mengembangkan perusahaan properti mereka di area Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Padahal omzet penjualan butik pakaian dan toko penyewaan perlengkapan pesta Corinne sudah semakin menurun. Bahkan diambang kebangkrutan. Karena di Jakarta usaha seperti itu semakin banyak saja saingannya.


Apalagi Corinne Fasha masih tetap menjalankan bisnis jasa titip dari teman- teman sosialitanya... Dia sering bepergian dan berbelanja ke berbagai negara di Asia. Mulai dari negara Singapura, Thailand, Korea Selatan bahkan sampai ke Jepang.


Ternyata di kota yang disinggahinya itu, dia juga melakukan pertemuan dengan seorang pria. Setelah diselidiki, pria itu seorang pejabat yang bertugas di kantor cabang Surabaya.


Perselingkuhan itu sampai juga ke telinga Mbak Misye. Kedua kakak perempuannya Pak Leon sangat marah. Namun mereka berusaha mendapatkan bukti yang lengkap dan terpercaya. Sehingga Leon dapat menceraikan Corinne, wanita yang telah dinikahinya selama 3 tahun itu.


Kini Leon kembali ke sifatnya yang semula... Pribadi yang terbuka, suka jahil dan kalau ngomong to the point aja! Hanya satu perubahan yang sangat mencolok dari penampilan adik bungsunya itu. Leon yang sekarang terlihat lebih agamais. Sebab rajin beribadah dan sangat menjaga sopan santun.


Para tamu bubar meninggalkan rumah Asti , hampir pukul 21.00. Itupun ada diantara mereka yang juga ikut membantu untuk merapikan kursi- kursi. Sementara di dapur para ibu juga merapikan sisa makanan dan mencuci piring kotor yang cukup tinggi juga tumpukan nya. Sebelum pulang, Bulek Ratih membungkus kue- kue yang masih banyak di wadah untuk dibawa pulang oleh mereka. Para ibu yang telah membantu menyiapkan hidangan kali ini.


Joko masuk ke dalam rumah dari pintu samping. Dia menanyakan tentang sate yang tersisa untuk pegawainya. Dengan cekatan Mbak Ning membuat empat porsi sate ayam dan kambing, lengkap dengan potongan lontong, juga sambal.


Justru Pak Leon membawa ibunya dan kakaknya untuk menengok warung tenda yang semakin banyak pengunjungnya menjelang malam hari.


" Maklum di kampung, Bu! Jadi tempat ini sarana yang paling pas untuk kaum muda berkumpul di malam Minggu! " Kata Joko menjelaskan. " Di sini jauh dari tempat hiburan seperti mall atau bioskop."


" Kamu Ninuk, ya?" Tanya Mbak Misye.


" Ya, Bu! Saya anak bungsu Bu Ratih dan Pak Sarno."


" Oh, kamu juga ada di sini?"


" Yang di ujung kamar saya. Sebab saya lebih sering di rumah ini kalau pulang dari tempat kost."


" Kalau ada perlu apa-apa panggil saya saja!" jawab Ninuk sopan.


" Oh, ya.Tolong kami dibangunkan saat Subuh, ya! Saya lihat di bawah ada ruang mushola!"


" Ya, Bu. Sebab masjid cukup jauh dari rumah ini. Pak Leon baru mau merenovasi mushola yang ada di ujung Barat kampung ini. Karena sudah lama rusak dan terbengkalai."


Suasana rumah mulai sunyi. Namun para pegawai di warung tenda baru menutup dagangannya. Mereka beramai- ramai melakukan pembersihan.

__ADS_1


Tak lama, Bulek Ratih dan Lek No pun masuk kamar, yang bersebelahan dengan kamar Ninuk. Tinggal satu kamar lagi yang kosong. Biasanya ditempati Joko dan pegawainya. Sebab Mas Danu dan Firman akan pulang ke rumah mereka dengan naik motor secara berboncengan.


Pak Leon dan dua asistennya sudah kembali ke tempat mereka tinggal di rumah sebelah Pak RT. Di sanalah mereka kost dalam waktu lebih dari enam bulan ini.


