
Tampaknya Asti harus banyak belajar kepada Ibu Widya dan Bulek Ratih dalam hal mengurus bayi. Dalam selama seminggu ini mereka yang merawat dirinya dan bayinya dengan sangat telaten. Para nenek itu juga selalu siap sedia membantu Asti untuk berbagai urusan rumah tangga. Mulai dari memasak, menjemur pakaian, mencuci piring dan berbagai pekerja lain di rumah ini yang tak ada habisnya .
Terkadang Asti masih sering mendengar perkataan orang tentang sakitnya seorang perempuan ketika berjuang di ruang persalinan untuk melahirkan seorang bayi. Tetapi ini sakitnya, terus Asti rasakan setelah melahirkan, bahkan sampai berhari-hari lamanya. Padahal dia melahirkan secara normal, yang dalam beberapa hari saja sudah dapat berjalan. Bagaimana para ibu yang melahirkan harus melalui operasi bedah. Tentu rasanya nano-nano, karena perutnya harus terkena sayatan pisau bedah untuk membantu mengeluarkan bayi tersebut!
Beginilah suasa pagi hari di rumah dinas Satrio. Bulek Ratih lebih fokus menggurus keperluan Asti. Sedangkan si Ibu mertua menjaga si bayi. Lucunya, si bayi mungil itu juga ikut terbangun karena mendengar kesibukan orang- orang di rumah ini.
"Ayo mandi, Asti! Ini air hangatnya!" Perintah Bulek Ratih sambil menuntun keponakannya itu menuju kamar mandi. Tak peduli kalau semalam Asti harus terbangun dari tidurnya berkali- kali karena menggurus si kecil. Tetap si Bulek Ratih memaksa Asti harus sudah mandi dan dalam keadaan bersih dan wangi di pagi hari
Para nenek itu juga pernah merasakan apa yang Asti rasakan, mungkin lebih sakit lagi. Sebab Ibu Widya juga sudah melahirkan dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Sedangkan Bulek Ratih melahirkan dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Karena tinggal di desa, Lek No hanya dapat membawa istrinya ke rumah praktek Bidan Nilam yang ada di desa sebelah. Bulek Ratih dua kali melahirkan secara normal.
Biasanya kalau ada kendala, Ibu Nilam, wanita yang sudah lama berprofesi sebagai bidan itu akan merujuknya pasiennya ke rumah sakit terdekat. Padahal jarak rumah sakit itu berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah tempat praktek bidan tersebut.
Setelah selesai mandi, Asti hanya memerlukan mengenakan korset di perutnya, yang merupakan pemberian dari Ibu mertuanya. Jadi Asti agak terbebas dari ritual mengunakan stagen yang cukup merepotkan itu.
Para wanita Jawa dulu harus menggunakan kain yang tidak terlalu lebar tetapi berbahan keras itu untuk membebat perut mereka agar tidak kendur setelah melahirkan. Bahkan saat mengunakan stagen itu, mereka juga harus dibantu orang lain, saking panjangnya. Paling pendek panjang kain tersebut, bisa sampai 3 atau 4 meter.
" Bayimu sehat dan lucu Asti. " Kata Ibu Anggita.
Asti hanya tersenyum melihat bayi mungil itu dijemur di depan rumah oleh Satrio dengan ditemani si kembar. Kebiasaan anak kembar Ibu Anggita itu adalah berlari ke rumah ini, bila melihat Satrio mengendong Akbar. Walaupun semua orang tahu, kalau Tarra dan Torro belum mandi juga!
__ADS_1
Ibu Anggita akan menyapa dan bercakap-cakap sebentar dengan anggota keluarga Asti yang juga berkumpul di depan teras. Biasanya di sana ada dua kakek si bayi, Lek No dan Pak Cahyadi.
Wanita itu juga mengusulkan agar Asti memperkejakan seorang wanita tua, yang dulu pernah bekerja sebagai baby sister di Jakarta. Apalagi Ibu Anggita mendengar kalau Ibu mertua akan kembali bersama suaminya ke Purwokerto. Sedangkan Lek No dan Bulek Ratih juga akan kembali desa menjelang musim tanam minggu depan.
Wanita yang dipanggil Mbok Bayah itu datang ke rumah Asti keesokan harinya. Setelah diwawancarai oleh Ibu Widya dan Bulek Ratih, mereka juga menyetujuinya. Sebab Wanita itu cukup berpengalaman menggurus bayi. Mbok Bayah walaupun sudah tua , orangnya rajin, cermat dan tidak jorok.
