Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 181. Adanya Kesepakatan


__ADS_3

Tanpa banyak bicara Mas Danu terus mengikuti motor yang ada di depannya itu. Mereka sudah melewati separuh wilayah desa Sendang Mulyo yang berupa hutan bambu lebat ... Joko menahan nafas. Sebab motor itu mulai berbelok ke kanan, masuk ke sebuah jalan desa yang bersebelahan dengan desa tempat kelahirannya.


Mereka berhenti agak jauh, ketika motor itu terus berjalan masuk ke sebuah halaman rumah besar di sana. Namun rumah itu sudah kehilangan kemegahannya karena sudah lama tidak direnovasi. Terlihat dari cat yang sudah berwarna kusam di temboknya. Pagar besi yang sudah berkarat dan halaman rumah yang kotor, tak terurus dengan banyaknya sampah-sampah dan tumpukan benda rongsokan lainnya.


Joko meminta Mas Danu masuk ke halaman sebuah rumah lain, yang terletak di depan rumah si tertuduh itu. Sebab rumah itu adalah rumah Pak Darmaji Hendardi, kepala desa ini, yang masih merupakan kerabat Asti juga.


" Lho, kamu Joko anaknya Sarno, ya? " Seru seorang perempuan tua yang membukakan pintu rumah yang tadi diketuk Joko.


Joko segera mencium tangan Wanita tua yang merupakan ibu dari istri Pak Darmaji, Bulek Ika Sawitri.


" Om Darmaji, ada Mbah Imah?"


" Wah, Om mu itu berangkat ke Kecamatan sejak pagi , gitu. Kalau Bulek kamu ada itu! Ayo masuk ! Joko, ajak temanmu!" Panggil wanita tua itu.


Halaman depan rumah ini dipenuhi pot- pot bunga dari bahan seperti ember cat besar yang diberi cat biru dan merah. Pagar rumahnya pun dari tanaman yang dipangkas rapi sampai setinggi pundak orang dewasa. Juga banyaknya jejeran kursi-kursi yang tersedia di teras yang teduh dan rimbun itu.


Sejak tadi mata Mas Danu masih terus mengawasi keadaan rumah yang tepat berada di depan rumah itu, tanpa berkedip. Joko datang dengan diam-diam , dan mengejutkan lelaki itu dengan menepuk bahu belakang Mas Danu. Pria itu kaget, sampai memukul bahu Joko juga agak keras juga.


" Kamu itu, Joko! Jantungku mau copot, tahu! "


" Serius amat, Mas! Yang kamu awasi itu orang... Bukan hasil ulekan bumbu untuk nasi goreng, lho!" Ledek Joko geli sendiri, sampai dia tertawa.


" Sst, diam kamu!" Bisik Mas Danu ketika mendengar suara motor yang datang ke rumah depan sana.


Mereka melihat kedatangan seseorang pria paruh baya dengan sebuah motor tua yang sangat dikenalinya, membuat Joko tersenyum lebar.

__ADS_1


" Ada apa? Ayo cerita! Dari tadi kita duduk di sini... Kamu malah diam saja! " Kata Mas Danu kesal.


" Sabar, Mas! Kuncinya jadi seorang detektif itu sabar dan waspada saat mengawasi keadaan..."


" Itu, bapaknya Dania kan? Lelaki yang baru saja datang!" tanya Mas Danu lagi.


" Iya, dan rumah itu adalah rumah Pakde Karto... Saya juga mulai mengenali kalau lelaki yang tadi membawa motor itu adalah Mas Tarjo!"


Joko segera mendapatkan foto-foto kerusakan kaca jendela di rumah Asti, yang dikirim oleh Mbak Ning. Kaca-kaca itu sudah dikumpulkan di sebuah kardus bekas air mineral ... Joko hanya menyampaikan berita itu sekilas kepada Mas Leon...


Sebab saat ini Lelaki itu sedang membawa anak dan istrinya jalan-jalan dan makan siang ke sebuah tempat makan sejenis resto atau kafe di kota sebelah... Setelah Akbar mulai rewel karena merasa kehilangan Eyang Kakung dan Eyang putrinya.


Bulek Ika membawakan dua gelas kopi dalam baki. Tentu saja dia sangat mengenal Joko. Teman main anaknya sejak mereka sekolah di SMP dan SMA yang sama di kota sebelah. Hanya anaknya kini merantau ke Jakarta. Setelah bekerja cukup lama di sebuah kantor cabang sebuah bank di Yogyakarta. Anak sulungnya itu mendapatkan tawaran pekerjaan dan kenaikan pangkat saat ditempatkan di Ibu kota negara ini.


" Bulek, apa rumah di depan itu masih ditempati anak-anaknya Pakde Karto?"


" Gini, Bulek! Kami numpang sebentar untuk mengawasi lelaki yang tadi melempar kaca di rumah Asti! Saat kami ikuti kedua lelaki ini masuk ke rumah sana!"


