
Asti berusaha untuk bersikap normal sebagai mana biasanya. Pengakuan Leon tentang sikap dan tindakan Mbak Almira sungguh di luar perkiraannya selama ini.p
Dulu wanita muda itu dulu diperkenalkan Mas Adam kepada Asti sebagai tunangannya. Ketika mereka bertemu di kantor Mas Adam. Saat itu Asti sedang mencari bantuan dari seseorang yang dapat menata isi rumahnya agar sesuai dengan gaya rumah yang telah selesai dibangun itu.
Lewat Mas Adam pula, Asti mengunakan jasa Mbak Almira yang juga merupakan seorang desain interior profesional. Apalagi harga jasa yang dipatok wanita muda itu juga tak terlalu tinggi, dengan hitungan hari kerja.
Asti masih menyimpan cukup uang untuk mengisi rumah barunya itu dengan perabotan yang lengkap... Mulai dari furniture yang sesuai dengan rumahnya yang bergaya minimalis dan modern. Hiasan rumah dengan lampu penerangan yang modern. Segala keperluan rumah tangga, dari alat elektronik dari tv, kulkas, mesin cuci sampai kipas angin semua dibelinya baru.
Selama bekerja untuk menata rumah Asti itu , terlihat Mbak Almira sangat kompeten dalam bidangnya. Dia juga mau mendengar keinginan Asti untuk mempunyai rumah dengan furnitur yang fleksibel. Jadi perabotan itu dapat dipindahkan - pindahkan suatu waktu, untuk berganti suasana.
Bahkan Mbak Almira pun berhasil mewujudkan keinginan Ninuk untuk mempunyai kamar tidur impiannya. Kamar tidur itu dicontoh dari sebuah Drakor yang dimiliki oleh seorang pemeran utama wanitanya.. . Itu salah satu hobi Ninuk di rumah selain mendengar lagi pop Indonesia yang sedikit melow.
Penataan rumah dengan gaya minimalis yang simple dan modern di rumahnya itu juga disesuaikan dengan budget yang dipunyai Asti. Bahkan mereka dapat potongan yang cukup besar karena membeli banyak barang . Sebab toko furniture itu mempunyai koleksi lengkap semua perabot rumah tangga yang bergaya modern dan simpel. Selain terbuat dari kayu yang lebih ringan, juga diberi roda.
Dalam minggu pertama, wanita itu sudah berhasil menata beberapa ruangan di lantai bawah. Dari kamar tidur utama, ruang tamu, ruang tengah sampai dapur. Semua berpadu serasi.... Bahkan mereka juga dapat mengisi dapur yang dengan lemari kabinet yang mempunyai banyak laci untuk penyimpanan barang-barang.
Oleh karena itu, Asti berani segera meninggalkan rumah Satrio hanya dengan membawa pakaian, dan berbagai perlengkapan bayi milik Akbar. Dia tidak membawa barang apapun. Padahal sebagian besar perabot yang mengisi rumah dinas Satrio itu adalah kado sebagai hadiah pernikahan mereka. Semua barang itu diberikan oleh anggota keluarga dari Satrio dan kerabat Asti yang berdatangan dari sekitar daerah itu.
Para kerabat dari tiap keluarga ada yang membelikan mereka kulkas, kompor gas dua tungku sampai berbagai peralatan elektronik dan peralatan dapur. Mereka memberikan itu secara saweran dan sudah menyebarkan list berupa data barang yang diperlukan untuk pasangan muda yang baru saja menikah itu.
Mengapa Asti mesti harus sayang meninggalkan semua barang yang merupakan kado pernikahan itu? Sebab Asti sudah dapat gantinya dengan membangun rumah tinggal yang lebih besar, modern dan nyaman untuk anaknya Akbar! Lagipula dia berniat membuang semua kesialan hidup dan nasib buruknya, ya di rumah dinas itu.
Bahkan Asti dapat melengkapi rumah pribadinya yang baru itu dengan perabot yang sesuai, berbagai benda elektronik yang mutunya jd ga lebih baik. Bahkan memiliki berbagai perlengkapan dapur, alat masak dan peralatan makan yang baru.
Semua ini juga berada dari warisan berupa tanah dari almarhum Mbah Harjo Winangun. Sedangkan untuk membangun rumah dan rukonya, Asti menjual perhiasan dari peninggalan milik almarhumah Mbah Putri dan Bude Ayu.