 


Paginya, Asti sudah menyiapkan sarapan berupa nasi goreng bakso dan suwiran daging sate ayam. Di meja masih ada acar timun wortel dan sambal. Dia tinggal membuat dadar telur yang segera dibantu Mbak Ning setelah selesai sholat Subuh.


Rumah kembali ramai. Bu Jum menyiapkan minuman teh manis hangat di ceret besar. Ninuk sudah membangunkan Ibu Anggun dan Tante Misye.


Lek No sendiri sedang ngobrol dengan Pak Roh yang sudah membersihkan warung tenda dengan sapu lidi. Sebab Joko diberi wejangan oleh para tetua kampung di sini, untuk tidak membersihkan sampah di warungnya di malam hari dengan menyapunya. Dengan mitos akan menghalau rezeki juga mendatangkan kesialan .


Sekarang sampah- sampah seperti bungkus permen, puntung rokok atau pun sobekan pembungkus makanan sudah terkumpul di kantong sampah hitam. Sampah itu dibawa Pak Roh, dengan gerobak kecilnya ke pembuangan sampah, berupa bak besar di dekat pertigaan lampu merah.


Lek No juga ngobrol dengan dua tetangga mereka yang juga baru pulang dari masjid. Mereka menikmati segelas kopi yang disuguhkan oleh Mbak Ning dan potongan kue - kue di piring.


Kedua orang ini juga ikut mengawasi acara lamaran tadi malam agar berjalan lancar. Mereka dulu yang diminta Pak Haji Anwar Sa'id untuk membentengi rumah Asti dengan kemampuan batiniah mereka.


Sebab kedua pria yang sudah sepuh ini sudah sangat dikenal dengan kemampuan mereka untuk membentengi kampung ini agar warga yang tinggal merasa keamanan dan nyaman.


" Aman acara tadi malam, Pak?" tanya pria yang sering dipanggil oleh para warga di sini Pak Tua.


" Aman!" jawab Lek No senang.


Tadinya Lek No tidak percaya hal- hal mistik seperti ini . Tetapi ini fakta yang nyata adanya. Setelah Lek No mendengar sendiri cerita dari wanita tua yang dulu membantu Asti mengurus bayinya. Mbok Bayah.


Rumah dinas Asti dikirimi oleh hal ghaib dan memberi pengaruh buruk terhadap penghuni rumah. Kiriman itu dengan buat oleh orang yang merasa menjadi musuh Asti. Katanya santet atau apalah itu! Walaupun Asti sangat tekun dalam hal beribadah, namun serangan ilmu hitam itu juga yang menghancurkan rumah tangga mereka. Juga masuknya Zahra sebagai orang ketiga dengan ilmu yang diwariskan dari leluhur lewat perantara neneknya.


Selama Lek No hidup, pria itu hanya mengenal Si Mbah Saidin Winangun yang mempunyai ilmu Kanuragan tinggi. Ilmu hasil dari tempaan kehidupan yang keras karena kakek dari kakeknya beliau adalah prajurit pilihan yang mengabdi pada seorang pangeran keturunan Raja besar di Jawa pada waktu lampau.


Mbah Saidin Winangun menempa dirinya nya dengan bertapa, dan berlatih ilmu silat dari seorang Kyai yang merupakan penasehat sang Pembesar. Mbah Saidin juga mempelajari pertanian. Sebab membuka hutan bambu pada zaman dahulu di sebuah daerah pedalaman yang jarang dilewati manusia adalah ujian yang sangat berat.


Apalagi hanya dengan mengunakan peralatan sederhana yang tersedia seperti parang, pacul atau linggis. Kalau kakek buyut Asti tidak memiliki ilmu kesaktian tinggi , niscaya dia tidak akan berhasil dengan perintah dari salah satu petinggi keraton di masa penjajahan Belanda.


Oleh karena itulah, banyak orang yang menyangsikan kehebatan pendiri utama keluarga Winangun tersebut. Namun para sesepuh desa Sendang Mulyo sangat menghormati beliau. Sebab keluarga Winangun dan keturunannya sampai saat ini selalu diberi kelimpahan rezeki dan kehormatan hidup. Mereka merima warisan lahan yang sangat luas untuk dijadikan sawah, kebun dan tempat tinggal untuk bernaung.

__ADS_1


__ADS_2