Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 184. Pada Acara Berbelanja


__ADS_3

Laporan datang dari Puspita, kalau mereka perlu berbelanja untuk mengisi barang dagangan yang hanya tersisa sedikit di toko pakaian" Muslimah" Sedangkan barang yang dipesan dari konveksi langganan belum juga terkirim. Terimakasih pihak konveksi milik Ibu Saidah mendapat hambatan dari kelangkaan bahan baku... Yaitu kesulitan dalam persediaan bahan kain katun dari pabrik tekstil di kota lain.


Kali ini Asti berjanji untuk ikut juga pergi berbelanja barang dagangan untuk toko. Keduanya mengadakan janji untuk pergi pada dua hari yang akan datang.


Ningrum tampaknya sudah dapat dipercaya menjaga toko itu sendirian. Jadi Puspita lebih tenang berbelanja dengan Asti, untuk mencari barang dagangan ke pasar yang lebih besar di kota Solo.


Sekalian Asti membeli kebutuhan untuk dirinya pribadi. Terutama pakaian dalam dan baju harian untuk Qani dan Akbar, yang ukuran tubuhnya sudah membesar. Sehingga memerlukan yang baru.


Dimas yang diminta Pak Leon untuk tetap menjadi supir bagi Asti untuk membawa Inova baru itu. Sebab Pak Leon semakin tidak tenang bila Asti bepergian dengan mobil baru itu dengan jarak tempuh yang cukup jauh.


Apalagi sebagai seorang Ibu, Asti juga kurang nyaman kalau bepergian agak lama tanpa membawa kedua anaknya. Jadilah mereka pergi membawa rombongan, dengan dua anak dan dua pengasuhnya sekaligus yang akan ikut serta dalam acara belanja itu.


" Kita ke Pasar Klewer aja, Mbak! Sekalian lihat gamis dan model hijab terbaru di sana !" usul Pita.


" Boleh, nanti biar anak- anak menunggu di parkiran saja!" Jawab Asti. Tak terbayang reportnya membawa Akbar masuk ke dalam pasar itu, karena tempat itu selalu ramai oleh pengunjung hampir setiap harinya.


Mbak Putri cukup senang diajak ikut bepergian, kali ini. Sebab gadis sederhana ini jarang pergi jauh dari sekitaran wilayahnya . Dia terus mengingat pesan Pak Leon, agar tetap waspada menjaga Akbar. Sebab, Akbar tidak bisa ditinggalkan begitu saja tanpa pengawasan yang ketat... Rasa keingintahuan Akbar terhadap suatu hal sangat besar. Tanpa anak kecil itu memerhatikan berbagai bahaya yang ada mengancam yang ada di sekelilingnya.


Perjalanan itu memerlukan waktu lebih dari 1 jam, untuk menyambangi kota Surakarta itu... Mobil mereka harus ikut terbawa dengan padatnya arus lalu lintas di kota itu pada ruas-ruas tertentu. Seperti pada perempatan lampu merah, juga jalan-jalan alternatif yang hanya bisa dilalui satu arah saja.


" Dimas, kamu cari tempat parkir yang teduh, ya! ... Nanti tolong bantu awasi Akbar!" pinta Asti.


" Beres, Mbak!" Ujar Dimas sopan.


Asti menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan... " Ini, untuk beli kopi! Tolong kalau ngerokok cari tempat yang aman, agak jauh dari Qani!"

__ADS_1


Asti sangat tahu, beberapa orang pegawai di kantor Leon itu juga suka merokok. Tetapi mereka melakukan kegiatan tersebut pada saat jam istirahat, juga di luar area kantor. Karena bekerja dan berhadapan dengan klien atau orang banyak, Leon menginginkannya kantornya bebas asap rokok dan abu rokok. Apalagi kebayangkan para pekerja di sana adalah laki-laki.


Mobil terparkir bersamaan dengan puluhan mobil lain di seberang gedung pasar itu. Tampak gedung itu semakin bagus saja setelah beberapa kali direnovasi karena terkena musibah kebakaran pada beberapa waktu yang lalu.


Dimas berhasil mendapatkan tempat parkir yang sangat strategis. Jadilah dia membawa Qani dan Akbar untuk bisa istirahat di dalam mobil atau ke luar area parkir mobil. Sebab tempat itu cukup teduh dengan banyaknya pohon penghijauan dan atap-atap dari toko- toko besar dan lapak pedagang kaki lima yang diatur rapi di sebelahnya.


Tak lama setelah itu, Asti dan Puspita masuk ke dalam gedung berlantai dua itu untuk berbelanja. Akbar juga minta turun dari mobil dan didampingi Mbak Putri. Berbagai makanan kecil dan minum dikeluarkan dari tas punggung yang digendong Mbak Putri. Semua itu cemilan buat kedua anaknya Mbak Asti. Qani juga ikut minta turun, dan disiapkan stroller agar Bu Jum tidak terlalu capek. Karena harus terus mengendong Qani yang semakin bertambah berat saja timbangan badannya.


Biasanya Asti mampir dulu ke toko milik salah satu langganannya yang banyak mempunyai stok barang berupa rok batik, kulot batik, dan kain batik panjang yang dimodifikasi juga beberapa atasan blus batik model terbaru.