Kini di rumah berlantai dua ini, keluarga Lek No dapat menginap di kamar yang nyaman dan layak. Malah Ninuk dan Joko juga mempunyai kamar sendiri di lantai atas. Sebab merekalah sekarang keluarga bagi Asti.
Mbak Almira dapat menata lantai dua, setelah pemesanan barang berupa kasur, seperangkat sofa, dan rak TV datang lagi. Jumlah kamar tidur di atas ada 4 buah. Satu kamar pribadi digunakan khusus untuk Ninuk. Ruang tengah di atas sana juga luas, ditata untuk ruang santai, dengan menyisakan bagian kosong untuk Akbar bermain dengan memanfaatkan balkon yang berpagar tinggi.
Setelah pekerjaan itu selesai, sesekali Mbak Almira masih datang bertamu ke rumah Asti. Mereka menjadi sangat dekat karena hampir sebaya, namun berbeda nasib dan jalan cerita kehidupannya.
Barulah Asti tak bertemu lagi dengan Mbak Almira lebih dari 3 bulan lamanya. Saat itu Asti sibuk mengurus perceraian dengan Satrio.. . Mbak Ning yang mendengar berita, kalau Mbak Almira ada proyek kerjasama dengan perusahaan perumahan milik Pak Leon.
***
__ADS_1
Sebuah pelukan erat memagari pinggangnya, Asti menatap wajah Leon si pemilik jari- jemari yang panjang dan kokoh ini.
Selalu begini! Bagi Leon, setelah dia berbicara jujur tentang Mbak Almira, seakan permasalahan itu sudah selesai saja... Padahal ada kibasan cemburu di hati Asti. Juga rasa tak percaya diri, apakah Leon berlaku jujur, dan tidak mencurangi nya?
Padahal di diri Asti timbul pemikiran yang lain. Sejak mengetahui betapa Leon terlihat dengan jelas berusaha menghindari Mbak Almira. Malah justru memicu rasa curiga di hati Asti.
"Yang, Papa sudah sehat... Kita sudah ditunggu oleh beliau Sabtu ini. Kita bisa pergi, kan ?" tanya Leon lembut. Sambil mengecup pipi, dahi dan ******* bibir Asti dengan keahlian seorang Casanova.
" Bisa aja, Mas... Apa urusanmu di proyek bisa ditinggal?" Jawab Asti berusaha menghentikan segala rasa akibat perbuatan Leon itu.
Pria itu tersenyum jail, melihat wajah Asti yang memerah dan napasnya yang sedikit memburu.
" Nggak apa-apa dong! Tinggal Cakra yang ngurus sisanya. Setelah kita pulang, dia juga mau cuti untuk menengok orang tuanya di Magelang!"
Leon pun mengajak Bulek Ratih untuk ikut dalam rencananya untuk pergi ke Semarang. Kalau Lek No mau ikut mereka akan berangkat dengan dua mobil. Tetapi Lek No masih sibuk mengurus sawah dan kebunnya dibantu Joko.
Mbak Ning kali ini juga diajak. Nanti biar urusan makan untuk orang di rumah ini, Mas Danu bisa diminta tolong bantuannya. Sebab kasihan kepada Pak Cakra dan Damar yang lagi- lagi harus makan di warung nasi, yang tidak sesuai dengan selera mereka.
Persiapan perjalanan sudah dilakukan malam hari sebelumnya. Nanti Pak Leon dan Dimas yang akan bergantian membawa mobil Pajero putih itu. Duduk di tengah, adalah Asti, Akbar dan Bulek Ratih. Di bangku belakang ada Bu Jum dan Mbak Ning.
Jangan ditanya betapa kecewanya Ninuk dengan larangan itu.
Sehingga dia jadi ngambek dan tak mau bicara dengan kakaknya itu.
Memang Joko yang selama ini mengurus Ninuk untuk perkuliahannya. Karena dia yang paling tahu masalah itu. Kali ini, Ninuk tidak bisa membantah. Si manja itu harus bertanggung jawab dengan pilihan untuk belajar dan kuliah dengan sungguh -sungguh.
Saat memulai perjalanan di siang hari mobil dibawa Pak Leon dengan kecepatan sedang. Karena mereka harus berada di Semarang sebelum Magrib.