Wajah wanita itu mulai menjadi sangat geram. " Pantas, kamu sama temanmu kok dari tadi ngawasin rumah depan. Tadi Tarjo sama Sungkono itu yang lagi ngobrol! Satu lagi sepertinya Bondan. Orang yang bekerja di bengkel motor dekat kelurahan itu. Tunggu Om kamu saja, Joko! Biar masalah itu segera diselesaikan!"


" Nggak apa-apa, Bulek! Kalau perlu saya lapor ke Pak Hermawan saja!"


" Bukannya kemarin itu si Tarjo sudah buat perjanjian dengan Asti dan Bapakmu di Kelurahan? Malah suaminya Asti bawa pengacara juga katanya!"


" Lucu kan Bulek? Orang-orang di rumah itu yang suka mencari perkara terus! Sawah Asti mau diambil alih setelah masa perjanjian sistem bagi hasil itu selesai... Bapaknya saja sudah tanda tangan menyetujui hal itu, beberapa tahun yang lalu. Malah anaknya yang nggak terima dan menggugat!"

__ADS_1


" Kami warga desa Sendang Waru ini saja sudah muak dengan polah tingkah keturunan keluarga mereka, Joko! Anak-anak mereka sejak kecil selalu dimanja dengan uang dan materi... Dipikirnya seluruh sawah, dan kebun di dua desa ini milik nenek moyangnya saja... Jadi tinggal ambil dan diakui saja. Begitulah mereka sekarang... Nggak punya pendidikan cukup, juga nggak mau kerja keras. Namun mau hidup enak dan malas -malasan. Jadi kebanyakan mimpi itu semua anak-anak dan cucunya!"


Mas Danu terbelalak mendengar ucapan dari wanita yang bernama lengkap Ika Sawitri itu yang terlihat anggun dan pendiam. Tetapi ucapannya sangat cespleng kalau didengar telinga orang lain.


Dulu wanita ini sering berkunjung ke rumah Joglo dan menjadi partner Bude Ayu dalam kegiatan PKK dan kegiatan Posyandu di kelurahan setempat. Apalagi sejak Pak Darmaji maju ke pemilihan Kepala Desa, Bude Ayu banyak mensuport kerabatnya itu.


" Om mu saja sudah lama mau ngusir saja keluarga mereka dari desa ini! Rumah itu sudah ditawarkan ke beberapa temannya...Tetapi si Tarjo itu meminta harga yang cukup tinggi untuk rumah itu. Nggak sesuai dengan NJOP daerah ini. Jadi peminatnya kapok nggak ada niatan mau beli, apalagi nawar!"


" Mau dijual rumah itu. Lalu bagaimana dengan Pakde Karto?"


" Sejak tahun kemarin sakitnya semakin parah... Beliau sudah nggak bisa bangun dari tidurnya... Kami sudah kasih saran untuk dirawat saja di rumah sakit! Ternyata mereka tidak punya uang serupiah pun untuk membiayai pengobatan ayahnya itu."


" Itu, karena Pak Karto sudah memanfaatkan harta anak yatim dengan dzolim! Sawah di desa Sendang Mulyo itu kan semua milik Almarhum Bapaknya Asti! Makanya Bude Ayu itu sampai minta tolong sama Om kamu untuk mengurus soal sawah yang digarap Pakde Karto... Belum lagi sawah di perbatasan desa yang dijual ke adik kamu Ika... Supaya nggak diakui anaknya keluarga Kushari lagi, karena selalu dituntut sebagai bagian dari harta gono-gini, Bude Ayu dengan Almarhum Kushari !" Ujar Mbah Imah setelah meletakkan sebuah piring berisi jadah goreng dan lento.


Mereka akhirnya ngobrol banyak di teras depan rumah. Ternyata warga di desa ini juga sudah mengetahui permasalahan yang diajukan oleh anak-anak Pakde Karto... Selain menertawakan tingkah laku mereka yang semakin tak masuk akal. Mereka juga mulai menghujat berbagai tindakan anak-anak itu yang terus mencari permasalahan.


" Daripada ribut mau merebut sawah atau rumah yang merupakan hak orang lain, kenapa mereka tidak kerja saja, ya?" tanya Mas Danu.


Sebab dia melihat rumah besar itu masih bisa digunakan untuk berbagai usaha. Apalagi jaraknya tidak terlalu jauh dari jalan utama.


" Kamu pikir anak-anak itu mau bekerja? Bisa, gatal-gatal kulitnya kalau keluar keringat sedikit saja!" ujar Bulek Ika sewot.


" Yah... Kalau semua tinggalan orang tuanya sudah habis. Mau bagaimana lagi ?" tanya Joko.


" Apa kerusakan yang terjadi di rumah Asti sangat parah? Bisa hal itu dilaporkan ke Pak Hermawan itu..."

__ADS_1


" Nggak usah, Bulek! Orang sudah ngawur begitu nggak peduli aturan dan hukum... Joko akan mengatasinya!" Janjinya kepada Kedua wanita yang terhubung sebagai ibu dan anak... Sebelum Joko Dan Mas Danu pamit pulang kepada mereka. Ternyata Pak Darmaji sudah datang dengan motor Nmax hitam kebanggaannya.


__ADS_2