Sebenarnya kedua pasang orang tua Asti itu masih ingin berlama-lama tinggal di sana untuk mengurus bayi mungil itu. Namum mereka juga punya urusan dan kepentingan masing-masing di rumah mereka.
" Pokoknya, akikahan Akbar diadakan di desa aja, Lek ! " kata Lek No mengingatkan kedua besannya itu lagi, sebelum mereka kembali Ke Purwokerto esok pagi.
"Tenang aja, Sarno. Persiapkan saja semuanya. Oh, ya. Satrio, beri uangnya sekarang agar Lek No dapat membeli dua ekor kambing yang besar dan sehat untuk acara akikahan itu!"
Semalam Pak Cahyadi dan Satrio sudah setuju dengan kesepakatan ini. Mereka akan mengadakan akikahan atau cukur rambut si bayi di desa Sendang Mulyo. Sebab, keadaan Asti yang masih belum terlalu sehat untuk mengurus acara tersebut nantinya. Walaupun acara itu nantinya diadakan secara sederhana, tetap saja mengeluarkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Ibu Widya tampak agak sedih meninggalkan Asti dan bayinya yang baru berusia 8 hari. Wanita itu berkali-kali mencium pipi Akbar yang mulai tampak gembul seperti bakpao.
" Jaga kesehatanmu, Asti! Jangan banyak pikiran! Tolong perhatikan Akbar dan Satrio, ya!"
Lagi- lagi pesan mertuanya, membuat Asti tanpa sadar menatap pria yang berdiri di sampingnya, sambil mengendong bayinya.
__ADS_1
Wajah Satrio pun agak mendung, karena beberapa hari ini dia selalu bersama-sama dengan kedua orang tuanya. Namun, Asti seperti diingatkan oleh sesuatu! Dia harus menjaga Akbar, sebagai keturunan dari Winangun.
Biasanya Ibu Widya peka dengan sikap dan tingkah laku seseorang, karena berkecimpung lama di dunia pendidikan, juga belajar ilmu psikologi anak. Apa ibu mertua ini juga merasakan perubahan diri Satrio? Yang merupakan satu-satunya anak laki- laki dalam keluarga mereka. Si bungsu yang paling dekat padanya.
"Satrio! Jangan neko-neko kamu!" Tegur Pak Cahyadi, sambil menatap tajam pada mata Satrio.
Dada Asti bergemuruh. Selama ini, dia hanya menjaga kesehatan tubuhnya dan sang bayi. Hampir semua keperluan Satrio dipegang oleh Ibu Widya. Malah Asti yang meminta Lek No, membawa semua pakaian orang dewasa dicuci di sebuah toko laundry yang ada di seberang perumahan ini.
Asti tidak tega, kalau kedua wanita yang sangat baik itu, sampai harus mengerjakan hal yang satu ini. Di seberang kompleks ini, ada berderet ruko dan pertokoan dengan menjual berbagai keperluan sehari-hari. Walaupun mereka tinggal di kota kecil, namun segala kemudahan hidup yang bersifat modern sangat mudah didapatkan. Termasuk mencuci di laundry. Bahkan ada berjejer mini market di pertokoan itu.
"Assalamualaikum! " salam seorang wanita paruh baya di depan rumah.
"Walaikum salam!" Jawab Asti, sambil membuka pintu depan.
Tamu Asti pagi ini adalah Mbok Bayah, wanita itulah yang akan membantu Asti menggurus bayinya. Saat ini, Akbar sedang terlelap di boks kecilnya yang ada di ruang tengah.
Biasanya Satrio kalau mau berangkat kerja itu suka membuat kegaduhan. Suami Asti itu kalau mengambil sesuatu barang itu tak pernah berhati-hati. Padahal mereka sekarang mempunyai bayi. Kasihan Akbar yang sering terlihat kaget ketika tidur karena suara berisik dari perbuatan ayahnya. Sebab bayi itu hanya Asti pindahkan ke boks bayi dengan pagar agar bayi itu tetap tidur dengan nyaman dan aman.
" Masuk, Mbok. Akbar masih bobok! Tadi dia ikut bangun pagi, nganter Mbah Kakung dan Mbah putrinya pulang ke Purwokerto!"
__ADS_1
Mbok Bayah menyiakan keperluan mandi untuk si bayi. Dari perlengkapan mandi, handuk sampai pakaian gantinya. Sementara Asti menyiapkan sarapan untuk Satrio dibantu Bulek Ratih.
Pria itu sedang menyemir sepatu kerjanya sambil bernyanyi agak keras. Asti sudah lama tidak melakukan hal itu, karena masih belum bisa berjongkok. Tetapi pagi ini, tampak Satrio lebih cerah dan bersemangat untuk berangkat ke kantornya!