Akbar cukup menikmati perjalanan itu di kursi bayinya. Susu, snack dan makan siangnya sudah disiapkan Bu Jum dengan sangat teliti. Bulek Ratih banyak ngobrol dengan Leon agar perjalanan tidak membosankan.
Dua kali mereka berhenti untuk beristirahat di sebuah rumah makan yang dekat dengan Masjid. Kedua wanita lainnya bergantian mengurus Akbar.
Konyolnya saat Dimas yang membawa mobil untuk perjalanan berikutnya, malah Leon minta bertukar tempat dengan Bulek Ratih. Pura- pura pegal dan capek, pria itu meminta istrinya untuk memijat bahu dan lengannya selama dalam perjalanan berikutnya.
Mereka berhenti di sebuah rest area berikutnya untuk istirahat dan sholat Ashar. Mbak Ning tertarik membeli makanan tradisional yang banyak ditawarkan oleh pedagang kaki lima di sana.
__ADS_1
Padahal Leon sudah memberi tahu, kalau makanan seperti itu aslinya dari kota tempat tinggal orang tuanya. Jadi kalau dijual di luar kota Semarang, kebanyakan rasa makanan itu sudah tidak orisinil lagi.
Mereka berhenti di sebuah toko buah yang sangat besar. Ibu Anggun yang memberi tahu, kalau papanya Leon itu lebih baik dibelikan buah-buahan... Daripada oleh- oleh yang kadang tidak boleh dimakan oleh beliau. Karena adanya larangan dari dokter yang terus memantau kesehatannya.
Kedatangan mobil Pak Leon sudah disambut para pekerja di rumah besar itu. Pintu gerbang depan terbuka sangat lebar. Bergantian mereka mengangkut koper, tas dan berbagai oleh- oleh di bagasi mobil.
" Leon!" sebuah suara berat terdengar dari pintu ruang tengah. Pria itu berlari mendapatkan orang tuanya yang sudah menunggunya di ruang keluarga. Pelukan Leon menjadi sangat erat.
" Papa sehat?" Ujar Leon terharu. Walaupun ayahnya masih terlihat agak kurus, pria paruh baya itu sudah berjalan tanpa menggunakan kursi roda lagi.
Cepat Asti menghampiri pria itu, dan mencium tangannya dengan takzimnya. Pria itu menatap wajah menantu barunya itu agak lama. Sampai menitikkan air mata. Terlihat Leon juga sekarang bahagia. Wajahnya tampan itu selalu berseri - seri dengan tubuh yang semakin tegap dan berisi.
"Mana Akbar, cucu Papa?" tanyanya.
Segera Bu Jum mengandeng tangan Akbar untuk menemui ayah Pak Leon itu. Dengan lucu, Akbar mencium tangan sang kakek.
" Kok, malah mirip kamu waktu bayi, Leon?" ujar pria itu tak percaya.
Sampai bayi itu diangkat Leon untuk mencium pipi si kakek.
" Ini Mbah Kakung, Mbahnya Akbar!"
Bayi kegelian ketika pipinya dipencet- pencet oleh tangan rapuh Pak Basuki H. Murti. Dia juga melihat bayi itu disayangi semua orang.
" Ayo, kita masuk. Sudah mau Magrib. Yu Ratmi! Sudah disiapkan kamar mereka di paviliun?" Ujar Ibu Anggun menginterupsi suasana haru antara suami, anak, menantu dan cucu baru mereka.
" Sudah Ndoro! Kata Den Leon, biar Bu Jum dan Mbak Ning satu kamar, yang di tengah Mas Dimas. Kamar satu lagi untuk Bu Ratih!"
" Pak Leon, biar saya yang tidur di kamar di atas garasi nggak apa- apa, kok!" pinta Dimas sopan.
" Sesekali Dimas, jagain ibu- ibu. Sebab Asti tidur di kamar saya di rumah utama sama Akbar!"
"'Deh, yang masih penganten baru! Bisa aja ngaturnya!" Ledek Ibu Anggun.
Semua tertawa dengan ledekan ibunya Pak Leon itu. Mereka ke paviliun diantar oleh Yu Ratmi untuk beristirahat dan mandi. Sementara ART yang lain menyiapkan jamuan makan malam yang terlihat lebih formal.
__ADS_1