Para pekerja di sana segera mengepak permintaan Asti itu. Sebab Asti membeli cukup banyak untuk tiap model, ukuran dan motif yang berbeda. Karena sudah lama berlangganan, biasanya Asti dapat menukar barang yang cacat atau hitungannya kurang pada pemilik toko tersebut. Tentunya setelah mengirim berita juga bukti dari foto barang yang rusak.


Pita sibuk mencatat dan menyimpan nota belanjaan itu. Juga memperhatikan dengan seksama letak kios itu. Sebab di sana ada ratusan kios yang berjualan barang hampir serupa.


Sementara barang belanjaan yang diminta sedang disiapkan oleh pegawai toko. Mereka berpindah ke toko-toko lain yang banyak menjual aneka batik untuk pakaian, sprei dan keperluan sehari-hari seperti tas dan sandal.


" Kamu nggak mau beli gamis untuk ibu, Pita?" tawar Asti. Sebab gamis dengan bahan batik banyak dijual di sana, harganya pun tidak terlalu mahal. Tergantung mode dan bahannya.


" Mbak Asti mau beli juga?"


" Boleh, nanti buat orang di rumah.."


Mereka memilih gamis berbahan campuran batik, brokat atau dengan variasi bahan lainnya. Asti juga membeli 2 kemeja batik yang bahannya cukup bagus untuk Leon. Biasanya Leon menggunakan kemeja batik untuk ke acara formal dan non formal, di luar jam kantor. Seperti menghadiri undangan dari teman bisnis atau pertemuan antar sesama pengusaha yang sering mengadakan berbagai acara secara berkala.


Asti mencari para remaja laki-laki, yang biasa menawarkan jasa angkut barang di pasar itu. Dia memakai tenaga tiga anak remaja tanggung untuk membawa tiga kardus besar dan kantong - kantong kresek untuk dibawa oleh mereka. Setelah kardus- kardus telah disiapkan dan diikat rapi oleh pegawai di toko semula.

__ADS_1


Para remaja itu sangat senang karena dapat membawakan belanjaan yang cukup banyak dan berat. Ketiga remaja itu dengan cepat menuruni tangga beton itu menuju pintu luar pasar, dari arah depan.


Mereka dibantu petugas parkir di depan gedung , saat menyeberang jalan di depan pasar tekstil terbesar di kota itu. Selain banyak dikunjungi pembeli dari pedagang kecil lainnya. Tempat itu pun jadikan sebagai destinasi objek wisata dan kunjungan wisatawan. Tampak di sana ada beberapa bule berbelanja, diantar oleh seorang guide dari sebuah agen travel.


" Mbak Asti?" panggil Dimas." Kami di sini!"


Teriak Dimas setelah lelaki itu melihat rombongan remaja dan Asti yang menjadi penunjuk jalan. Dimas segera membuka bagasi belakang mobil dan membantu para remaja itu meletakkan barang - barang belanjaan di sana . Dari jauh tampak Akbar berjalan dituntun Mbak Putri dan Qani di gendong Bu Jum.


" Terimakasih, Bu!" ucap anak remaja itu ketika Asti memberi upah yang cukup lumayan bagi mereka. S Upah itu cukup untuk membeli sekedar makan siang dengan menu yang layak dan komplit.


"'Tadi, Pak Leon telepon, Mbak! Katanya kita ditunggu di sebuah restoran. Saya sudah mendapatkan lokasi tempatnya, Mbak! " Lapor Dimas.


" Bagaimana, Pita?"


" Terserah, Mbak Asti aja... Tetapi apa kita nggak terlihat kampungan begini, Mbak? Baru pulang belanja, kucel dan kerudung berantakan begini. Malah ikut acara pertemuan dengan teman bisnis Pak Leon...."


"Bagaimana, Dimas?" tanya Asti juga meragu.


" Mbak Asti kayak nggak kenal Pak Leon saja... Dia malah senang ketemu anak dan istrinya di restoran itu sambil makan siang bersama... Apalagi kalau bisnisnya kali ini berhasil... Kita jadi dapat traktiran makan enak!"


" Dasar, kamu Dimas! Makanan aja terus dipikirin! Lha badanmu tetap kurus langsing begini... Nggak jadi daging itu makanan yang banyak kamu makan. Malah jadi..."


" Buang angin, Bu Jum. Alias mambu !" balas Putri.


Bu Jum tertawa geli, melihat jawaban Putri yang sedikit konyol. Mereka segera masuk ke dalam mobil... Dibantu Putri yang duduk di depan sambil memegang hape mahal Dimas. Mereka akan mencari tempat, sebuah restoran tempat Leon dan teman bisnisnya itu bertemu, lewat aplikasi GPS.

__ADS_1


Di dalam mobil, Asti dibantu Bu Jum membersihkan mulut anak- anak itu dari remahan biskuit. Apalagi Qani yang matanya sudah lima watt setelah diberi satu dot botol susu formula. Susu tambahan selain asi atas petunjuk dokter anak, yang direkomendasikan oleh sahabat Leon.


__ADS_2